Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
chapter tigapuluhdua


__ADS_3

Sudah sore tapi Arsyi belum juga kembali ke mansion membuat mama Hesti merasa khawatir, bahkan beliau mondar-mandir di teras mansion untuk menunggu Arsyi.


Ditambah lagi suami dan anaknya juga belum pulang dari kantor, berulangkali ia menelpon Asyi atau bu Rina tapi hasilnya nihil.


Sementara kata art disana Arsyi dan bu Rina pergi sedari siang tadi, tapi mereka tak memberi tahh jika mereka membawa bawaan sebab mereka juga hanya tahu mereka hanya membawa badan.


"ini papa sama Zafran nggak pulang-pulang juga sih" gerutu mama Hesti, mungkin dia tidak akan sekhawatir ini jika Arsyi atau bu Rina dapat dihubungi.


Pukul sembilan malam Papa Dika dan Zafran baru saja pulang, saat mama Hesti menyampaikan jika Arsyi belum pulang pun Zafran hanya menjawab jika mungkin Arsyi akan menginap disana dan papa Dika pun juga berusaha menenagkan sang istri.


Keesokan paginya di sebuah kontrakan kecil masih dalam lingkup kota namun jarang terjamak oleh orang asing kata warga disana, tempat dimana Arsyi dan Bu Rina tinggal saat ini.


Pagi ini Arsyi terlihat mual-mual bahkan wajahnya sangat pucat, ia duduk disamping bak kamar mandi dengan memegangi perutnya.


Karena Bu Rina berada didapur dan berniat untuk membangunkan Arsyi karena pikirnya Arsyi masih tertidur sebab kelelahan kemarin bebersih kontrakan ini.


"ya Allah nak, kamu kenapa" keget Bu Rina


"Arsyi nggak papa buk, cuma mual sama pusing aja kayaknya masuk angin"


"yaudah ibuk ambilkan baju kamu tunggu dulu, nanti ibu kerokin"


"ehm iya buk"


Saat ini Arsyi tengah dikeroki bu rina, sedari tadi terdiam akhirnya Bu Rina mengeluarkan bicara sesuai apa yang ia pikirkan sedari tadi.


"Ar kayaknya kamu lagi hamil deh, ibuk lihat kamu emang makin berisi apalagi di bagian perut udah nonjol gitu"

__ADS_1


"apa iya buk, tapi kok Arsyi nggak ngerasain apa-apa sebelumnya" lirih Arsyi sebab masih lemas


"kapan terakhir kamu datang bulan atau kalau nggak kita cek aja di depan kan ada bidan barangkali bisa tanya-tanya disana Ar"


"sebenarnya udah dua bulanan Arsyi nggak datang bulan, tapi karena siklus Arsyi kan nggak teratur jadi ya Arsyi pikir normal aja tapi Arsyi takut buk kalau periksa misalkan hasilnya ternyata nggak nanti malah Arsyi yang berkecil hati"


"jangan terlalu dijadikan beban pikiran, adanya janin itu kan karena titipan Allah kamu minta pun kalau belum ditakdirkan pasti belum bisa"


"kita ke bidan aja nanti agak siangan sekarang sarapan dulu, mau ke dapur atau biar ibuk yang ambilin?"


"ke dapur aja buk"


___________


"Sudah sembilan minggu bu, saya harap bu Arsyi tidak banyak pikiran karena akan mempengaruhi tumbuh kembang si janin kalau bisa rileks gitu ya bu"


"iya bu bidan"


FYI belum banyak yang tahu tentang pernikahan Zafran dan Arsyi karena dulu mereka hanya mempublis di perusahaan sedangkan akun media sosial mereka jarang di kunjungi oleh para followers.


Usai konsultasi dengan bu bidan mereka pulang, sebelum itu bu Rina mengajak Arsyi mampir ke toko kelontong tak jauh dari sana untuk membeli bahan membuat sambal kacang.


Rencana Arsyi dan bu Rina besok akan mulai jualan nasi pecel di depan rumah karena rumah mereka letaknya di samping jalan raya dan disana belum ada yang jualan sarapan kabarnya.


Ya meskipun masih ada sisa tabjngan sedikit tapi apakah mereka akan selalu bergantung kepada tabungan itu? tidak kan ditambah Arsyi harus mencukupi kebutuhan gizi anak yang dikandung karena bagaimana pun ucap bidan tadi dia harus banyak mengonsumsi buah.


Sedangkan untuk keadaan mereka saat ini mungkin harga buah menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.

__ADS_1


Tapi tidak papa sebelumnya mereka sudah terbiasa bekerja keras jadi untuk kembali seperti dulu bukan hal yang membuat mereka kagok.


Sampai rumah Bu Rina menyuruh agar Arsyi bebersih terlebih dahulu, baru boleh membantunya asalkan bukan yang berat karena ia juga tahu jika kehamilan muda sangat rentan.


Nanti Bu Rina juga akan membuat rempeyek pelengkap nasi pecel yang dijual nanti, tak lupa juga sore nanti berbelanja ke pasar sore untuk membeli sayur dan tempe sebagai gorengan.


Usai adonan jadi bu Rina mulai membuat rempeyek karena nanti akan memakan banyak waktu, sedangkan Arsyi menggoreng kacang.


Bagaimana menghaluskan sambelnya nanti? di warung tempat mereka membeli bahan tadi juga tersedia selep sambal daan harganya juga sangat terjangkau.


Baik Bu Rina ataupun Arsyi mengerjakan pekerjaan masing-masing dengan perasaan senang, bahkan Arsyi sedikit lupa tentang masalah rumah tangganya.


Keaadan di mansion saat ini tengah menegangkan, Zafran belum menyadari jika barang pemberiannya diletakkan diatas meja rias Arsyi sebab kemarin begitu pulang dari kantor dia langsung bersih-bersih, mengerjakan pekerjaan yang tertunda lalu tidur.


Sementara saat ini mama Hesti terlihat sudah sangat khawatir sebab tak ada kabar apapun dari menantunya, bahkan tadi ia menolak ketika di ajak pergi oleh teman arisannya lantaran ia berharap menantunya akan pulang pagi ini.


"kira-kira Arsyi pergi kemana ya mbak, bahkan kata Art disana mereka tidak ada dirumah" cemas mama Hesti


"mungkin beliau sedang berkunjung ke tempat teman non Arsyi yang bekerja di kota bu" jawab wanita paruh baya yang kemungkinan usianya sudah 53 tahunan.


"tapi Arsyi atau Bu Rina pun tidak dapat di hubungi mbak, dan bisa dilihat kan reaksi Zafran bagaimana masih santai-santai saja seolah bukan hal serius seperti bukan Zafran biasanya karena berjauhan dengan Arsyi sebentar saja dia sudah kelimpungan"


"iya bu saya sebenarnya juga heran lihat den Zafran, em tapi ibu jangan tersinggung ya kalau saya ungkapin ini"


"iya mbak ngomong aja kayak sama siapa aja" Mbak marsi memang sudah bekerja disini selama lebih dari 20 tahun jadi mama Hesti pun sudah menganggap nya sebagai keluarga.


"kemarin pagi kalau nggak salah pas saya beres-beres lantai atas itu den Zafran baru bangun terus nanyain non Arsyi tapi karena saya juga belum lihat habis itu ngga lama non Arsyi masuk kamar terus kedengaran kaya ribut gitu tapi nggak tahu juga bu kan den Zafran bucin banget sama istrinya"

__ADS_1


Dari penjelasan mbak Marsi ada kejanggalan lagi yang dirasakan mama Hesti, mereka ribut atau apa pertanyaan itu yang pertama muncul di benak mama Hesti.


Sayangnya kamar Zafran tidak ada CCTV jadi sulit jika nnti papa Dika membantu meluruskan masalah putranya, tapi selanjutnya mama hesti dan papa Dika hanya akan membantu sewajarnya karena putranya lah sang nahkoda sebenarnya.


__ADS_2