Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
chapter tigapuluhtiga


__ADS_3

Hari ketiga Bu rina dan Arsyi berjualan sudah mulai banyak pembeli dan yang berlangganan, setiap hari Bu Rina membuat rempeyek dan juga sambal kacang.


Arsyi merasa sudah jauh lebih baik, ia akan menerima kedepannya akan seperti apa. Handphone sudah dia matikan sejak ia pergi dari mansion kala itu begitu juga dengan handphone Bu Rina.


Mungkin jika memang darurat si penelpon akan menghubunginya melalui telepon biasa atau non WhatsApp, Alhamdulillah hasil dari berjualan bisa ia tabung sedikit demi sedikit.


Di mansion Zafran baru menyadari kesalahannya 4 hari sudah ia membiarkan istrinya bahkan tanpa bertukar kabar, ia merasa bodoh sebab telah mengeluarkan kata yang tak sepantasnya ia lontarkan.


Dua hari lalu lebih tepatnya sehari setelah Arsyi meninggalkan mansion ini dia menemukan fasilitas yang ia berikan kepada Arsyi tergeletak diatas meja tak terkecuali handphone yang ia berikan selepas Arsyi kecelakaan dulu.


Mungkin semua yang Zafran berikan kepada Arsyi dia tinggal disana, tergeletak tanpa ada surat ataupun apa. Tapi saat itu Zafran masih gengsi untuk bertanya kepada mamanya sebab ia sebelumnya mengatakan jika ia sudah tak perduli bahkan tak sudi berhubungan dengan Arsyi.


Sekarang sungguh ia sangat menyesal, kenapa mulutnya begitu lemas saat disuruh untuk memaki orang dengan alasan yang tidak jelas.


Zafran memutuskan pulang dari kantor dan menuju rumah Bu Rina, sampai sana dia disambut hormat oleh bawahannya yang disana seperyi Art atau satpam.


Sampai rumah Bu Rina dia tidak mendpaati istri dan mertuanya disana, dan lagi para art juga mengucapkan hal yang sama saat mereka ditanyai oleh mama Hesti dan papa Dika.


Rasa bersalah dan menyesal yang hinggap di hati Zafran semakin menjadi, sekarang dimana ia harus mencari istrinya.


Dj tengah kepanikannya ia hanya tertuju pada satu tujuan yaitu desa, barangkali Arsyi mengajak ibunya ke desa ya meskipun Zafran tak terlalu yakin sebab perjalanan yang memakan waktu lama jika menggunakan jalur darat.


"kenapa kemarin gue harus bilang gitu ke Arsyi, kenapa setelah menikah gue nggak bisa kontrol emosi si agrhhhh" kesal Zafran dengan memukul stir mobilnya.


Seharian Zafran mencari Arsyi namun hasilnya nihil sampai akhirnya ia meminta Aryan untuk menyuruh seluruh anak buahnya guna mencari Arsyi.

__ADS_1


Bahkan perintah tersebut tak dapat di ganggu gugat, paling lambat besok sore mereka harus sudah menemukan Arsyi begitulah suruh Zafran bahkan ia juga memberikan ancaman.


Malam harinya Zafran tengah duduk di balkon kamarnya, ia tidak pulang ke mansion melainkan ke rumah miliknya, pandangannya menatap jauh kedepannya dengan tatapan kosong.


Ia sudah mengahbiskan satu bungkus rokok, namun ia tak meminum alkohol sesuai janjinya pasa Arsyi tempo dulu.


Dalam hatinya ia juga membatin jika ia membentak Arsyi sama halnya dia membentak mama dan mertuanya seharusnya disinilah perannya dibutuhkan disaat Arsyi sedang membutuhkan support nya lantaran banyak omongan masyarakat yang menggunjingnya soal kehamilan.


Tapi apa dia malah semakin menambah gunjingan itu dengan sikapnya yang belum bisa dikatakan sebagai pemimpin rumah tangga yang baik.


Dan sekarang disaat tidak ada istrinya barulah dia berfikir sampai sana, kemana saja pikiran ini pergi saat ia membentak istrinya.


Dilain tempat Arsyi duduk di pinggiran tempat tidur, dia dan Bu Rina tidur di kamar yang berbeda.


"nak sabar ya, maafin ibu belum bisa kasih yang terbaik bahkan kamu tinggal di tempat yang seadanya seperti ini tapi bantu doa buat ibu sama mbah uti ya biar lancar terus jualannya dan kamu jangan nakal nanti pasti ibu belikan makanan enak buat ade" ucap Arsyi dengan mata yang berkaca-kaca dan tangannya mengusap lembut perutnya yang masih rata.


Pandangan Arsyi teralihkan ke atas meja yang terdapat tasnya disana, terbesit dalam benaknya untuk mengambil tas itu dan menghidupkan handphone nya.


Disinilah pikiran dan hati Arsyi berperang, ia ragu jika dengan ia menghidupkan handphone maka akan terdeteksi lokasinya saat ini sementara dia saja belum mau dan siap bertemu dengan Zafran.


Tapi bismillah saja hanya untuk mengabari mama Hesti setelah itu ia akan matikan handphone itu seperti semula.


Saat handphone itu hidup banyak sekali notifikasi telepon ataupun chat, bahkan DM an di Instagram nya pun sangat banyak dan menumpuk.


Namun tak ia hiraukan ia hanya membuka chat dari mama Hesti yang mana ia baca terlebih dahulu dan itu membuat air matanya keluar karena terharu.

__ADS_1


Sebegitu khawatir nya mama Hesti akan keadaannya sekarang bahkan beliau mengirim pesan hampir satu jam sekali.


"Assalamualaikum mah, Arsyi baik-baik aja keadaannya maaf ya Arsyi pergi tanpa pamit mama atau lebih tepatnya Arsyi berbohong pada mama waktu itu Arsyi minta maaf banget sama mama, kalau mama sering nangisin Arsyi suruh papa hapus air mata mama ya ma air mata itu sungguh berharga dan nggak pantes untuk menangisi arsyi.


Mama sehat-sehat ya disana jaga pola makannya ya ma pokoknya doa terbaik untuk mama salam sayang dari Arsyi, wassalamualaikum"


Begitulah kiranya pesan arsyi, mengapa ia bisa tahu jika mama Hesti sering menangisinya? sebab beliau sering mengirim vn pada saat beliau menangis.


Usai itu Arsyi mematikan kembali handphonenya dan bersiap untuk istirahat agar esok ia tak kesiangan.


Papa Dika yang belum tidur dan mendengar bunyi notifikasi handphone mama Hesti pun segera mengambil sebab ia pun bingung pasalnya sudah malam juga dan mama Hesti sudah tidur.


Tidak mungkin juga jika yang mengechat teman mama Hesti di jam seperti ini, batin papa Dika. Beliau pun segera mengambil dan membuka handphone mama Hesti.


Arsyi, pesan itu dari menantunya dan karena sudah penasaran ia membuka pesan tersebut lalu membacanya bahkan mulai dari kepergian Arsyi.


Dengan segera papa Dika mengambil iPad nya untuk melacak keberadaan Arsyi, lama bergelut dengan iPad namun papa Dika tak menemukan titik keberadaan Arsyi sepertinya handphone Arsyi kembali dimatikan.


Karena sudah menahan kantuk sedari tadi papa Dika pun segera beranjak untuk tidur, dan untuk selanjutnya akan dia rencanakan esok hari bersama asistennya.


Sampai ranjang ia memandangi wajah damai istrinya yang menangis diam-diam selama ia tak ada di rumah menangisi menantunya yang pergi akubat putranya.


Papa Dika bahkan sudah hampir menyerah menasehati putranya, tapi itu tidak mungkin sebab jika bukan dia dan sang istri siapa lagi yang akan memberikan wejangan kepada anak, menantu dan cucu-cucunya kelak.


Harapannya saat ini semoga menantunya segera kembali dan putranya tidak mengulangi hal yang sama, yaitu membuat air mata wanitanya jatuh akibat ulahnya.

__ADS_1


Setelah puas memandangi wajah istrinya papa Dika pun segera menarik selimut dan mematikan lampu tidur untuk bersiap tidur.


__ADS_2