Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
Chapter Duapuluhempat


__ADS_3

Hari terus saja berlalu, kebahagiaan bu rina lengkap tapi ia merasa masih kurang sebab belum ada cucu yang menemaninya yang menjadi penghibur nya.


Dua bulan sudah Zafran dan Arsyi membina bahtera rumah tangga, sikap receh Zafran terus saja menjadi apalagi jika sedang berkunjung ke mansion.


Pagi ini Zafran bersiap untuk keluar kota, ada beberapa pekerjaan yang harus ia urus. Nanti dia juga harus menyempatkan datang ke desa Arsyi dulu sebab kabarnya ada yang ingin menjual sawah, jadi akan Zafran beli dan dia buruhkan kepada warga yang membutuhkan pekerjaan.


Sesuai kesepakatan Arsyi harus di apartemen dan jika ingin keluar harus mengabari Zafran, jadi Zafran bisa meminta anak buahnya untuk mengantarkan.


Tak lama Zafran pergi mungkin malam nanti dia sudah pulang, tapi pastinya sudah tengah malam.


Pukul 11 Arsyi muli merasa bosan, dia berulang kali menelpon Zafran untuk izin keluar pun tak terjawab sama sekali, banyak chatnya yang hanya ceklis membuat Arsyi hanya pamit lewat pesan saja agar jika sudah online nanti bisa Zafran baca.


Usai bersiap-siap Arsyi turun ke lobi apartemen, tadi ia sudah memesan taksi online. Kini tujuannya ke rumah ibunya, rasa kangen tak terbendung lagi sebab minggu lalu adalah jadwal ke mansion jadi sudah hampir satu minggu Arsyi membendung rasa rindu itu.


Sebab Zafran yang akhir-akhir ini sibuk membuat Arsyi tak berani mengajaknya, tapi mungkin jika Arsyi mengutarakan niatnya akan Zafran antar dan mereka akan bermalam disana.


Pertengahan jalan hujan melanda, diikuti suara petir yang saling bersahutan. Dalam hati tak henti Arsyi berdoa agar ia selamat sampai rumah ibunya.


Jarang sekali ada hujan di waktu seperti ini, jika mulai pagi hujan barulah memungkinkan.


"Mba kayaknya sedikit macet, kabarnya ada kecelakaan lawan arus" ucap si pak supir yang usianya hampir sama seperti ibunya, sepertinya baru saja mendapat kabar dari sambungan telepon.


"iya pak nggak papa, yang terpenting hati-hati pak nggak usah ngebut sampai nya lama tidak papa" jawab Arsyi


Lama terjebak macet tiba-tiba dari arah belakang ada mobil truk besar pengangkut sembako yang berjalan sembarangan. Sepertinya kehilangan kendali sebab rem blong, mobil dibelakang arsyi tertubruk tapi karena truk melaju sangat cepat kecelakaan beruntun pun terjadi.


Yang mana ada Arsyi ditengah-tengah para korban disana, dua mobil setelah truk atau bisa dibilang mobil belakang yang ditempati Arsyi dan mobil yang di tempati Arsyi adalah yang paling parah.

__ADS_1


teriakan histeris pun dapat didengar, suara jeritan dan tangisan saling bersahutan.


"ya Allah, Arsyi titipkan seluruh nyawa ini untukmu Allahuakbar astagfirullah" begitulah ucapan lirih yang keluar dari mulut Arsyi usai itu matanya tertutup rapat, keningnya mengeluarkan darah dengan deras baju putihnya sampaiberubah menjadi merah.


Hujan mulai mereda, banyak polisi yang melakukan otopsi mulai dari tadi bahkan sebelum hujan berhenti. Para wartawan mulai meliput kejadian ini untuk ditayangkan di seluruh siaran televisi.


Ada kurang lebih 5 orang meninggal dunia dan 15 orang luka-luka. Para korban yang terluka pun segera dilarikan ke rumah sakit.


Sementara di dalam rumah tampak seorang ibu yang tengah menelpon putrinya namun hasilnya nihil, kepanikan terus saja Bu Rina rasakan pasalnya tadi Arsyi sempat menelponnya jika sudah di jalan dan sampai sekarang belum sampai.


"Pemirsa, kecelakaan beruntun terjadi di jalan Soekarno Hatta pagi menjelang siang ini, guyuran hujan lebat beberapa saat lalu menjadi pemicu kecelakaan terjadi ditambah dengan rem blong membuat sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak pengendara didepannya, di total ada 5 korban meninggal dunia dan 15 orang luka-luka. berikut liputannya bersama saudara Irsya"


Mendengar berita tersebut makin tak karuan perasaan Bu Rina.


"Ya Allah lindungi putri hamba dimana pun dia berada, selamatkan perjalanannya ya allah" Bu Rina terus ditenangkan oleh kedua Art nya.


Sementara dimana Zafran berada kini ia baru selesai meeting dan baru sempat membuka handphone miliknya, banyak panggilan dan pesan yang belum dibaca dari istrinya.


Belum diketahui pasti keadaan Arsyi dengan tergesa-gesa Zafran kembali ke kota, bahkan emosinya terus saja tersalurkan dan sang asisten yang terkena imbasnya.


Di helikopter Zafran memberitahu papanya dengan suara yang sangat panik, dan dengan sigap papa Dika datang ke rumah sakit tempat Arsyi berada.


Hanya bersama Zayyan tanpa memberi tahu mama Hesti terlebih dahulu, tak bisa dipungkiri papa Dika juga panik terlihat saat ia dengan tak sabaran menanyakan Arsyi kepada resepsionis.


Dari kaca ada celah kecil yang memungkinkan untuk mengintip, disana bisa dilihat oleh papa Dika wajah Arsyi yang terbaring diantara para pasien lainnya.


Wajah kacau menantunya karena berlumur darah bahkan seluruh pakaiannya terlumur darah.

__ADS_1


Papa dika maupun Zayyan belum berani memberi kabar kepada siapapun terlebih Zafran, biar dokter yang menangani dulu dan nantinya dokter yang menyampaikan keadaan Arsyi kepada Zafran sendiri.


Dua jam perjalanan dua jam pula tindakan yang diberikan dokter kepada Arsyi yang saat ini tengah berada di ruang ICU sebab tadi Arsyi sempat drop saat ditangani.


Raut wajah khawatir nampak sangat jelas dari wajah Zafran bahkan ia bertanya kepada papanya dengan mulut bergetar.


"bagaimana pa, apa kata dokter tadi Arsyi bagaimana" panik Zafran


"tenang dulu dokter masih berusaha didalam, tadi di IGD arsyi drop parah hingga akhirnya di pindahkan ke ruang ICU"


"Zafran gagal pa, bahkan Zafran nggak tahu sebanyak apa panggilan dan pesan yang Arsyi kirim tadi sevelum pergi, Zafran gagal jaga istri Zafran"


"jangan bilang seperti itu, doakan istrimu saat ini kekuatan terbesar yang mampu menolongnya adalah doa"


"kita kabari mama dan Bu Rina dulu pa, zaf pasti sebagai seorang ibu Bu Rina juga punya firasat" usul Zayyan


"minta bawahanmu saja untuk menjemput mama dan bu rina Zay, dan minta jangan mengatakan apapun sebelum mereka sampai sini dan melihat sendiri kondisi Arsyi" jawab papa Dika yang masih memeluk putra bungsunya.


Tak lama setelah mengabari anak buahnya dokter keluar, belum sampai menyampaikan kondisi Arsyi kehadiran dua ibu setenagh baya itu mengejutkan mereka.


"Bagaimana kondisi putri ibu nak Zafran" panik Bu Rina sudah meneteskan air mata


"kamu bagaimana Zafran seharusnya sebelum keluar kota kamu antarkan istrimu kerumah mama atau ibumu dulu" marah mama Hesti


"sebentar ma, Bu Rina kita dengarkan dulu dokter mau bicara" ucap papa Dika


"Jadi begini pak bu kecelakaan tadi mungkin hanya bu Arsyi yang paling parah, tadi bu Arsyi sempat drop karena kehabisan darah untungnya masih ada stok darah yang sama dengan bu Arsyi hal lain yang akan saya sampaikan adalah benturan keras yang tadi menimpa bu Arsyi tadi terbilang keras hingga menimbulkan cedera kepala Hal ini karena ketika kepala terbentur sesuatu dengan sangat keras, maka ada kemungkinan dinding otak mengalami cedera berupa retak" jelas sang dokter yang menangani Arsyi

__ADS_1


"apa berbahaya dok?" tanya Zafran


"kemungkinan jika sadar nanti bu Arsyi akan mengalami amnesia, beliau tidak mengingat hal yang baru-baru ini terjadi dan maaf saya menyampaikan ini jika saat ini bu Arsyi masih dalam masa kritisnya"


__ADS_2