Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
Chapter sembilan


__ADS_3

Di tempat pak Mukhlis sebenarnya beliau sudah ketar-ketir takut saja kalau tidak ada warga yang menghampirinya dan dia gagal menjalankan rencananya.


Sementara Bu Heni sudah menggerutu, ia sangat kesal lantaran pak Mukhlis tak mengizinkan dia pergi dan dikurung di dalam rumah.


"Ayo lah pak ngapain juga di rumah, orang nggak ada yang mau datang kemari" dumel Bu Heni


"ya kenapa sih ibuk pengen banget kesana palingan hmjuga makanannya nggak enak" kesal pak Mukhlis


"ya kan ibuk pengen foto sama pak walikota biar terkenal"


"berani beraninya kamu ini" hardik pak Mukhlis


"apa apaan sih emang punya suami kaya bapak tuh nggak guna, kerjaannya cuma judi aja nggak ada yang lain emang anak sama bapak sama aja"


"ngomong sekali lagi hah emang Lo kerja hidup Lo itu cuma NUMPANG sama gue dan Lo itu nggak punya apa-apa gitu udah berani Lo atur-atur gue hah" Dengan mengucapkan itu pak Mukhlis sambil mencekik leher Bu Heni.


"wanita kaya Lo nggak pantes hidup sama gua, jijik tau nggak punya istri kaya Lo selama ini gua nahan muak dengan segala sikap Lo kalau bukan anak pungut itu gua ogah bertahan sama lo istri gak guna" teriak pak Mukhlis mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini ia pendam untuk menjaga pesaraan Ikhsan.


Ia pun selama ini memanjakan Bu Heni hanya karena haus pujian dari warga dan agar dirinya dikenal dengan suami idaman. Sebenarnya ia tidak sudi melakukan itu semua karena pikirnya uangnya adalah uangnya bukan milik istrinya.


Baru kali ini adu mulut hebat antara pak Mukhlis dan Bu Heni, biasanya hanya perdebatan kecil namun sering mungkin hari ini perasaan mereka diliputi kekesalan dan hawanya ingin marah.


Bu Heni yang dicekik pak Mukhlis terlihat kesusahan bernapas berulangkali dia memukul tangan dan dada pak Mukhlis agar dilepaskan cekikan dilehernya.


Namun pak Mukhlis pun seperti orang kesetanan dia seakan tuli dan buta hingga ia juga memukuli Bu Heni sampai Bu Heni kehabisan napas dan ada luka memar hingga berujung pingsan.


Yang lebih mengenaskan pak Mukhlis memukul dada dan kepala Bu Heni berulang kali.


Tentu saja panik pak Mukhlis ia pun tak mengerti mengapa ia sampai berbuat seperti itu, ya walaupun ia akui bahwa ia hanya berjudi saja setiap hari tapi entah kenapa ia merasa tersinggung saat Bu Heni mengatakan itu.

__ADS_1


Tak ada cara lain, pak Mukhlis bersikap seolah tak terjadi apa-apa, beliau pergi ke pasar dan akan pulang nanti saat semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing.


Ia akan memanfaatkan kejadian ini untuk menarik simpati warga, barangkali warga mau beriuran untuk membantu mereka.


____________


Sambutan riuh disampaikan warga kepada pak Wahid, para warga berbincang banyak dengan pak Wahid bahkan menyampaikan keluh kesah mereka di desa ini.


Walaupun mereka bersyukur tapi mereka juga berharap desa ini maju dengan segala keindahan alam yang dimiliki.


Namun stelah dipikir kembali siapa yang ingin pergi ke sini jika jalannya saja tidak memungkinkan dan itupun tidak luput dari keluh kesah yang disampaikan mereka.


Dan pak Wahid dengan senang hati meminta jajaran dibawahnya untuk mendata apa yang dibutuhkan warga desa ini yang akan diajukan ke pemerintahan.


Hampir malam rombongan pak walikota dan mas Rokhim kembali ke kota, sebenarnya banyak warga yang menyayangkan kepergian mereka dan meminta untuk bermalam saja disini namun karena esok adalah hari Senin maka tak memungkinkan mereka menginap.


Warga mulai kembali ke rumah masing-masing begitupun Arsyi dan Bu Rina beserta yang lainnya.


Para warga sebenarnya tak peduli namun setelah dilihat-lihat kenapa penerangan di rumahnya tak ada satupun yang dinyalakan, apakah beliau tak ada di rumah berbagai pertanyaan muncul di benak tetangga Bu Heni karena biasanya keluarga ini jarang sekali keluar malam kecuali dua laki-laki yang berada dirumah ini.


Akhirnya warga memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Bu Heni, merasa tak ada jawaban dan mereka sadar jika ada yang mengganjal jadilah mereka memutuskan untuk masuk.


Sebelum itu mereka memanggil para lelaki yang tak jauh dari mereka.


"Pak pak tolong kesini kita lihat rumah Bu Heni" panggil salah satu ibu-ibu


"kenapa toh Bu emang Bu Heni kenapa"


"makanya ayo kita lihat, tumben sepi sekali rumah ini"

__ADS_1


Tak ingin berlama-lama dan hanay mengandalkan senter untuk menerangi mereka membuka pintu yang nyatanya tidak terkunci, melihat itu tambah bingung lah para tetangga Bu Heni. Kenapa keluar tidak mengunci pintu terlebih dahulu, batin mereka.


"Eh eh ya Allah Bu pak lihat kesini Bu Heni pingsan ini" histeris salah satu ibu-ibu dan warga lain pun bergegas mencari cetekan lampu.


Seketika ruangan tersinari lampu, dan yang membuat warga terkejut Bu Heni dalam keadaan tidak sadar serta banyak luka yang sudah membiru.


Setelah berbagai pertimbangan seorang bapak-bapak mulai mendekat, dipegangnya dahi Bu Heni yang terasa sangat dingin begitu pula kakinya.


Masih berpikir positif bapak-bapak tersebut mengecek nadi Bu Heni dan hasilnya nihil, lalu beliau menatap mereka satu-persatu dan menggelengkan kepalanya.


"innalilahi wa innailaihi roji'un Bu Heni sudah menghadap gusti Allah"


"innalilahi wa innailaihi roji'un"


"ayo bapak-bapak kita panggil suami dan anaknya serta yang lain" usul salah satu bapak-bapak


Dengan sedikit terburu-buru beberapa bapak-bapak mencari keberadaan pak Mukhlis dan Ikhsan dan sebagian lainnya mulai pergi ke rumah pak kades dan ke masjid untuk menyiarkan kepergian Bu Heni.


Beruntung sekali mereka bertemu pak Mukhlis dan Ikhsan yang hampir pulang.


"pak Mukhlis pak Mukhlis ayo pak cepet pulang, itu Bu Heni sudah meninggal"


"kok bisaa apa yang kalian lakukan ke istri saya" bentak pak Mukhlis, sangat bagus ekting nya ya say.


"kami juga tidak tahu pak, malam ini ketika kita pulang dari kantor kelurahan lihat rumah bapak belum ada penerangan karena penasaran kami dan para warga serta ibu-ibu yang lain mengetuk pintu dan tidak ada jawaban setelah kami masuk mendapati Bu Heni dalam keadaan tergeletak dengan banyak luka ditubuhnya" ujar salah satu warga


Mendengar itu Ikhsan juga mengeryit bingung, pasalnya sejak pagi buta ia sudah berangkat dan pulang bersama bapaknya.


Saat menoleh ke arah pak Mukhlis, Ikhsan dapat melihat raut wajar bapaknya yang pucat.

__ADS_1


"ayo pak kasihan ibu-ibu tadi" celetuk salah satu warga


__ADS_2