
Satu minggu sudah Arsyi dirawat dirumah sakit, perlahan ia mulai mengingat semuanya tapi ia masih ingin menjahili suaminya lebih lama.
Kadang dia merasa kasihan tapi Zafran selalu menghiburnya dengan segala tingkah recehnya apalgi jika bersama papa Dika dan kedua saudaranya.
Hari ini Arsyi pulang, tadi ia sempat meminta untuk menginap di rumah ibunya tapi dengan keras kepala Zafran tak mengizinkan.
Sepanjang perjalanan Arsyi hanya diam menatap kearah luar dan mengerucutkan bibirnya, semua keluarga sudah kembali begitupun dengan Bu Rina yang menolak saat diajak ke apartemen dengan alasan tak ingjn mengganggu mereka.
"sayang udahan dong diemnya, masa nggak puas udah nyuekin mas seminggu lebih sekarang diem lagi aja" keluh Arsyi
"terserah Arsyi dong Arsyi itu belum nikah dan masih sekolah jadi mau dibawa kemana sih, lagian kenapa pak Zafran ngaku-ngaku jadi suami Arsyi sih" drama Arsyi mendapat tatapan tajam dari Zafran setelah itu tak ada pembicaraan antara mereka.
Sampai di apartemen Zafran membiarkan Arsyi dibelakangnya tanpa mengajak ngomong satu kata pun, ia lebih emngurusi bawaannya.
Sebenarnya Arsyi merasa bersalah tapi jika ia tiba-tiba langsung ingat kan malah mencurigakan, jadilah biar seperti ini dulu.
Sampai apartemen karena sudah sore Zafran segera mandi tanpa menyapa Arsyi yang sedang duduk di ranjang, bahkan ia langsung membawa baju ganti nya kedalam kamar mandi, berbeda dengan sebelumnya saat Arsyi belum kecelakaan yang selalu meminta disiapkan.
"Maafin Arsyi mas, sebentar lagi aja Arsyi juga yakin kalau Arsyi sudah jatuh hati ke mas Zan setelah kita nikah tapi biarkan Arsyi lebih mengenal diri Arsyi dulu" lirih Arsyi
Ia membuka handphone baru pemberian Zafran dua hari lalu sebab handphone lamanya sudah remuk, ya walaupun masih hidup tapi bagi seorang Zafran sudah tidak layak.
Berbagai akun media sosial Arsyi pun sudah dipindahkan ke handphone barunya, terdapat banyak DM masuk dari apara pengikutnya membuat Arsyi merasa terharu saat membacanya.
Larut dalam pikirannya Arsyi tersadar kala melihat Zafran yang berlalu menuju sofa di kamarnya, lagi dan lagi tanpa menyapanya.
Melihat itu membuat Arsyi perasaan, dia segera mandi dan bersiap masak.
"nggak usah masak, saya sudah pesan makanan untuk kita" suara yang tadi masih lembut kini berubah menjadi datar dan dingin
__ADS_1
"eum iya makasih" jawab Arsyi kaku.
"mas tau kamu lupa tentang kita, ikatan kita itu apa tapi mas kecewa karena kamu sama sekali nggak mau hargain semua usaha mas. Maafkan hamba ya Allah, kita lihat sampai kapan kamu melupakan kita" batin Zafran.
Tak lama suara ketukan pintu membuat Zafran bangkit dan berjalan membukakan pintu, ternyata makanannya sudah datang.
Ia tak lagi memanggil Arsyi melainkan langsung mengambil porsi makannya dan berjalan ke depan tv tanpa menghiraukan Arsyi yang masih dikamar.
Bahkan Zafran membiarkan makanan Arsyi tetap berada di plastik, dan didalam kamar pun Arsyi sudah merasa jika suaminya benar-benar marah karena dapat dilihat saja dia tak memanggil Arsyi jika makanan itu telah tiba.
Arsyi memilih langsung keluar karena jujur ia merasa lapar karena dari pagi ia belum makan selain makan buah yang dibawakan mertuanya pagi tadi.
__________
Malam hari Arsyi semakin merasa bersalah, sebab Zafran benar-benar tak mengucapkan sepatah katapun selain melarangnya masak.
Hingga kini sudah menunjukkan tengah malam dan suaminya masih belum juga ke kamar, ia tahu jika Zafran pasti sibuk dengan pekerjaannya yang selama dia sakit terbengkalai tapi mengapa sampai larut belum juga kembali.
"mas Arsyi minta maaf" ucap Arsyi kala melihat Zafran masuk ke kamar
"hem" hanya deheman yang dilontarkan Zafran, tanpa kata ia segera berbaring memunggungi Arsyi.
Entah mengapa dia merasa kesal, marah dan kecewa kepada istrinya itu ditambah tuntutan pekerjaan dan tubuhnya yang sangat lelah akibat kurang tidur selama satu minggu ini.
Malam ini terasa sangat panjang dan lama, Arsyi baru bisa tidur pukul setengah empat pagi sedangkan Zafran tak mengindahkan apapun yang Arsyi lakukan.
Pukul Lima Zafran terbangun, mengecek pknsel dan sudah mendapat pesan jika stok sayur, buah dan daging di apartemen sudah anak buahnya isi maka ia langsung bangun dan sholat subuh.
Singkatnya pukul Enam Zafran berangkat ke kantor tanpa membangunkan ataupun meninggalkan pesan kepada istrinya. Bahkan tadi ia tak sarapan hanya meminum segelas kopi ditemani sebatang rokok.
__ADS_1
Pikirkannya sedang kacau oleh sebab itu ia lampiaskan itu semua ke batang rokok yang ia hisap tadi.
Matahari mulai naik, bahkan aktivitas semua irang oun sudah mulai sejak 3 jam lalu. Ah sebut saja ini pukul 10 pagi, dan Arsyi terbangun saat perutnya merasa lapar dan tidak ada Zafran disampingnya.
"mas Zafran beneran marah ya sama Arsyi sampai segininya, maafin Arsyi nanti waktu mas zan pulang Arsyi bakal jujur ke mas Zan"
Arsyi mulai bangkit lalu mandi, untung saja tadi malam tamu bulanannya datang jadi ia tak melaksanakan sholat subuh.
Usai mandi Arsyi segera masak untuk sarapan dan makan siang, tak lupa akan ia kirimkan makan siang kepada suaminya meskipun sang suami masih marah.
Hari ini Arsyi memasak udang saus tiram dan juga tumis pakcoy, ia juga sudah memotong beberapa buah untuk suaminya nanyi.
Anda : Mas zan, siang ini ada dikantor nggak?
Nihil, padahal suaminya online tapi tak berniat membalas pesannya. Kemudian dia mencoba untuk mengechat Aryan untung saja dia pernah mengimpan nomornya.
*Anda : pak Aryan, mas Zafran nya ada nggak?
Pak Aryan: bapak lagi keluar buk, katanya tadi mau ketemu sama temennya
Anda : makan siang diluar dong pak Aryan?
Pak Aryan: katanya begitu buk, sebab hari ini jam makan siang beliau free tidak ada pertemuan ataupun meeting penting
anda: makasih infonya pak Aryan
pak Aryan: siap buk*
Saat akan menaruh ponselnya ada pesan masuk, Zafran ternyata tapi anehnya malah mengirim sebuah foto sekali lihat. Karena penasaran Arsyi buka pesan Zafran dan foto itu, Arsyi terkejut bukan main disana ada suaminya yang memeluk seorang wanita dari belakang.
__ADS_1
Untungnya ada kamera didekatnya jadi dia bisa memotret fiyo yang dikirim Zafran sebab tak mungkin bisa di screenshot ataupun rekam layar.
"nggak papa, belum tentu ini bener kan mas? Arsyi juga paham kalau pun nanti mas kembalikan Arsyi karena kita memang berbeda dari segi apapun diibaratkan mas adalah langit dan Arsyi adalah tanah lapisan yang paling bawah atau mas adalah sebuah berlian yang pantas mendapatkan batu permata bukan remahan batu bata"