Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
Chapter delapan


__ADS_3

Malam harinya lebih tepatnya setelah isya warga diminta kumpul di pelataran kantor kelurahan guna membahas tentang acara penyambutan pak walikota hari Sabtu.


Warga sangat bersemangat menyambut semua orang yang akan berkunjung ke daerah ataupun desa ini, karena menurut mereka itu sebuah apresiasi untuk pendatang yang berkunjung ke desa ini karena letaknya sangat jauh tapi rela untuk datang.


Musyawarah dilakukan dengan berbagai pertimbangan karena banyak warga yang berpendapat, pak kades pun sangat bijaksana dalam mengambil keputusan beliau mengambil jalan tengahnya dari berbagai pendapat itu.


Akhirnya diputuskan bahwa mulai besok sore sudah asa acara bersih desa, meskipun desa mereka sudah bersih tapi mengantisipasi karena banyak ranting pohon yang mulai rapuh dan akhirnya berjatuhan.


Dan juga tak sedikit pohon yang sudah waktunya ditebang yang nantinya akan ditanam kembali dengan yang baru dengan mengambil pohon kecil dari hutan yang jaraknya tak jauh dari desa ini.


Sedangkan para ibu-ibu dan gadis belia seusia Arsyi mereka menyiapkan jamuan dan makanan khas mereka yang akan dihidangkan kepada tamu-tamu mereka nanti.


"Nggak nyangka ya Ar pak walikota mau menginjakan kakinya di desa ini" ucap Lilis dan diangguki oleh kinanti dan Novi


"ya Alhamdulillah kan ini semua atas izin Allah, mungkin ini yang Allah rencanakan untuk desa ini"


"tapi semoga nanti desa ini bisa lebih maju lagi ya" sahut Novi


"aamiin" ucap mereka serentak


___________


Paginya karena memang bersih desa dimulai sore pak Pardi warga yang membersihkan kebun dan sawah Bu Rina masih pergi bekerja begitupun dengan warga lainnya.


Sedangkan Arsyi tengah duduk dan membuat besek sembari menunggu ibunya memasak, nanti dirinya yang akan menghantarkan ke kebun.


"Mba Ar ngapain?" tanya salah satu bocil yang lewat didepan rumah Arsyi


"oh ini lagi matun ndut, mau kemana" jawab Arsyi kepada bocil tersebut, nama aslinya adalah Riski tapi tak jarang dipanggil ndut karena perawakannya yang besar, meski begitu Riski ataupun orang tuanya tak masalah dengan itu.


"ealah mba orang lagi mbucu itu kok matun sih" gerutu Riski


"lah kalau kamu tahu mba lagi mbucu kenapa tanya endutt" gemas Arsyi


"Iki itu mau basa basi mba, biar rada gimana gitu lohh"


"terserah kamu lah mau apa aja yang penting kamu seneng"


"yaudah mba Ar iki pulang dulu babayy"


"yaa"


Usai kepergian Riski tadi Arsyi masuk kerumah lantaran dipanggil ibunya untuk menghantarkan sarapan.

__ADS_1


"kamu mau sarapan dulu atau anterin ini dulu Ar?"


"anterin itu dulu aja Bu, keburu siang nggak enak sama pak Pardi


"yaudah ini sudah ibu siapkan, hati-hati ya"


"Ciap buk"


Ehiya lupa kalau semenjak kelas 12 Arsyi mulai memanggil Bu Rina dengan sebutan ibuk bukan bune lagi.


Dengan bersenandung ria disepanjang perjalanannya Arsyi tetap berhati-hati takutnya makanan di rantang ini tumpah.


Sampai kebun ternyata pak Pardi di temani oleh anaknya yang duduk tak jauh dari pak Pardi lebih tepatnya dibawah pohon.


"pak Pardi sarapan dulu, ini Arsyi taruh bawah pohon ya" teriak Arsyi


"iya Ar terimakasih"


"makan dulu mis" sapa Arsyi kepada Miska


"iya makasih mbak Ar"


"Arsyi pamit dulu pak assalamualaikum"


Rantang yang biasa untuk tempat makan biasanya pak Pardi antar ke rumah sore hari waktu beliau pulang dari kebun.






Jam terus berputar hingga matahari bergatian tugasnya dengan bulan, langit yang semula terang perlahan mulai menggelap.


Persiapan untuk besok sudah hampir rampung, hanya saja masakan-masakan yang digunakan untuk hidangan baru mulai dimasak besok sedangkan malam ini hanya menyiapkan segala sesuatunya agar besok tidak memakan waktu lama.


Kurang lebih hingga jam 10 malam warga desa berkumpul sampai akhirnya pak kades menghimbau agar mereka beristirahat terlebih dahulu.


Pagi harinya suasana desa mulai gaduh dengan banyaknya suara dari perorangan, Bu Rina sudah bantu-bantu mulai dari sehabis subuh tadi sedangkan Arsyi masih dirumah untuk beberes.


Mulai dari mencuci baju, melipat baju, masak, cuci piring dan banyak lagi Arsyi kerjakan. Sebenarnya Bu Rina tadi melarang Arsyi melakukan itu katanya nanti sajadikerjakan bersama.

__ADS_1


Tapi menurut Arsyi lebih tenang ninggal rumah kalau semuanya sudah bersih,


"em aku ikut nanti ajalah bareng ibuk kalau udah pulang terus berangkat bareng" monolog Arsyi


"rame juga ya, eh tapi kan emang dua desa jadi wajar ajalah"


Setelah semua pekerjaan rampung Arsyi segera mandi dan langsung mencuci pakaian yang dikenakannya tadi.


Cukup lama Arsyi mandi sampai tak sadar jika ibunya sudah pulang, jam sudah menunjukkan pukul 10 dan semua hidangan pun sudah matang dan sudah disusun disebuah meja didalam kantor kelurahan.


"Ar sudah jam 10, cepat mandinya"


"iya buk"


Tak lama setelah diteriaki ibunya Arsyi keluar dengan sudah memakai baju lengkap, hanya kurang jilbabnya.


Ya sehari-hari warga desa memnag banyak yang menggunakan jilbab.


Sambil menunggu ibunya dia mengambil handphone miliknya kemudian duduk didepan tv, Ia akan mengajak foto ibunya nanti.


Ia membuka-buka handphone nya, melihat ada notifikasi pesan dari teman-temannya membuat Arsyi tersenyum sendiri. Sebenarnya ia juga mempunyai satu akun medsos yaitu ig.


Sebenarnya tak terlalu butuh sih tapi berkat bujukan teman-temannya yang katanya hanya untuk hiburan dan mengetahui ada berita apa saja yang trending di kota.


"ayo Ar, ibuk sudah siap"


"kita foto dulu yuk buk pumpung cantik hehe"


"kamu ini, yaudah ayo sini"


Arsyi menyetel timer dan menpatkan handphone nya disamping televisi, ia berpose duduk dengan melipat tangannya diatas paha dengan sedikit congdong begitupun dengan Bu Rina.


Sudah banyak pose yang mereka lakukan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat ketika mendengar suara-suara warga.


Arsyi membawa handphone nya, Sebelumnya ia sudah izin dengan Bu Rina dan beliau mengizinkan asalkan Arsyi tidak ceroboh nanti.


Ungtungnya rok yang Arsyi kenakan ada saku yang bisa diresleting jadi cukup aman, meski begitu ia juga akan hati-hati nanti. Ya maklum kan handphone baru masih di eman-eman.


Di depan kantor kelurahan sudah banyak warga yang berkumpul, meski ada beberapa warga yang lebih memilih di sawah contohnya pak Mukhlis dan keluarga.


Tapi sayangnya tak ada warga yang memperdulikan mereka, bahkan ketidakhadiran mereka dari kemarin tidak ada satupun warga yang menanyakan kabarnya apalagi menghampiri ke rumahnya, tentu saja tidak.


Karena sifat dan sikap sombong nan angkuh yang dimiliki pk Mukhlis Bu Heni dan Ikhsan sudah sangat menyebar, apalagi kebiasaan beliau yang suka mengadu domba dan bermuka dua membuat warga sedikit jengah dengan beliau.

__ADS_1


Sebenarnya ketidakhadiran pak Mukhlis kali ini karena beliau memiliki rencana sendiri, nantinya didepan pak Wahid ia akan berdrama jika tak diberikan izin untuk mengikuti acara ini.


__ADS_2