Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
chapter empatpuluh


__ADS_3

Malam semakin larut namun sepasang suami istri ini sedang duduk di balkon dengan bercanda ria disana, menikmati hamparan ombak laut yang terlihat jelas dari atas sana tak lupa melihat fito yang telah diambil oleh orang suruhan Zafran tadi.


Tak sabar sekali bagi mereka untuk tujuh bulan kedepan, dimana nanti panggilan mama dan papa melekat dalam diri mereka dengan segala tanggung jawabnya.


Rasa bahagia akan semakin sempurna kala seorang bayi kecil akan besar diantara mereka dengan didikan dari mereka sendiri tentunya.


"nanti mas pengen cewe atau cowok" tanya Arsyi dengan menghadap ke atas karena saat ini ia tengah berbaring di paha suaminya.


"apapun itu asalkan nanti kamu dan anak kita sama-sama sehat, toh laki-laki atau perempuan kan sama saja itu pemberian dan tugas kita adalah mendidik mereka"


"iya juga tapi nanti kalau kaya di film film itu yng harus ada yang dipilih antara ibu atau bayinya"


"heh kebanyakan nonton film, mas nggak akan milih pokoknya dokter harus berusaha menyelamatkan kalian berdua" jawaban bijak itu keluar tiba-tiba dari mulut Zafran


"kalau tetep harus milih" tanya Arsyi ngotot memang anaknya kalau belum mendengar jawaban yang membuatnya puas.


"mas akan milih kamu, karena kalau sampai mas pilih anak kita dan harus ikhlaskan kamu itu sangat nggak mungkin bagi mas karena menurut mas pasangan yang menemani kita sampai tua bahkan yang merawat kita sedangkan anak belum tentu karena jika mereka dewasa pasti mereka akan memilih kehidupannya sendiri, terus kalau mereka ingin merawat kita dan istrinya atau suaminya tidak memperbolehkan? nah itulah alasan mas milih kamu karena mas mau kita sampai tua"


"mas tega dong ngerelain anak kita?" tanya Arsyi lagi


"kan bisa buat lagi yang"


"hishh kan mulai"


"apanya kan mas nggak ngapa-ngapain orang kamu yang mancing"


"enggak ya enak aja"


"iya deh mas yang mancing jadi sekarang ayo"


"kemana" tanya Arsyi sok polos

__ADS_1


"cari ynag anget anget mumpung lagi dingin" bisik Zafran tepat ditelinga Arsyi setelah itu dia langsung saja menggendong tubuh istrinya itu.


Arsyi tak memberontak takut-takut nanti dia yang dijatuhkan Zafran jadi dia mengalungkan tangannya di leher Zafran.


Sebelum memulai terlebih dahulu Zafran mengunci pintu dan menutup gorden disana, setelah itu biarlah mereka yang tahu karena author disuruh tutup mata sama Zafran katanya masih bocil jadi dikasih 1m disuruh beli permen hihi.


Jam malam berputar dengan cepatnya hingga matahari pahi mulai menampakkan sinarnya, usai sholat subuh tadi sepasang sejoli ini kembali tidur.


Tapi kali ini Zafran bangun lebih dulu dari Arsyi, ia segera mengambil handphone nya dan menghubungi orangnya untuk menghantarkan sarapan untuk dia dan sang istri, tak lupa dengan beberapa buah-buahan.


Kehamilan Arsyi memang tidak mengalami morning sickness seeprti ibu hamil pada umumnya tapi ia akan sulit makan nasi jika sedang tak moodnya, jika dipaksakan mungkin nasi itu masuk perut tapi porsinya sedikit atau nanti akan keluar lagi.


Jadi kadang Arsyi hanya makan buah atau lauk-lauk saja, ia pun belum mengalami ngidam yang aneh-aneh seperti kebanyakan ibu hamil tapi semoga saja yang tidak aneh aneh.


"sayang, bangun dulu yuk sarapan"


"ehm bentar mas"


______________


Ingatkah kalian dengan pak Mukhlis dan Ikhsan? ya betul sekali saudara bu rina yang sangat sangat itu kan.


Bagaimana kondisinya sekarang apakah lebih baik atau memburuk?.


Pak Mukhlis dan Ikhsan memang tinggal di kota meski begitu tidak berubah kebiasaan mereka sedari dulu. Uang hasil mereka bekerja habis untuk bersenang-senang dalam waktu satu malam.


Bahkan saat ini ditempat dimana mereka bekerja mereka beraki melakukan korupsi namun entah sampai sekarang belum terdapat kecurigaan dari pemilik kios sembako itu.


Mereka berdalih jika apa saja usaha mereka itu pasti tidak akan ketahuan karena lihat saja sampai sekarang belum diketahui boss-nya.


Kebiasaan Ikhsan celup sana sini sepertinya membuahkan hasil lihat saja saat ini tengah ada seorang gadis datang ke kontrakan mereka untuk meminta pertanggung jawaban.

__ADS_1


"lihat anak yang ku kandung ini anakmu san"


"cuih tidak sudi aku memiliki anak dari wanita kotor seperti mu itu, yakin sekali jika itu anakku bagaimana jika itu anakmu dari laki-laki lain"


"heh mana mungkin bahkan di hari itu aku tidak melakukan dengan siapapun selain kamu lelaki biadab" tunjuk wanita itu tepat di wajah Ikhsan


"mana mungkin ja***g sepertimu cukup dengan satu laki laki, tidak mungkin sekali"


"terserah kamu ingin percaya atau tidak san yang penting kau mau bertanggung jawab, bos tempat itu mengatakan jika mereka tidak akan menerima ku lagi jika aku masih hamil"


"lalu? gugurkan saja mudah kan?"


"lebih baik aku besarkan anak ini sendiri dari pada aku gugurkan dan aku bersumpah kamu akan terlibat masalah besar setelah ini dan akan menjadi perjaka tua nanti" ucap wanita itu dan langsung pergi sembari menyeka air matanya.


Mungkin pekerjaan nya keji lebih ke haram tapi wanita itu juga dipaksa oleh ibu tirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan bekerja seperti itu.


Wanita itu tidak akan pulang kerumah, ia akan mencari kos dan memulai lagi jalan yang benar. Dulu dia bisa dikatakan gadis baik-baik namun karena tuntutan ibu tirinya yang tamak itu membuatnya seperti ini.


Bahkan ibunya lah yang memasukkan gadis itu ie sebuah tempat haram itu.


"andai saja sulu ayah nggak nikah lagi, nggak mungkin ada kejadian seperti ini tidak ada drama kejamnya ibu tiri dan tragedi tempat haram yang merenggut Mahkota ku itu"


Sementara di tempat Ikhsan ia tak memperdulikan wanita tadi, ia masuk ke dalam kosnya dan sang bapak menganbil beberapa uang simpanan bapaknya untuk bersenang-senang.


Ia ada janji dengan temannya untuk mabuk bersama, mungkin sudah kecanduan Ikhsan ini dan pak Mukhlis pun tak jauh beda dengan anaknya.


Sebut saja buah jatuh tak jauh dari pohonya, uang yang selama ini mereka kumpulkan bahkan sudah habis oleh banyak botol botol minuman haram itu.


Mungkin suatu saat jika belum ada kejadian yang akan berkesan bagi mereka belum ada yang berhenti menjalani kebiasaan yang telah mereka lakukan sedari dulu.


Dalam benaknya mereka hanya berpikir toh uang mereka hasil kerja mereka jadi mereka juga. yang menghabiskan uang itu, pola pikir yang sangat pendek dan tidak memikirkan hari esok dan seterusnya karena terlalu sibuk dengan hari ini jadi mereka seolah tuli jika diingatkan.

__ADS_1


__ADS_2