
Semalaman penuh Zafran tidak tidur begitu juga Arsyi karena menemani suaminya yang sedar tadi merengek terus-terusan.
Suhu tubuh Zafran naik mungkin efek kehujanan kemarin, saat Arsyi sudah ingin memejamkan mata ia merengek mengeluh pusing lah, pegal lah atau yang lain hingga akhirnya Arsyi memutuskan tak tidur menemani suminya.
Bahkan Arsyi juga memijat pundak ataupun punggung Zafran, jika mungkin Zafran masih bisa tidur maka Arsyi tidak sama sekali.
Pagi ini Arsyi lekas bangkit setelah subuh tadi Zafran sudah bisa tidur nyenyak, sebenarnya semalam Arsyi sudah ingin membuatkan bubur tapi bergerak saja dia langsung didekap Zafran mana bisa jika harus ke dapur.
Arsyi membuat bubur tak banyak karena pasti yang makan hanya Zafran sebab ia tak terlalu suka bubur, agar rasanya nanti tak hambar di mulut Zafran ia juga membuat kuah kuning ala bubur ayam.
Biasanya jika di desanya kuah kuning itu diberi nama soto beningan tapi disini namanya kuah kuning.
Bubur dan kuahnya sudah matang tinggal saatnya ia mencari obat-obatan dulu, ungtung saja masih ada stok obat pereda nyeri, pusing dan penurun demam. Jika saja obat itu habis pasti akan mengaharuskan Arsyi untuk turun ke apotik.
Ah hampir saja lupa Arsyi belum membuat teh hangat untuk Zafran untung saja ia ingat, dengan cepat ia merebus air dan diselingi menaruh bubur dimangkuk serta kuah dimangkuk yang berbeda.
Sudah selesai semuanya kini saatnya ia membangunkan suaminya terlebuh dahulu.
"mas, bngun dulu makan bubur biar anget tenggorokannya"
"nggak mau yang"
"sedikit aja kalau nggak nanyi sakitnya tambah lama"
"tapi beneran pait yang nanti"
"cobain dulu nanti kalau pait makan sedikit aja"
Arsyi membantu Zafran untuk duduk bersandar di ranjang, setelah itu pelan-pelan ia menyuapkan bubur dan kuah kuningnya.
Ekspresi Zafran seperti sangat tertekan tapi melihat istrinya juga pasti lebih capek darinya ia tetap saja melahap makanan itu.
Sudah habis satu mangkuk Zafran memakan bubur dan dia sudha mengeluh kenyang, karena sebagai istri yang budiman Arsyi memilih untuk tidak memaksa dan segera memberi obat kepada zafran.
Nanti saja ia akan kembali menyuapi Zafran sedikit-sedikit tidak papa asal ada yang masuk kedalam perut daripada sama sekali tidak.
"Arsyi mandi dulu mas tidur lagi ya"
__ADS_1
"iya yang jangan lama"
Sudah mendapatkan izin Arsyi segera mandi tak lupa mencuci bajunya dan suami, sekitar tigapuluh menit berlalu wajar Arsyi sudah terlihat segar daripada sebelumnya.
Ia pergi ke balkon dulu untuk menjemur pakaian, tak butuh waktu lama mungkin nantinya sebab sudah ia keringkan dulu di mesin cuci tadi.
Mandi dan mencuci sudah tapi suaminya masih pulas tertidur Arsyi memutuskan untuk beberes rumah, masak dan mencuci piring. Meskipun ia merasa kantuk tapi masih bisa ditahan, ia akan menyelesaikan dulu pekerjaannya barulah serlah itu dia akan tidur.
Pukul setengah sepuluh pagi semua pekerjaan rumah sudah selesai, Arsyi juga baru saja selesai sarapan kini waktunya ia mengganti waktu tidurnya malam tadi.
Arsyi tidur meringkuk di samping Zafran dan menyembunyikan wajahnya didada suaminya, tak butuh lama Arsyi untuk terlelap ke alam mimpi sebab ia sudah dalam masa kantuk maksimal.
Tak lama setelah Arsyi tidur Zafran mulai terbangun, ia tadi merasakan pergerakan disampingnya dan ternyata istrinya yang saat ini tidur disampingnya.
"capek ya? maafin mas ya buat kamu nggak bisa tidur semaleman ditambah pagi-pagi kamu harus ngurus pekerjaan rumah, mas janji nanti kalau udah sembuh mas ajak ke suatu tempat, mas sayang kamu cup"
Zafran tak tidur lagi melainkan ia memandangi wajah cantik istrinya yang saat ini tengah damai di alam bawah sadarnya. Namun lama kelamaan rasa kantuk mulai menghampirinya lahi membuatnya mengeratkan pelukannya dan menyusul Arsyi kealam mimpi.
Pukul setengah satu Arsyi terbangun dari tidurnya, ia melihat Zafran yang kini masih tertidur lelap.
Arsyi bangkit terlebih dahulu untuk berwudhu sebab adzan dzuhur sudah sedari tadi berkumandang, untung saja ia sempat menyalakan alarm.
"mas bangun, Dzuhuran dulu"
"emm iya yang"
"eit jangan pegang-pegang Arsyi udah wudhu sana"
"ih harusnya kamu jangan wudhu dulu yang" rengek Zafran
"kalau lama Arsyi sholat dulu ya ini" ancam Arsyi
"iya iya bentar"
Zafran bangkit dengan lemah letih lesu, sedangkan Arsyi sudah terlebih dahulu menata sajadah serta menyiapkan baju koko dan sarung Zafran.
Tak lama Zafran keluar dengan wajah lumayan segar karena sudah terkena air, sepertinya dia juga sudah lebih mendingan tak seperti sebelum minum obat pagi tadi.
__ADS_1
Zafran memakai baju kokonya dengan sesekali menggoda Arsyi dengan ingin dipegangnya.
"mass ih jangan gitu, nanti kalau batal wudhunya nggak Arsyi suapin makan, nggak Arsyi temenin tidur, Arsyi tinggal aja disini sendirian"
"iya yang iya jangan marah"
"hem"
Sholat berjamaah pun mulai dilakukan, Arsyi mengajak Zafran makan dulu ke dapur. Sengaja agar Zafran tak tiduran terus karena menurut Arsyi jika sakit dan di bawa tiduran terus itu bukannya cepet sembuh malah semakin sakit.
Arsyi menguluarkan masakannya dari lemari makanan, ia juga memindahkan bubur pagi tadi kedalam mangkuk barangkali Zafran mau makan bubur.
Tapi jika ingjn memakan nasi Arsyi juga membuat sup daging yang sudah ia panaskan lagi tak lupa kuah kuningnya tadi juga ia panaskan.
"mau makn nasi atau bubur mas?" tanya Arsyi sembari menyiapkan piring
"makan kamu aja boleh nggak?" goda Zafran
"lagi sakit juga sempet-sempetnya"
"kenapa nggak sempet sayang, kan bisa ngasilin keringet jadi cepet sehat"
"ini makan juga bisa ngasilin keringet kalau mas makan sambil angkat barbel"
"tapi kan kalau itu butuh effort kalau makan kamu kan itu nggak perlu effort effort banget lah kan udah hapal"
"astagfirullah bisa-bisanya Arsyi punya suami kaya mas"
"harusnya bersyukur yang udah ganteng mapan sweet pokonya paket lengkap lah"
"iya nyeselin juga"
"coba itu nggak usah di sebut yang"
"kenyataannya begitu suamiku sayangg"
Mereka menyudahi pembicaraan tak bermutu itu dan dilanjutkan makan, Zafran yang dalam mode manja tentu saja menyuruh Arsyi untuk menyuapinya.
__ADS_1
Sedangkan Arsyi tak keberatan sama sekali sebab kalau suaminya yang makan sendiri pasti tidak habis apalagi dari awal makan sudah mengeluh pait namun juga habis satu mangkuk.
Sekarang giliran Arsyi yang makan ditemani Zafran yang menyender dipundaknya, sebenarnya agak susah tapi kalau ia larang nanti malah semakin menjadi jadi lebih baik ia biarkan saja.