Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
chapter empatpuluhtujuh


__ADS_3

"Ikut ya mas ya, masa dari dulu mau ikut pasti nggak dibolehin selagi dibolehin pasti nggak jadi pergi" ucap Arsyi galau


"mas cuma dua hari yang, janji lain kali kalau mas longgar"


"dua hari itu udah cukup mas"


"terus kalau kamu ikut kembar sama siapa hmm? lain kali ya ikut nya, mas benar-benar cuma sebentar kesananya nanti kita pergi kesana bareng kembar" ucap Zafran berusaha membujuk Arsyi.


"Yaudah sana pergi yang lama" ketus Arsyi kehabisan kesabaran.


Pasalnya sudah hampir setengah hari dia mati-matian membujuk Zafran tapi hasilnya nihil. Lusa Zafran akan pergi ke desa dan Arsyi ingin ikut pasalnya selama ia menikah belum pernah sama sekali ke desa.


Pernah satu kali Zafran menjanjikan namun batal karena ada hal yang lebih penting, dan saat itu mungkin Arsyi masih bisa menerima dengan ikhlas dan legowo, tapi sudah hampir 3 tahun bahkan rindunya dengan desa itu hanya bisa terobati melalui sambungan telepon.


Ia tak meminta waktu yang lama tapi ia hanya ingin bertemu dengan warga disana untuk mengibati rindunya dan juga bertemu kangen dengan tempat dimana dia dibesarkan itu.


Arsyi berdiri dan langsung pergi tanpa kata usai mengucapkan tadi, si kembar sudah tidur siang dan ia memilih masuk sana dengan mengunci pintunya.


Masa bodoh pikirnya saat ini, ia ingin egois untuk kali ini saja. Ia juga ingin dimengerti, sudah lelah ia mengerti orang-orang disekitarnya.


Mungkin tidak bisa memaksa orang itu terus mengerti dirinya tapi dia benar-benar ingin, bayangkan saja 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan rindu.


Ia juga ingin menghadap pusaran ayahnya untuk bercerita apa yang ia alami selama ini, menyampaikan betapa ia menginginkan ayahnya berada disisinya, namun nihil.


Arsyi memejamkan mata dengan air mata yang mengalir. Ia berpikir apakah sifatnya terlalu kekanak-kanakan jika seperti ini?.


"sayang bukain" teriak Zafran dari luar dan Arsyi didalam hanya diam saja.


Sedangkan diluar Zafran sudah frustasi dengan istrinya, disini ia yang salah atau istrinya? sungguh ia tak mengerti apa isi hati wanita.


Ia tak ingin mengajak Arsyi karena mengingat sebentar lagi juga lebaran jadi biarlah istrinya dirumah dulu, tapi malah salah paham sebab ia tak mengutarakan maksud itu.


Zafran terus membujuk Arsyi dari luar sedangkan yang didalam terus diam saja, sampai kini Razzan bangun dan melihat mamanya menangis.


"mamaa napa? tapa ikin mama anis?" tanya Razzan muncul sosok lain dalam dirinya.


"mama nggak papa nak, udah mau sore abang mau mandi apa nanti tungguin adek?" tanya Arsyi mengusap air mata dan bersikap seolah tak terjadi apapun.


"Unduin dek ay jaja"

__ADS_1


"yaudah mau mam jajan ini ada bekas mam abang tadi"


"dak maa, au anun dede"


"jangan ya nak, ditungguin aja adeknya kasihan kalau dibangunin nanti nangis gimana?"


"anis aya mamaaa"


"iya ganteng mama Masyaallah"


Singkatnya kini Arayi dan dua kembarnya tengah didapur dengan si kermbar yang memakan snack karena mengunggu mamanya membuat makanan.


Dimana Zafran? dia tertidur di sofa ruang tamu. Arsyi tak membangunkan karena semarah apapun dia melihat wajah capek suaminya pasti tidak tega ditambah ia sedang puasa.


Lantas tiba-tiba terbesit dalam benak Arsyi apakah puasanya batal karena dia marah, tapi pikiran itu terhenti kala suara Razzan yang menggema karena snacknya terjatuh.


"ihhhhh tok atuh ci, tan au zan atan"


"anan malah malah zan" tegur Rayyan dan Razzan terdiam seketika ketika Arsyi mulai mengganti snack mereka berdua dengan yang baru.


Tak lama Zafran datang dan tiba-tiba duduk disamping Kembar yang sedang makan, melihat itu Arsyi hanya diam saja karena misinya saat ini adalah ia baru akan berbicara panjang lebar saat Zafran mengajaknya ke desa.


Belum ada perbincangan dari kedua orang itu sedangkan anak-anak yang tak mengerti apa-apa pun hanya bermain seperti biasa.


Arsyi tak memasak buka karena rencananya ia akan memesan saja karena ia sedang tak bisa berpikir jernih untuk masak apa, dan pilihannya jatuh ke nasi padang yang ia beli memalui aplikasi grabfood.


"masih marah hmm?" bisik Zafran


"siapa yang marah" nada bicara Arsyi masih sama ketika tadi siang ia berbicara dengan Zafran


"kamu tuh buktinya dari tadi mas di cuekin" goda Zafran namun tak ada senyum yang terbit dari wajah Arsyi


"nggak tuh"


"nak dimakan dulu ya mama mau ke bawah sebentar" pamit Arsyi kepada kembar dan dijawab anggukan namun papanya yang merespon mewakili si kembar.


"mau ngapain?"


"nggak papa" lagi-lagi kalimat singkat yang keluar dari mulut Arsyi, entah kenapa kalau tidak sedang berhadapan dengan Zafran ia sudah berniat baikan, tapi kalau berhadapan dengan Zafran bawaannya kesel.

__ADS_1


"biar mas yang kebawah, kamu pesen makan kan?"


"biar Arsyi aja"


"nggak ada penolakan Arsyi" tekan Zafran membuat Arsyi sedikit tersentak, pasalnya baru kali ini Zafran menyebut nama jika dengan dirinya.


Namun ia tak mempermasalahkan toh itu memang namanya jadi tak ada yang salah mau Zafran panggil Arsyi arau yang lain itu hak Zafran.


"yaudah, pesanannya udah di resepsionis"


"iya"


Saat Zafran keluar Arsyi mulai menyiapkan piring-piring dan juga gelas, tadi ia sengaja pesan 3 porsi semuanya dengan lauk terpisah.


Hanya jaga-jaga kaeena biasanya Razzan dan Rayyan selalu mau apa yang orang tuanya makan.


Tepat sepuluh menit sebelum adzan Zafran sudah kembali, bertepatan dengan kembar yang sudah selesai makan. Dan bersiap menanyakan nama yang mama dan papanya baru saja sebut.


Mungkin mereka tak asing karena sering kali mereka mendengar nama itu jadi jiwa penasaran pun muncul.


"mamaa" panggil Rayyan


"iya nak apa"


"aci apa?"


"oh abang sama adek penasaran sama nama mama ya, Arsyi itu nama mama jadi mama Arsyi"


"tok papa agil aci itu"


"ya kan nama mama nak"


Mak jleb begitulah kiranya yang Zafran rasakan, ternyata secepat itu memori anaknya hingga baru saja ia memanggil dengan sebutan nama dan anaknya sudah berhasil merekam omongannya.


Gambaran lain kali ia harus berhati-hati berbicara didepan anaknya, semakin besar pastinya akan semakin cepat anaknya mengetahui apa yang orang sekitarnya bicarakan.


"maafin mas sayang nggak bermaksud gitu" ucap Zafran tak enak dengan Arsyi.


"nggak papa, ini minumnya udah kedengaran suara adzan"

__ADS_1


"abang sama adek mau aya pop?"


"dak maa udah tenan mam banak dek?" ucap Zafran meminta penguatan jawaban dari sang adek.


__ADS_2