Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
chapter tigapuluhsatu


__ADS_3

"aaa anak mama udah dateng, duduk dulu sayang biar suami kamu yang lanjutin" sambut mama Hesti sembari menggandeng erat menantunya.


"iya ma, maaf ya ma agak kemaleman" jawab Arsyi merasa bersalah sebab sebelumnya mama Hesti telpon dan bertanya kira-kira datang jam berapa dan Arsyi bilang sehabis isya mungkin.


Tapi karena ulah suaminya mereka kini sampai pukul setengah sembilan.


"nggak papa Ar mama tau pasti ulah suamimu kan, dia itu emang sebelas dua belas sama papanya nyeselin banget" ucap mama hesti disertai kekehan saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Kamu udah makan belum Ar? jangan-jangan nanti suamimu lupa kasih makan karena keasyikan main dikamar" celetuk mama Hesti membuat wajah Arsyi merah padam.


Bahkan ia hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban karena sungguh ia ingin menghilang saja karena mertuanya kadang kalau berbicara suka bener tapi nggak pake filter sama sekali.


"mama kira aku setega itu sama istriku, ya pasti aku kasih makan dulu ya kan yang?" tanya Zafran malah menggoda


"ck diem mas" bisik Arsyi sambil mencubit paha Zafran karena saat mengatakan tadi sudah duduk disamping Arsyi sedangkan papa Dika disamping mama Hesti.






Tak terasa pernikahan Arsyi dan Zafran sudah menginjak bulan ke sepuluh, belum ada tanda-tanda Arsyi berbadan dua. Namun support dari ibu dan mertuanya membuatnya juga semangat.


Tapi akhir-akhir ini Zafran berbeda menurut Arsyi, dia lebih sering pulang malam dan berangkat pagi-pagi dan apabila Mama hesti atau Arsyi bertanya dia akan menjawab jika perusahaan sedang menjalin kerja sama besar membuatnya sibuk.


Berbeda jawaban dengan papa Dika karena menurut beliau kerja sama besar dengan perusahaan lain sudah terjalin sejak beberapa waktu lalu bahkan seharusnya Zafran bisa mendapat libur bulan ini.


Arsyi pun memahami karena ia tak terlalu tahu menahu mengenai pekerjaan Zafran. Arsyi sebenarnya merasa ganjal sebab dua bulanan ini ia tak mendapati tamu bulanan tapi karena kebiasaan datang bulanannya yang tak teratur membuat Arsyi tak curiga.


Malam ini dia menunggu suaminya dilantai dua lebih tepatnya di depan televisi sebab sudah menunjukkan pukul sebelas dan pastinya kedua orangtuanya sudah tidur dan para pekerja disana sudah istirahat.


Sampai pukul dua belas Zafran belum pulang, Arsyi mulai merasa kantuk tapi rasanya matanya belum bisa terpejam.


Tak lama suara mobil mulai terdengar memasuki halaman mansion, Arsyi segera mematikan televisi dan turun untuk membukakan pintu.

__ADS_1


Tepat sekali saat pintu sudah terbuka nampaklah suaminya dengan wajah yang terlihat kusut.


"sini biar Arsyi yang bawakan tasnya mas" ucap Arsyi dan Zafran menyerahkan tas tersebut tanpa menjawab ucapan Arsyi.


"mas Zan kenapa" batin Arsyi bertanya-tanya tapi ia segera menepis dan mengunci pintu kembali untuk segera mengejar suaminya yang sudah tak terlihat lagi.


Sampai kamar ia dikagetkan suara Zafran yang sngat menusuk bagi Arsyi.


"mas udah capek nunggu, besok kita konsultasi aja ke dokter biar segera dapat arahan meski nantinya harus promil atau bayi tabung" ketus Zafran


"iya mas" Jawab Arsyi sungguh saat ini ia sedang mati-matian menahan air matanya, ia merasa gagal menjadi istri sebab sampai saat ini ia masih belum memberikan buah hati kepada suaminya.


"mas mau mandi tolong siapkan airnya cepat" suruh Zafran


"apa nggak sebaiknya mas mand-


"bilang aja nggak mau nyiapin pake acara ngelak segala, dasar mandul" sentak Zafran dan saat itu juga air mata Arsyi luruh.


Bukan keinginannya untuk tidak segera punya anak, bukan keinginannya untuk membuat semuanya menunggu bahkan ibu dan suaminya yang menanti bayi kecil darinya tapi apa dayanya yang hanya seorang hamba dan sedang menjalani takdir dari tuhannya.


Meskipun ia sakit hati tapi dia tetap berjalan ke walk in closed untuk menyiapkan baju ganti suaminya karena Zafran sudah berjalan ke kamar mandi setelah mengatakan tadi kepada Arsyi.


Ia memilih Berpura-pura tidur agar masalah tadi tak semakin panjang, dan membuat perkataan Zafran tadi sebagai angin lalu saja meski air matanya masih terus turun bebas dengan matanya yang terpejam.


Singkatnya Zafran sudah berbaring disamping Arsyi, ia tak memakai pakaian yang disiapkan istrinya tadi dan memilih mencari baju ganti sendiri.


"saya capek nunggu kamu hamil, bahkan sudah hampir setahun kita nikah dan apa kamu belum juga hamil kenapa nggak dari awal aja kamu bilang kalau kamu susah punya anak" gumaman Zafran yang masih terdengar jelas oleh Arsyi.


"Ya allah sesakit ini ternyata, mungkin jika orang lain yang mengatakan tidak sesakit ini tapi ini siamu hamba sendiri yang mengatakan itu. Ya allah mungkin saat ini hamba sedang membutuhkan kun fayakun mu untuk memberikan hamba yang terbaik menurutmu, Akan ku perbaiki aamiin ku agar dapat merayumu" batin Arsyi.


Pagi harinya Zafran bangun terlalu siang matahari pun mulai menusuk pandangan nya, dan sudah tidak mendapati Arsyi disampinya entah mengapa rasanya ia ingin sekali marah kepada istrinya itu yang membuatnya terlambat ke kantor.


Selesai mandi dan bersiap Arsyi masuk, tatapan Zafran sangat menusuk bahkan terkesan sangat menyeramkan.


Sifat yang tak orang ketahui mungkin hanya seorang istrilah yang mengerti bagaimana sifat seorang suami, bahkan seorang ibu pun belum tentu mengetahui sifat asli putra atau putrinya.


"darimana aja, sengaja nggak bangunin saya biar saya telat kamu mikir nggak kalau saya seorang pemimpin yang harus datang tepat waktu untuk memberikan contoh kepada bawahannya bahkan saya kerja untuk kamu tapi dengan tidak tahu terimakasih nya kamu melupakan hal-hal sepele seperti ini, DASAR PEMBAWA SIAL, MANDUL, TUKANG NGADU POKOKNYA KAMU ITU PERGI SAJA DARI HIDUP SAYA DAN JANGAN PERNAH KEMBALI DAN JANGAN PERNAH KAMU GUNAKAN APA YANG PERNAH SAYA FASILITASI KE KAMU"

__ADS_1


Sentak Zafran mendorong tubuh Arsyi ke kasur dengan kerasnya, lalu dia meninggalkan begitu saja.


Tak lama setelah kepergian Zafran Arsyi mulai mengambil sling bag miliknya, ia memasukkan hal yang dirasa penting dan miliknya sendiri.


Arsyi mengeluarkan beberapa kartu pemberian Zafran, ya dia akan pergi dan tidak akan menggunakan kartu itu karena itu milik Zafran.


Ia hanya membawa handphone miliknya dulu yang diam-diam sudah ia antar ke konter mas Rokhim untuk dibenahi dan saat ini ia tengah memindahkan data-data di handphone pemberian Zafran lalu mereset Handphone tersebut ke setelan pabrik.


"Maaf jika kehadiran Arsyi memang mengganggu, wanita mandul seperti yang mas ucapkan memang pantas untuk Arsyi dan sekarang kita tidak berhubungan terimakasih memberikan Arsyi kesempatan untuk bersanding dengan mas setelah ini Arsyi tidak akan mengganggu mas lagi dan tidak akan menggunakan fasilitas dari mas" ucap Arsyi sebelum keluar dari kamar.


Di bawah Arsyi berpapasan dengan mama Hesti, beliau nampak heran karena Arsyi jarang keluar apalagi tidak bersama dia atau suaminya.


"mau kemana Ar?" tanya mama Hesti


"kerumah ibuk ma, tadi udah izin juga sama mas Zan" jawab Arsyi dengan tersenyum sekilas tak terlihat jika ia habis menangis.


"biar mama antar ya"


"nggak usah ma, mama dirumah aja" tolak Arsyi


"yaudah biar diantar pak supir aja, biar mama yang ngomong"


"iya ma boleh"


Setelah ia drama kepada mama mertuanya sekarang dia sudah sampai di rumah ibunya, sampai sana dia langsung memeluk sang ibu didalam kamar Bu Rina.


Arsyi menangis dengan menceritakan apa yang Zafran ucapkan kepadanya, air mata Bu Rina pun ikut luruh biasanya putrinya tidak akan bercerita apapun terhadapnya mungkin saat ini Arsyi sedang capek hingga tak dapat menahan beban tersebut.


"kita memang dari keluarga miskin dan berasal dari desa, tapi Arsyi juga punya hati dan pasti sakit kalau dikata seperti itu walaupun oleh suami Arsyi sendiri"


"sudah jangan terlalu larut, apakah kamu pamit kepada suamimu?" tanya Bu Rina dijawab gelengan kepala oleh Arsyi


"terus sekarang bagaimana, ibuk akan ikut apa katamu nak selagi tak membuatmu tertekan menjalani ini semua" tutur Bu Rina


"Tadi kan mas Zafran bilang kita tidak boleh menggunakan fasilitas darinya maka dari itu ibuk nggak keberatan kan kalau kita pergi ke desa lagi atau mencari kos-kosan untuk sementara waktu"


"sama sekali tidak, tapi apa tidak sebaiknya kamu bilang dulu ke suamimu"

__ADS_1


"tidak perlu bu, bahkan dia sendiri kan yang meminta Arsyi untuk tidak mencampuri urusannya lagi makanya ayo kita pergi saja Arsyi sadar kalau memang Arsyi tidak pantas jntuk mas Zafran"


__ADS_2