
"nggak papa, belum tentu ini bener kan mas? Arsyi juga paham kalau pun nanti mas kembalikan Arsyi karena kita memang berbeda dari segi apapun diibaratkan mas adalah langit dan Arsyi adalah tanah lapisan yang paling bawah atau mas adalah sebuah berlian yang pantas mendapatkan batu permata bukan remahan batu bata"
Makanan yang tadi sudah Arsyi tata di Tupperware Arsyi pindah ke piring untuk ia makan sedangkan Tupperware nya ia taruh di wastafel belum ia cuci sebab tadi ia sudah sempat mencuci peralatan masaknya.
Satu yang Arsyi lupakan yaitu Tupperware yang berisi buah dan secarik permohonan maaf yang serada disamping wastafel.
Sakitnya datang bulan yang Arsyi rasakan kali ini kalah sakit dengan hatinya yang terlanjur kecewa. Disini ia mengaku kalah dan salah.
Ia merebahkan dirinya di ranjang sembari menahan sakitnya datang bulan yang berkali-kali lipat, bahkan wajahnya kembali pucat seperti satu minggu lalu saat ia bangun dari kritis, bahkan saat ini kepalanya ikut nyut-nyutan.
Arsyi bahkan tak kuat untuk sekedar bangun, benar-benar seperti sedang diremas dengan kuat perutnya saat ini.
Sore datang, Zafran pulang dari kantor dalam keadaan kacau bau asap rokok masih menempel di jas yang ia kenakan parfum khas cewek pun tercium disana meski tak terlalu kuat.
Melihat Zafran datang Arsyi pun menguatkan diri untuk berdiri meski perutnya sangat sakit dan nyut-nyutan di kepalanya masih berasa.
"mas" satu kali panggilan belum ada sahutan
"mas Zan" panggil Arsyi sedikit lebih keras
"APAAN, DAHLAH LO DIEM AJA NYUSAHIN TAU NGGAK" bentak Zafran
"tap-
__ADS_1
"APA MAU NGELAK MACAM APA SIH LO TUH ORANG MISKIN YANG NUMPANG HIDUP SAMA GUE" sepertinya Zafran dalam pengaruh alkohol dan mungkin dia baru pertama kali sebab dapat dilihat dari gerak geriknya.
"ORANG NGGAK TAHU BERTERIMAKASIH MACAM LO NGGAK PANTES BERSANDING DENGAN GUE, KITA BEDA BAHKAN LO PANTESNYA JADI PEMBANTU GUE" bentak Zafran lagi dengan mencekik leher Arsyi
"lepas mas, Arsyi tahu arsyi salah Arsyi minta maaf tolong lepas" tangis Arsyi tak terbendung lagi
"LO NGGAK USAH URUSIN HIDUP GUE LAGU, URUSIN HIDUP LO YANG JAUH BANGET DARI KRITERIA GUE PANTES LO MURAHAN KARENA LO ORANG DESA YANG BERLAGAK POLOS TAPI LICIK KARENA NGGAK PERNAH DAPET DIDIKAN BAPAK LO" Sentak Zafran menunjuk wajah Arsyi, dan itu berhasil membuat Arsyi sadar siapa dirinya.
"BRENGSEK" teriak Zafran setelah itu di menuju kamar mandi dan membantingnya sangat keras.
Disaat itu juga tubuh Arsyi langsung luruh, kakinya terasa lemas dan pandangannya lurus ke depan.
"kenapa dulu aku nggak pernah kepikiran kalau nikah sama orang kaya bakal begini, nyatanya yang mengatakan akan tulus hanyalah kata dan sekarang hartalah pembandingnya" air mata Arsyi keluar dengan bebas, ia menekuk kakinya hingga wajahnya bertumpu pada kudua kakinya.
"buk Arsyi tahu Arsyi salah, Arsyi tahu Arsyi dari keluarga nggak mampu lantas apakah orang kaya seperti mereka hanya mempermainkan Kita?"
Ia menangis sampai sesenggukan, dapat dilihat dahinya kembali mengeluarkan darah namun sang empu tak merasakan sakit itu.
"ibuk hiks hiks Arsyi takut" lirih Arsyi namun mampu di dengar Zafran, dia juga merasa bersalah telah membentak bahkan sampai mencaci istrinya seperti itu, tapi emosinya benar-benar tak bisa ia tahan apalagi ia dibawah pengaruh alkohol yang dituangkan temannya tadi.
"Arsyi jahat, kenapa harus berpura-pura lihat endingnya Arsyi kamu terlalu bodoh untuk mensutradarai film ini, kamu jahat Arsyi benar-benar jahat hiks hiks" ucap Arsyi sambil memukul kedua kakinya.
"mas minta maaf, mas yang jahat kamu baru sembuh tidak seharusnya mas mendiamkanmu seperti kemarin dan membentakmu seperti hari ini" suara lembut itu menusuk ke pendengaran Arsyi tapi ia hanya mampu menunduk.
__ADS_1
Ia tak berani menatap Zafran semua ucapan yang terlontar tadi masih berputar di benaknya termasuk perihal foto siang tadi.
"Arsyi yang minta maaf Arsyi nggak terus terang kalau Arsyi perlahan mulai pulih, sekarang keputusan ada di mas Zafran kalau mas mau buang kembali Arsyi ke desa silahkan karena Arsyi ini gadis yang berlagak polos tapi licik" lirih Arsyi menahan air matanya.
Zafran tak mampu mendengarkan kalimat apa yang nantinya akan keluar dari mulut Arsyi, ia mengangkat dagu istrinya dan dapat dilihat darah segar yang mengalir di dahi Arsyi.
Satu hal yang Zafran lupakan sebelum ia bertindak jauh sebab di seluruh apartemen ini diawasi oleh CCTV yang terhubung oleh tuan besar el-zein, Raditya Dika el-zein.
Yang sejak tadi melihat pertengkaran mereka bahkan melihat adegan dimana Zafran membentak Arsyi, amarahnya membuncak bagaimana ia mendengar kalimat itu keluar dari mjlut putranya.
Terlebih ia mendapat laporan dari anak buahnya jika tadi Zafran sempat pergi bersama temannya untuk meminum alkohol bahkan papa Dika mengetahui jika ada yang mengirimkan foto Zafran ke Arsyi menggunakan nomor Zafran.
"Sampai kapanpun mas nggak akan lepasin kamu, maaf maaf tadi mas beneran nggak sadar jujur mas tadi minum alkohol" jelas Zafran dan Arsyi masih diam saja ia mengusap pelan dahinya dan benar saja darahnya masih terus keluar.
"kemarin mas kecewa karena kamu nggak inget mas apalagi ada tuntutan pekerjaan membuat mas nggak bisa ngontrol emosi, tadi siang ada temen mas yang ngajak ke bar dan mereka bilang kamu yang nggak nggak dan bodohnya mas dengerin perkataan mereka sampai bentak kamu kaya tadi, mas minta maaf sayang" tambah Zafran namun Arsyi masih diam.
Dia bangkit untuk membersihkan diri dan mengganti perban di kepalanya.
"ayo mas temani kamu bersih-bersih" ucap Zafran, sepertinya ia sungguh menyesal mengatakan tadi.
"nggak usah, mas Zan makan aja dulu kalau belum makan maaf masakannya seadanya karena Arsyi nggak tahu banyak makanan orang kota" jawab Arsyi terkesan menohok lalu melepaskan pelan tangan Zafran.
Karena Zafran juga lapar dia memutuskan ke dapur dan melihat ada masakan Arsyi disana. Saat hendak mengambil piring tak sengaja ia menangkap kotak Tupperware yang mana ada tulisan disana.
__ADS_1
Dengan ragu Zafran membuka secarik kertas tersebut, terdapat tulisan tangan Arsyi disana.
Maaf kalau kemarin buat mas sakit hati, Arsyi sudah hampir sembuh bahkan sedikit demi sedikit sudah ingat kalau mas suami Arsyi maaf ya buat kemarin, udahan marahnya ya mas marah terus juga butuh tenaga ini ada buah juga. Uhibbuka Fillah ya zauji