Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
Chapter tigabelas


__ADS_3

"DENGARKAN INI BAIK-BAIK DAN JANGAN SAMPAI KAU MENANGIS DARAH SETELAH TAHU SIAPA DIRIMU SEBENARNYA YANG BEGITU BERANI, KAU INI ANAK DARI SEORANG PELAC*R YANG BODOH ATAU LEBIH TEPATNYA KAMU ITU ANAK PUNGUT"


Tubuh Ikhsan diam membeku ia bingung harus berekspresi bagaiman, ia bingung ini nyata atau mimpi.


Pak Mukhlis sejujurnya belum siap menyampaikan ini ke Ikhsan tapi entah emosinya begitu memuncak.


"itu artinya kita nggak sedarah kan, lucunya hidup gue" tawa Ikhsan


"terus apa alasan Lo milih pungut gua" teriak Ikhsan


"karena wanita itu, Heni dia alasan gua buat pungut Lo karena dia nggak bisa punya anak dan gua nggak mau citra gua di masyarakat hilang gara-gara gua nggak bisa punya anak" jelas pak Mukhlis


"jadi kenapa Lo nggak ceraikan Bu Heni kan bisa aja Lo nikah lagi tanpa nyakitin orang"


"karena nggak semudah itu dulu gua nikah juga terpaksa sama dia, dulu dia pelacur sama kaya wanita murahan itu dan gua dulu nikahin karena gua pikir hidup gua akan berubah dulu dia anak orang kaya tapi nyatanya orang tuanya bangkrut setelah dua bulan kita nikah"


"terus kenapa nggak Lo langsung ceraikan aja pas lagi bangkrut bangkrut nya, kenapa malah Lo ajak hidup sama-sama dan Lo manjain"


"karena dulu gua terkenal dengan suami yang loyal jadi gua terusin aja biar dapet pujian"


"gila Lo" ucap Ikhsan lalu pergi berlalu ke kamarnya.






Malam hari saat Ikhsan keluar kamar ia mendapati pak Mukhlis yang sedang duduk di salah satu kursi didalam rumah.


Saat ia akan pergi pak Mukhlis menghentikan langkahnya.


"San sini dulu bapak mau ngomong sesuatu"

__ADS_1


"apa Ikhsan mau pergi"


"duduk dulu" titah pak Mukhlis


Setelah Ikhsan duduk dengan tenang dan mengeluarkan rokok dan korek dari saku celananya pak Mukhlis angkat bicara kembali.


"kamu ngerasa nggak sih kalau kedatangan tiga Pri brengsek tadi itu pasti ulahnya Rina, bulekmu yang nggak berguna itu"


"hah?"


"mana mjngkin mereka mengetahui begitu saja, meski si brengsek itu sudah bilang jika Bu sus itu yang ngasih tahu tapi bapak kayak nggak percaya, mana mungkin orang-orang berani mengusik kita tanpa ada yang nyuruh bukan?"


"iya juga, tapi kalau soal gua yang bukan anak kandung Lo lebih tepatnya anak pungut itu kan beneran"


"tentang kematian wanita nggak berguna itu, oke bapak akuin kalau itu bapak yang ngelakuin tapi saat itu kan orang orang sedang nggak ada dirumahnya jadi nggak memungkinkan orang-orang tahu"


"tapi bapak juga gila, hanya karena masalah sepele seperti itu sampe hilangin nyawa orang biasab juga" senyum smirk terpancar di bibir Ikhsan


"nggak usah basa-basi lagi bapak nggak rela ada orang lain yang mencampuri hidup kita apalagi dua brengsek itu" geram pak Mukhlis


Keesokan paginya entah merasa tidak rela meninggalkan rumah bahkan Bu Rina beberes sampai memasukkan beberapa berkas penting ke dalam tas ia juga meminta Arsyi untuk menyimpan handphone nya kedalam tas yang sama saat akan berangkat ke kebun nanti.


Arsyi sedikit bingung dengan perintah ibunya tapi ia tak melawan karena melihat raut khawatir dan gelisah milik ibunya.


Setelah bersiap-siap untuk berangkat ke kebun Bu Rina dan arsyi mengunci pintu terlebih dahulu, mungkin kunci di desa tak seaman seperti kunci-kunci di kota tapi ya mereka merasa tenang jika pergi dalam keadaan rumah sudah terkunci.


Sampai kebun Bu Rina lebih sering melamun bahkan beliau terus gelisah, sebenarnya ia juga tidak tahu mengapa demikian.


Tak ingin dikuasai rasa gelisah itu Bu Rina segera melakukan aktivitas seperti biasa, ia bersikap seolah tak merasakan apapun.


Matahari mulai beranjak sedikit demi sedikit, waktu siang terlewati begitu saja yang tadinya Arsyi dan Bu Rina dan para buruh lainnya sudah istirahat Dzuhur kini sudah kembali lagi melaksanakan pekerjaan seperti sebelumnya.


Di rumah pak Mukhlis dia sudah mempersiapkan satu drigen bensin, seperti yang sudah ia dan Ikhsan rencanakan malam tadi dan keadaan rumah yang dari bambu akan memudahkan api untuk cepat merambat.


Dirasa waktunya sudah pas karena suasana desa sedang sepi-sepi nya mereka pun pergi dengan biasa saja tanpa menimbulkan kecurigaan jika ada satu atau dua warga yang bertanya.

__ADS_1


Urusan bensin tadi mereka bawa menggunakan kresek hitam besar, nantinya mereka juga akan mengeluarkan baju-baju pemilik rumah.


Karena mereka berpikir untuk apa baju dibakar, akan mempersulit saja.


Tak lupa saat pak Mukhlis sedang memasukkan baju-baju dengan grusa grusu Ikhsan sedang memantau pergerakan pak Mukhlis dan warga barangkali ada yang mendekat.


Sudah siap baju-baju itu mereka membanting tas yang berisi baju itu keluar dan menuangkan bensin di sekitar rumah, seperti yang diketahui jika bensin dan api akan memudahkan untuk membakar sesuatu dan ya itu terbukti, Ikhsan memberi kode agar pak Mukhlis segera mendekat kearah nya dan bergegas pergi.


Api begitu cepat berkobar, asap-asap pun mulai terlihat dan para warga yang bekerja tak jauh dari rumah itupun segera mendekat memberi pertolongan.


"eh eh itu ada yang terbakar lihat lihat apinya besar" teriak bapak bapak heboh


"iya ayo kita lihat, rumah siapa ituu ya Allah" histeris ibu ibu


"Ayo ayo cepat kasihan apinya begitu besar"


Para warga itupun mendekat dan ternyata rumah pun tinggal separuh saja separuh lainya sudah habis terbakar, namun mereka dengan cepat mencari kran air serta slang dan mencari bantuan ke para warga lainnya.


Di kebun Bu Rina melihat kepulan asap dari arah rumahnya pun ikut panik, tak lagi memperdulikan bawaannya tadi ia segera memanggil Arsyi untuk mendekat.


"Ar Ar sini cepat ayo kita pulang lihat itu ada asap Ar dari arah rumah kita ayo pulang" teriak Bu Rina mengundang perhatian warga.


Mereka tadi sempat mendengar teriakan juga tapi mereka menganggap itu halusinasi mereka.


"bu Rina ada apa bu?" tanya pak Pardi


"itu pak ada asap banyak sekali ada apa disana" gelisah Bu Rina


"ayo pak Bu kita cek sama sama saja" ajak Bu Sati


Mereka pun berbondong bondong datang ke arah asap itu, kebetulan sekali mereka bertemu dengan bapak bapak yang tergopoh-gopoh mendekat kearah mereka.


"Bu ayo cepat pulang, rumah ibu terbakar Bu ayo cepat"


Bagai Sambaran petir hati mana yang tidak kaget bahkan siang tadi Arsyi dan Bu Rina meninggalkan rumah dalam keadaan baik-baik saja dan bisa dipastikan tidak ada api yang menyala.

__ADS_1


"ya Allah apa ini" lirih Arsyi


__ADS_2