Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
Chapter tujuhbelas


__ADS_3

"Lilis, kapan pulangnya" panggil Arsyi saat akan berangkat ke masjid bersama dengan kinanti dan juga Novi


"Eh kalian apa kabar" histeris Lilis dan langsung berlari kearah mereka


"kita baik, kamu sendiri bagaimana lancar kan kerjanya?" tanya Novi


"aku bakal didesa terus setelah ini"


"loh kenapa, kata ibukmu kamu sudah mendapat pekerjaan di kota" kaget kinanti


"iya cuam nggak betah aja lama-lama jauh dari abpak ibu hehe kangen juga sama kalian"






Waktu panen tiba, Zafran datang dari kota bersama sang papa yang mendesak ingjn ikut melihat bagaimana indahnya desa ini secara langsung.


Disawah ada Arsyi, bu Rina dan dibantu oleh kinanti yang sibuk memanen cabai dan juga pisang.


Satu lagi kabar baik yang akan Arsyi sampaikan jika nanti sore Novi akan melakukan lamaran dengan Thio teman sebaya mereka waktu sekoalh dulu.


Dan rencana ijab qobulnya akan dilaksanakan lusa pukul delapan pagi, tak ada acara mewah di desa ini mungkin hanya sebatas hajatan yang mengundang tetangga dekat atau bahkan satu desa.


"Buk na ini ditaroh maa?" tanya kinanti


"taruh keranjang dekat pohon itu kin, nanti biar enak kalau mau ngangkat"


"ohh iya buk na"


Satu keranjang berukuran sedang Kinanti angkat bersama Arsyi bukan berat lebih tepatnya takut tumpah.


"Ar gimana menurut kamu kalau Novi mau nikah secepat ini?"

__ADS_1


"ya bagus lah kin, kamu pengin ya?" goda Arsyi


"nggak sih bukan gitu maksudnya, cuma kayak temen-temen tuh pada ngambil langkah secara mendadak gitu gak sih"


"maksudnya? kok saya ngeleg ya"


"Lilis kemarin ambisi banget mau ke kota terus pas udah sampe sana malah kaya nyerah gitu terus si Novi tiba-tiba aja bilang mau nikah"


"ya mungkin mereka udah mikirin ini matang matang cuma ngasih tahu ke kitanya aja yang udah deket waktunya" ucap Arsyi berpositif thinking


"mungkin, ya aku harap mereka bisa menentukan kedepannya gimana"


"tapi kalau aku udah ada jodohnya mungkin juga bakal nikah si hahahaha" canda Arsyi dan Kinanti pun muali terkekeh


"aku juga, tapi rada takut juga masih muda juga mau bantuin orang tua dulu aja deh"


"nah gitu bener, aku juga bercanda tadi"


Setelah Dzuhur Zafran dan pak Dika sudah sampai di desa dengan ditemani beberapa asisten, tidak ketinggalan Aryan asisten pribadi Zafran.


Tibalah giliran sawah bu Rina, sesi timbang menimbang dimulai. Bu rina menunggu disana bersama Arsyi dan Kinanti. Mereka fokus memperhatikan timbangan, sedangkan seorang pria malah terfokus kepada objek lain.


Zafran, dia justru fokus memandangi Arsyi yang memang memiliki kulit kuning langsat yang bersih tidak ada jerawat ataupun bekasnya.


gerak gerik Zafran tak lepas dari pandangan pak Dika yang merasa ada yang aneh dari gelagat putranya. Ia memang mengakui jika salah satu gadis didepannya ini memiliki paras ayu.


Kalaupun pak Dika masih muda beliau juga akan terkesip melihat gadis didepannya ini.


Lama diam pak Dika menyenggol lengan putranya dan memberikan sorot mata tajam seolah-olah dia sedang tak suka dengan sikap putranya.


"Kamu ini jangan jelalatan matanya, heran papa tuh kamu itukan sukanya sama cowo ngapain ngelirik cewe" bisik pak Dika.


Aryan yang mendengar bisikan tuan besarnya pun sedikit menahan tawanya hingga tatapan tajam sang bos menghentikan tawa itu.


"udah lah Zaf kamu kan menikmati harimu dengan cowomu ngapain juga masih melirik yang lain heran deh papa" tambah pak Dika


"papa kalau ngomong suka salah, kalau aja kita lagi dirumah Zaf aduin ke mama biar nggak dapat jatah" ancam Zafran dan berhasil membuat pak Dika mati kutu karena kalah telak melawan putranya.

__ADS_1


200 kg , berat cabai yang dihasilkan sawah bu Rina. Cukup banyak untuk panen yang ke 3 kalinya dan Bu Rina serta Arsyi pun puas mendengar itu.


"Ini bu 200 kg dan sekarang harga cabai diangka 55 ribu, jadi ini uangnya 11 juta rupiah" ucap Aryan mewakili bosnya.


"Iya terimakasih pak Aryan, pak Zafran dan pak Dika semoga puas dengan hasil cabai kami" ucap bu Rina


"semoga bu, untuk kebun bu Rina sendiri kapan panen nya agar kami bisa menyesuaikan jadwal untuk kesini" jawab Zafran sembari bertanya


"belum tahu pak sekarang cabainya masih kecil-kecil" sahut Arsyi


"ada handphone mbak? kalau ada bisa saya minta nomornya untuk bertukar kabar kapan cabainya dipanen" izin Zafran, mendengar itu Aryan melongo sejak kapan ini bosnya berubah, meminta nomor telepon terlebih dahulu. Ckckck perlu diberi penghargaan, batin Aryan.


"Apa tidak berlebihan ya pak, bagaimana jika nanti bapak kira-kira saja" jawab Arsyi ragu bahkan sangat ragu


"tidak, cepat berikan nomor teleponmu mbak" Panggilan mbak terkesan geli ditelinga Pak Dika, bahkan beliau sudah menanti kapan sampai dimansion karena ia ingin mengolok-olok putra bungsunya


____________


"Cipit birikin nimir tilipinmi mbik" cibir pak Dika sembari tertawa


"apa sih pa nggak jelas deh" ucap mama hesti mengagetkan


"anak kita ternyata tertarik dengan perempuan sayang, bahkan dia sampai rela meminta nomor teleponnya terlebih dahulu dengan berdalih jual beli" bangga papa Dika sementara Zafran sudah jengah dengan sang papa


"lah kan siapa yang bilang anak aku ini nggak doyan perempuan kan papa sama abang-abangnya yang bilang mamah ma enggak ya kan nak?" tanya mama hesti diikuti anggukan oleh Zafran


Pak Dika dan Bu Hesti tak terlalu mempermasalahkan ekonomi calon menantunya bagi mereka jika anak-anaknya sudah suka maka mereka juga akan merestui, sebab nantinya anak-anak lah yang menjalani bukan mereka.


Yang terpenting perilaku dari calon menantunya sopan saja mereka sudah memberikan restu, iya semudah itu.


Jika ingin memiliki menantu dari keluarga kaya atau berada pun pasti mereka sudah menentang pernikahan Zaidan dan Salma karena mereka berbeda tapi karena bagi mereka harta seseorang tidak menjamin perilaku seseorang.


Orang tua ini tak ingin egois dengan menuruti kemauan mereka dan mengorbankan sang anak, karena anak adalah prioritas utama mereka. Dan lagi anak mereka itu laki-laki semua, jadi tanpa harta dati istrinya laki-laki itu sudah memiliki kewajiban untuk menafkahi bukan dinafkahi.


"alah Zaf kalau suka itu langsung saja dinikahi nggak usahlah nunggu lama-lama apalagi basa-basi kelamaan emang kuat kamu jadi perjaka tua, belum aja ngerasain surga dunia" celetuk Zayyan yang menggendong putrinya


"Oke kalau gitu, mama sama papa kasih restu kan kalau Zafran nikahin gadis itu" kini Zafran dalam mode serius menghadap kedua irang tuanya

__ADS_1


__ADS_2