
Pagi hari ini Arsyi dan bu Rina bisa istirahat lantaran mereka libur jualan, kemarin juga sudah sempat info kepada para langganannya.
Mereka libur lanataran ada salah satu warga yang mengundangnya acara walimah, atau bisa dibilang akad nikah.
Rumah orang yang ounya hajat itu pun tak berjarak jauh dari rumah kontrakan mereka, dan dari pagi Bu Rina sudah diminta untuk membantu sedangkan Arsyi masih dirumah untuk beres-beres.
Di apartemen Zafran sudah siap, ia memakai pakaian sebiasa mungkin bukan karena malu tapi ia ingin Arsyi tak mengenalinya terlebih dahulu.
Dibawah ia sudah ditunggu Aryan, pak Basri dan pak Mafrur. Tak lama Zafran turun dengan tangan kosong.
"ayo yan cepat"
"baik pak"
Setelah menempuh perjalanan yang bisa dibilang lumayan lama akhirnya mereka sudah sampai di dekat kontrakan Arsyi, tapi tidak ada tanda-tanda mereka berjualan hari ini.
Raut wajah Zafran yang semula tersenyum pun kembali datar, terbesit dalam benaknya bahwa dua anak buahnya ini tengah menipunya.
"lihat mereka saja tidak ada"
"tapi kemarin mereka betul jualan pak, di rumah itu" terang pak Mafrur
"bisakah saya dan Mafrur cek pak?" tanya pak Basri
"ya"
Pak Basri dan pak Mafrur turun dari mobil, bersikap biasa saja dan bertanya kepada salah satu warga yang lewat disana.
"permisi bu, ini warung nasi pecelnya apa tidak jualan bu?" tanya pak Basri pada seorang ibu-ibu
"oh warungnyabu Rina toh pak, beliau hari ini libur bantu-bantu acara hajatan di sana" jawab ibu-ibu tersebut ramah
"kalau bu Arsyinya apa dirjmah bu?"
"sepertinya masih pak tapi saya juga tidak tahu, yasudah saya permisi dulu"
"iya bu terimakasih"
Pak Basri dan pak Mafrur berjalan ke rumah Arsyi, mengetuk pintu rumah kontrakan tersebut dengan pelan sembari memanggil nama Arsyi.
Tak lama keluarlah Arsyi dengan baju rapi karena sudah bersiap berangkat ke dumah tetangganya.
"pak Basri pak Mafrur ada apa kesini?"
"maaf bu kami- Pak Basri tak mampu melanjutkan ucapannya, menurutnya akan lebih baik jujur untuk saat ini meski Arsyi pastia kan marah dan kecewa terhadapnya.
__ADS_1
"apa pak? jangan bilang kalian sudah memberitahu pak Zafran?" tebak Arsyi dan mereka hanya menunduk.
"pergilah pak, kaliannsudah berjanji tidak membocorkan ini saat Arsyi sudah percaya ke kalian tapi apa kalian malah mengingkari" ucap Arsyi lalu meninggalkan mereka diteras rumahnya sementara itu dia masuk dan mengunci pintu.
Dua lelaki itu pun merasa serba salah sekarang, mereka membuat menangis seorang wanita tak bersalah.
Tak lama mereka kembali ke mobil dengan disambut tatapan amarah Zafran karena membuat istrinya mengeluarkan air mata lagi, apakah dia tidak ingat perbuatannya lebih fatal?.
Pak Basri pun menceritakan lagi apa yang mereka ucapkan kepada Arsyi tadi hingga akhirnya Zafran memilih diam dan meminta Aryan untuk segera menjalankan mobilnya, tidak menyerah dan akan ia coba lagi besok.
Dirumahnya Arsyi tak jadi pergi ke tempat hajatan, ia merasa kecewa saja kemarin dua lelaki itu yang bilang tidak akan membocorkan apa yang ia bilang namun nyatanya malah sebaliknya.
Seharusnya ia tak mudah percaya begitu saja apalagi mereka adalah bawahan Zafran yang pasti akan menurut karena Zafran lah bosnya bukan dirinya.
Ini akan Arsyi jadikan pelajaran untuk selanjutnya, ia tak akan mudah menceritakan urusan pribadinya kepada orang lain.
____________
Pukul 12 siang Bu Rina sudah pulang, ia pulang terlebih dahulu sebab ia tahu jika Arsyi tidak datang jadi ia pun tak tenang meninggalkan terlalu lama.
Sampai rumah ia mendapayi Arsyi tengah membuat adonan rempeyek, dan juga bahan-bahan sambal pun sudha Arsyi siapkan.
Melihat itu Bu Rina segera menyuruh Arsyi agar istirahat dulu, ia yakin dirumah Arsyi pasti tak tinggal diam dan sudah ia tebak jika putrinya melakukan hal rumahan ini.
Bu Rina menenangkan Arsyi dengan memberikan nasihat-nasihat nya.
"kalau memang sudah takdirnya kalian bertemu pasti akan Allah angkat semua ujian ini, dan sekarang karena Allah sayang kita makanya ujian ini Allah tambah sedikit jadi semangat nak jangan nangis lagi kasihan bayimu"
"em iya bu"
Sejak sampai apartemen tadi Zafran merebahkan dirinya di ranjang tempat ia biasanya tidur dengan Arsyi dulu, ia membawa satu baju yang masih tercium wangi Arsyi disana.
Pikirannya mulai melayang kemana-mana, berandai-andai jika saja ia lebih bisa menjaga mulutnya dan mampu mengontrol emosinya pasti ini semua tidak akan terjadi.
Dia akan menemani masa awal-awal kehamilan Arsyi, bahkan menjadi seseorang yang paling protektif dalam menjaga Arsyi.
Sebentar, apakah usia kehamilan Arsyi sudah sayu bulan lebih jika memang begitu artinya dia saja yang tidak menyadari istrinya. Mungkin karena kesibukannya satu bulan kemarin yang masih mengurusi pekerjaannya dan berbohong pada Arsyi.
"nak, jika nanti kalian sudah lahir jangan sampai sifat kalian seperti papa turunlah sifat mamamu yang sangat lembut bahkan ia tak pernah membentak atau meninggikan suaranya, sifatnya yang sangat disukai banyak orang semoga menurun kepadamu jangan seperti papa yang selalu membuat mamamu menangis dan kecewa, suatu saat nanti jika papa lalai dalam menjaga mamamu semoga kamu mampu menggantikan posisi papa dalam menjaga mamamu, untuk saat ini jangan repot kan mamamu selama papa dan mama masih belum berbaikan dan akan papa usahakan nanti jika kita sudah kembali tinggal bersama akan memenuhi seluruh yang kamu butuhkan dan kamu boleh meminta apapun yang kamu mau" batin Zafran memandangi poto Arsyi.
Malam datang, Zafran yang akan memasak pun dikejutkan dengan suara handphonenya. Terlihat nama mama di layar handphonenya.
"hallo assalamualaikum kenapa ma?"
"waalaikumussalam kamu dimana Zaf?"
__ADS_1
"di apartemen ma"
"sudah makan belum kamu, pulanglah ke mansion mama tadi masak banyak"
"besok saja ma ini Zafran baru akan masak"
"kemari saja daripada kamu masak, ini kasihan kalau harus dibuang makanan sebanyak ini kalau ada kamu kan tidak mubazir" ucap mama Hesti bercanda
"yajdah ma Zafran siap-siap dulu"
Usai siap-siap Zafran turun ke lobi apartemen nya dan berjalan ke garasi tempat mobilnya berada, ia hanya memakai celana pendek hitam dipadukan dengan hodie hitam yang juga menutupi kepalanya.
Ia menjalankan mobilnya perlahan karena belum terlalu larut dan jalanan masih ramai, sebenarnya tak memakan waktu lama tapi karena merasa gabut Zafran lewat pinggiran kota ah sebut saja apel ke kontrakan Arsyi.
Dan pas sekali Arsyi sedang berjalan menuju apotik dekat kontrakannya, ia berjalan sendirian dan hanya memakai celana panjang serta kaos pendek.
Tak jarang ia mengusap lengannya mungkin merasakan dingin yang menusuk kulitnya, saat inj Zafran menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang jaraknya lumayan jauh dari Arsyi.
Ia melepas hodie nya terlebih dahulu sebelum turun, baginya biarlah dia yang kedinginan asal tidak istrinya. Mungkin hal-hal kecil ini bisa membuat Arsyi luluh.
"pakai hodienya sayang, lain kali kalau keluar malam pakai jaket ya sayang" bisik Zafran memeluk Arsyi.
DEG, siapa yang tidak kaget dengan perlakuan tiba-tiba Zafran bahkan Arsyi sampai ingin berteriak.
"ehm iya" gugup Arsyi sebab didepannya adalah orang yang ia hindari selama hampir seminggu ini
"mau kemana hem, ikut mas dulu yuk sebentar ke mobil" ajak Zafran dengan menggandeng tangan Arsyi bahkan Arsyi pun belum mengiyakan.
Sampai di mobil Zafran mengunci mobilnya, memakaikan hodie nya ketubuh Arsyi dengan lembut.
"mas minta maaf" ucap Zafran dengan menunduk dan Arsyi masih diam saja
"mas minta maaf sama kamu yang, maaf perkataan mas tempo lalu membuatmu sakit hati tapi jujur mas juga takut kalau kamu pergi saat mas ngucapin itu dan ternyata itu terjadi sekarang, memang nggak bisa di pungkiri mas menginginkan keturunan tapi seharusnya mas lah yang harus menenangkan kamu karena kamu yang menjadi sasaran pertanyaan dari orang-orang dan bodohnya mas tidak berpikir sampai situ" Zafran mengucapkan itu dnegan menggenggam kedua tangan Arsyi dan menatap Arsyi begitu dalam.
Tak lama Arsyi memalingkan wajahnya, air matanya sudah dipelupuk dan bersiap untuk jatuh. Melihat itu Zafran langsung menarik Arsyi kepelukannya.
"jangan nangis, simpan air mata berharga itu jangan sampai menangisi laki-laki brengsek seperti mas ini" ucap Zafran membuat air mata Arsyi jatuh.
"ungkapin aja apa yang membuat kamu sakut hati mas nggak akan marah"
"Arsyi sakit denger mas ngucapin itu mungkin jika mas ngucapinnya secara halus dan nggak pakai nada seperti itu Arsyi akan terima tapi mas ngucapin seolah-olah berbicara kepada pembantu mas sendiri dengan berkata seperti itu iya kalau Arsyi beneran mandul kalau nggak apa nggak sakit hati, Arsyi juga berusaha mas nggak ada yang pengen nggak punya keturunan tapi kalau Allah menakdirkann Arsyi belum hamil ya gimana"
"dan mas ngelarang Arsyi gunain fasilitas dari mas Alhamdulillah sekarang sudah Arsyi penuhi, Arsyi nggak gunain fasilitas dari mas-"
"untuk selanjutnya Arsyi serahkan ke mas, mau melanjutkan pernikahan ini atau nggak"
__ADS_1