
Hari ini hari dimana Bu Sati melaksanakan hajatan di rumahnya, undangan terdiri dari bapak-bapak dan remaja laki-laki sedangkan para ibu-ibu yang diminta membantu maka mereka menyiapkan hidangan untuk para undangan.
Hajatan dilakukan ba'da Maghrib, karena rumah Arsyi lumayan jauh jadi dia tidak keundang dan dia hanya dirumah bersama ibunya untuk membuat besek.
Biasanya yang tidak mendapatkan undangan atau diminta bantuannya nanti akan diberi berkat kalau bahasanya di desa sini.
"Ar menurut mu budhe Heni meninggal kemarin karena apa" tanya Bu Rina
"nggak tahu sih buk Ar juga nggak mau suudzon"
"tapi ibuk rasa aada yang ganjal gitu lho Ar dari kemarin waktu beliau meninggal"
"sebenarnya Arsyi juga Bu tapi ya mau gimana budhe Heni meninggal aja dalam keadaan sendiri di rumah dan warga warga pun saat itu menyambut pak wahid"
"ya makanya itu apa mungkin pakdhe Mukhlis"
"biar lah Bu nanti mungkin kalau memang pakdhe yang iniin biar dapat sanksi juga"
"bener Ar"
Dirumah bu sus tak sengaja di membicarakan soal kemarin dengan suaminya yang pulang dari hajatan Bu Sati, mereka tidak menyadari bila ada orang diluar yang ingin bertamu.
"assalamualaikum pak Pardi" salam dari seseorang tersebut, suaranya seperti pak kades batin pak Pardi
"waalaikumussalam" sahut pak Pardi dari dalam kemudian beliau membukakan pintu
Setelah sedikit berbasa basi pak Pardi mempersilakan pak kades masuk dan bu sus pun sedang membuatkan teh sebagai jamuan.
"mohon maaf pak Pardi saya tadi tidak sengaja mendengar percakapan anda dengan Bu sus kalah boleh tahu ada apa ya pak kok kelihatannya Bu sus sangat takut" ucap pak kades
"jadi gini pak kades..
pak Pardi mulai menceriterakan apa yang istrinya sampaikan tempo lalu.
__ADS_1
"ya Allah ternyata seperti itu, tapi kenapa sampean dan Bu sus tidak menyampaikan kepada saya saat tak lama setelah meninggalnya Bu Heni"
"istri saya saja baru menceritakan beberapa hari yang lalu pak"
"saya jadi bingung ini pak mau memproses bagaimana, berurusan dengan pak Mukhlis sangat susah dan pastinya akan rumit serta berbelit-belit"
"memang pak kades, apalagi kan sifat pak Mukhlis sampean juga tahu kepada Bu Rina saja seperti itu yang masih ada ikatan darah apalagi sama kita"
"nah itu dia pak, tapi nanti akan saya bicarakan dulu dengan perangkat yang lain sekiranya nanti memungkinkan akan kami tindak lanjut tapi kalau tidak ya kita doakan saja semoga Bu Heni mendapat tempat terbaik"
"aamiin"
Usai membicarakan perihal itu pak kades langsung menyampaikan maksud dan tujuannya datang kesini, mereka mengobrol hingga pukul setengah 10 malam.
__________
Keesokan paginya sekitar pukul 9 di kantor kelurahan diadakan rapat yang dipimpin oleh pak kades dan dihadiri seluruh perangkat tanpa terkecuali karena pak kades membutuhkan pendapat mereka.
Usai pembukaan dan menyampaikan inti kini pak kades mengadakan sesi bebas berpendapat.
"kalau menurut saya kita bicarakan baik-baik dengan pak Mukhlis terlebih dahulu dan dipastikan warga jangan sampai menghakimi salah satu pihak jadi nanti tidak ada keributan yang menggegerkan desa" sahut pak Agus
"ya saya setuju seperti itu, kira-kira keluarga pak Pardi sudah membocorkan ke warga lain apa belum apk kades?" tanya pak Suyud
"belum karena katanya beliau juga takut kalau nanti pak Mukhlis datang melabrak"
"kapan kita akan menyampaikan ke pak Mukhlis pak kades?" tanya pak Agus
"bagaimana jika sore nanti, karena pak Mukhlis kemungkinan besar ada dirumah saat sore hari"
Sore harinya pak kades ditemani dengan pak Agus dan pak Pardi datang ke rumah pak Mukhlis kebetulan sekali beliau ada dirumah juga dengan Ikhsan.
Saat mereka datang raut wajah pak Mukhlis berubah menjadi pucat pasi dan gelisah, mungkin beliau sudah tahu jika pak kades akan datang.
__ADS_1
Pak Mukhlis pun menebak jika kedatangan orang-orang ini akan membahas tentang Bu Heni.
"dasar pembawa sial, sudah matipun bukannya tenang malah semakin membuat masalah" batin pak Mukhlis
Sementara Ikhsan ada firasat tidak enak dengan kehadiran mereka, jujur ia juga merasa ganjal dengan kematian ibunya yang terkesan mendadak.
Sepatah demi sepatah kata keluar dari mulut pak kades, mendengar penjelasan pak kades dan pak Pardi dapat dilihat Ikhsan yang menahan amarahnya ternyata benar keganjalan yang ia rasakan.
"jadi bagaimana ini pak saya juga meminta keadilan atas meninggalnya ibu saya WALAUPUN YANG MEMBUNUH IBU SAYA ADALAH BAPAK ATAU SUAMI IBU SAYA SENDIRI" ucap Ikhsan lantang dengan penekanan diakhir kalimatnya
"apa maksudmu berbicara seperti itu iksan" gertak pak Mukhlis
"mau marah hahhh? anda tidak sadar jika perbuatan anda keterlaluan cuihhh ini yang disebut laki-laki bahkan saat melakukan kesalahan saja masih tidak mau mengakui nya"
"sudah-sudah pak, Ikhsan jangan menggunakan emosi" lerai pak kades
"anda bisa diam jika ingin disini dan jika hanya untuk melerai bisa pulang pintu rumah saya masih terbuka" ucap dingin Ikhsan
"baiklah saya pulang, ingat selesaikan dengan kepala dingin jangan sampai kalian dikuasai oleh setan" usai mengatakan itu pak kades, pak Agus dan pak Pardi keluar dari rumah mereka.
"dasar anak tidak tahu diuntung nggak ingat kamu ini rumah siapa dan darimana kamu berasal"
"bukan masalah bagi anda karena anda adalah pak tua yang tidak berguna" hardik Ikhsan yang siap-siap akan mengangkat tangannya
"anak pelac*r sepertimu yang sangat BODOH tidak bisa bersanding denganku bahkan hidupmu dan wanita menjijikan itu sangat jauh dengan aku" sombong pak Mukhlis
"tidak ingat jika wanita yang kau bilang menjijikan itu istrimu, jika dia saja menjijikkan apa kabar denganmu yang sama-sama menjijikkan"
"apa maksudmu berkata seperti itu, sudah baik hidupmu aku tanggung sampai sebesar ini dan aku turuti semua maumu tapi baktimu kepadaku saja sangat minim" caci pak Mukhlis
"apa aku pernah memintamu untuk menanggung hidupku, apa aku pernah meminta menjadi anak dari seorang laki-laki yang sifatnya saja tak jauh seperti perempuan" ejek Ikhsan membuat suasana semakin panas.
"rupanya kau lupa darimana kau berasal, hingga berani berkata seperti itu bahkan jika kau tahu asal usulmu mungkin kau akan malu dan segan kepadaku, orang yang mau merawatmu dengan uangku yang sangat banyak hingga tak terhitung itu"
__ADS_1
"apa maksudmu hahh?" bentak Ikhsan
"DENGARKAN INI BAIK-BAIK DAN JANGAN SAMPAI KAU MENANGIS DARAH SETELAH TAHU SIAPA DIRIMU SEBENARNYA YANG BEGITU BERANI, KAU INI ANAK DARI SEORANG PELAC*R YANG BODOH ATAU LEBIH TEPATNYA KAMU ITU ANAK PUNGUT"