
Isak tangis tak terbendung lagi, air mata luruh begitu saja dari dua wanita beda usia tersebut.
Sepanjang perjalan mereka terus meneteskan air mata, para warga pun turut iba membayangkan bagaimana jika mereka berada diposisi Bu Rina dan Arsyi.
Sampai di depan rumah mereka bisa dipastikan Arsyi dan Bu Rina menyaksikan bagaimana kobaran api terus memakan rumah mereka.
Tepat adzan maghrib api sudah mulai padam, netra Arsyi menangkap tas yang berada dari tempatnya berdiri saat ini.
"Ya Allah mungkin saat ini hamba sakit hati dengan siapa yang telah membakar rumah hamba, hamba mungkin merasa engkau tidak adil karena memberikan cobaan seperti ini tapi insyaallah hamba ikhlas jika memang ini sudah bagian dari rencanamu hilangkan dendam yang mungkin nanti akan bersemayam di hati hamba berilah kesabaran menerima ketetapan mu ya Allah" lirih Arsyi
Pak kades beserta Bu kades satang menghampiri mereka, diikuti pak Dullah, bu Saroh dan lainnya.
Mereka turut bersedih dengan musibah yang dialami bu Rina, pak kades akan mengambil jalan tengah terkait dimana Bu Rina dan Arsyi akan tinggal nantinya.
"Bu Rina kami turut bersedih atas musibah ini, semoga siapapun pelakunya nanti akan mendapat balasan yang sitimpal dengan perbuatan yang dilakukan, bagaimana untuk sementara waktu Bu Rina tinggal di rumah yang pak Dullah yang dulu itu juga sudah dengan izin pak Dullah bukan begitu pak?"
"iya Bu Rina tempati saja rumah kami yang dulu sampai sekiranya Bu Rina berhasil mendirikan kembali rumah yang baru, mungkin tidak seberapa bagus dengan rumah warga lain tapi insyaallah masih layak untuk dihuni"
"terimakasih pak Dullah nanti saya akan berusaha membayarnya"
"tidak Bu, tidak perlu toh kita seperti saudara jadi sudah sepatutnya kita saling menolong"
"Masyaallah terimakasih pak"
"yasudah Bu karena sudah magrib juga mari Bu Rina juga istirahat" sahut pak kades diikuti anggukan dari mereka yang berada disana.
Setelah semua bubar dan kini hanya tersisa pak Dullah beserta istrinya dan Bu Rina dan Arsyi, Arsyi mengambil tas yang tadi iaihat tak jauh dari tempatnya berdiri.
Pelan Bu Rina dan Arsyi mengikuti langkah pak Dullah yang menghantarkan mereka ke tempat mereka istirahat sementara waktu.
"Bu Rina maaf ya sederhana" ucap Bu Saroh tak enak hati
"tidak papa Bu kami yang seharusnya berrrima kasih sudah diberi tempat untuk beristirahat" jawab Bu Rina
__ADS_1
Pak Dullah dan bu Saroh memutuskan kembali ke rumah dan membiarkan Bu Rina istirahat.
Malam beranjak Bu Rina dan Arsyi sedang duduk beralaskan tikar sembari membuka tas mereka penasaran apa yang dimasukkan oleh si pembakar kedalam tas ini.
Sebenarnya Bu Rina tadi pagi sempat memasukkan sertifikat sertifikat dan juga ada handphone Arsyi ia akan mengecek apakah barang utu masih ada atau tidak.
"loh buk ada sertifikat sama handphone Arsyi dn nggak di incar sebenarnya apa sih yang diinginkan orang itu" ucap Arsyi heran
"entahlah Ar yang terpenting barang ini sudah masih ada untuk kita tandanya Allah masih menyisakan sebagian barang berharga kita"
"Arsyi berusaha ikhlaskan rumah itu tapi Arsyi terlalu sakit hati"
"nggak boleh gitu ikhlaskan mungkin sudah sampai sini kita memperjuangkan rumah itu, sekarang saatnya kita memulai lembaran baru dan ayo kita berusaha lagi ternyata perjuangan kita belum selesai masih ada rumah yang harus kita bangun ulang Ar" ucap Bu Rina menasehati
"apa ini buk" ujar Arsyi dengan mengangkat sebuah kertas berisikan secarik tulisan.
"kami belum puas tunggu sampai kita bisa menghilangkan nyawamu, kamu pikir bisa tersenyum disaat kita susah? tentu tidak jadi tunggulah sampai waktu itu tiba"
Keesokan paginya Arsyi dan Bu Rina kembali ke aktivitas semula ia akan meminta bantuan pak Dullah untuk membantu membelikan bahan material, meski uang mereka mungkin hanya akan mendapatkan sebagian tapi mereka nekat mencicil dan nanti akan mereka cicil lagi setelah panen tiba.
Bertepatan sekali hari ini akan ada lagi kunjungan dari pak Wahid dan lainnya untuk pembangunan jalan dan insfratruktur yang lebih layak dan memadai.
Sangag dadakan bahkan mas Rokhim tidak ikut jadi tidak ada warga yang mengetahui, hari ini hanya Arsyi yang ke sawah sedangkan Bu Rina membersihkan sisa-sisa kebakaran rumahnya kemarin.
"pak lihat, tapi ibuk yakin bapak sudah tahu dari atas sana rumah kita yang dulu kita bangun sama-sama kini hangus terbakar tak ada sisanya tapi untungnya sertifikat itu yidak terbakar dan masih ada orang baik yang menawarkan tempat tinggal untuk ibuk dan Arsyi"
Beranjak siang sisa-sisa kebakaran kemarin sudah tinggal sebagian mungkin nanti sore sudah selesai.
Di kantor kelurahan pak kades beserta jajaran pengurus desa dikejutkan kedatangan pak wahid yang mendadak, bahkan mereka belum bersiap apapun.
"Masyaallah pak kok tidak ada pemberitahuan jika ingjn berkunjung, kan bisa kami persiapkan"
"tidak apa-apa pak kades bukan menjadi masalah juga"
__ADS_1
Lama berbincang hingga pak Wahid meminta untuk berkeliling desa untuk mengecek seberapa besar nantinya dana yang akan dikeluarkan.
Untung jalan didesa selalu dibersihkan, jadi terlihat bersih apalagi setiap warga selalu menjaga kebersihan sekitar rumahnya masing-masing dari tumbuhan liar.
"Loh itu kenapa pak?" tanya pak Wahid menunjuk rumah Bu Rina
"kemarin ada musibah kebakaran pada saat warga masih beraktivitas dan baru diketahui warga yang sawahnya tidak jauh dari rumah Bu Rina tapi karena api dengan cepat merambat rumahnya tidak bisa diselamatkan pak akhirnya api baru bisa dipadamkan sesaat sebelum adzan Maghrib" jelas pak kades
"wanita itu yang bernama Bu Rina yang pak kades sebut tadi?" tanya pak Wahid lagi
"iya pak, kasihan sebenarnya beliau sudah ditinggal suminya saat anaknya masih kecil, Alhamdulillahnya sekarang anaknya sudah menjadi gadis yang mandiri"
"terus tinggal dimana pak?"
"untuk saat ini masih ada warga yang mau memberikan tempat tinggal sementara, lebih mandirinya lagi bu Rina meminta bantuan salah satu warga untuk mencicil membelikan bahan material"
"mari pak jika ingin berbicara langsung kepada beliau"
Pak wahid, pak kades beserta yang lain mulai mendekat kearah Bu Rina
"assalamualaikum bu" sapa pak wahid
"waalaikumussalam, Masyaallah pak wahid sebentar saya cuci tangan dulu" jawab Bu Rina saat akan diajak berjabat tangan oleh pak Wahid
seusai cuci tangan Bu Rina mulai mendekat dan berjabat tangan dengan mereka.
"lagi ngapain Bu kok sendiri saja?" tanya pak Wahid basa-basi
"ini pak bersihin sisa-sisa ini, biar nanti kalau sewaktu-waktu hujan tidak berserakan"
"terus anaknya kemana Bu kok nggak bantuin?"
"anak saya disawah pak, bagi tugas sudah mendekati panen kalau disini semua nanti cabai yang disawah diserang hama tidak tahu" ucap Bu Rina
__ADS_1