
Pukul lima pagi dagangan Bu Rina dan Arsyi sudah dijajakan di depan rumah, sudah ada warga yang mulai berdatangan sebab jika matahari mulai naik antrian akan panjang.
Kata pelanggan Bu Rina sambal kacang dan rempeyek buatannya memiliki khas tersendiri, rasanya berbeda dari rempeyek atau sambal kacang lainnya.
Itulah yang membuat warung Bu Rina menjadi ramai, banyak anak sekolahan yang juga membeli nasi pecel buatannya untuk sarapan.
Jangan lupakan daun pisang yang membungkus nasi iyu menambah aroma sedap, apalagi jika pelanggan meminta untuk tidak di bngkus maka akan dipincuk seperti di desa.
2 orang suruhan Zafran yang bertugas disamping saerah sini pun juga sudah merasa lapar, melihat ada penjual nasi pecel mereka oun mendekat tapi harus antri terlebih dahulu.
Mereka belum sadar jika seseorang yang mereka cari berada di depannya dan sedang melayani nasi kepada para pelanggannya.
Tibalah di antrian dua orang itu, sebutlah namanya pak basri dan pak mafrur. Mereka asyik memilih gorengan disana sampai tidak memperhatikan wajah penjualnya.
"ini pak dua bungkus nasi pecelnya, boleh lihat gorengannya biar saya hitung" suara itu membuat dua orang itu langsung mendongak.
"bu Arsyi" kaget pak Basri
"kalian siapa?" heran Arsyi
"boleh bicara dulu buk" ucap pak mafrur lebih tenang
"ayo kita duduk disana saja" tunjuk Arsyi pada sebuah bangku
Arsyi berjalan diikuti dengan pak Basri dan pak mafrur dibelakangnya, meski ia masih terheran siapa dua orang itu namun melihat orang itu tak berniat jahat maka ia pun akan bersikap biasa saja.
"kami orang suruhan pak Zafran buk yang diminta mencari bu Arsyi dan dibawa kembali ke mansion" ucap pak Basri mengawali pembicaraan.
"pak boleh Arsyi minta ke pak em-
"saya Basri dan ini mafrur bu" perkenalan Barsi memotong ucapan Arsyi yang belum tahu nama mereka.
"ah ya pak Basri dan pak mafrur tolong ya pak jangan katakan ke mas Zafran ataupun papa Dika dan mama Hesti jika kalian mengetahui keberadaan Arsyi saat ini" pinta Arsyi
"tapi bu bagaimana jika kami ditanya pak Zafran"
"kalian cukup bilang nggak tahu saya dan belum berjumpa, saya nggak siap bertemu mereka"
__ADS_1
"tapi kenapa bu, bahkan pak Zafran bisa membiayai bu Arsyi sebagai istrinya" ucapan Basri membuat Arsyi mengucapkan apa yang terjadi agar mereka tak memberi tahu keluarga Zafran
"bahkan pak Zafran yang melarang saya untuk mengurusi hidupnya, tidak menggukan fasilitas dari beliau, meminta saya pergi dan tidak lagi nampak didepan beliau bahkan beliau mengatakan saya mandul karena tak kunjung memberikan pak Zafran keturunan tapi perkataan itu sungguh tidak benar sebab saat ini saya tengah mengandung" Adyi mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca
"maaf buk maaf kami tidak bermaksud seperti itu kami sungguh tidak tahu" ucap pak Mafrur sangat bersalah
"nggak papa, jangan sampai kalian bilang kalau saya tengah hamil ya pak saya bener bener mohon"
"em iya bu, sekali lagi kami minta maaf"
"nggak papa pak saya juga sudah ikhlas kok sebab saya dan beliaunya tidak pantas juga bersanding"
"yasudah kami mohon pamit ya bu"
"iya jangan sampai bocir ya pak"
"beres bu" Mereka pergi tapi sebelumnya juga membayar apa yang mereka beli ke Bu Rina.
Bu Rina masih menatap heran je arah dua lelaki itu, apa yang mereka bicarakan kepada Arsyi namun karena masih banyak pelanggan jadi dia diam terlebih dahulu.
Sore hari seperti janjinya kemarin Zafran dan Aryan tengah mengumpulkan seluruh anak buah yang mereka suruh, pak Basri dan pak Mafrur mencoba untuk tenang seolah tak terjadi apapun.
Tapi pergerakan mereka justru menjadi pusat perhatian Zafran, ia merasa dua orang lelaki itu menyembunyikan sesuatu. Terlebih mereka semua ditanya tidak menemukan.
"kalian semua boleh pergi kecuali kalian berdua" ucap Zafran menunjuk pak mafrur dan pak Basri
Setelah mereka semua pergi barulah zafran mulai angkat bicara.
"apa kalian tahu dimana istri saya?" tanya Zafran dengan tatapan tajamnya
"tid-tidak pak" jawab pak Basri
"kalian ingin tetap berbohong kepada saya?" tanya Zafran sekali lagi
"maaf pak" akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut pak Basri.
"bu Arsyi maafkan kami terpaksa membongkar ini" batin Pak Basri
__ADS_1
"katakan"
"ee jadi tadi pagi saat kami sedang berusaha mencari bu Arsyi kami merasa lapar, eh sebab itu kami mencari sarapan terlebih dahulu dan tak sengaja kami melihat penjual nasi pecel di pinggir jalan lebih tepatnya jualan di sebuah kontrakan, awalnya kami pun tak sadar jika penjualnya bu Arsyi dan bu Rina sampai akhirnya mereka memberi tahu kepada kami jika pesanan kami sudah siap baru lah sampai situ kami sadar bahwa itu bu rina" ucap pak Basri
"lalu"
"Saya mengajak bicara bu Arsyi lalu beliau mengajak saya ke bangku yang tak jauh dari tempat jualan nya tadi, singkatnya saat kami bicara dan meminta bu Arsyi ikut beliau mengatakan jika-
"apa katakan saja saya tidak akan marah"
"bu Arsyi mengatakan jika jangan mengatakan kepada bapak jika kita bertemu beliau karena beliau juga tidak siap bertemu bapak lalu kami tanya kenapa kan bapak masih bisa membiayai beliau sebagai istrinya tapi bh Arsyi mengatakan jika bapak melarang bu Arsyi untuk mengurusi hidup bapak, tidak menggunakan fasilitas dari bapak dan meminta bu Arsyi pergi sampai tidak menampakkan diri beliau lagi dan bapak juga mengatakan beliau maaf mandul tapi kenyataannya beliau sedang-
"Arsyi sedang apa katakan"
"sebenarnya beliau melarang kami mengatakan tapi kami juga harus mengatakan agar bapak bisa bertindak agar beliau tidak terlalu kelelahan karena beliau sedang berbadan dua"
"maksudmu" kaget Zafran
"iya pak saat ini beliau tengah hamil"
Disitulah tubuh Zafran terasa lemas, jadi ia mengatakan wanitanya mandul itu sangatlah salah besar sebab nyatanya dia sedang hamil saat ini.
"boleh saya tahu dimana kalian bertemu Arsyi?"
"diujung kota pak"
"antarkan saya kesana"
"maaf jika boleh saya berpendapat apa tidak sebaiknya besok pagi saja pak, bapak terlebih dahulu berpura-pura mencari beliau sendiri dan tak sengaja mencari sarapan dan bertemu beliau, sekilas mirip kami tadi"
"baik besok pagi-pagi sekali kalian segera kesini, dan antarkan saya"
"baik pak"
Usai pembicaraan itu tadi, Zafran pulang ke apartemen dia sangat merasa bersalah menelantarkan istrinya untuk bekerja sendiri karena ucapannya apalagi tengah mengandung anaknya.
"maafkan saya, mungkin dari atas sana bapak tengah kecewa atas tindakan saya yang semena-mena terhadap anaknya, berjanji melindungi anmun nayatanya malah saya sendiri yang mengingkari, ucapan saya yang sangat menyakiti istri saya bahkan sampai dia pergi dan tak siap lagi untuk bertemu saya sungguh maafkan saya pak"
__ADS_1