
Malam ini dimana malam yang paling melelahkan, bagi Arsyi bekerja disawah pun tak secapek ini rasanya. Sebab malam ini malam dimana resepsi dilangsungkan dan sangat banyak tamu yang hadir untuk sekedar memberi ucapan selamat.
Pukul setengah 12 Arsyi baru saja masuk ke kamar bersama Zafran, tak langsung membersihkan diri justru arsyi lebih memilih berbaring di ranjang kamar Zafran eh ralat kamarnya juga.
Besok pagi pun ia haru menghantarkan ibunya untuk kerumah baru, tak lupa berpamitan dengan sahabat-sahabatnya.
"Bebersih dulu dek, mandi besok nggak papa" Ucap Zafran mengingatkan sembari ia membuka jas yang ia kenakan
"mas zan dulu aja" Arsyi memanggil Zafran dengan Zan beralasan agar tidak belibet saat memanggil.
Dan juga panggilan dek yang diberikan oleh Zafran pun bukan semata-mata panggilan, ia ingin memberikan rasa sayangnya melalui panggilan itu dan juga rasa menghargainya karena umur mereka pun terpaut jauh.
Teman-teman Zafran meledeknya dengan om om yang suka daun muda dan juga bunga desa.
"Jangan tidur dulu sayang bersih bersih dulu nggak baik tidur pakai make up seperti itu"
"heem mas"
Zafran masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lebih tepatnya mandi sekalian karena dia merasa sangat lengket.
Keluar dari kamar mandi Arsyi sudah melepaskan jilbab dan sudah mengganti bajunya dengan kimono kini dia bersiap masuk ke kamar mandi saat mendengar pintunya sudah dibuka.
"apaasih lihat-lihat" sewot Arsyi saat menyadari mata suaminya menatap kemana-mana
"nggak papa ih" manja Zafran memeluk Arsyi
"sana bentar dulu mau bebersih"
"jangan mandi yang, dah malem banget"
"iya kalau ingat"
Tak mengindahkan pesan suaminya Arsyi tetap mandi meski sudah malam, tapi berbeda dengan Zafran yang menggunakan air dingin Arsyi memilih dengan air hangat.
Selesai mandi ia mendapat tatapan tajam suaminya sebab tak mendengarkan pesannya.
"kan udah mas bilang nggak usah mandi, ngeyel banget deh" gerutu Zafran
"kan nggak janji udah ih yuk tidur"
__ADS_1
"capek banget ya?" tanya Zafran sambil memeluk Arsyi
"huum"
"yang kalau menurut kamu kita tinggal di mansion ini atau terpisah?"
"tapi jangan berpikir macem macem ya, ini kalau menurut Arsyi aja tapi semua keputusan ada di mas Zan Arsyi bakal ikut aja" sahut Arsyi dan Zafran masih diam menyimak
"Kalau Arsyi bakal ngikut, tapi Arsyi nggak enak juga ke ibuk apalagi ke abang-abang nya mas Zan kalau kita tinggal disini dan mungkin hanya sesekali menginap di tempat ibuk pasti ya kita nggak tahu lah nantinya kalau ibuk juga cemburu atau gimana"
"mas juga mikir sampai situ kita punya dua orang tua sekarang pastinya ya harus bisa membagi supaya berada di tengah-tengah, kalau kita di apartemen dulu gimana atau langsung dimansion"
"Arsyi ikut mas aja" Ucap Arsyi lalu menyembunyikan wajahnya di dada Zafran mencari kehangatan dan Zafran pun semakin mengeratkan pelukannya.
"ana uhibbuki fillah zaujati" bisik Zafran.
Jam terus saja berputar, baru saja memejamkan mata tak terasa pagil mulai menyapa. Perlahan Arsyi membuka mata dan menoleh kearah jam yang berukuran kumayan besar tergantung di tembok.
"Mas, bangun dulu nanti lanjut tidur kalau masih capek" suara lembut Arsyi ditambah usapan lembut yang Zafran rasakan membuat ia perlahan membuka mata.
"Jam berapa sayang" bukannya bangun Zafran malah semakin menyelusup ke bagian dada arsyi
"bangun dulu sholat habis itu tidur lagi nggak papa"
"ehmm bentar lagi, masih dingin" suara serak khas bangun tidur itu membuat Arsyi bertambah gemas.
Jika mungkin menikah belum berlandaskan cinta itu akan sulit maka tidak berlaku oada Arsyi, baginya pernikahan itu sebuah ikatan yang pengucapan ijab qobul sebagai tanda sakralnya bahkan disaksikan oleh penduduk langit, dan hal itu yang membuatnya berbakti kepada suaminya.
Baginya suatu saat rasa cinta itu akan timbul apabila kita sudah merasa aman dan nyaman dengan seorang itu.
"yaudah minggir dulu sebentar"
"mau kemana?"
"kekamar mandi" Dengan terpaksa Zafran melepas pelukannya ke Arsyi bahkan ia langsung terduduk dengan muka bantal khas bngun tidur.
Setelah subuh tadi Arsyi berbaring sejenak mengenakan setelan rayonnya untuk menemani Zafran yang masih mengeluh capek.
Merasa nafas suaminya mulai teratur Arsyi memindahkan kepala Zafran yang semula dipahanya ke bantal, setelah itu ia bangkit dan mengambil hijab bergo miliknya untuk turun ke bawah.
__ADS_1
Dilihatnya Bu Rina dan bu Hesti yang sudah mulai memasak di dapur beesih.
____________
Rombongan dari desa sudah kembali, Bu Rina sudah menempati rumah barunya san Arsyi serta Zafran juga sudah pindahan ke apartemen milik Zafran.
Yang mana ada perjanjian jika dalam sebulan Arsyi dan Zafran akan minimal jika tidak berhalangan dua kali sambang ke rumah Bu Hesti ataupun Bu Rina atas permintaan mereka tadi pagi.
"Sayang tidur lagi yuk, mas masih ngantuk capek juga"
"utututu sebentar mas, Arsyi masak dulu habis itu kita makan baru tidur oke" sudah seperti seorang ibu yang membujuk putranya lantaran rewel Arsyi saat ini.
"yangg"
"duduk sana lho mas, jangan ganggu biar cepat selesai"
"nikah enak ya yang ada yang merhatiin ada yang urus" celetuk Zafran
"kan sebelum nikah pun mas juga sudah di perhatiin, diurus juga sama mama" agak kaku memang lidah Arsyi saat menyebut mama.
"ya beda lah sayang, kan kalau mama itu pasti perhatiannya nggak sepenuhnya milik aku pasti punya papa juga sedangkan kamu sekarang milik aku tanpa ada yang merebut kecuali anak kita nanti dan itupun nggak aku izinkan lama-lama"
"bisa gitu ya padahal kan sama aja mama Hesti juga kasih perhatian penuh ke mas zan dan abang sama aja kayak Arsyi yang juga bagi perhatian ini ke ibuk"
"tapikan intinya kamu milik mas"
"terserah deh, apa aja kata mas aku iyain"
"andai kita ketemu sejak dulu pasti kita udah punya anak sekarang" hayal Zafran
"nggak ingat umur kah mas? padahal udah jelas juga kalau mas zan masuk SD pasyinya aku baru lahir Mas zan udah kerja aku baru masuk SMP, inget istrinya masih bocil"
"iya bocil yang selalu ganggu pikiran mas dimanapun kapanpun"
"bisa aja, padahal sebelumnya tuh Arsyi beranggapan mas Zan tuh dingin galak nyeremin gitu" curhat Arsyi, sedari tadi mereka bercerita ria dengan Arsyi yang berada didepan kompor dan Zafran yang duduk di kursi makan.
"kalau sekarang gimana hemm?" tanya Zafran mulai mendekat lagi dan mengarahkan kepalanya ke ceruk leher Arsyi
"ya gitu, mungkin mah kalau di rumah sama di luar beda kelihatan banget pertama kita ngomong bahasanya baku banget kayak pak guru bahasa Indonesia" ledek Arsyi
__ADS_1