
Dua bulan telah berlalu, hari-hari mulai terlewati seperti sedia kala atau lebih tepatnya seperti saat dimana sebelum ada kabar Bu Heni meninggal.
Fakta tentang Ikhsan belum ada yang membocorkan, fakta tentang kematian Bu Heni pun masih menjadi rahasia.
Sebenarnya warga yang mengetahui tentang kematian Bu Heni sudah akan membuka suara, sedikit-sedikit dia sudah akan membocorkannya.
Tanaman cabai Arsyi sudah mulai bermunculan bunganya dan ada beberapa yang mulai ada yang tumbuh kecil kecil.
Dirumah seseorang yang tak jauh dari rumah pak Mukhlis beliau sedang berbincang dengan suaminya. Ditemani hawa dingin malam ini mereka membicarakan hal yang serius.
"Pak mau sampai kapan ya ibuk pendam semua ini sendiri ibu bener bener nggak tenang pak" ucap si wanita setengah baya tersebut
"memang ibu sembunyikan apa kok sampai bapa nggak diberitahu" Jawab si pria
"ibu takut pak bener-bener takut" lirih si wanita
"coba ibu cerita pelan pelan, bapak akan dengerin cerita ibuk tanpa memoyongnya"
"Jadi gini pak
Flashback onn
Saat semua orang tengah heboh dengan kedatangan pak Wahid, bu sus sedang dirumah menjaga anaknya yang dari tadi malam badannya panas tak kunjung turun.
Suaminya pun ia minta untuk ikut menyambut pak Wahid sebagi bentuk rasa hormat, meski ia dirumah tetapi rumahnya ia kunci rapat seperti rumah para tetangganya.
Latif putrinya yang berumur 9 tahun itupun tak terusik dari tidurnya bahkan tak rewel hanya sesekali meminta apa yang dibutuhkan.
Sembari menjaga putrinya Bu Sus menganyam besek di samping tempat tidur putrinya, belum sampai tengah hari ia mendengar suara keributan dari arah luar, karena takut ia pun hanya mengintip dari dalam.
Sementara Latif sudah meringkuk menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, karena rumahnya berseberangan dengan Bu Heni walau tak dekat namun ia bisa melihat jika pertengkaran itu berasal dari sana.
Suara pak Mukhlis yang besar ditambah beliau berteriak membuat Bu sus juga merinding mendengarnya.
Disaat dia sudah tidak terlalu mengindahkan keributan itu ia justru mendengar suara orang berteriak dan suara seperti baku hantam.
Karena penasaran meski bercampur takut Bu sus memutuskan kembali untuk mengintip.
Rintihan demi rintihan diikuti dengan bentakan mulai terdengar, karena celah pintu pak Mukhlis terbuka Bu sus dapat melihat bagaimana Bu Heni dipukuli oleh pak Mukhlis.
Disana ia melihat bagaima bu Heni jatuh pingsan dan langsung ditinggalkan begitu saja oleh pak Mukhlis.
__ADS_1
Niat hati ia ingin menolong tetapi ia takut nantinya dia akan terseret ke kasus ini jadilah ia memilih berdiam di rumah dengan menutup mulut.
Ia memilih tidur dengan memeluk erat putrinya yang gemetar.
Hingga akhirnya sore tiba dan para warga rrmasuk suaminya pulang, ia tetap memilih dirumah dan keluar saat rumah Bu Heni sudah ramai.
Disana ia berpura-pura tak mengerti apapun dan jika ditanya ia hanya menjawab, tidak tahu sebab tadi ia tertidur bersama putrinya.
Flashback off
"ya Allah kenapa ibuk nggak pernah cerita ke bapak" tanya pak Supardi lembut
"karena ibu takut pak dan mungkin baru saat ini ibu berani berbicara ini ke bapak"
"kita nggak bisa diam saja buk, mungkin cepat atau lampat pun semua pasti tau dan kita nggak akan tenang sebelum masalah Bu Heni ini terselesaikan mungkin ibu berpikir kalau kita diam dan tidak ada yang tahu itu lebih baik tapi nyatanya tidak karena kita dihantui rasa takut itu jadi bapak akan tunggu ibu siap setelah itu kita bicara sama pak kades perlahan" nasehat pak Supardi
"iya pak tapi ibu minta jangan di waktu dekat ini ya, ibu belum siap"
"iya bu"
___________
Sementara di kota sana Lilis mulai mengerti mengapa ketiga sahabatnya tak terlalu tertarik pergi ke kota meski peluang mendapatkan gaji besar itu ada.
Jangankan SMA yang sudah berkuliah mahal mahal saja masih ada beberapa yang bekerja tak sejalan dengan jurusan yang diambil semasa kuliah.
"apa aku pulang aja ke desa lagi?" gumam Lilis
"tapi aku belum dapat apa-apa bahkan dua bulan lebih aku disini belum bisa mengahasilkan apapun"
"pulang ke desa pastinya juga butuh banyak biaya ongkos pulangnya, apalagi jaraknya jauh kenapa dulu aku nggak dengar nasihat sahabatku itu? tapi kalaupun aku mau mendengar sekarang bukan lagi saatnya karena itu sudah berlalu"
"mungkin saat ini mereka sudah mulai merintis pekerjaan mereka sedangkan aku masih seperti ini saja"
Lilis bersender di kepala ranjang dengan pikiran yang melayang jauh, jujur saja dia rindu dengan desa itu, dia juga rindu semua kenangan yang ada disana.
Keputusannya merantau ternyata bukan jalan yang terbaik, niat hati ingin mengubah nasih nyatanya berbeda sebab bayangan itu tak sesuai dengan realita saat ini.
Bukan semudah membalik telapak tangan tapi ya sudahlah semua sudah terjadi dan yang terpenting saat ini pastinya tekad nya untuk merubah nasib tetap ia teruskan sampai terwujud.
•
__ADS_1
•
•
•
"Ayo Ar berangkat jangan lupa kunci pintu belakang" teriak Bu Rina dari luar
"iya bu sebentar"
Tak lama Arsyi keluar dengan membawa topi capil ke sawah untuk mengurangi rasa panas nantinya.
"dah siap ayo" ajak Bu Rina
"sip bu" jawab Arsyi dengan menunjukkan jempolnya
Seperti biasa sepanjang perjalanan mereka bertemu dengan para warga yang juga akan berangkat ke sawah, dan juga anak anak yang berangkat sekolah.
Ramainya desa ini bisa di tebak akan terjadi di waktu kapan sebab kebiasaan mereka sehari-hari hanya itu.
Murid disini sudah tak terlalu banyak dan mjngkin hanya setengahnya angkatan Arsyi untuk murid SD saat ini.
"Ar Arsyi" panggil Bu Sati
"iya bu ada apa?" tanya Arsyi
"kamu mau ke sawah to?"
"iya bu"
"gini Ar besok ditempat saya hajatan kira-kira ada cabai mu yang sudah merah belum, daripada beli dipasar juga saya"
"belum tahu Bu, nanti saya lihat kan mau berapa bu?"
"satu kilo aja, nanti uangnya sekalian pas ngantar ya"
"iya bu"
Usai berbincang dengan Bu Sati Arsyi dan ibunya melanjutkan perjalanan mereka ke ladang, arsyi sebenarnya sudah punya timbangan dan kali ini dia tinggal mencari tahu harga pasaran cabai.
Meski timbangan nya bekas tapi masih berfungsi dengan baik, rencana Arsyi akan membeli tumbangan nanti saat sudah terkumpul lagi uangnya.
__ADS_1
Ya Alhamdulillah dapat rezeki batin Arsyi, sebab dua bulanan ini karena ia dan Bu Rina bekerja di tempatnya sendiri jadi tak mendapatkan gaji bulanan alhasil mereka belanja dengan menggunakan tabungan mereka.