
Tak menunggu waktu lama Bu Heni, pak Mukhlis dan Ikhsan segera masuk dan mengambil dua sertifikat peninggalan kakek mereka.
Karena tanah yang tertera di sertifikat itu sangat banyak tumbuhan liarnya maka mereka berniat menjual bersama sawah yang juga tidak ada tanamannya bahkan tanahnya sudah tandus.
Berjalan dengan langkah panjang dan tergesa-gesa mereka tak menghiraukan tatapan aneh yang dilemparkan oleh setiap warga yang mereka lewati, bahkan sapaan pun tak mereka gubris.
"Rin Rina, keluar kamu" ucap pak Mukhlis seraya menggedor-gedor pintu rumah Bu Rina
Mendengar gedoran dari luar bu Rina dan Arsyi segera keluar dengan sedikit berlari, dan alangkah terkejutnya melihat Kakak laki-laki beserta keluarganya menghampiri rumahnya, ada masalah apa batin Bu Rina.
"Rin kamu mau kan sertifikat ini, aku sama mas Mukhlis bakal kasih ini ke kmau kalau kamu bisa bayar 8 juta sekarang juga tanpa mengulur-ulur waktu" ucap Bu Heni angkuh
"halah paling kalau sekarang langsung nggak mampu, secara orang miskin nggak punya apa-apa makan aja susah apalagi buat nebus ini" ejek Ikhsan
"sebelumnya maaf Arsyi tanya sertifikat ini kalau sudah bune tebus bakal jadi milik kami selamanya kan?"
"iya aja kalau kamu bisa bayar langsung saat ini"
"oke bakal Arsyi bayar tapi ada syaratnya, budhe dan keluarga nggak boleh gangguin kami lagi apalagi datang kesini" ucap Arsyi
"aman sana ambil duitmu" Mendengar itu Arsyi masuk dan mengambil uang yang sebelumnya sudah ia hitung, merasa sudah pas 8 juta ia segera membawa ke luar dan menyerahkan kepada Bu Heni untuk menghitungnya.
Pak Mukhlis dan Ikhsan dibuat kaget, darimana bocah ingusan seperti Arsyi mendapatkan uang sebanyak itu. Tapi karena mereka butuh uang segera saja mereka menyerahkan sertifikat tersebut dan langsung pergi tanpa berpamitan.
"Alhamdulillah ya buk, hak bune sudah berhasil ada ditangan bune"
"iya Ar makasih banget bune sama kamu, pokoknya bune bangga dan sangat sama Arsyi"
"masuk yuk bune, bune simpen ini terus kita ke sawah"
"iya kamu siap-siap dulu sana"
Melihat Arsyi mulai siap-siap Bu Rina pun dengan cepat menyimpan sertifikat tadi, tak bisa dipungkiri jika ia benar-benar bahagia sekarang apalagi pencapaian Arsyi yang menebus sertifikat itu tanpa meminta tambahan uang darinya.
__ADS_1
Bu Rina menyimpan sertifikat itu didalam tas diantara tumpukan baju, yang mana menurutnya aman.
____________
Sore mulai menghampiri, disaat semua pekerja sudah pulang Bu Rina dan Arsyi lebih dulu menghampiri pak Rozi beserta istrinya untuk menyampaikan maksudnya.
"assalamualaikum pak Rozi dan Bu Hindun"
"waalaikumussalam Bu Rani ada apa bu?" tanya Bu Hindun ramah
"maaf sebelumnya pak Bu, saya mau mengundurkan diri sejenak ingin mencoba memulai sendiri dengan pengalaman dari sini pak Bu berhubung tanah dan sawah peninggalan bapak saya berhasil di tebus oleh Arsyi" ucap Bu Rina dengan membanggakan Arsyi
"Alhamdulillah iya bu nggak papa, kalau ada apa-apa jangan sungkan tanya ke kami insyaallah kami siap membantu" ucap Bu Hindun dijawab anggukan oleh pak Rozi
"terimakasih Bu pak kalau gitu kami permisi assalamualaikum"
"waalaikumussalam"
Setelah melihat Bu Rina dan Arsyi menjauh Bu Hindun angkat bicara.
"iya buk sejauh ini baru keluarga Bu Rina yang berani"
"kita doakan saja pak semoga yang lain segera menyusul"
"aamiin buk, yasudah ayo kita pulang sudah sore juga"
"ayo pak"
Diperjalanan Bu Heni dan pak Rozi diiringi pembicaraan yang mengacu pada warga desa, beliau berdua ingin sekali warga desa berlatih bertani di ladang miliknya namun ketika ada pembicaraan seperti itu warga selalu saja beralasan jika mereka takut dan ragu.
Lantas jika takut dan ragu itu tidak segera di hilangkan dari diri masing-masing kapan kita akan berjalan maju, tidak mungkin kita akan terus jalan di tempat bukan? dan jika mereka mengandalkan anak cucunya kelak apakah ada, jika mereka memilih pergi ke kota maka desa ini perlahan akan tak berpenghuni karena masyarakat sangat jauh lebih sedikit dari rata-rata.
Di kota sana lebih tepatnya di tempat mas Rokhim berada ia tengah menonton kehadiran walikota yang datang tak jauh dari tempatnya berada.
__ADS_1
Didampingi dengan beberapa jajaran pengurus dan pengawal yang menjaga keamanan.
Tibalah dia acara kuis tak disangka mas Rokhim terpilih untuk maju, selain itu juga diberikan beberapa pertanyaan seputar tempatnya tinggal.
"namanya siapa mas?" tanya walikota tersebut dengan ramah, sebut saja namanya pak Abdul Wahid al-aziz yang kerap disapa pak Wahid
"nama saya Rokhim adji Wibowo pak" jawab mas Rokhim
"dari mana kamu, asli kota ini atau perantau"
"saya perantau pak yang berasal dari desa A yang jaraknya menempuh waktu 4 jam untuk sampai ke kota ini" jelas mas Rokhim
"desa A itu dimana? kok saya seperti tidak asing"
"desa saya memang terpencil pak, didaerah tersebut hanya ada dua desa yang berdampingan yaitu desa be yang masih menjadi satu kelurahan dengan desa A"
"sangat terpencil kah desa tempat mu berasal itu?" tanya pak walikota lagi
"sangat pak, bahkan infrastuktur yang ada pun kurang memadai warga nya pun masih sangat lugu hanya ada 1 sekolah negeri yaitu SMA yang sudah tercatat di pemerintahan sementara jenjang dibawahnya masih sekolah swasta yang pastinya setiap bulan ada pungutan biaya sedangkan mata pencaharian warganya saja banyak yang menjadi buruh tani atau pembuat kerajinan besek"
"terus siapa pemilik lahan tempat kerja para buruh itu dan dimana mereka menjual besek buatan mereka?"
"untuk pemilik lahan sendiri beliau adalah orang baik yang berasal dari kota dan membantu perekonomian warga sana, sedangkan tempat menjual besek mereka menjual dipasar yang ada didaerah sana yang setiap bulannya ada truk pengangkut dari kota, sayangnya banyak warga yang tak berani merantau ke kota karena beranggapan kota adalah tempat yang mungkin buruk bagi mereka meski kenyataannya tak begitu"
"apa tidak pernah ada perbaikan atau kunjungan dari pimpinan daerah ataupun provinsi"
"tidak pernah pak, mungkin desa kami adalah desa yang sangat terkecil sehingga banyak yang tidak mengenalnya"
"kapan kamu pulang ke desa?"
"saya belum lama sampai di kota pak, kalau saya pulang lagi uang tabungan saya akan terkuras lagi karena biaya pulang tak sedikit"
"akhir pekan ini kita ke desamu, dan kamu ikut saya tanpa pungutan biaya sepeser pun"
__ADS_1
"ya allah beneran pak?"
"iyalah masak saya bohong, hilang citra saya hahaha" canda pak Wahid mengundang gelak tawa dari para hadirin