
"kemungkinan jika sadar nanti bu Arsyi akan mengalami amnesia, beliau tidak mengingat hal yang baru-baru ini terjadi dan maaf saya menyampaikan ini jika saat ini bu Arsyi masih dalam masa kritisnya"
"ya Allah" lirihh bu Rina
"boleh saya masuk dok?" tanya Zafran
"boleh tapi satu persatu saja agar tidak menggangu bu Arsyi ya pak bu" jawab dokter tersebut
Tak lama Zafran masuk dengan pakaian steril, mendapati istrinya dengan pakaian rumah sakit tanpa menggunakan jilbab. Kepalanya diperban begitupun lengan sebelah kanannya.
Air mata Zafran keluar melihat kondisi istrinya, sungguh ia merasa bersalah karena lalai menjaga istrinya ia begitu menyalahkan kebodohan yang ia lakukan hari ini.
"Sayang, nggak mau bangun hemm mas minta maaf ya mas lalai jaga kamu mas nggak becus jaga cantiknya mas ini, mas minta maaf juga ngabaikan telepon Adek tadi mas adalah suami paling jahat sampai buat adek terbaring disini" Lirih Zafran dengan air mata yang terus keluar
"bangun yuk kita jalan-jalan lagi, katanya mau keliling Indonesia dulu baru keliling luar negeri ngabisin uang mas, kalau gitu ayuk bangun jangan lama-lama ya istirahatnya mas kangen suara sayangnya mas ini"
Sangat lama mengobrol kini Zafran keluar, tak ingin egois karena pastinya ibunya juga ingin melihat outri semata wayangnya yang telah ia lalaikan dalam menjaga karena terlalu larut oleh masalah pekerjaannya.
"Ar, ibuk kangen kamu tapi ibuk nggak mau kalau ketemunya kamu lagi tidur gini ibuk mau ngomong banyak banget ke kamu kata kinanti sawah kita sekarang jadi banyak karena sudah ditambahi sama suami kamu dan itu atas namamu Ar, ayo bangun kuta pergi berkunjung lagi ke desa Ar" hati Bu Rina sakit melihat putrinya sepeti ini.
Selama ini Arsyi tak pernah sakit parah bahkan menginjakan kaki di puskesmas pun tidak pernah dan sekarang tiba-tiba berbaring di bangkar rumah sakit.
"disini memang bagus Ar tapi ayo pulang rumah ibu, tempat kamu tinggal dan rumah mertuamu lebih bagus dari ini jangan lama-lama disininya, disini nggak enak ayo pulang"
Malam mulai menyapa Zafran meminta agar orang tuanya pulang dan datang besok pagi termasuk Bu Rina, biarlah dia yang menjaga Arsyi di rumah sakit.
Arsyi dipindahkan ke rumah VVIP tadi sore atas permintaan Zafran tapi fasilitasnya sama seperti di ICU.
Sepanjang malam Zafran tidur dengan memegang tangan Arsyi bahkan tak terlepas sampai dia bangun dari tidurnya hingga berharap melihat kekasihnya membuka mata namun nihil hasilnya.
__ADS_1
Di sepertiga malam ini tidak seperti biasanya, jika biasanya dia bangun dan mengerjakan sholat sebagai imam yang bermakmum kini ia hanyalah seorang diri.
Dia sholat merayu Rabb-nya untuk meminta kesembuhan istrinya.
"Ya Allah sembuhkanlah istri hamba berikan dia kekuatan untuk melihat betapa besarnya kekuasaan mu ya Rabb, jika saat ini doaku terhalang maka kabulkanlah doa dari dua ibu yang mungkin saat ini juga sedang merayumu, jika doanya masih engkau tahan maka kabulkan doa seorang ayah yang saat ini mungkin tengah melihat kondisi putrinya dari atas sana aamiin"
Usai sholat dia duduk di kursi samping bangkar Arsyi, memegang tangannya dan digunakan untuk berdzikir.
Tak lama Zafran mendengar suara adzan subuh, ia kembali bangkit menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Doanya masih sama seperti tadi, meminta kesembuhan untuk istrinya, Juga meminta agar Arsyi segera sadar dari masa kritisnya.
Pukul setengah enam pagi Bu Rina sudah datang dengan membawakan baju ganti Zafran yang ia bawa dari rumahnya atau baju yang Arsyi tinggal untuk berjaga jika mereka berkunjung.
Tak lupa ada beberapa menu sarapan yang tadi pagi-pagi sekali ia masak dibantu Art nya, harapannya datang pagi adalah siapa tahu ia datang disaat Arsyi sudah bangun dari kritisnya.
"waalaikumussalam iya buk, yaudah Zafran mau mandi dulu" pamit Zafran lalu membuka tas yang dibawa mertuanya, disana juga ada beberapa baju untuk Arsyi.
Setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup dan gemercik air mulai terdengar barulah Bu Rina menyapa putrinya.
"assalamualaikum Ar, belum mau bangun ya? apa masih capek udah sehari semalam kamu tidur jangan lama-lama ya cepet sembuh pokoknya"
Tak lama datan mama Hesti bersama papa Dika, yang juga membawa sarapan tapi berbentuk buah-buahan.
Papa Dika segera pamit sebab ia akan berangkat ke kantor pagi ini sebab ada acara rapat akhir bulan.
Selang beberapa menit kepergian papa Dika datang dokter rista dan seorang perawat untuk memeriksa keadaan Arsyi, beliau juga mengganti Infus Arsyi.
"permisi bu, saya cek dulu ya keadaaan bu Arsyi semoga ada kemajuan"
__ADS_1
Zafran keluar kamar mandi dan bisa melihat ada dokter yang tengah memeriksa istrinya, tak ingin terburu-buru dia terlebih dulu bersiap-siap baru nanti keluar.
"Alhamdulillah bu Arsyi sudah mulai stabil dan juga melewati masa kritisnya, mungkin beberapa saat lagi bu Arsyi sadar" ucap dokter Rista
"Alhamdulillah" jawab mereka serentak
Benar saja belum sampai dokter keluar Arsyi sudah membuka mata terlebih dahulu. Pelan-pelan mata cantik itu membuka, masih dengan menyesuaikan percahayaan disana.
"ibuk haus" lirih Arsyi tak bertenaga
"ini bu Arsyi silahkan pelan-pelan" titah seorang perawat.
"emm terimakasih" jawab Arsyi seraya tersenyum
"yasudah bu saya pamit terlebih dahulu, pesan saya jangan memaksa bu Arsyi untuk mengingat lebih jauh dulu biarkan beliau istirahat dan nanti di ingatkan pelan-pelan"
Setelah dokter tersebut keluar Bu Rina, mama hesti dan Zafran mulai mendekat tapi saat akan menyentuh tangan Arsyi nustru penolakan yang Zafran terima.
"Buk beliau siapa, terus ngapain kita disini ayo kita pulang buk" ucap Arsyi
"kamu beneran nggak ingat Ar, lihat laki-laki yang berdiri disampingmu itu suamimu Zafran dan yang di samping ibu ini ibu mertuamu, kamu memanggilnya mama Hesti"
"kapan Arsyi menikah buk, Arsyi masih sekolah masih mau bantuin ibuk kenapa ibuk bilang Arsyi sudah menikah"
Mendengar itu hati Zafran benar-benar sakit, bukan karena tak diakui istrinya tapi ia merasa dirinya tak berhasil menjaga istrinya.
"lihat nak mama punya foto dimana kalian menikah tiga tiga bulan lalu" sahut mama Hesti mengarahkan handphone nya ke Arsyi, dan respon Arsyi langsung mengeluh karena kepalanya sakit.
Melihat itu mama Hesti dan yang lain hanya bisa pasrah dan biarkan alur nya berjalan seperti biasa sampai nantinya Arsyi akan berhasil mengingat semuanya.
__ADS_1