
Ia masih lemas dan tak bisa banyak menggerakkan tubuhnya.
Rasa sakit menjadi-jadi bahkan saat ia memikirkan untuk bergerak.
Ya kalau begini nggak bisa ngapa-ngapain selain nunggu keadaannya pulih sih.
Dan sepertinya takkan bisa cepat pulih juga.
Sang perempuan satu ini sudah mengerti dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
Bahkan makhluk kuat pun tak bisa lari dari luka yang sudah dialaminya.
Kalau saja ia tak berhadapan dengan sang monster bulat merah itu, pastilah ia takkan terluka parah.
Namun nyatanya ia sudah berkomitmen untuk membantu makhluk lemah yang dalam kesulitan.
Tak peduli dengan apa yang terjadi padanya.
“Hah.” Namun misinya berakhir tak seperti yang diinginkannya.
Ia masih belum kuat.
Sang perempuan cantik ini menutup matanya, membiarkan tubuhnya beristirahat.
*
Beberapa hari kemudian….
Sudah cukup banyak waktu ia beristirahat di tempat ini.
Kini sang perawatan sang perempuan cantik ini sudah selesai.
“Nona Felicia bisa pulang sekarang.” Sang perawat tersenyum lembut.
‘YEAH.’ Akhirnya setelah sekian lama bisa keluar juga.
Ia tak sabar menghajar banyak monster untuk pemanasan.
Sret.
“Eh?” Sang perawat menyodorkannya secarik kertas yang panjang.
“Apa ini?”
“Tagihan untuk perawatan nona,’ ujar sang perawat dengan nada lembut.
‘TAGIHAN!?’ Felicia tak bisa menahan keterkejutannya.
Ia benar-benar lupa soal ini.
Mata coklat perempuan itu bergulir memerhatikan seksama surat tagihan itu.
“!?” Total biayanya benar-benar mengejutkannya.
‘Mahal banget.’ Felicia tak menyangka biayanya segede ini.
Namun tak bisa dipungkiri perawatan yang diterimanya benar-benar berkualitas sih.
Itu juga yang jadi alasan ia pulih cepat.
Namun pada akhirnya ada harga yang harus dibayar ya.
“Waduh.” Felicia hanya senyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Darimana duitnya?
Ia memang makhluk kuat yang banyak ngebasmi monster, dan sebagian besar penghasilannya ia investasikan untuk perlengkapan bertarung.
Yah kali ini ia lagi bokek sih.
“Bayarnya bisa nyicil?” Felicia butuh waktu buat ngelunasinnya sih.
“….” Sang perawat terdiam, entah kenapa suasana jadi serius.
‘NGGAK BISA YA?’ Ya kalau begini sulit dong ya.
“Apa yang nona bicarakan?” Sang perawat malah menatapnya heran.
“Eh?”
Dengan cepat sang perawat menjelaskan bahwa ia hanya menyerahkan rincian biaya perawatannya saja.
__ADS_1
“Jadi bukan tagihan?”
“Bukan nona.”
“OH.” Rasanya langsung lega.
Lah kalau gitu siapa yang bayarin biayanya dong?
“Pemuda yang membawa nona kemari.” Perawat itu langsung menjawab pertanyaannya.
“!”
*
Sebuah wilayah perkotaan ramai yang penuh dengan kesibukan orang-orang.
Evergrande, begitulah orang menyebutnya.
Kota yang ramai dan padat, dengan wilayahnya tak begitu luas.
Inilah tempat keramaian yang terdekat dari area Infinite Joy, wilayah padang rumput luas tenang sebelumnya.
Sinar mentari terang menyinari tempat ini, dan orang-orang sedang menjalankan aktivitasnya masing-masing.
Terlihatlah sang pemuda yang duduk di bangku umum sembari mengelap keringatnya.
“Pyuh, panas boy.”
Keringat brutal membasahi tubuhnya, bahkan mengelapnya saja tak cukup untuk menghentikannya.
Entah apa yang sudah dilakukannya sampai benar-benar lelah begitu.
“Hei.” Terdengarlah suara wanita dari belakang pemuda ini.
“WAGH!” Agak kaget sih! Bahkan sampai terperanjat.
“JOHN?” Perempuan berambut coklat itu menatapnya serius.
“NONA!?” Pemuda yang super lelah itu terkejut melihatnya.
“NONA ISTIRAHATLAH LAGI.” John spontan memegang bahunya.
“….” Perempuan cantik ini terdiam.
Yah ia masih khawatir dengan keadaan sang sosok yang sudah menolongnya ini sih.
“Aku sudah diizinkan pulang.” Perempuan ini akhirnya menjelaskannya juga.
“OH?” John terdiam. Ia pikir nona ini kabur ditengah perawatannya.
Yah tak bisa dipungkiri hari sudah berlalu juga sih.
John lupa sudah berapa lama. Akhir-akhir ini ia sibuk juga sih.
Felicia terdiam, ia heran akan penampilan pemuda ini.
Yah terakhir kali bertemu, dia tak sekumuh ini sih.
Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dan pakaiannya juga kotor.
“Syukurlah.” John lega usahanya tak sia-sia.
Yah bukan hal yang mudah, namun setidaknya ia jadi berguna, meski tak banyak.
“Hei….” Felicia penasaran dengan apa yang terjadi padanya.
Yah ia biasanya tak ikut campur dengan urusan orang, namun kali ini ia emang penasaran sih.
“HEI ANAK MUDA!”
“!” Terdengarlah suara laki-laki keras dari kejauhan.
SRET.
John bangkit dan menarik nafas panjang.
Istirahatnya tak lama, namun setidaknya ia menikmatinya.
“Nikmati waktumu nona, jangan lupa istirahat.”
John langsung pergi dengan semangat.
__ADS_1
“….” Felicia terdiam, tadi itu apa?
Kenapa dia buru-buru begitu?
Perempuan ini terdiam sejenak dan melangkahkan kakinya mengikuti jejak pemuda tadi.
Yah ia penasaran dengan apa yang dilakukannya sih.
Felicia melihat-melihat juga kesibukan orang-orang.
Yah ini bukan kota terbesar yang pernah dikunjunginya, namun jelas salah satu yang tersibuk.
Entah sudah berapa lama ia tak berkunjung ke sini.
Ia banyaknya berkunjung ke tempat sepi sih.
Biasanya lebih banyak monster yang bisa dibasminya.
Dan itu terbukti dengan kemunculan slime kuat yang sangat merepotkan itu.
Kalau saja ia tak cepat tumbang, sudah pasti poin pengalamannya naik drastis.
Namun ya sudahlah lah ya.
Sudah cukup menyesali masa lalu dan lebih baik mulai memperbaiki diri.
Felicia menyegarkan pikirannya dengan melihat pemandangan bangunan di kota ini.
Dan akhirnya langkahnya terhenti di sebuah area pembangunan di sisi kota.
‘OI.’ Perempuan ini terdiam.
Jelas-jelas banyak yang lagi kerja di sana sih.
Dan salah satunya itu….
“AYO AYO SEMANGAT!” Terlihatlah pria kekar dengan suara besar yang tadi.
“SEMANGAT! MEMBANGUN NE-GE-RI!” Dibalas dengan nada kompak para pekerja yang sedang bekerja keras itu.
‘Wah lagi sibuk nih ya.’ Yah Felicia tak menyangka juga sih.
*
Sore harinya, di bangku umum pusat kota.
“Nona?” John tak menyangka melihat lagi nona ini di tempat yang sama.
Yah ia pikir nona ini sudah pergi melanjutkan perjalanan dan urusannya lagi.
Sret.
Perempuan cantik itu menggeser posisi duduknya.
“….” John terdiam, kok malah begitu?
‘Oh.’ Yah sudah pasti makhluk elite sepertinya tak mau dekat-dekat dengannya yang kotor ini sih.
Namun pasti ada alasan kenapa nona ini tak beranjak dari tempat ini sih.
Tapi yah bukan urusannya juga sih.
Yang penting ia sudah melakukan bagiannya dan syukurlah sepertinya keadaan nona ini sudah semakin baik.
"Semoga harimu menyenangkan nona." John menunduk memberi hormat dan beranjak pergi.
"Tunggu."
"Eh?" John menghentikan langkah kakinya.
"Ada yang mau kubicarakan denganmu." Sang perempuan cantik ini terdengar serius.
Entah kenapa rasanya serius.
John akhirnya duduk disebelah nona itu.
Sementara itu suasana menjelang malam ini terlihat tenang.
Air mancur di tengah kota terlihat indah dengan dekorasi lampunya.
"...." Ada sesuatu apaan sampai-sampai makhluk hebat sepertinya mau bicara dengannya?
__ADS_1
Yah rata-rata makhluk hebat nan kuat biasanya selalu diam dan serius juga sih.
"Kenapa kau menyelamatkanku?" Felicia langsung ke intinya saja.