
Felicia terdiam, tanpa perlu dijelaskan pun ia sudah tahu apa maksudnya.
Strategi diam-diam, itulah yang dimaksud pemuda ini.
Menyelinap masuk dan berbaur dengan yang lain.
Itulah cara terbaik yang bisa dilakukan.
Kalau begitu bukankah mereka tinggal menyamar dan masuk ke jalur biasa? Itu cara yang masuk akal juga kan?
Namun nyatanya eksekusinya tak semudah yang dibayangkan.
Tak cukup hanya menyamar dan berdandan seperti kalangan atas.
Jangan lupakan sistem keamanan seperti apa yang ditawarkan kota ini.
Sudah jelas kota besar ini menerapkan keamanan yang ketat.
Tertangkap basah adalah hal yang harus dihindari dengan segala cara.
Namun bukankah pemuda ini punya kenalan juga di tempat ini yang bisa membantunya? Seperti kucing besar sebelumnya?
Namun sayang sekali tidak begitu.
John bukan tipe player yang terkenal di semua tempat di game ini.
Masalahnya cukup rumit.
Namun terkadang ada kalanya solusi yang dibutuhkan tidak serumit yang dibayangkan.
"No-"
"Nggak, aku takkan pergi tanpamu."
"!" Felicia langsung memotong perkataannya. bahkkan sebelum pemuda itu bicara sepenuhnya.
'Kok?' Kenapa nona ini bisa tahu apa yang ia pikirkan?
Felicia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan pemuda ini.
Insting tajamnya memberitahunya.
"Tapi hanya itu-"
"Nggak." Felicia tak memberikan kesempatan untuk menjelaskan apapun.
Ia tetap pada pendiriannya dan tak mau berpisah.
"...." John terdiam. Yah kalau nona ini nggak setuju ya apa boleh buat ya.
Ia sadar dirinyalah yang jadi beban di sini.
Nona itu takkan punya masalah untuk masuk ke kota ini.
Mengingat dia dengan segala pengalamannya tentu sudah cukup untuk membuatnya layak memasuki kota ini.
Namun Felicia tak mau menjalankan misi ini sendirian saja.
Felicia maju ke depan dan melihat gerbang besar ini.
Pasti ada cara lain untuk masuk ke tempat ini.
"HEI!"
"!" Tiba-tiba terdengarlah laki-laki keras dari kejauhan.
'ASTAGA!' Ini gawat!
"ANGKAT TANGAN!"
Makhluk tinggi besar dengan zirah dan senjata lengkap langsung mengarahkan pedangnya pada mereka berdua.
"HI!" John langsung menurut, namun tidak dengan gadis cantik ini.
Felicia tak peduli dengan perintah yang didengarnya.
'NONA!?' Nona satu ini berani juga!
__ADS_1
Yah kalau dirinya sih sadara diri dengan kekuatannya.
Ia bisa merasakan aura energi kuat yang terpancar dari makhluk yang baru muncul itu.
Makhluk tinggi besar dengan perlengkapan tarung lengkap, hanya orang kuat lain yang tak terpengaruh aura darinya.
"...." Makhluk berizirah itu terdiam, tak ada nada ancaman lagi daripadanya.
"Felicia....?"
"!" PRIA ITU KENAL NONA INI?
"Oh?" Felicia tak menyangka ada yang kenal dengannya.
"Siapa ya?" Gadis itu menatap seksama, namun masih belum sadar.
Dengan cepat pria besar itu membuka helm zirah full face-nya itu.
"OH!" Akhirnya Felicia langsung sadar.
"JIN!" Ia tak menyangka akan bertemu rekannya di tempat ini.
Pria besar zirah itu punya wajah dewasa dan kelihatan ramah.
Hanya saja suaranya berat dan lantang.
"Sedang apa kau di sini?" Pria yang dipanggil Jin itu mendekat.
"Ahaha, sebenarnya...."
Dan begitulah, akhirnya mereka berdua mengobrol.
John hanya diam dan menyimak saja.
Yah bukan hal yang mengejutkan kalau nona ini banyak yang kenal sih.
"Ah, begitu. Lalu dia?" Jin penasaran dengan pemuda yang bersama rekannya ini.
Dengan cepat Felicia menjelaskannya juga.
'Uh.' John masih diam, entah kenapa ia merasakan aura kurang bersahabat dari berzirah ini.
Yah mungkin dia alergi melihat makhluk lemah sepertinya.
Yang memang begitulah kenyataannya.
Jin tak menyangka rekannya ini mau berurusan dengan makhluk lemah seperti ini.
“Hei jaga kesopananmu, dia rekanku lho.” Felicia terdengar tak senang.
“Oh maaaf.” Pria besar ini langsung menghentikan tatapan dingin dan sinisnya itu.
“….” John tak menyangka pria besar itu mau menuruti perkataan nona ini.
Padahal dipihak kekuatan, pria berzirah itu tak kalah kuat.
"Heeeei...." Felicia terlihat tidak senang melihat rekannya.
"Maaf." Pria besar itu langsung menghentikan ekspresi sinis-nya itu.
"...." John tak menyangka pria besar itu langsung nurut.
Padahal dari aura kekuatannya nggak terlalu beda jauh sih.
"John huh?" Pria itu akhirnya menatapnya dengan biasa.
"Sepertinya aku pernah mendengarnya." Ia memegang dagunya, pose mikir.
"!?" Dia juga tahu tentangnya!?
John tak percaya, apa ia seterkenal itu yah?
"Kau bisa membantu kami masuk?" Felicia langsung ke intinya.
"Tentu." Tanpa pikir panjang Jin langsung menjawabnya.
Ia kemudian memberi mereka kartu emas dan kemudian membuka pintu gerbang.
__ADS_1
Dan VOILA!
Akhirnya mereka bisa masuk ke dalam kota!
Keduanya pun langsung berjalan sambil melihat pemandangan sekitar.
John terdiam, ia masih penasaran dengan yang terjadi sebelumnya.
"Oh dia? Dia kenalanku." Felicia langsung menjawab rasa penasarannya.
'Aaaa....' John sudah menduga akan mendapat jawaban seperti itu.
NGGAK ADA PENJELASAN LAIN?
Yah John bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang sih.
Tapi sekarang ia murni penasaran saja.
Dari interaksi yang mereka tunjukkan sebelumnya, sepertinya mereka berdua lebih dari kenalan sih.
"Yah dia rekan lamaku sih."
'TUH KAN.' Sudah jelas sih ya.
Mereka sudah lama tak bertemu sih.
Terakhir kali pas masih bayi.
"LAMA AMAT." John tak menyangka nona ini masih ingat.
Yah sebagai makhluk kuat, tentu ingatannya tajam ya.
Oke, cukup bahas soal itu.
Marilah kita berganti ke topik yang selanjutnya.
Pemandangan kota ini memang lebih megah.
Matanya dimanjakan oleh pemandangan kota ini.
Jauh lebih realistis daripada pakai VR.
Yah kini ia melihatnya dengan mata kepala langsung, nggak pakai alat sih.
Suka atau tidak, inilah dunianya yang sekarang.
'TAPI AKU LEBIH SUKA YANG SEKARANG GYEHEH.'
Itulah pendapat jujurnya.
Yah kini bukan mimpi lagi bisa hidup di dunia game.
Meski tak sesuai harapannya, tapi yah, yang penting impiannya sudah terwujud sih.
John masih menikmati pemandangan ini, yah setidaknya sebelum ada dua sosok berzirah besar yang menghalangi jalannya.
"Um...." John terdiam. Kenapa mereka menghalangi jalan begini ya?
Entah kenapa ada aura ketidaknyamanan yang terpancar dari dua makhluk besar yang menghalangi jalan ini.
Mirip dengan yang ia rasakan pas melihat tuan Jin.
"Kalian pendatang baru?" Salah satu dari mereka bertanya,, suaranya tak kalah berat dengan yang sebelumnya.
Ya benar, mereka adalah penjaga kota ini yang kebetulan sedang patroli.
Alasan mereka menanyakan hal ini karena tak lain tak bukan sudah jadi prosedur keamanan kota ini.
Mereka bisa tahu aura pendatang baru yang sudah diperiksa dan belum.
Itulah sebabnya mereka menghalangi jalan dan siap dengan segudang pertanyaan yang harus dijawab.
Sret.
Felicia menunjukkan kartu emas pemberian rekannya tadi.
"!" Kedua penjaga berzirah ini terdiam dalam kaget, mereka melihat kartu yang sama pada pemuda itu.
__ADS_1