
Ia merasa tak berguna, yah pasalnya di tahap awal saja sudah seperti ini.
Gimana bisa ngalahin naga api kalau gini?
Tak bisa dipungkiri gadis ini punya visi depan yang besar.
Ia mengumpulkan kepercayaan diri dengan berbagai pengalamannya.
Ia tak takut untuk bermimpi besar.
Itulah kenapa ia bisa percaya diri di awal.
Keadaan yang mulus berubah begitu cepat.
Makhluk sangat percaya diri sepertinya bisa kena mental juga.
Gadis itu menggoyang-goyangkan tubuh pemuda itu sembari histeris.
“Te- tenang saja nona.” John berusaha menenangkannya.
“HUAA!” Dan nggak tambah tenang juga sih.
Gadis itu terang-terang mencurahkan perasaannya.
Aksi langka yang terlihat dari makhluk kuat.
Meski tidak berhasil ‘cocok’ dengan senjata itu, namun tetap tak mengubah kekuatan gadis ini yang sebenarnya.
Pada akhirnya Felicia memang ada di atas rata-rata dengan pengalaman yang tak perlu diragukan lagi.
Biasanya para makhluk kuat takkan menunjukkan kelemahannya, dan akan selalu bersikap kuat.
Namun tidak dengan sang gadis cantik satu ini.
Ia tak menutupi emosinya dan menunjukkan dirinya apa adanya.
“Nona….” John tak menyangka beliau sekecewa ini.
Inilah sisi lain yang ditunjukkan olehnya.
Waktu terus berlalu, dan Felicia masih meluapkan emosinya.
John membiarkan nona satu itu tenang dahulu.
Memang sulit ketika melihat hal tak sesuai dengan yang dipikirkan.
Reaksi orang-orang tak sama, dan tak harus sama juga.
Setiap makhluk unik dengan reaksinya masing-masing.
Ada waktu dimana kita tak perlu menggunakan topeng.
Jujur dengan diri sendiri tidak salah.
Pada akhirnya di momen sang nona satu ini kelihatan seperti gadis cantik biasa yang rapuh.
Namun John tak terus memandangnya seperti itu.
Nona penyelamatnya ini adalah pejuang yang kuat.
“Hiks.” Akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, gadis cantik ini mulai tenang juga.
“Ma- maaf.” Felicia berhenti memegang pemuda itu dan agak mundur.
Ia mengusap air mata dari wajahnya, namun bekas kesedihan tak menghilang darinya.
Kepercayaan dirinya merosot tajam sampai emosi mengambil alih dirinya.
Gadis ini mulai mempertanyakan keputusannya.
Misi ini jelas lebih sukar dari yang ia kira.
Tekadnya untuk membantu pemuda ini pun sama terguncangnya.
Keputusasaan benar-benar menghajarnya habis-habisan.
“….” John terdiam. Perempuan biasanya lebih peka terhadap emosi.
“Nona.” John terdengar serius.
__ADS_1
“….” Felicia berusaha mengangkat kepalanya setelah tertunduk beberapa saat.
Yah ia merasa malu dengan kepercayaan dirinya yang berlebihan dan tidak membuktikan apapun.
Terlalu dini baginya untuk bisa mengungkap misteri yang terjadi pada sang pemuda ini.
Ia perlu lebih banyak pengalaman dan jam terbang.
Dengan begitu mungkin ia punya kesempatan untuk menolongnya.
“Terima kasih nona.” John langsung mengungkapkannya.
Ia senang ada yang berniat menolongnya di dunianya yang baru ini.
Ia pikir akan sangat sulit untuk minta pertolongan sebagai pemula.
Hari-harinya mungkin begitu berat dan suram tanpa ada yang peduli padanya.
Namun ia salah.
Ada sosok kuat yang mau melindungi makhluk lemah sepertinya, bahkan menawarkan bantuan besar padanya.
Nona satu ini terlalu baik untuk ukuran makhluk yang tinggal di dalam game seperti ini.
Yah dia seperti heroine serba bisa yang bersinar dengan caranya sendiri.
Setidaknya begitulah John melihatnya.
Kini ia sudah melihat tekad kuat darinya, dan sejujurnya itu sudah lebih dari cukup.
Nona ini sudah membuktikan semuanya di sini.
Yah John juga punya visi dan misi besar untuk mengungkap apa yang terjadi pada dirinya.
Namun sudah pasti tak semudah membalikkan telapak tangan sih.
Kejadian tak terduga tak bisa dihindari dan kebanyakannya tak sesuai ekspektasi.
Namun beginilah hidup.
Dipenuhi dengan kejutan dan hal tak terduga.
John mengandalkan ketenangannya yang akhirnya bisa melihat ini dari sisi lain.
Kini kenyataan sudah bicara, ia tak mau membawa nona ini lebih jauh dalam masalahnya.
“Eh?” Felicia terdiam.
Apa yang baru saja … dikatakannya…?
Felicia mengambil waktu memikirkan apa yang baru saja dikatakan pemuda ini.
Ia tak menyangka akan mendengar perkataan seperti tadi.
“?” John terdiam. Ia pikir nona itu akan senang mendengar perkataannya.
“Kenapa?” Felicia menyudahi kediamannya dengan raut wajah penuh pertanyaan.
‘LHO.’ John makin heran.
Nona satu ini benar-benar tidak senang dengan apa yang dikatakannya.
Kok bisa gitu ya?
Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya pemuda ini katakan padanya?
Yah, tak lain tak bukan adalah sebuah kenyataan yang memihak nona itu sendiri.
….
Yah, versi sederhananya John meminta nona itu mundur dari misi ini.
Ia sangat senang dan mengapresiasi bantuan dari nona itu.
Namun pada akhirnya nona satu ini punya hal lain yang lebih penting daripada bersamanya memecahkan misteri ini.
John yakin akan hal itu.
Dan yang paling penting nona itu tak perlu merisikokan keselamatannya hanya untuk membantunya.
__ADS_1
Felicia terdiam.
Ia memang terpukul gara-gara tak bisa menjalankan misi dengan lancar.
Namun bukan berarti ia ingin mendengar hal itu juga sih.
“Kamu ngusir aku Rookie?” Raut wajah gadis ini langsung jadi serius.
“Eh?” John terdiam. Reaksinya tak sesuai perkiraannya sih.
Nona itu bukannya lega dan senang, eh malah kek ngambek.
Bukannya nona ini tak ingin merisikokan segalanya dan hidup menurut kehendaknya sendiri?
John hanya mengingatkan nona itu, tak perlu terbeban membantunya.
Beliau sudah cukup banyak menolongnya.
“HMPH~” Felicia langsung memalingkan mukanya.
“….” John terdiam, nona satu ini benar-benar marah sih.
“Nona?” John tak mengerti.
“HMPH.” Gadis itu mendengus saja.
Yah ia masih emosional sih.
“Ma- maafkan saya nona.” John menunduk, ia tak mengerti kenapa nona itu marah.
Namun yang jelas kemarahannya itu disebabkan olehnya sih.
Felicia masih diam, untuk pertama kali setelah sekian lama ia bad mood juga.
Ia memang terpukul, namun tak pernah bilang mau mundur.
Tapi kenapa dia…?
Felicia berusaha menenangkan emosinya.
Yah lagi-lagi apa yang terjadi tak sesuai dengan harapannya.
‘Seharusnya dia menyemangatiku kan?’ Begitulah pikirnya.
Namun apa yang terjadi tidak sesuai harapannya.
Pemuda itu malah mengusirnya.
Itu membuat momen buruk jadi tambah buruk.
Namun pada akhirnya ia tak punya pilihan lain selain jadi tenang.
Ia hanya perlu waktu untuk berhadapan dengan emosinya.
‘OKE FELICIA.’ Tak lama, gadis ini akhirnya tenang juga.
“....” John terdiam dengan raut wajah bersalah.
Yah ia memang merasa bersalah sih.
Banyak hal yang ingin ia katakan.
Namun pada akhirnya ia tak mau membuat nona ini makin jengkel sih.
Pilihannya hanyalah meunggu nona ini tenang.
Sudah pasti nona itu takkan mau menerima penjelasannya, namun yah setidaknya ia sudah berusaha sih.
Dan akhirnya Felicia mulai berbalik lagi, ia sudah lumayan tenang.
John masih bisa melihat sisa amarah daripadanya.
“JANGAN-JANGAN KAMU MAU NYARI YANG LEBIH KUAT DARIKU YA?” Felicia langsung menatap tajam.
Bisa jadi itulah alasan dibalik pengusirannya ini!
Ia tak dibutuhkan lagi kalau dia sudah menemukan yang lebih kuat darinya!
“EH BUKAN!” John langsung menepis keras.
__ADS_1