
"Kita bisa cepat tajir nih!" Felicia lanjut memeriksa berbagai misi yang ada ini.
"No- nona...." John terlihat bergetar.
"Hm hm~" Felicia masih sibuk memilih misi apa yang cocok untuk diambilnya.
Bukan tanpa alasan John tak setuju dengan nona ini.
Seperti yang sudah kita tahu, kertas misi banyak terpampang dan bahkan ada yang tumpang tindih satu dengan yang lain.
Kebanyakan kertas misi itu berukuran kecil dan otomatis tulisannya kecil juga.
Butuh fokus ekstra untuk bisa membaca dan memahami surat itu.
Yah John pikir nggak ada yang aneh-aneh sama misi yang ada ini.
Namun ia salah.
SEMUA MISINYA TINGKAT SSS SEMUA.
NGGAK ADA BEDANYA DONG SAMA MISI YANG SEKARANG DIJALANINYA INI.
Yah tak bisa dipungkiri awalnya John percaya diri karena sudah berpengalaman ngelarin misi yang lebih sulit dari semua misi yang terpampang di sini.
Namun pada akhirnya itu semua hanyalah masa lalu.
Nggak ada hubungannya dengan yang sekarang.
Kini John mulai melihat kenyataan yang sesungguhnya.
Pengalamannya memang tak dilupakannya, namun keadaan sudah berbeda.
Semuanya tak lagi sama.
John berusaha untuk realistis di sini.
Kepercayaan dirinya di masa lalu tak bisa dipakai dikehidupannya yang sekarang.
"Nona...." John tak bermaksud mengganggu nona ini, ia hanya ingin mengungkapkan pendapatnya saja.
"Oke."
Felicia mengambil salah satu kertas misi dan berjalan begitu saja.
"...." John terdiam, waduh gimana ya.
Ia nggak dapat kesempatan bicara sama sekali.
Nona itu benar-benar serius ngambil misi susah lagi.
Ini diluar akal sehat sih.
Mau dilihat dari sisi manapun juga.
Tak bisa dipungkiri hadiah misi kelas begini memang tak main-main.
Namun begitupula dengan risikonya.
John menyambut baik niat nona itu, namun tak disangka malah sejauh ini.
Kenapa ia malah menyeret nona ini dalam masalah dirinya?
John mulai mempertanyakan semua rencananya ini.
Kenyataan memang diluar dugaan dan tak bisa diperkirakan.
Tak cukup hanya dengan modal semangat dan tekad saja.
John mengawali semuanya dengan itu dan pada akhirnya jadi lesu.
Kenyataan memaksanya mengakui bahwa rencananya terlalu ketinggian.
Namun nona itu tak terpengaruh dengan kenyataan yang terjadi dan terus maju.
Sungguhlah tak disangka.
Pada akhirnya John berusaha mempedulikan perasaan dan pendapatnya sendiri.
Ia harus menghargai kepercayaan nona itu yang begitu kuat padanya.
__ADS_1
Beberapa momen kemudian.
Keduanya akhirnya sampai di Guild kota dan bergegas masuk ke dalam.
Siapapun yang ingin mengambil misi dari papan pengumuman harus mengonfirmasi dulu ke guild yang bersangkutan.
"No- nona yakin?" Ibu pelayan guild terlihat tidak percaya.
"Hm!" Felicia mengangguk dengan semangat.
Ibu pelayan itu sedikit menggelengkan kepalanya dan masih terlihat tak percaya.
Yah John bisa mengerti perasaan ibu itu sih.
"Semoga beruntung nona."
Dan begitulah, setelah di 'approve' oleh guild, maka dengan misi sampingan ini sudah dimulai.
Misi sampingan dengan tingkat kesulitan yang sama dengan misi utama.
Agak tak biasa, tapi begitulah kenyataannya.
"OKE." Felicia masih terlihat semangat dan siap untuk menjalani misi barunya.
Ia tak terlihat memikirkan hal lain kecuali apa yang akan dilakukannya.
Tak ada keraguan dalam dirinya.
"Kamu siap Rookie?" Felicia menatap semangat.
"...." John menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"NOW OR NEVER!" John mengacungkan tangan dengan semangat.
"OII!" Gadis ini juga melakukan hal yang sama.
***
Akhirnya perjalanan baru pun dimulai.
Setelah mempersiapkan segala sesuatu, akhirnya mereka pun meninggalkan kota.
Ada satu tempat yang harus mereka tuju, dan letaknya cukup jauh.
Waktu sudah berlalu semenjak mereka meninggalkan gerbang kota.
Jalan kaki adalah metode yang mereka gunakan sekarang ini.
Cara yang biasa dan cukup sederhana.
Namun mungkin sebagian dari kita bertanya, kenapa mereka tak pakai cara yang lebih cepat?
Pakai kuda atau kendaraan lain misalnya?
Pada akhirnya semuanya ini ada alasannya.
Yang tak lain tak bukan adalah demi menghemat biaya.
Karena guild tak menyediakan kendaraan, jadi mau tak mau mereka harus pakai cara ini.
Mendapat uang maksimal adalah prioritas tertinggi selain keselamatan.
Lama tidaknya misi berjalan tidak jadi masalah di sini.
Yah pada akhirnya misi jenis ini pasti datang dengan kesulitannya sendiri.
Strategi speedrun takkan efektif sih.
Itulah kenapa mereka tak keberatan jalan kaki.
'OKE OKE OKE.' Sementara itu John memutar otaknya memikirkan sesuatu.
"Ada apa Rookie?"
"!" Felicia bisa tahu ada yang sedang dipikirkan pemuda itu.
"Ah, tak apa nona." John tersenyum kecil.
Nggak ada hal penting kok, hehe.
__ADS_1
"Hmm...." Felicia terdiam, ia tak langsung menelan bulat-bulat perkataan itu.
Nyatanya ada hal krusial yang dipikirkan pemuda ini.
Soal bagaimana caranya ia agar tak jadi beban di misi ini.
Namun seberapa keras ia berpikir pun, jawaban tak kunjung menampakkan diri juga.
"Jangan khawatir." Felicia tersenyum kecil.
"...." John terdiam, entah kenapa sepertinya nona ini sudah tahu apa yang dipikirkannya.
Padahal ia tak mengatakan apapun sih.
Felicia sudah tahu dari nada dan raut wajah pemuda ini.
Sejak tahu syarat untuk menebus buku itu, dia mulai hilang harapan.
'Aku juga bisa berakhir sama.' Felicia sadar akan hal ini.
Sejujurnya ia sama kagetnya dan tak percaya.
Namun memang tak ada pilihan lain selain tetap maju.
"Aku akan melindungimu."
"!"
'TUH KAN.' Nona ini memang benar-benar sudah tahu apa yang ada dalam pikirannya!
Ia yang sudah memulai misi ini akan bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi pada pemuda ini.
Satu kalimat pernyataan tadi sudah menjawab semua keraguan dan kecemasannya.
"Yah kamu kan Rookie hehe!" Felicia menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
"Ehehe...." Syukurlah nona satu ini sadar.
John merasa lega nona itu tak mengabaikannya.
Namun bukan berarti ia bisa santai-santai saja.
Pada akhirnya ia juga harus berjuang dengan cara apapun.
Nona itu sudah memperjuangkan harapannya sampai sejauh ini, kenapa ia masih saja ragu begini?
Sudah cukup kena mentalnya, waktunya untuk move on dan berjuang kembali.
Yah memakai semangatnya yang dulu tak sepenuhnya buruk juga sih.
Terkadang kita harus memalsukan kenyataan dan hidup dengan apa yang kita percaya.
Dengan begitu kita bisa lebih tahan dan fokus pada tujuan.
‘HO.’ John tak menyangka pikirannya sedalam ini.
Apa jangan-jangan gara-gara suka main game strategi ya?
*
Waktu terus berjalan dan mereka berdua masih berjalan.
Hari mulai beranjak gelap namun mereka berdua tak berhenti sama sekali.
Tak ada raut wajah lelah yang terlihat dari mereka berdua.
Yang ada hanyalah semangat dan tekad yang masih terjaga.
Tak bisa dipungkiri semua ini ada hubungannya dengan pengalaman mereka sebelumnya.
Yah mereka sudah pernah melakukan perjalanan jauh juga sih.
"ISTIRAHAT AH." Felicia menghentikan langkah kakinya.
"Eh?" John belum merasa lelah sih.
Bukankah sebaiknya terus maju biar menghemat waktu ya?
"Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik." Felicia terdengar seperti mengajari.
__ADS_1
Yah bukan begitu sih, ia hanya mengatakan kenyataan yang ada.
Tak perlu buru-buru, satu-satunya hal yang menghentikan mereka bukanlah deadline, tapi kematian.