
"Satu strawberry milkshake.." Mary menunjuk salah satu gambar minuman yang terpajang di gerai stand Milk-Milk yang berada di dalam pusat perbelanjaan dimana dia berada sekarang. Tangan kirinya menenteng tas go green kecil berisi beberapa buku dan alat tulis yang barusan dia beli di lantai 3.
Si penjaga stand, cowok bertopi merah, menatapnya tak berkedip dengan mulut terbuka mengingatkan Mary pada ikan koi di akuarium rumahnya. Mary menggigit bibir. Dia belum terbiasa dengan tatapan seperti itu. Baginya itu benar-benar hal baru di hidupnya.
"Mau tambah cream?" si penjaga bertanya super ramah. Mary mengangguk sambil memperhatikan tangan cowok itu yang cekatan.
"Makasih.." Mary menerima milkshake-nya dengan mata berbinar-binar melihat cream putih yang menggunung di atas minuman berwarna merah muda itu. Cowok penjaga stand itu baik sekali, pikirnya.
"Kenapa cewek cantik selalu diperlakukan istimewa sih? Itu namanya diskriminasi kan?" Sayup-sayup Mary bisa mendengar obrolan 2 cewek berseragam putih abu-abu yang juga membeli milkshake yang sama namun mendapat perlakuan yang berbeda dari si penjaga.
Dia menghela nafas.
Cantik?
Apa aku cantik?
Mary bertanya-tanya ketika melihat bayangan wajahnya di jendela kaca mobil yang terparkir di luar. Seperti mimpi, seperti bukan dirinya. Itulah yang dirasakan Mary setiap melihat wajah barunya di cermin.
Mary menyentuh hidungnya. Dagunya. Dia berpikir manusia benar-benar dianugerahi kecerdasan luar biasa bisa mengubah maha karya Tuhan.
"Dasar perempuan tidak bersyukur!" Beberapa orang akan berkata seperti itu. Tapi apa mereka tahu, sejak kecil sampai dewasa dia sudah melalui masa-masa yang berat hingga membuatnya tidak tahu lagi apa yang perlu dia syukuri di hidup ini.
Tidak. Dia tidak ingin muluk-muluk dengan mengubah wajah ini. Dia tidak berharap dipuji orang lain, dia tidak berharap dicintai pangeran tampan. Dia hanya ingin hidup normal seperti orang lain. Dia ingin berteman, dia ingin makan bareng di kantin, dia ingin jalan bersama di mall, dia ingin melakukan sesuatu hal bersama orang lain, dia ingin berjalan tegak tanpa takut ditatap dengan tatapan menghina.
Apa itu sesuatu yang salah?
Mary terhenyak kaget ketika kaca mobil di depannya perlahan turun lalu muncul sesosok tangan putih besar menyuruhnya pergi.
__ADS_1
"Hush hush!" terdengar suara cowok dari dalam mobil. Mary tidak bisa melihat wajahnya, karena dia buru-buru pergi sambil menggertakkan gigi dan memukuli jidatnya sendiri. Memalukan. Apa orang di dalam mobil tadi melihat dirinya yang sedang bercermin dan berbicara sendiri? Kenapa hidupnya selalu dipenuhi partikel-partikel kesialan sih?
Dan baru beberapa langkah dia pergi, mendung hitam yang sejak tadi bergelayut manja di langit sudah tidak bisa menahan bebannya. Gerimis besar-besar yang jatuh di kepalanya terasa menyakitkan. Dia berlari.
Sial! Mary berhenti karena menyadari tali sepatunya yang lepas hampir saja membuatnya terjerembab. Dia mengikat tali sepatunya sementara si gerimis sudah bermutasi menjadi hujan deras dalam waktu sekejap.
Mary berhasil mencapai emperan minimarket untuknya berlindung meskipun sebenarnya tubuhnya sudah basah kuyup. Bagaikan di dalam film drama yang disorot dengan slowmotion, kedatangannya sambil berlari itu bak bidadari yang turun bersama tetesan hujan, menyihir banyak orang yang sudah lebih dulu berteduh disana. Hanya sekejap, dia sudah menjadi pusat perhatian. Apalagi saat dia menyibakkan rambutnya yang basah,beberapa cowok di belakangnya menganga kagum.
Mary menyadari itu. Dan rasanya aneh. Dia tidak pernah mengalami sensasi seperti ini sebelumnya. Kikuk? Menyenangkan? Inikah rasanya menjadi cantik?
Mary selesai memesan taxi online lewat aplikasi di ponselnya ketika telinganya yang super peka itu mendengar obrolan sekumpulan cowok tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Warnanya merah.."
"Bukannya pink?"
"Wow.."
Mary beringsut tak nyaman, menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Kata orang, orang cantik selalu beruntung. Tapi meskipun wajahnya berubah, ternyata nasibnya masih sama. Dia selalu menemukan kesialan.
"Mau pake jaketku?" seorang cowok tampan dan cute di sebelahnya mengulurkan jaket denim Levi's yang rapi dan super wangi ke hadapannya. Mary ragu-ragu. Dia hanya bisa membatu melihat senyum manis yang memperlihatkan deretan gigi rapi dan putih di depannya, melihat gigi itu benar-benar membuatnya minder untuk sekedar membuka mulut.
Cukup lama cowok itu mengulurkan tangannya karena Mary cuma bengong bagaikan paku yang ditancapkan begitu saja. Sampai akhirnya cowok itu memakaikan jaketnya ke pundak Mary, membuatnya semakin termangu. Dia bisa mencium aroma maskulin di tubuh cowok itu yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Wangi yang enak sekali, membuat Mary memejamkan mata untuk beberapa detik. Apa cowok ini mandi parfum?
Mary berpikir, dia sering melihat adegan seperti ini di drama korea, tapi dia tidak pernah membayangkan hal ini terjadi padanya di kehidupan nyata. Menjadi cantik benar-benar luar biasa ya...
"Lain kali pakailah kaus daleman jika pergi kemanapun.." Cowok itu berbisik lembut di telinga Mary membuat telinganya menghangat sampai ke pipi dan membuat pipi itu berwarna semerah tomat.
__ADS_1
Hah? Apa ini? Apa dia cowok mesum? Apa yang harus ku katakan?
Beruntung saat pikirannya semakin semrawut yang membuat tingkahnya semakin kikuk, sebuah mobil taxi berhenti tak jauh di depannya. Tanpa pikir panjang Mary segera melarikan diri dari situasi ini.
Cowok tampan tadi cukup terkejut melihat reaksi Mary. Dia ingin memanggilnya tapi urung saat menyadari bahkan momen tadi tak cukup lama hanya untuk sekedar menanyakan siapa namanya.
Cowok itu tersenyum. Dia berharap malam ini ada bintang jatuh yang bisa mengabulkan doanya supaya dipertemukan lagi dengan cewek tadi.
***
Hujan sesiang tadi membuat udara malam ini cukup menggigil. Meski begitu, Sean tetap saja menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket untuk membeli sebotol kopi dingin. Dia merapatkan hoodie abu-abunya setelah menutup pintu minimarket kemudian dia berjalan menuju mobilnya.
Matanya yang tajam menangkap seekor kucing putih mungil yang berhenti di tengah jalan besar. Kucing itu sepertinya kesulitan berjalan karena sesuatu yang mirip benang panjang membelit kakinya.
Sean urung membuka pintu mobil, dia mulai melangkahkan kaki menuju jalan raya ketika dilihatnya seorang cewek berambut panjang mengenakan hoodie putih bergambar teddy bear berlari tanpa menoleh kanan kiri dulu untuk mengambil kucing itu.
Suara klakson mobil terdengar memekakkan telinga di kejauhan, disusul cahaya blitz dari mobil yang melaju kencang.
"Bodoh!" makinya saat melihat cewek itu cuma menjerit di tempat. Sean berlari kencang, ditariknya lengan cewek itu dengan super cepat dan dihempaskannya kasar ke pinggir. Hanya selang sekian detik, mobil sedan berwana hitam melintas dengan kencang di samping mereka. Saking kencangnya Sean bisa melihat rambut cewek itu berkibar saat mobil tadi melintas.
"Kamu bodoh ya!" makinya lagi, "5 detik waktumu buat menjerit lebih baik kamu gunakan untuk lari kan?!" Sean kesal melihat mulut cewek itu yang menutup membuka seperti orang bodoh. Dia ingat betul dia cewek yang sama yang telah mengganggu tidurnya di dalam mobil siang tadi. Cewek sok cantik yang ngaca di kaca mobilnya sambil berbicara sendiri dengan raut muka aneh.
"Aku tadi sangat shock.." Mary tergagap apalagi saat merasakan tatapan cowok itu sangat tajam, saking tajamnya Mary merasa tatapan itu seakan bisa menebas lehernya saat itu juga.
"Ck ck ck. Lemot!" Sean merebut kucing mungil dari tangan Mary dan melepaskan benang yang membelit kakinya. Sean menatap Mary lagi yang kali ini sedang memainkan jari jemarinya yang kecil. Bahkan berterimakasih saja tidak, pikir Sean makin jengkel. Dia memutuskan segera berlalu di hadapan Mary sambil berdoa semoga dia tidak bertemu lagi dengan cewek aneh itu.
Sementara setelah cowok itu menghilang baru Mary tersadar. Bodohnya! Mary mengatupkan kedua tangan ke dadanya. Dia berdoa semoga dipertemukan lagi dengan cowok tampan dan tinggi yang sudah menyelamatkan nyawanya tadi. Dia harus berterima kasih.
__ADS_1
Semoga Tuhan mendengar doanya kali ini...
###