
Mary melangkahkan kakinya ke kelas bahasa Inggris dengan enggan. Baru saja dia bangun dari tidurnya di pagi ini bahkan setelah mimpi manisnya semalam, ibunya telah memberikan kabar yang cukup mengejutkan. Ibunya bilang bahwa ayahnya sudah pulang dari dinasnya selama setahun di Singapore sejak seminggu yang lalu.
Apa reaksi ayahnya jika datang berkunjung dan melihat wajahnya yang berubah? Bagaimana reaksi ayahnya jika tahu ibunya menjual blok kios yang diberikan ayahnya hanya untuk operasi plastik ini?
Mary menghela nafas. Dia merasa pikirannya banyak mengalami tekanan akhir-akhir ini, rasanya seperti mau meledak saja. Dia menekan perutnya yang sedikit melilit pagi ini, sepertinya stress yang dia hadapi mulai berdampak ke perutnya sekarang. Beruntung dia sempat mengunyah obat maag sebelum berangkat kuliah tadi, semoga perutnya cepat membaik.
"Mary! Duduk sini.." Mary melihat Milli dan Jeny melambaikan tangan ke arahnya dari deretan bangku nomor dua dari depan. Dia juga bisa melihat reaksi orang-orang yang menatapnya ketika dia barusan melangkah masuk.
"Nggak.." Mary menggeleng, "Aku disini saja," Mary meletakkan tasnya di meja paling belakang dan duduk di sana. Sendiri lebih baik, pikirnya. Dia sudah memikirkannya berulang kali, bukankah dia hanya akan terluka jika membuka diri dengan orang lain?
Mary memasang earphone ke telinganya saat ekor matanya melihat beberapa cewek yang bisik-bisik sambil sesekali menoleh ke arahnya.
Kenapa mereka suka sekali membicarakanku? Kenapa mereka suka sekali menatapku seolah aku ini orang paling aneh?
Ah, terserahlah. Aku sendiri sedang pusing memikirkan apa yang harus ku katakan jika bertemu ayah.
Meskipun ayah dan ibunya telah bercerai sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar, ayahnya cukup sering menengoknya sejauh ini, bahkan juga cukup sering mentransfer uang meskipun ayahnya sudah berkeluarga tak lama setelah menceraikan ibunya. Hal itu membuat kebencian di hati Mary untuk ayahnya sedikit melunak.
Bagaimanapun perbuatan jahat ayahnya yang dia ingat saat masih kecil, laki-laki itu masih peduli dengan kehidupan dia dan ibunya sampai sekarang. Membelikannya laptop meskipun dia tidak pernah memintanya, mengirimi uang tiap akhir semester sekolah, kadang mengirimkan hadiah saat dia ulang tahun, bahkan membelikan ibunya blok kios ketika tahu ibunya memulai berjualan fried chicken. Mungkin ayahnya kasihan melihat ibunya yang sampai sekarang belum menikah lagi, ibunya hanya memikirkan bagaimana membanting tulang untuk sekolahnya selama ini.
Mary merasakan matanya yang menghangat ketika memikirkan segala hal tentang dirinya, ibunya dan ayahnya. Kemudian dia buru-buru menyeka kedua matanya dengan sembunyi-sembunyi ketika seseorang menaruh tas di atas meja dan duduk di sampingnya, membuatnya sedikit terkejut.
Dia menoleh dan melihat Juan yang tersenyum manis padanya. Mary merasa cowok itu bak oase.
Mary mengangkat kedua alisnya saat melihat bibir merah Juan bergerak-gerak. Kenapa bisa cowok memiliki bibir se-pink ini? Dia pasti bukan type yang suka merokok, batinnya kemudian.
Mary kembali menatap bingung ketika bibir yang sedang dipandanginya itu bergerak-gerak lagi seolah mengatakan sesuatu yang tidak bisa dia mengerti.
Bola mata Mary membesar saat tangan Juan terulur untuk mengambil kedua earphone dari telinganya. Apalagi saat punggung tangan yang halus itu sedikit melewati pipinya, Mary merasakan suatu desiran yang aneh menyergapnya tiba-tiba.
Suara sendu Calum Scott yang terdengar di telinganya berhenti mengalun, sekarang berganti suara cowok di hadapannya yang berbicara. Kali ini Mary baru mengerti kalimat yang diucapkan gerakan bibir tadi.
"Aku boleh duduk disini kan?" ulang Juan untuk ketiga kalinya. Dia kembali tersenyum saat kepala Mary mengangguk pelan. Entah kenapa setiap melihat Mary, dia selalu merasa tubuh cewek itu memang ada di tempat tapi tidak dengan pikirannya. Membuatnya semakin ingin tahu saja, membuatnya ingin mengenal... Lebih...
Juan bisa melihat bekas air mata di sudut mata Mary, tapi dia tidak bertanya lebih jauh, memilih pura-pura tidak tahu. Dia menangis lagi, katanya dalam hati.
Juan hanya tersenyum sambil memasang earphone Mary ke telinganya sendiri. Juan ingin mendengar lagu apa yang didengar Mary sampai cewek itu asyik dengan lamunannya sendiri tadi.
I'd climb every mountain
And swim every ocean
__ADS_1
Just to be with you
And fix what i've broken
Oh.. Cause i need you to see
That you are the reason
Tanpa sadar Juan ikut bergumam menirukan lagu yang mengalun di telinganya. Dia yakin suaranya tidak begitu jelek kok untuk didengar orang lain.
Mary merebut kembali earphone miliknya dan memasangnya kembali ke telinganya. Kenapa Juan selalu mendekatinya? Apa mau cowok ini?
Juan menatap tak berkedip Mary yang menggeser duduknya menjauh, cewek itu memalingkan wajah menatap jauh ke balik jendela kaca yang memperlihatkan berbagai aktifitas di luar ruangan itu. Juan ikut mengikuti garis pandang Mary.
Aku ingin tahu dunia yang sedang kamu lihat..
***
"Nih.."
Sebuah botol cola dingin terulur di depan Mary saat dia sedang mengetik tugas Bahasa Inggris di laptopnya. Mary mendongak dan melihat Milly berdiri di depannya dengan canggung. Mary menoleh ke sekelilingnya, suasana perpustakaan cukup sepi.
Kenapa dia mendekatiku? Tiba-tiba Mary teringat lagi saat Milly dan Jeny ikut berada dalam sekerumunan cewek yang sepertinya sedang bergosip di dalam kelas. Dia pasti juga membicarakanku kan waktu itu?
"Oh.." Milli duduk di sebelah Mary, "Tapi bukannya waktu itu kamu meminum soda yang ku berikan?" Milli ingat hari pertama ospek dulu dia juga memberikan sebotol sprite dingin pada Mary yang langsung diminumnya sambil berterima kasih.
"Ah, itu.." Mary tidak tahu harus menjelaskan apa. Waktu itu kali pertama di hidupnya seorang teman memberikan sesuatu padanya, tentu saja dia tidak bisa menolak pemberian itu. Bukan hanya karena dia menghargai Milli, tapi juga karena lebih tepatnya dia tidak tahu cara menolak. Bukannya dia ingin disukai?
Milli masih menunggu kelanjutan kalimat itu, tapi ternyata Mary memang tidak melanjutkan kalimatnya. Milli seakan tidak asing dengan sikap seperti ini. Canggung, kikuk, rendah diri...apalagi? Bahkan dalam satu momen kadang dia seperti melihat cermin setiap melihat Mary. Aku pernah di posisi itu...
"Kenapa kamu ada disini?" Mary merasa tidak enak merasakan kebisuan di antara mereka.
"Ah, aku mau ngerjain tugas juga.." Milli mengeluarkan laptop silvernya. Sebenarnya dia kesini memang ingin mencari Mary, dia merasa tidak nyaman saat Mary menolak bangku yang sudah disiapkannya pagi ini. Dia mencari Mary kemana-mana, syukurlah dia bertanya pada Juan sampai akhirnya cowok itu menyarankannya untuk mencari Mary ke perpustakaan.
"Tapi aku sudah selesai, kamu nggak apa aku tinggal sendiri?" Mary menutup laptop dan merapikan buku-bukunya.
"Mer.."
"Ya?"
Milli urung bertanya, "Ah, tidak. Aku nggak apa disini sendiri kok.."
__ADS_1
"Aku duluan ya.."
Milli hanya menatap punggung Mary yang berjalan menjauh. Dia bisa merasakan sikap Mary yang waspada dan menjaga jarak itu.
"Genduut. Genduut. Babi genduut jeleek.."
Milli terngiang ejekan yang dia terima dari teman-teman sekelasnya sewaktu kecil. Dulu dia juga sering dibully karena bentuk tubuhnya yang berbeda dari teman sebayanya. Jika seperti itu, maka tidak jarang dia akan memukul siapa pun yang mengejeknya, membuatnya sedikit ditakuti di kalangan anak perempuan. Tapi tetap saja kan, dibully bukan hal yang menyenangkan. Dia pernah pulang sekolah sambil menangis sepanjang jalan karena segerombol anak laki-laki yang terus mengikutinya sambil mengejek dan menertawakannya.
"Aku tidak suka piket bareng Milli.." Milli tidak sengaja mendengar obrolan Dea bersama anak-anak perempuan lain saat mereka sedang berganti pakaian sehabis olahraga. Milli tidak jadi membuka pintu kelas yang tertutup waktu itu, dia mematung dan mendengarkan obrolan itu dari luar.
"Dia tuh lamban sekali. Nggak mau gerak.." Milli bisa mendengar kelanjutan kalimat Dea, salah satu teman yang dia anggap dekat. Bukankah mereka teman sebangku yang sering berbagi makanan sewaktu istirahat?
"Orang badannya aja gendut gitu.." Seorang anak perempuan lain menggoyang-goyangkan pinggulnya disambut tawa riuh yang lainnya. Milli juga mendengar suara tawa Dea di antara keriuhan itu.
"Sstt, jangan keras-keras. Nanti dia dengar. Dimana dia tadi? Kalian akan dihajar kayak Robert lho kalau dia tahu kalian menertawakannya.."
"Aku takut.."
"Aku melihat hidung Robert berdarah.." Mereka saling bersahut-sahutan, berdengung di telinga Milli yang masih tegak mematung di depan pintu.
"Dea, karena dekat dengan Milli kamu jarang digoda Robert cs ya. Enak ya punya bodyguard.."
Tangan Milli terkepal kuat saat mendengar suara tawa Dea sekali lagi. Dia bisa merasakan hatinya yang nyeri, ingin menangis.
Milli bisa merasakan perubahan suasana dari teman-temannya ketika dirinya menguatkan diri untuk membuka pintu kelas dan masuk. Semua anak-anak perempuan itu menatapnya, waspada. Milli melihat Dea tersenyum padanya. Itu untuk kali pertama di hidup Milli dia mengerti arti dari kata munafik.
"Aku nggak makan permen.." Milli menolak Dea yang mengulurkan lollipop lucu padanya pada waktu jam istirahat.
"Lho, bukannya kamu kemaren makan ini kan?"
Milli tidak menjawab, dia meninggalkan Dea sendiri.
Sejak itu, dia menjadi pribadi yang insecure. Dia takut dengan orang lain, dia hati-hati menjaga agar hatinya tidak terluka oleh siapa pun.
Sampai akhirnya sifat itu perlahan memudar seiring bertambahnya usianya, apalagi memasuki masa puber badannya berubah langsing. Bahkan di SMA dia disukai teman-teman sekelasnya karena wajahnya yang cantik dan dia juga pribadi yang menyenangkan karena banyak bicara.
Milli sudah tidak mengingat kepribadiannya yang kelam itu sampai dia melihat sikap Mary. Tiba-tiba hal itu membuatnya sedih.
Dia tahu rasanya. Dia tahu seperti apa. Dia mengerti.
###
__ADS_1