
"Baca baik-baik bagian yang akan kalian presentasikan nanti. Jangan cuma dihafal, tapi kalian harus bener-bener mengerti isinya. Aku nggak mau tahu, pokoknya kalian harus bisa menjawab jika ditanya dosen!" Sean berceramah panjang lebar. Saat dilihatnya semua anggota kelompoknya mengangguk, dia mulai membereskan laptop dan kertas-kertas yang berserakan di meja. Dia melirik jam Alexander Christie berwarna hitam di tangan kirinya, sudah cukup sore ternyata.
"Yah tugas kelompok selesai, mungkin aku bakal merindukan saat-saat kita seperti ini?" Jeny mengeluh.
Mary baru menyadari apa yang diucapkan Jeny benar. Dia juga menyukai saat-saat seperti ini, sangat menyukai.
Ini pertama kalinya dia bercengkerama dan berdiskusi dengan orang lain. Ya, meskipun Sean cukup menyebalkan karena sering menolak gagasannya...tapi dia menyukai interaksi dengan orang lain seperti ini.
Mengenal orang lain lebih dekat, mengenal watak-watak yang berbeda...
Berinteraksi...
Bergaul...
Berteman...
"Gimana kalau kita ambil foto dulu?" Jeny mengusulkan.
"Bagus. Kita tempelkan fotonya di paper tugas kita?"
"Nggak!" Sean menyahut, sudah siap berdiri dengan mencangklong tas di bahunya.
"Kenapa? Itu justru menunjukkan kita kelompok paling solid!" Milli membuka fitur kamera di ponselnya yang berwarna putih dengan case yang lucu.
"Ayo bersiap! Aku yang di depan!" Milli bersiap dengan tangan memegang ponsel yang terulur jauh ke atas kepalanya.
"1 2.. Kak Sean duduk! Wajahmu nggak kelihatan!"
Mary menarik tangan Sean dan memaksa cowok itu untuk duduk dan menghadap kamera ponsel Milli.
"1 2 3..."
Ckrek.
"Satu kali lagi!"
Ckrek!
Sean menggelengkan kepalanya. Dia selalu merasa aneh melihat orang-orang yang tersenyum setiap difoto. Aneh sekali.
"Jangan harap aku mau menempelkan foto itu di paper kita!" Sean bergumam.
"Aku mau upload di ig-ku.." Milli menghiraukan gumaman Sean barusan, tangannya sibuk menuliskan caption untuk foto yang akan dia posting.
"Ayok pulang!" Laura mengajak teman-temannya bubar.
Mereka terkejut ketika membuka pintu kafe belajar, dan di luar ternyata hujan turun cukup deras. Sejak pagi tadi, langit memang cukup gelap.
"Gimana ini?" Mary bertanya.
"Terpaksa kita tunggu sampai hujan cukup reda!" Jeny menjawab sambil berjongkok di emperan. Mary mengikuti.
Tapi ternyata hujan tidak kunjung reda bahkan semakin deras.
"Apa kita bakal menunggu seperti ini terus?!" Milli merasa bosan berjongkok. Dia melirik Sean yang duduk menyilangkan kaki di atas satu-satunya kursi yang ada di emperan itu.
Enak betul cowok ini?!
"Gimana kalau kita menunggu sambil makan disana?" Laura menunjuk deretan kafe, game center dan toko yang berada di seberang jalan.
Jeny setuju.
"Mau karaoke?" Mary tiba-tiba bersuara setelah melihat tulisan tempat karaoke yang berada di depan salah satu deretan blok di seberang jalan.
"Aku belum pernah karaoke bersama orang lain. Rasanya sekarang aku ingin melakukannya dengan kalian.."
__ADS_1
Dia ingin mencobanya...
"Oke, kesana!" Milli menyetujui, "Waktu itu kita nggak jadi karaoke karena tempatnya penuh.."
"Iya, betul."
"Pasti menyenangkan.."
Mereka bersiap menyeberang jalan. Mary menoleh ke Sean yang masih duduk bergeming.
"Kak Sean mau pulang?" tanyanya.
"Aku nggak bawa mobil!" Sean teringat mobilnya yang dipinjam Celine. "Aku nunggu jemputan.." lanjutnya sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Oh.." Mary mendekat, "Kalau gitu, selagi nunggu mending ikut kita karaoke aja!"
Sean terdiam cukup lama membuat Mary gemas hingga akhirnya menarik tangan cowok itu mengajaknya berlari menyeberang jalan di tengah hujan deras.
Sean mengusap rambutnya yang basah ketika ponselnya berbunyi menandakan chat masuk.
Dari Celine.
Jemput sekarang?
Udah selesai kerja kelompoknya?
Sean berpikir sebentar. Cukup lama.
Nanti aku hubungi kalau sudah selesai
Dia menekan tombol send.
***
Do you ever feel like breakingdown
Like somehow just don't belong
And no one understand you
Do you ever want to run away
Do you lock yourself in your room
With the radio on turned up so loud
That no one hears you screaming
No you don't know what it's like
When nothing feels alright
You don't know what it's like
To be like me...
Milli dan Jeny menutup telinganya diam diam sambil meringis seakan suara yang didengarnya benar-benar menyakitkan. Laura bahkan sejak tadi sudah terang-terangan menyumbat daun telinganya menggunakan tissu yang dia remas-remas membentuk bola kecil.
Sean terpekur diam di atas sofa sambil memegang dahi, detik ini dia menyesal setengah mati mengikuti mereka semua ke tempat karaoke. Dia sama sekali nggak ngerti, cewek itu ngapain sih bernyanyi seperti orang gila begitu?!
Nadanya kemana, suaranya kemana...
Hanya Juan yang tetap melihat Mary bernyanyi, sambil sesekali menahan tawa dan meringis juga.
"Dia lagi nyanyi atau ngamuk sih?" Laura jengkel.
__ADS_1
Kali ini Juan setuju. Tapi tetap saja rasanya lucu melihat Mary bernyanyi seperti itu...
No you don't know what it's like
Welcome to my life...
Sean tidak tahan rasanya. Dia bangkit dan merebut mikrofon dari tangan Mary.
"Mendengar kamu nyanyi sedetik lagi, aku yakin bakal pingsan disini!" Sean mengomel, tapi kali ini Milli tidak akan menghentikannya karena telinganya sendiri merasa tersiksa mendengar suara Mary.
"Lo sadar nggak suara lo tuh jelek. Gak cuma jelek. Ancur!"
Entah kenapa, Mary justru tertawa mendengar ejekan barusan.
"Akhirnya aku ngerti, kenapa kamu dulu menolak dengan keras berduet sama kak Ragil.." Jeny bergumam.
"Mer, jangan pernah bercita-cita jadi penyanyi oke?" Milli menghela nafas panjang.
"Aku yakin nggak bakal ada satu pun yang ngevote dia jika ikut X Factor!" Laura menyambung.
"Kalian jahat sekali sih!" Mary merengut, meski begitu dia tidak terluka mendengar ejekan teman-temannya. Justru ingin tertawa.
"Memangnya suara kalian sendiri bagus apa?" Mary menunjuk Milli dan mengatakan suara cewek itu juga tidak kalah jeleknya, nadanya fals dimana-mana, benar-benar tidak enak didengar. Begitupun Jeny, Mary berkata dia tadi pura-pura menikmati nyanyian cewek itu padahal sebetulnya perutnya mulas setiap mendengar dia mengambil nada tinggi.
"Kamu lebih parah!" Mary menunjuk Laura, "Jika ikut pencarian bakat, kamu bakal diusir bahkan sebelum lagumu selesai!"
Laura tertawa sinis. Anak ini berusaha melucu ya?!
"Kamu juga!" Mary menunjuk Sean yang masih berdiri di hadapannya, "Seenaknya bilang suaraku ancur! Kamu sendiri gimana? Dari tadi disuruh nyanyi nggak mau, pasti karena suaramu lebih buruk kan?"
"Ha ha.." Sean tertawa garing, "Ngapain aku ikutan nyanyi kayak orang bodoh begini?"
"Terus ngapain ikut kesini?" Milli tidak terima mendengar ejekan barusan.
Dia yang menyeretku.." Sean menunjuk Mary.
"Bikin kesal, dia ngatain kita bodoh!" Milli ngedumel tanpa henti.
"Pokoknya karena udah disini, kamu juga harus nyanyi!" Mary menarik Sean yang berusaha duduk kembali. Cowok itu menatap tajam, tapi Mary tidak peduli.
Dia ingin melihat Sean bernyanyi...
"Kenapa memaksanya? Dia kan nggak mau?" Juan bergumam ketika Mary sudah kembali duduk di dekatnya. Sedikit kesal, entah kenapa.
Mary hanya tersenyum.
Ku tanya malam
Dapatkah kau lihatnya perbedaan
Yang tak terungkapkan
Tapi mengapa kau tak berubah
Ada apa denganmu?
BHA HA HA HA HA!!!
"Aku baru kali ini denger orang nyanyi seperti itu.." Milli memegang perutnya, saking kencangnya dia tertawa.
"Denger kak, jangan pernah nyanyi di depan cewek, sueerr!" Jeny ikut-ikutan berseloroh.
Mary menutup mulutnya, menahan gelak tawa yang rasanya ingin menyembur terus. Cowok itu benar-benar buta nada! Mana ada orang yang bernyanyi ngeloyor begitu saja, tanpa irama, tanpa ketukan, tanpa penghayatan...
"Aku beneran jadi orang bodoh disini!" Sean bergumam kesal, tapi dia bisa merasakan pipinya menghangat.
__ADS_1
###