
Mary mencuci tangannya di toilet, suara gemericik air seolah memecah kesunyian disana. Dia mendongak dan melonjak kaget melihat bayangan Laura dalam cermin di depan tempat dia berdiri. Mary jadi teringat adegan film horor yang ia tonton tadi malam, persis seperti ini saat si hantu perempuan tiba-tiba menampakkan dirinya di cermin membuat si tokoh utama berteriak. Dia memang mirip hantu, pikir Mary.
Laura mendekat dan ikut mencuci tangan di samping Mary. Mary merasa jika saja dia bisa menghilang, dia akan menggunakan kekuatan supernya itu di saat-saat seperti ini.
"Mary.."
Mary sudah berjalan pergi beberapa langkah saat dia mendengar suara Laura yang tajam memanggilnya.
Deg.
"Ada apa?" Ada apa?
"Nggak ada apa-apa.." Laura terlihat ragu-ragu. "Hanya saja.."
Mary merasa seperti seribu abad menunggu Laura menyelesaikan kalimatnya yang menggantung itu.
"Nama panjangmu seperti nama teman SMA ku.."
Teman?
"Ahh.." Mary tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia juga sekolah di SMA 2 seperti kamu.." Mary bisa merasakan kalimat itu seperti tuduhan.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.."
"Benarkah?" Laura mendekat dan menyambar tangan Mary. Sejurus kemudian dia melepaskan tangan itu, menjerit kecil seakan melihat hantu.
"Mary yang ku kenal juga mempunyai tahi lalat di telapak tangannya. Apa mungkin ada kebetulan yang seperti ini?"
Mary gemetar memegangi tangannya, mendekapnya ke dada. Dan melihat sikap Mary, Laura seakan telah menemukan jawaban yang ia cari.
"Wooaaah, daebak!" Laura memandang Mary dari atas ke bawah seakan mengulitinya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya masih tidak percaya.
"Kemana hidung jambumu? Kulitmu juga, berapa ratus kali suntik? Kamu vermak dimana sih, boleh dong ngasih tahu, aku juga kepingin.."
Mary merasa matanya terasa panas, kakinya seperti tidak lagi berpijak. Dia jengah melihat senyum devil di bibir Laura.
"Tapi.." Laura mendekati Mary dan menyentuh ujung hidung Mary sambil tersenyum sinis. Mary menepis tangan cewek itu dengan kasar. "Kenapa kamu bersikap seolah tidak mengenaliku? Apa kamu ingin merahasiakan ini semua?"
__ADS_1
Air matanya mulai merebak, tinggal menunggu waktu untuk segera terjun bebas dari kelopaknya. Dan sebelum air matanya jatuh di depan cewek jahat itu, Mary memutuskan untuk berbalik pergi.
Kapan hidupku menyenangkan?
***
"Ke kantin yuk!" Laura menghampiri Milli dan Jeny seusai kelas mereka di hari pertama kuliah ini, "Aku yang traktir.." kata Laura lagi membuat Milli dan Jeny bersorak girang. Dia melirik Mary yang sedang sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tas.
"Mer, kamu ikut juga ya?"
Apa itu? Mary ingin sekali menolak, tapi suara itu terdengar mengintimidasi kan? Mary mengangguk ragu-ragu.
"Kalian mau pesen apa?" tanya Laura saat mereka sudah berada di kantin.
"Gado-gado"
"Sama"
"Minumnya?"
"Jus jeruk"
"Oh... jus strawberri," Mary menatap Laura, entah kenapa perasaannya tidak enak sejak tadi.
Laura memesankan makanan ke penjaga kantin lalu menyuruh Milli dan Jeny mencari tempat duduk.
"Oh, Mer," katanya tiba-tiba, "Kamu yang bayar ya? Aku lupa bawa dompet nih!"
Mary merasa de javu, dia tahu pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Dia menatap Laura yang tersenyum tipis. Dia nggak salah lihat kan, cewek itu bahkan bisa-bisanya tersenyum sinis begitu.
Mary mengeluarkan dompetnya setelah Laura berlalu. Ibunya bahkan tidak pernah memberi uang saku yang cukup banyak. Mary menghela nafas panjang, kenapa terjadi lagi? Dan saat dia melengos, dia melihat Sean berdiri di sampingnya juga hendak membayar di kasir.
Sejak kapan dia disini? Apa dia melihat semuanya?
***
Mary senang mengajar Misha, gadis mungil kelas 2 SD yang cantik dan periang itu. Selama mengajar, bahkan Mary tak bisa lepas mengagumi visual bocah itu yang benar-benar memesona. Matanya yang bulat, hidungnya yang mancung mungil, alisnya yang tebal alami, bulu mata yang lentik... membuatnya iri saja. Kenapa ada yang dianugerahi kecantikan luar biasa sejak lahir, sebaliknya kenapa ada yang dianugerahi wajah buruk rupa?
"Sudah selesai ya belajarnya?" suara seorang wanita beraksen berat tiba-tiba bergema di rumah yang super besar ini. Sampai sekarang Mary merasa dirinya bermimpi bisa mengajar privat anak dari seorang konglomerat yang terkenal punya banyak perusahaan retail itu, Djaya Grup.
__ADS_1
"Sudah Tante.." Mary mengangguk hormat sambil membantu merapikan buku-buku Misha.
"Kakak.." suara Misha membuat Mary menoleh dan cukup terkejut melihat sesosok tampan dan tinggi yang beberapa hari ini mengusik pikirannya itu menghampiri Misha yang berlari menyongsong cowok itu.
"Hai anak manis. Sudah selesai belajar ya?" Misha mengangguk dan menunjuk Mary. Mary penasaran apa yang dibisikkan Misha ke telinga kakaknya itu. Apa anak ini tidak menyukaiku?
"Mary, kenalin ini Sean, kakaknya Misha.." Tante Alexa Djaya memperkenalkan cowok itu.
Oh, namanya Sean...
"Oh ya, dia satu kampus denganmu lho. Kalau kamu ada kesulitan di kampus cari saja dia ya, ini sudah tahun ketiganya," tante Alexa melanjutkan.
Mary mengangguk. Dia benar-benar bersyukur Ragil merekomendasikannya pada keluarga yang baik ini. Dia berpikir, pantas Misha cantik. Anak itu dilahirkan dari ibu yang juga super cantik dan anggun seperti tante Alexa. Kadang dia berpikir hidupnya tidak adil, ibu dan ayahnya tidak bisa dibilang jelek, tapi entah kenapa dirinya benar-benar jelek sejak dilahirkan. Entah dia menuruni siapa?
"Sean, kamu antar Mary pulang ya. Ini hari pertamanya dan lagipula sekarang sudah cukup malam untuk anak gadis pulang sendiri kan?"
"Tidak usah, Tante. Mary berani kok pulang sendiri.." Mary merasa tidak enak, apalagi melihat wajah Sean yang datar dan terkesan dingin begitu. Pasti cowok itu berpikir kalau dirinya merepotkan kan?
"Nggak papa. Sean mau kok, iya kan?"
Butuh beberapa detik untuk Sean menganggukkan kepalanya. Mary membuntutinya dengan canggung.
"Waktu itu.. makasih ya.." kata Mary berusaha memecahkan kesunyian di dalam mobil yang mulai merayap cukup kencang meninggalkan rumah mewah di belakangnya. Mary berpikir suasana ini sudah seperti pemakaman saja. Sunyi, aneh, dan canggung.
"Buat apa?" cowok itu balik bertanya tanpa menoleh.
"Malam itu kamu sudah nyelametin aku.." Sean bisa melihat jari jemari Mary yang bergerak-gerak.
"Ooh, akhirnya kamu inget buat bilang makasih!"
Mary menoleh. Kenapa sih nih cowok menyebalkan sekali?
Sunyi lagi. Mary tidak tahu harus berkata apa. Lagipula dia merasa Sean juga sedang malas berbicara. Mary membaca chat yang masuk ke Hp-nya, dari Ragil yang menanyakan apa hari pertama mengajarnya berjalan lancar?
Cowok ini benar-benar perhatian. Mary tersenyum.
"Kak Ragil itu temenmu ya? Aku pernah lihat kalian bersama beberapa kali.." tanya Mary antara ragu dan takut.
Melihat Sean yang cuma mengangguk, Mary tidak ingin meneruskan lagi. Mary menghela nafas dan membuang pandangnya keluar jendela mobil. Suasana malam dengan lampu-lampu yang berkerlip indah membuatnya terhanyut dalam lamunannya sendiri. Hari ini sudah berat kan, dia tidak ingin sikap dingin Sean ikut-ikutan menambah beban pikirannya.
__ADS_1
###