Lovable You

Lovable You
13. Teman Kuliahku Datang Berkunjung


__ADS_3

Juan menghela nafas sambil menutup buku paket teori ekonomi mikro yang baru saja dijabarkan isinya oleh prof. Kelly. Dia memperhatikan anak-anak yang sudah bersiap mengambil kelas berikutnya. Bahkan sampai kelas kedua usai, Mary belum juga datang.


Kenapa dia tidak masuk kuliah hari ini?


Apa dia masih bersedih? Apa dia masih memikirkan semua masalah yang dia hadapi? Apa sekarang dia sedang menangis lagi sendirian?


Juan sangat ingin tahu.


Sembari membereskan buku-bukunya, Juan kembali teringat hari kemaren. Dia berdiri di depan sebuah rumah mungil di daerah komplek perumahan sambil memandangi secarik kertas berisi sebuah alamat yang diberikan staf administrasi kemahasiswaan di kampusnya tadi.


"*I*ni rumah Mary?" Juan bertanya, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak salah alamat.


Dia berjalan pelan ke pintu masuk rumah itu, dan semakin mendekat dia bisa mendengar suara ribut-ribut di dalam rumah.


Ada apa?


Dia bisa mendengar suara keras seorang laki-laki disusul suara keras lainnya dari seorang perempuan. Juan merasa tidak asing dengan suara-suara seperti ini, dulu dia juga kerap beberapa kali mendengar kedua orang tuanya bertengkar.


Juan urung melanjutkan langkahnya meski hanya tinggal berjarak satu meter dari pintu coklat tua di depannya. Tidak mungkin dia bertamu di saat seperti ini kan?


Bagaimana ini, gumam Juan sambil menimbang-nimbang dompet pink di tangannya. Sebenarnya dia sudah mengirim pesan ke Mary beberapa kali sejak tadi, tapi jangankan dibalas, cewek itu bahkan belum membuka pesannya sama sekali.


Apa dia kembalikan saja besok? Tapi jika dia butuh dompet ini sekarang bagaimana?


Juan ragu-ragu ingin mengetuk pintu. Semakin urung karena mendengar suara benda yang dilempar ke dinding. Dia meyakinkan dirinya sendiri ini bukan waktu yang tepat.


"Ayah tahu bagaimana orang jelek sepertiku diperlakukan di dunia ini?"


Langkah kaki Juan terhenti begitu mendengar suara cewek yang lamat-lamat dikenalnya. Dia tahu ini tidak benar, tapi kenapa dia ingin mendengar percakapan itu lebih jauh?


"*Karena hidungku besar, orang-orang menjulukiku ***. Karena kulitku dekil, orang-orang mengataiku tidak pernah mandi. Karena orang tuaku bercerai, orang-orang mengataiku wajar tidak terurus karena ibuku sibuk mencari uang sementara ayahku sibuk kawin lagi."


Juan tertegun mendengarnya. Begitu sedih, begitu bergetar. Dia termangu cukup lama sampai dia tidak sadar bahwa dia sudah mendengarkan apa saja yang sedang dibicarakan si pemilik rumah.


Juan terkejut dan buru-buru berlari di balik dinding di samping rumah begitu mendengar suara langkah panjang dari dalam rumah menuju pintu. Kenapa dia sembunyi, Juan tak habis pikir. Juan bisa mendengar ibu Mary yang bertanya kemana tujuan cewek itu keluar.


Dari balik persembunyiannya, Juan bisa melihat Mary yang berjalan cepat meninggalkan rumah dengan berurai air mata.


Dia mau kemana?


Juan mengikuti Mary dari belakang, menjaga jarak cukup jauh. Entah kenapa dia melakukannya, dia sendiri tidak tahu.


Langkah kaki Mary semakin lambat dan semakin jauh meninggalkan rumah. Juan bisa melihat cewek itu sesekali mengusap matanya, kadang juga menengadah ke langit seakan berharap sesuatu dari atas sana.


Juan juga melihat sewaktu Mary berhenti di depan seorang gelandangan tua, cewek itu berusaha mencari sesuatu dari dalam tas dan nampaknya tidak menemukan apa yang dia cari. Juan memandangi dompet pink yang masih dia genggam.


Juan ikut berhenti di depan gelandangan tua itu ketika dilihatnya Mary mulai berjalan pergi. Dikeluarkan dompet kulit cokelat dari celananya dan diberikannya selembar uang kertas ke tangan renta yang terus menengadah itu.


Dia ingin kemana? Juan bertanya-tanya saat melihat Mary berhenti di dekat lampu penyeberangan. Dia ingin menyeberang? Tapi lampu masih merah...


Hatinya merasa tidak enak. Dia buru-buru lari dan secepat mungkin menyambar bahu Mary. Cewek itu terlihat limbung dan linglung. Melihatnya, Juan berpikir cewek itu serapuh keramik porselen yang tidak sengaja dipecahkan adiknya tadi pagi.


Juan merasa dia ingin mendekap cewek itu dengan erat.


"Juan!" sebuah suara membuat Juan tersadar dari lamunannya. Dia melihat Milli dan Jeny berdiri di dekatnya.


"Kamu melamun!" Jeny menegur karena cowok itu tidak bereaksi bahkan setelah tiga kali mereka menyapa.


"Ada apa?"


"Mmm..." Milli melirik Jeny, "Begini, apa kamu tahu rumah Mary? Maksudku begini, kami lihat kalian cukup dekat, jadi siapa tahu kamu..."


"Kenapa kalian bertanya rumahnya?"


"Kita ingin main saja.."

__ADS_1


Juan berpikir sejenak, cukup lama. Sampai akhirnya dia mengangguk.


***


Mary mendekap ibunya dari belakang saat perempuan berusia kepala empat itu sedang memasak di dapur menyiapkan pesanan online dari para pelanggan. Karena mereka tidak ada lagi tempat untuk berjualan, ibu Mary sekarang hanya berjualan secara online. Meskipun begitu, pesanan yang mereka terima tetap ramai karena masakan ibu Mary terkenal lezat.


"Kamu kenapa?" ibu menoleh melihat Mary yang bersikap manja seperti ini.


"Cuma gangguin ibu masak.." Mary mencomot kentang goreng yang baru selesai diangkat dari penggorengan.


Ibu memukul tangan Mary membuat cewek itu tertawa.


"Ah, panas!" seru Mary begitu menggigit kentang gorengnya. Sekarang ganti ibu yang tertawa.


"Kamu tidak kuliah dan cuma ngendon di depan tv seharian. Mending bantuin ibu masak kan?"


"Tidak mau!" ujar Mary sambil meniup kentang gorengnya. "Hari ini aku mau freeeeeeee.."


Ibu memukul kepala Mary menggunakan peniris gorengan yang sedang dia pegang. Mary protes dan mengaduh.


"Ibu!" Mary memegangi kepalanya, "Ini satu-satunya harta berhargaku yang akan menghasilkan banyak uang untuk ibu nanti!"


Ibu terkekeh.


"Cepat sana buka pintu! Lihat siapa yang datang!" perintah ibu begitu mendengar bel pintu masuk berbunyi cukup nyaring.


Mary berlari menuju pintu depan, begitu membukanya dia terkejut melihat Milli dan Jeny berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan.


"Kalian!" ujar Mary sambil membuka pintunya lebih lebar. "Ada apa? Kenapa kesini?"


Milli dan Jeny saling berpandangan, kemudian tersenyum. "Kamu nggak masuk kuliah sih. Kami khawatir kamu ada apa?"


Mary masih tidak mengerti, meski begitu dia mempersilahkan kedua temannya masuk dan duduk di ruang depan.


"Kalian tahu rumahku dari mana?"


Milli teringat ketika Juan memberikan alamat rumah Mary di kampus tadi.


"Oh ya.." Cowok itu seperti teringat sesuatu, "Jangan bilang kalian tahu rumahnya dari aku ya?"


Milli merasa sangat penasaran kenapa Juan meminta seperti itu, tapi dia memilih tidak bertanya lebih lanjut.


"Satu lagi!" Lagi-lagi Juan menghentikan langkah Milli dan Jeny yang sudah berbalik, "Kalian..jangan mendekatinya jika tidak tulus ya?"


Milli tidak mengerti apa maksudnya, tapi dia yakin cowok itu bermaksud baik. Kedua matanya bicara seperti itu!


"Siapa Mer?" Ibu melongok dari balik tirai yang menghubungkan ruang utama dan tengah.


"Mereka teman kuliahku.."


Ibu cukup terkejut sekaligus merasa senang. Mungkin ini kali pertama seorang teman mengunjungi rumah Mary sejauh yang dia ingat. Jadi Mary sudah punya teman? Ibu merasa keputusannya menyetujui putrinya untuk operasi plastik bukanlah hal yang terlalu buruk. Mungkin Mary mendapat kepercayaan diri untuk bersosialisasi setelah wajahnya berubah kan?


"Kenapa kamu tidak membuatkan minum?" seru ibu, "Kalian, ayo masuk ke dalam. Kalian akan lebih nyaman ngobrol di ruang tengah dibanding disini. Ayo!"


Mereka mengikuti ibu dengan canggung. Mereka duduk di sofa tengah di dekat sebuah televisi yang menyala. Ibu sibuk mengeluarkan isi kulkas dan meletakkan semuanya di depan teman-teman putrinya.


"Tidak usah repot-repot tante.." Milli dan Jeny merasa tidak enak melihat banyak piring berisi kue-kue yang disuguhkan di meja.


"Tidak repot kok," ibu tersenyum lebar, "Makanlah kue-kue ini. Ini buatan Mary. Enak!"


Mary mendelik saat ibunya juga menyuguhkan sepiring penuh kentang goreng. Dia tidak boleh memakannya tadi..


"Kamu bisa bikin kue ya?" Jeny menyomot sepotong brownis cokelat pekat yang nampak menggiurkan.


Mary mengangguk. "Aku belajar dari ibuku. Ibuku bisa memasak apa saja. Kami jualan makanan online.."

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pernah bilang?" Milli menegur, "Aku akan memesan setiap hari jika tahu!"


Mary tersenyum. "Kalian kenapa kesini?" tanyanya sekali lagi.


"Kenapa bertanya seperti itu? Kita kan ingin melihatmu. Kamu tidak suka ya kami kesini?"


Suka?


"Aku cuma ingin tahu saja.." Mary bergumam pelan. Rasanya canggung.


"Kamu selalu membalas sms kami dengan singkat. Kamu juga menghindari kami di kampus.." Jeny angkat bicara sambil melirik Milly yang asyik menggigit kentang goreng, "Kami ingin tahu kamu kenapa?"


Aku kenapa?


Mary tersenyum kecut, namun cuma menggeleng.


"Aku cuma lagi nggak enak badan sekarang.."


"Oh ya, kemaren aku posting foto kita bertiga di ig sewaktu kita ospek dulu. Inget kan? Banyak yang ngasih like lho!" Jeny menyenggol pundak Mary yang berada di sampingnya, "Tapi kamu belum ngasih like kan?"


"Ah, aku jarang buka ig!" Mary membuka ponselnya. Dia bisa melihat post foto yang dimaksud Jeny di galeri akun cewek itu. Dia masih ingat foto selfie itu mereka ambil saat hari pertama ospek di depan ruang auditorium. Nampak Jeny menjulurkan lidah sedang dirinya dan Milli membentuk jari V.


Tanpa sadar Mary tersenyum mengingat momen menyenangkan waktu itu.


"Sudah ku like," kata Mary sambil melihat post foto Jeny yang lain. Dia menscroll ke bawah dan menemukan sebuah foto dimana Laura ikut ada di dalamnya.


"Oh, itu waktu kamu menolak ikut nge-mall bareng kami. Inget?" Jeny menyenggol Milli, "Aku lupa belum menghapusnya.."


"Kenapa harus dihapus?" Mary tidak mengerti. Dia meletakkan ponselnya di meja.


"Mmm, itu.."


"Kami sudah tahu kok!" Milly menyambung, "Dia yang sering membully kamu di sekolahmu dulu kan?"


Mary tidak tahu harus menjawab apa.


"Kemaren aku ngelabraknya karena dia bergosip lagi sama cewek-cewek centil di kelas!" Milli bercerita, "Kalau dia ngebully kamu lagi sekarang, bilang aku! Aku akan menghajar cewek rambut jagung itu!"


Jeny tertawa melihat Milli mengepalkan tinju. "Jujur deh! Kamu dulu gangster di sekolah kan Mill?"


"Aku pernah bikin gigi temenku cowok patah sewaktu kecil dulu!"


"Kamu bikin aku takut." Jeny begidik membayangkan, "Tapi kamu seberani itu dengan tubuh kecil begini?"


"Jangan salah. Aku sebesar ini pas SD!" Milli membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, "Makanya dulu aku sering dipanggil **** gendut!"


"Phffffttt.." Jeny menahan tawa yang ingin segera dia semburkan rasanya.


"Kamu kelihatan puas sekali mendengar aku pernah dibulli?!"


"Hahaha. Aku sedang membayangkannya.."


Milli menoyor kepala Jeny yang cekikian sambil menyenderkan punggungnya ke sofa. Dia melirik Mary yang diam-diam tersenyum. Entah kenapa, Milli merasa cukup senang melihatnya.


"Aku juga dulu pernah dibulli," Jeny bercerita ketika gelak tawanya mereda. "Dulu rambutku keriting. Aku sering dipanggil rambut mi. Menjengkelkan jika ingat. Tapi sekarang setelah rambutku lurus, aku malah jadi pingin ngeritingin rambut lagi. Aneh ya?"


"Tapi kalian tahu yang lebih lucu?" Jeny masih melanjutkan, "Cewek yang dulu sering ngatain rambutku, sekarang justru ngeritingin rambutnya!"


Mereka tertawa. Mary ikut tertawa kecil meskipun pikirannya terkesan melihat kedua cewek itu bisa menertawakan hal-hal yang sebenarnya menyakitkan.


Ibu melongok dari pintu dapur. Dia tersenyum begitu melihat Mary tertawa. Ibu jarang melihat pemandangan seperti ini pada Mary.


Sebenarnya ibu selalu menyalahkan dirinya sendiri selama ini setiap melihat kepribadian Mary yang penyendiri dan rendah diri. Seharusnya dia tidak bercerai hingga membuat Mary kehilangan sosok ayah, seharusnya Mary tidak pernah melihat dan mendengar setiap pertengkaran-pertengkaran kedua orang tuanya, seharusnya dia tidak pernah menangis di depan putrinya. Bukankah kata ilmu psikologi, kehangatan keluarga sangat membentuk karakter kepribadian anak?


Maafkan ibu, Nak...

__ADS_1


###


__ADS_2