
Sean merebahkan badannya ke atas tempat tidur dengan keras. Kemudian dia mengambil sesuatu dari saku belakang celananya yang membuatnya tidak nyaman karena terasa mengganjal.
Dia memperhatikan sebungkus kecil permen susu rasa strawberry yang sekarang berada di tangannya.
"Tadi kak Sean terlalu banyak makan cabai.." Sean teringat Mary yang mendekatinya saat dia hendak pulang "Aku ingat Kak Sean bilang nggak suka makan manis-manis. Tapi cobalah ini!" cewek itu mengulurkan permen susu rasa strawberry, "Rasa manis cukup efektif mengusir rasa pedas di mulut lho!"
Sean tersenyum saat mengingat reaksi wajah cewek itu saat dia memutuskan untuk menerima permen yang diulurkan padanya. Sedikit lucu?
Sean kembali teringat momen tadi saat game truth or dare...
Flashback...
"Kenapa aku lagi?" Mary manyun ketika melihat ujung botol terarah kembali padanya. Ini sudah ketiga kalinya!
Jeny terkikik dan berkata kali ini gilirannya yang akan memberi pertanyaan.
"Jawab jujur, oke?" Jeny nampak sudah tahu betul pertanyaan apa yang akan dia berikan, "Siapa cowok yang kamu suka?"
Mary protes keras.
"Ayolaaahhh! Kita ingin tahu!" Milli terdengar ikut mendukung Jeny.
Mary menggelengkan kepalanya dan berkata lebih memilih memakan cabai daripada menjawabnya.
"Jadi, tidak ada cowok yang kamu sukai sekarang?" Jeny masih penasaran.
"Atau mungkinkah orangnya ada disini?" Milli melirik Juan dan Sean yang kelihatan tertarik. Cowok-cowok ini!
"Jangan ngaco!" Mary menimpuk kepala Milli dengan cabai di tangannya. Dia melirik Sean yang kembali meneguk air, mungkin cowok itu kepedesan karena berkali-kali harus menggigit cabai karena tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya. Mary berpikir, kayaknya Milli emang sengaja ngasih pertanyaan yang dia tahu gak mungkin dijawab Sean. Dasar Milli!
"Jadi ada cowok yang kamu sukai tapi kamu tidak mau memberitahu kami, gitu kan?" Jeny masih penasaran.
"Aku nggak mau jawab!" Mary tersenyum geli.
"Jahat! Katanya kita temen, tapi kamu suka menyimpannya sendirian!" Jeny manyun.
"Bukan begitu.." Mary merasa tidak enak hati, "Soalnya ini sangat rahasia!"
Mary menipiskan bibirnya. Ya, ini rahasia.
"Paling nggak, kasih kami clue-nya dong! Inisial kek.."
"Jangan memaksa. Dia kan bilang rahasia.." Juan membela Mary dan tersenyum hangat.
"Ishhh!" Jeny mengerucutkan bibir.
"Clue-nya, dia orang yang sangaaaat baik!" Mary mencoba tersenyum melihat kedua temannya mencoba menerka-nerka.
"Karena kamu tetep nggak mau jawab, kamu harus makan cabainya kan?"
Mary mengambil satu buah cabai berwarna hijau kemerahan yang kelihatan sangat ranum membuatnya tidak bisa membayangkan rasa pedas yang akan dia rasakan.
"Pedes nggak?" Mary bertanya pada Sean.
"Kamu jangan makan pedes-pedes. Katamu punya sakit lambung?" Juan mengambil cabai dari tangan Mary.
"Yaaah, sedikit nggak adil kan? Padahal Kak Sean juga menerima hukuman karena gak mau menjawab pertanyaan.." Milli terkikik geli melihat muka Sean yang kemerahan karena harus tiga kali memilih menggigit cabai daripada menjawab pertanyaan aneh darinya.
"Anggap aja aku yang gantiin dia!" Juan menggigit cabai di tangannya. Dia meringis kepedasan, Mary buru-buru memberikan sebotol air untuk Juan.
Sementara Sean menatap Mary dengan sedikit lirih. Sedikit jengah. Kesal. Apa dia selalu bersikap seperti itu setiap sama cowok?
__ADS_1
Sok baik begitu? Bersikap seolah memberi hati begitu? Bersikap seolah dirinya mudah menerima dan mudah didekati?
"Woaa, kalian romantis!" Milli menggoda keduanya yang langsung segera disanggah Mary dengan keras.
"Kalian cocok kok. Kenapa nggak jadian aja?" Milli sangat menyukai gagasan yang baru saja dia ucapkan. Jeny menyetujui.
"Jangan gitu! Kamu bikin Juan nggak nyaman.." Mary menegur kedua temannya.
"Kenapa? Aku fine kok.." Juan tersenyum hangat setelah menyeka air yang menetes dari mulutnya, membuat Sean yang melihatnya semakin merasa jengah karena senyum itu.
"Tuh kan? Katamu kamu suka cowok baik kan? Juan juga super duper baik, ya kan, Juan?" Jeny dan Milli masih berusaha mencomblangkan temannya.
"Dia memang tipe cewek yang akan menyukai setiap cowok yang baik padanya.." Sean bergumam kesal.
Mereka semua menoleh membuat Sean menyadari dia telah mengatakan kalimat tadi dengan sedikit keras. Padahal dia kan bermaksud mengatakannya di dalam hati...
"Kenapa cara bicaramu selalu begitu?" Juan tiba-tiba memecah keheningan aneh yang sesaat tadi muncul.
Sean menoleh, membuatnya saling beradu pandang dengan Juan yang menatapnya tajam.
"Iya. Kenapa sih? Emang apa masalahmu jika Mary menyukai cowok yang baik padanya?!" Milli ikut sewot.
"Jangan gitu!" Mary berusaha mendinginkan suasana, "Dia nggak bermaksud seperti itu kok!"
Sean menoleh ke arah Mary yang menatapnya dengan dalam.
"Dia memang begitu, suka bicara kasar, dingin dan menyebalkan. Tapi sebenarnya dia baik kok, dia nggak bermaksud seperti itu.." Mary mencoba sedikit tersenyum, kaku.
"Tapi kamu nggak sakit hati?" Jeny bertanya.
Mary diam sejenak, seakan pertanyaan itu sedikit mengejutkan.
Nggak sakit hati?
"Nggak!" jawab Mary pada akhirnya, "Karena aku tahu dia nggak bermaksud begitu.."
***
Sean mendesah, bangkit dari rebahannya dengan segera. Dia kembali memandang permen susu strawberry di tangannya, lalu menggenggamnya erat.
Dia pasti sudah gila!
Akhir-akhir ini dia banyak memikirkan cewek itu, entah kenapa. Waktu itu juga!
Sabtu malam dimana dia bertemu Mary yang sedang berkencan dengan cowok brengsek waktu itu, hal itu bukanlah kebetulan semata. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Milli dan Jeny sebelumnya yang mengatakan telah mengatur kencan Mary ke bioskop.
Dan sorenya ketika Celine mengajak dirinya untuk nonton film, dia tanpa pikir panjang segera menyetujuinya. Dia bahkan memilih bangku tepat di belakang Mary saat duduk di bioskop, meskipun tentu saja cewek bodoh itu tidak menyadari kehadirannya.
Waktu itu dia bisa melihat Richard yang berusaha duduk berdempetan pada Mary dan juga tangan cowok itu yang selalu berusaha meraih tangannya.
Dia kesal bercampur marah, kenapa cewek itu sulit sekali menolak? Apa dia memang mudah membuka hati dan diri begitu kepada siapapun? Dulu pada Ragil juga...
Ah, tauklah! Aku pasti udah beneran gila!
Kenapa cewek itu sering mengganggu pikirannya akhir-akhir ini? Kenapa dia selalu teringat wajah sendu yang bercermin di jendela mobil setiap melihatnya?
Kenapa?
Sean mengacak-acak rambutnya, melempar permen yang digenggamnya ke atas tempat tidur. Tapi sedetik kemudian, dia memungut kembali permen itu dan membuka bungkusnya.
Sangat manis, batin Sean saat memasukkan permen susu strawberry itu ke dalam mulut.
__ADS_1
Tring tring triiing!
Sean mengambil ponselnya yang berada di atas meja, menatap jengah wajah Celine yang terpampang di layar yang berkedip.
"Hmm.." Sean bersuara saat memutuskan untuk mengangkat panggilan itu. Dia kembali merebahkan badannya di atas tempat tidur.
"Kenapa nggak bales chatku sih dari tadi?"
Sean bisa membayangkan bibir Celine yang mengerucut dari seberang sana.
"Aku tadi lagi di jalan.." Sean menjawab sedikit enggan. Dia masih tidak habis pikir kenapa cewek ini tidak akan tidur sebelum chatnya dibalas sih.
"Jadi kamu udah pulang kan sekarang?" Celine bertanya cepat.
"Iya."
"Udah nyampe rumah?"
"Iya."
"Sekarang lagi ngapain?"
"Lagi rebahan di kamar.." Sean memainkan permen di dalam mulutnya.
"Tadi acaranya gimana?"
Sean tidak mengerti kenapa cewek ini seakan tidak kehabisan bahan pertanyaan. "Gitulah," Sean merasa tidak ada pentingnya bercerita tentang acara tadi pada Celine.
"Katanya kamu nggak mau dateng, tapi akhirnya dateng juga.."
Sean berpikir sejenak, "Aku nggak enak aja kalau nggak datang. Aku kan ketua kelompok."
"Ohh. Yakin cuma karena itu?"
Dia pikir apa lagi?
"Kenapa kamu belum tidur sih? Ini udah malem lho!" Sean melihat jam tangannya, sudah pukul setengah 11 lebih.
"Bentaran. Aku kangen.."
"Tadi di kampus juga udah ketemu!" Sean sedikit kesal mendengar suara manja barusan.
"Emang nggak boleh ya kalau kangen lagi?"
"Udah ah, yuk kita tidur."
"Kenapa gitu sih? Kita nggak pernah punya waktu teleponan yang manis. Kamu selalu aja begitu, nggak pernah ngertiin.."
Sean menghela napas. Dia tahu Celine sedang marah, dia menduga suasana hati cewek itu sedang tidak baik.
"Ini udah malem, besok kamu juga kuliah kan?" Sean sedikit memelankan nada suaranya.
"Kenapa? Aku ingin bicara lama sama kamu.."
Masalahnya, aku ngantuk.
"Ya udah bicara saja, aku dengerin.." Sean mendengarkan Celine yang bercerita panjang lebar tentang kegiatannya tadi di kampus, sesekali menanggapi dengan gumaman. Sean masih mendengar ketika Celine membicarakan Sandra, temannya yang hari ini mengecat rambut menjadi pirang terang. Sean juga masih menjawab ketika Celine menanyakan warna rambut apa yang cocok untuknya. Tapi hanya sampai disitu, selebihnya dia tidak ingat karena sudah memejamkan mata...
"Kamu sudah tidur ya?" Celine bertanya karena tidak juga mendapat tanggapan dari pacarnya itu.
Kebiasaan, batin Celine sambil mengulum senyum geli.
__ADS_1
"Selamat tidur ya, calon suamiku. Semoga mimpi indah.." Celine mengecup layar ponselnya.
###