
Milli dan Jeny mengamati dari kejauhan ke arah Mary yang tampak lesu membuka pintu loker. Milli bersandar di dinding dengan kedua tangan masuk ke dalam saku parka berwarna cokelat susu yang dia pakai. Sementara Jeny hanya bersedekap.
"Kamu pikir dia baik-baik aja?" Milli bertanya.
"Siapa pun yang melihat pasti menyangka dia mayat hidup!" Jeny menjawab. Milli mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
"Fuuuh!" Milli membuang nafas keras, "Apa yang harus kita lakukan?"
Jeny mengerdikkan bahunya, dia juga tidak tahu.
"Dasar cowok brengsek!" Milli memaki lagi entah untuk kesekian kali sejak semalam, "Dia pikir dia siapa berani bicara seperti itu tentang Mary!"
Jeny mengangguk, "Sok cakep!"
Tiba-tiba Milli membelalakkan matanya seolah ada ide cemerlang yang barusan melintas di kepalanya.
"Kita harus cari cowok!" Milli menjentikkan jari.
"Kamu mau cari pacar lagi?" Jeny shock.
"Bukan aku!" Milli jengkel melihat temannya yang mendadak lemot begitu, "Kali ini buat Mary!"
Jeny tersenyum dan mengatakan dia sangat setuju dengan ide Milli.
"Bagaimana? Ide bagus kan?"
"Sangat bagus!"
Mereka melakukan tos sambil tertawa.
"Kamu ingat cowok yang ngajak kenalan kita di mall kemaren?" Milli bertanya.
Jeny berusaha mengingat tetapi sedetik kemudian lantas mengangguk, "Kenapa?"
"Gimana kalau kita jodohin mereka aja?" Milli menambahkan, "Dia seribu kali lebih cakep dibanding senior tengik itu!"
"Siip!" Jeny menunjukkan ibu jarinya, "Kayaknya aku masih simpan nomer Hp cowok itu kok!" Jeny mengingat kejadian di foodcourt mall kemarin, cowok bernama Richard itu meminta nomer Hp Mary. Awalnya Mary menolak tapi kedua temannya terus memaksanya bahkan Milli sampai meminta Jeny untuk mencatat balik nomer cowok itu.
Cowok itu lumayan, badannya cukup kekar dan yang pasti penampilannya gak ketinggalan jaman. Mereka berdua kompak tersenyum memikirkannya.
***
Mary mendongak ke atas, menatap mendung gelap yang sudah bergelayut manja seakan siap kapan saja memuntahkan air yang ditampungnya. Musim hujan sedikit terlambat tahun ini. Biasanya bulan-bulan seperti ini hujan cukup intens turun setiap hari. Tapi tahun ini rupanya tidak begitu.
Mary sangat terkejut ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh. Juan tersenyum sambil menggoyang-goyangkan sekaleng soft drink dingin ke depan wajah Mary.
"Kamu ngelamun!" tegur Juan sambil membuka tutup soft drink yang dia pegang.
Pssssssttt. Terdengar suara desisan yang keluar saat tutup kaleng minuman itu berhasil dibuka.
Mary tidak menjawab, dia kembali meneruskan langkahnya untuk pulang. Dia ingin segera sampai di rumah sebelum hujan turun. Dia akan bersembunyi di balik selimutnya yang tebal, mungkin sambil membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Tour yang belum sempat dia tuntaskan. Sambil mendengarkan musik dari Jessie J juga sepertinya menyenangkan.
When tomorrow comes
__ADS_1
I'll be on my own
Feeling frightened up
The thing that i don't know
When tomorrow comes, tomorrow comes, tomorrow comes...
Mary seolah bisa mendengar suara merdu Jessie J mengalun di kepalanya.
"Nih!" Juan menyodorkan cola yang dia pegang, membuyarkan lamunan cewek itu.
"Aku nggak minum soda!" Mary menolak lembut. Juan menanyakan alasannya dan Mary menjawab dengan singkat tentang lambungnya yang sering bermasalah, apalagi setelah minum minuman bersoda seperti itu.
"Oh, lain kali aku belikan yang lain.."
Mary berpikir seolah cowok itu memang sengaja membelikan minuman tadi untuknya.
"Kamu datang ke acara tadi malam?" Juan bertanya.
Mary cuma bergumam. Dia merasa hatinya semakin tidak keruan diingatkan lagi soal kejadian semalam.
"Semalem aku nggak bisa datang, aku ada syuting pemotretan sampe larut malam.." Juan bercerita meskipun tanpa ditanya.
"Acaranya seru?"
Mary kembali hanya menggumam pelan.
"Gimana tugas kampus kamu? Udah kamu kerjakan?" Juan terus bertanya, "Aku belum sama sekali. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini."
Juan tersenyum ditanya seperti itu. Dia memang sengaja mengganggu seperti tadi untuk menarik perhatian cewek yang sedari tadi cuma melamun itu. Dan dia berhasil.
"Mengikutimu? Aku mau pulang kok!" Juan mengelak.
"Lewat sini juga?"
"Iya."
"Naik MRT juga?"
"Iya. Aku turun di stasiun 3. Kamu?"
"Oh.." Mary kembali melanjutkan perjalanannya. Kenapa cowok ini mengikutinya sih, padahal dia sedang ingin sendiri. Padahal dia ingin berjalan pelan-pelan sambil menikmati pikirannya sendiri.
"Kamu baik-baik saja?"
Mary mengangguk. Tapi Juan tahu jelas, cewek itu sedang nggak baik-baik saja. Meski baru sebulan lebih mengenal Mary, dia tahu cewek itu selalu hanyut dalam pikirannya sendiri jika sedang memiliki masalah. Dia bergumul dengan dunianya yang sepi tanpa mau membagi dengan orang lain.
Kamu sudah terbiasa sendiri hingga tak menyadari kehadiran orang-orang yang ingin menghapus kesendirianmu...
Selagi berjalan menuju stasiun, Mary mengeluarkan earphone dari dalam tasnya. Namun baru saja hendak memasangnya ke telinganya, tangan Juan menahannya cukup tegas.
"Aku nggak tahu masalah kamu apa. Tapi kamu salah jika berpikir masalah kamu akan selesai cuma dengan menutup telinga."
__ADS_1
Mary memandang ke dalam bola mata cokelat yang seolah bisa menembus isi hatinya itu. Kenapa dia merasa mata itu seolah bisa mengetahui segalanya tentang dirinya sampai hal yang paling kecil sekalipun. Seolah dia tidak bisa menyembunyikan rahasia bahkan jika sekecil atom.
"Lalu aku harus apa?" gumam Mary pelan, dia merasa pertanyaan itu tertuju mungkin lebih ke dirinya sendiri.
Sementara itu gerimis mulai turun, menghembuskan udara dingin yang cukup membuat menggigil. Mary bisa merasakan rintik air menyentuh pipinya.
"Seperti ini.." kata Juan sambil menarik tangan Mary dan mengajak cewek itu berlari. Mary cukup terkejut, tetapi sebentar kemudian dia sudah bisa menguasai diri. Tangan kanannya memegang tali tas selempangnya yang ikut berkelebat, sementara dia melihat tangan kirinya masih dipegang Juan dengan erat.
"Jika hujan adalah masalahmu, kamu harus menghadapinya meskipun itu membuatmu basah. Kamu hanya akan kehilangan banyak waktu menikmati hidup jika memilih berhenti untuk menghindarinya.."
Mary tertegun. Dia memandangi punggung cowok itu dari belakang. Tangan cowok itu masih tidak mau melepas tangan Mary, mengajaknya berlari. Berlari...
Mereka sampai di stasiun dengan rambut yang cukup basah. Juan mengibas-ngibaskan kepalanya, cipratan air dari rambutnya mengenai wajah Mary yang bergegas menghindar sedikit menjauh. Dia melirik Mary yang nafasnya masih tersengal-sengal karena lari seperti tadi. Padahal jarak stasiun tidak begitu jauh, tetapi tetap saja rasanya ngos-ngosan seperti ini.
Mary merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan lepek, Juan membantu.
"Rasanya de javu ya?" katanya.
Mary menatap tak mengerti.
Juan tersenyum, "Kita pertama bertemu juga seperti ini kan?"
Juan memegang kedua bahu Mary dan menyuruh cewek itu menghadap ke depan sementara dia memandangi punggung Mary.
"Kali ini warna apa?" guraunya.
Mary cepat memutar tubuhnya dan memukul kepala Juan memakai tas selempang warna hitam yang dia pakai. Juan mengaduh meskipun tertawa.
"Aku cuma bercanda!" kata Juan karena cewek itu tidak berhenti memukulnya. Sementara orang-orang di dalam stasiun mulai menatap mereka penasaran.
"Aku sudah tahu sejak awal kamu itu cowok mesum!" ujar Mary.
"Sstt! Orang-orang bisa salah paham padaku nanti!" Juan sadar mereka berdua telah menjadi pusat perhatian orang-orang di dalam stasiun itu.
"Biar!" Mary menundukkan kepalanya, diam-diam mencoba melihat apa dalamannya menerawang kali ini?
Juan tersenyum geli melihatnya, "Kali ini nggak kok. Kelihatannya kamu mendengarkan saranku waktu itu.."
Mary melirik tajam sekali lagi.
"Aku sedikit kecewa nggak bisa melihatnya.." Juan bergumam pelan, bermaksud menggoda. Entah kenapa dia lebih senang melihat raut muka Mary yang kesal dibanding muka cewek itu saat murung seperti tadi.
"Dulu merah.." Juan masih bergumam, seolah bicara sendiri.
Kali ini Mary menginjak sepatu cowok itu dengan keras. Juan benar-benar mengaduh kesakitan sambil mengangkat kaki kirinya, meski begitu entah kenapa dia justru merasa senang.
"Padahal pink.." Kali ini ganti Mary yang bergumam sendiri. Bibirnya sedikit manyun.
"Memangnya aku tidak tahu?" Juan tidak bisa menahan senyum gelinya mendengar gumaman Mary barusan.
Dia bisa melihat bibir Mary membentuk suatu lengkungan tipis.
Mungkin perjalanan di dalam kereta hari ini akan sedikit menyenangkan?
__ADS_1
###