Lovable You

Lovable You
40. Ragu-Ragu


__ADS_3

Mary berjalan santai menuruni tangga kampus ketika tepukan di punggungnya membuatnya terkejut. Dia terpana menatap Juan yang tertawa lebar. Bukan, bukan terpana karena ketampanan cowok itu maupun deretan gigi rapi yang selalu membuatnya kagum, melainkan dia terpana karena Juan memperlakukan dirinya seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Aneh sekali rasanya.


"Ternyata kamu gampang kaget ya?" seloroh Juan. Dia teringat kembali bagaimana jeritan cewek itu ketika kejutan ulang tahun di rumahnya tempo hari.


"Makanya jangan seperti ini lagi. Aku bisa punya penyakit jantung.." Mary masih mengelus dada.


"Tumben sendirian. Mana teman-temanmu?" Juan dengan cekatan mengambil alih 3 buku tebal dari tangan Mary. Lagi-lagi Mary terpana untuk sesaat, terkesiap.


"Memangnya kami harus bersama-sama terus? Mereka kan juga punya urusan sendiri-sendiri.."


Juan mengangguk-anggukan kepala. "Gimana kamu jadi masuk klub tata boga?"


Mary mengangguk senang.


"Seru?"


"Menyenangkan! Kami mempelajari banyak masakan dari negara lain. Minggu ini kami akan belajar masakan timur tengah.."


Mendengar nama Timur Tengah, Juan membayangkan kebab isi daging panggang dan sayuran segar. Tiba-tiba perutnya berbunyi.


"Cacing di perutmu mulai nyanyi tuh.." Mary tertawa.


Juan memegangi perutnya, pagi tadi dia hanya makan dua buah lapis roti panggang yang sedikit gosong dengan selai nanas. Hidupnya sangat menyedihkan.


"Mau ikut makan dulu sebelum pulang?" Juan bertanya.


Tapi aku harus segera mengajar les, Mary membatin.


Mary melirik Juan sebentar ingin melihat air muka cowok itu, kemudian dia memandang jam tangannya. Dia berpikir jika dia langsung berangkat ke rumah Misha tanpa harus pulang ke rumah lebih dulu, mungkin waktunya masih sempat jika untuk makan sebentar saja.


"Baiklah.." kata Mary pada akhirnya, "Jadi mau makan dimana?"


Juan tersenyum, "Di dekat stasiun ada resto burger. Mau kesana?"


"Kamu ini selalu makan junk food ya?"


Juan menggumam hampir setiap hari dia makan burger, pizza, nasi KFC ataupun mie rebus.


"Ck. Ck. Hidupmu begitu amat!"


"Iya kan?" Juan mendesah, "Aku nggak tinggal bersama orang tua yang bisa mengurusi kehidupanku sehari-hari, aku tidak bisa mengandalkan adikku yang bahkan tidak bisa memanggang roti dengan benar, jadi sepertinya aku nanti harus cari istri yang bisa masak kan?"


"Tapi sayang, cewek yang bisa masak sampai sekarang nggak ngasih aku jawaban.." Juan berniat menggoda Mary.

__ADS_1


Mary bisa merasakan pipinya yang menghangat karena Juan memandanginya.


Dia benar-benar spesialis di bidang ini ya...


"Kenapa pipimu merah?" Juan bertanya geli.


"Nggak kok!" Mary mengusap-usap pipinya seakan berusaha menghilangkan semburat merah yang dilihat Juan.


Juan mengulum senyum geli. Cewek itu mudah malu, lucunya...


"Bukan kamu kok yang aku maksud, jangan Ge-eR!" Juan tertawa melihat Mary salah tingkah.


"Jangan seperti ini.." Mary menggumam pelan.


"Aku cuma bercanda, bercanda. Nggak usah dipikirin."


Mana bisa nggak dipikirin?


"Oh, hujan.." seru Juan ketika mereka telah keluar dari gedung fakultas.


"Aku bawa payung sih.." Mary mengeluarkan payung lipat berwarna kuning cerah dari tasnya. Nasehat ibunya benar, di musim penghujan seperti ini harus selalu sedia payung karena hujan bisa turun sewaktu-waktu.


"Yakin, itu muat buat kita berdua?" Juan merasa tidak yakin.


"Apa nggak nunggu hujan sedikit reda?" Juan mendongak ke langit yang masih berwarna abu-abu gelap, pertanda hujan yang turun mungkin masih lama.


"Nggak bisa. Aku ngejar waktu buat ngajar les.." Mary menjelaskan, "Lagian bukannya kamu pernah bilang kita hanya akan kehilangan banyak waktu menikmati banyak hal jika memilih menunggu hujan berhenti?"


Juan tidak begitu ingat kapan dia mengucapkannya tetapi dia merasa cukup senang ternyata cewek itu mengingatnya dengan baik.


"Oke.."


Mary membuka payung yang seolah mekar seperti bunga di musim semi.


"Ayo!" ajaknya.


***


"Hari Minggu nanti Mamamu ngajak aku shoping.." Celine bercerita.


"Kamu mau ikut?" tanyanya lagi pada Sean yang sejak tadi mendengarkan dalam diam.


Sean tentu saja berkata tidak. Dia mana mungkin mau ikut berbelanja baju bersama dua perempuan itu. Dia pernah mengikuti Celine berbelanja, dan Sean menghitung cewek itu membutuhkan waktu 1 jam hanya untuk memilih satu baju. Satu baju!

__ADS_1


Dalam beberapa hal Sean akui, Celine sangat cocok dengan Mamanya, salah satunya karena mereka berdua sama-sama betah menghabiskan berjam-jam di mall untuk mencari baju ataupun tas.


"By the way, Mamaku nanya kapan keluarga kamu datang ke rumah aku secara resmi. Kamu tahu maksudku kan?" Celine cukup terbata-bata ketika Sean menoleh cukup cepat.


"Ah, aku udah sering bilang ke mereka bahwa kita fine begini kok, iya kan? Toh, kita nanti juga pada akhirnya bersama.." Celine merasa dirinya ingin mendengar Sean berkata sebaliknya. Mereka sudah bersama selama 7 tahun, bukankah untuk tukar cincin adalah hal yang wajar dibicarakan?


"Tapi kamu pasti ngerti, nggak ada orang tua yang tenang sebelum ada ikatan resmi untuk anak perempuannya kan?"


Namun cowok itu hanya diam.


"Jadi, kamu akan bicara ke orangtuamu?" Celine bertanya, sedikit berharap.


"Cell.." Sean akhirnya bersuara setelah beberapa saat, "Kita bicarain ini nanti setelah lulus kuliah ya.."


Ya, tentu. Kuliah mereka hanya tinggal 2 semester lagi, sebentar. Setelah skripsi mereka selesai, pembicaraan ini pasti akan lebih nyaman. Ya, kenapa nggak?


Celine menghela napas diam-diam.


"Kamu mau kemana?" tanya Celine karena Sean mengambil tasnya.


"Pulang. Udah sore.." Sean melihat jam tangannya, "Kamu bilang masih ada urusan di kampus kan?" Sean teringat Celine tadi bercerita dirinya ada janji dengan Mrs. Emily untuk konseling tugas skripsinya nanti.


Celine mengiyakan, sedikit kecewa karena dia pikir Celine mau menunggu dirinya meskipun sedikit lebih lama. Toh di luar hujan kan?


"Mau aku suruh Pak Tarto buat jemput kamu nanti?"


Celine mengangguk sambil tersenyum.


"Hati-hati jalanan licin, di luar hujan.." Celine mengingatkan saat Sean segera beranjak pergi dari duduknya.


Sean berjalan cepat keluar dari gedung fakultas. Dia sedikit merasa kesal karena entah sudah ke berapa kali Celine terus membahas pertunangan. Dia merasa hatinya gelisah sekarang. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia mau.


Sean berhenti sejenak sebelum memutuskan untuk berlari menerobos hujan menuju tempat mobilnya terparkir. Dia berlari sambil melindungi kepalanya dengan tas ransel hitam, cipratan air dari langkah kakinya sedikit mengotori ujung celana.


Sesampainya di dalam mobil, Sean mengkibas-kibaskan tangannya yang basah. Dia segera menyalakan mobil dan pergi.


Tidak begitu jauh meninggalkan kampusnya, dia melihat Mary dan Juan yang berjalan di bawah payung yang sama. Sean memelankan laju mobil sedikit jauh di belakang mereka.


Dia tahu perasaannya tidak menentu sekarang. Dia merasa ingin melakukan sesuatu, tetapi juga merasa dia hanya ingin diam memperhatikan.


Cukup lama sampai akhirnya dia memutuskan untuk tancap gas.


###

__ADS_1


__ADS_2