Lovable You

Lovable You
42. Posko Pengungsian (1)


__ADS_3

Sean membantu Mary mengangkat kardus-kardus berisi makanan dan baju bekas ke dalam jok mobilnya.


"Banyak sekali yang kamu bawa, para pengungsi disana pasti merasa sangat terbantu.." gumam Sean.


"Aku harap begitu.." Mary tersenyum lantas berpamitan pada ibunya yang masih berdiri di depan pintu rumah. Sean ikut berpamitan dan ibu berpesan agar mereka berhati-hati di jalan.


Mereka segera menuju mobil. Mary menoleh pada Sean yang hari ini entah kenapa tampak cool dengan setelan kemeja biru cerah dan jins belel longgar.


Mary berpikir dirinya memang sering semobil dengan Sean, tapi bukankah ini pertama kalinya mereka benar-benar pergi berdua?


Aneh sekali rasanya.


"Mau aku pasangin save belt-nya?" Sean heran melihat Mary hanya tercenung .


Mary tersadar dan segera memasang save belt-nya sendiri.


"Jadi, kamu udah sering ikut kegiatan sosial begini?" Mary memulai percakapan ketika mobil mereka telah merambat di jalan raya.


"Cukup sering."


"Kamu bener-bener orang baik," Mary menggumam.


Tiba-tiba Sean teringat Mary yang pernah mengatakan jika ada cowok baik yang dia sukai. Dia tersenyum tipis.


"Aku nggak sebaik itu," katanya, "Kamu tahu, awalnya aku ikut kegiatan-kegiatan sosial begini karena suruhan bokap, bukan berasal dari keinginanku sendiri.."


"Bagus dong! Itu berarti bokapmu mengajarkan hal yang baik.."


"Asal kamu tahu, sejak kecil bokap selalu ngajarin aku untuk membangun 'citra' buat modal memimpin perusahaan nanti.."


Mary berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk dengan hati-hati.


"Dari kecil aku dididik untuk selalu menolong yang lemah dan berbuat baik ke orang lain agar kelak aku jadi pemimpin yang disukai banyak orang. Awalnya aku kesal karena aku merasa itu semua pura-pura.."


"Tapi lama-lama, aku pikir aku mulai menyukainya.." Sean tersenyum.


"Kadang kebaikan emang harus dipaksa lebih dahulu agar terbiasa.." Mary bergumam mengerti.


"Tapi kalau kamu disuruh memberi contoh baik sedangkan orang yang nyuruh kamu sendiri nggak bisa ngasih contoh baik, kamu pasti jengkel kan?"


Mary menatap Sean tidak mengerti.


"Aku benci bokapku sendiri.." lanjut Sean, "Dia menyuruh jadi orang baik, padahal dia sendiri bukan ayah dan suami yang baik!"


Mary ingin bertanya lebih jauh, tapi dia merasa tidak enak seakan ingin tahu urusan rumah tangga orang lain karena Sean sendiri kelihatan enggan menceritakan lebih jauh.


***


"Kamu gila ya!" Ragil menunjuk hidung Sean. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya temannya itu pergi berdua bersama Mary ke posko bencana. Saking terkejutnya, Ragil langsung menyeret Sean mojok berdua di belakang mobil salah satu karyawan perusahaan.

__ADS_1


"Jadi kamu selingkuh diam-diam di belakang Celine, gitu?" Ragil masih kelihatan tidak habis pikir.


Sean berusaha menjelaskan pada Ragil. Dia lupa kalau temannya yang satu ini juga biasa ikut kegiatan sosial perusahaan bokapnya. Kok dia bisa lupa sih, dasar bego!


"Aku sama Mary nggak ada hubungan apa-apa.."


Tapi Ragil bisa mendengar nada ragu dalam pernyataan itu.


"Tapi Celine nggak tahu kalian pergi berdua kan?"


Sean menjawab tidak.


"Kamu bisa bayangin jika Celine tahu?"


"Makanya, jangan sampai dia tahu!"


Ragil tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. Dirinya masih mencoba menerka-nerka perasaan temannya itu. Ragil mengenal Sean sejak kecil, tapi dia belum pernah sekalipun melihatnya seperti ini.


"Ck ck ck!" Ragil berdecak.


"Aku yakin kamu nggak bakal ngoceh ke Celine. Mary bisa dapat masalah kalo sampe Celine tahu.."


"Sesuka itu kamu sama dia ya, sampe kamu lebih khawatirin dia dibanding perasaan pacar kamu sendiri.."


Sean tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bergumam bahwa dirinya mengakui dia memang sedikit tertarik dengan Mary. Apakah itu namanya suka?


"Aku ngerti."


"Jadi kamu harus memutuskan kan?"


"Aku akan berpikir."


"Kalo kamu masih berpikir, artinya kamu nggak sesuka itu sama dia?"


"Aku nggak yakin."


"Seharusnya jangan kayak gini, seakan memberi harapan ke cewek sepolos Mary.." Ragil tiba-tiba teringat sosok Mary yang dilihatnya sewaktu di dalam kereta kemarin. Sosok yang berdiri canggung ketika seseorang pengemis datang menipunya.


Sean mengerti yang dimaksud temannya itu. Dia berkata dia akan sesegera mungkin menyelesaikan masalah hatinya.


"Tapi aku harap kamu beneran tutup mulut soal ini!"


Ragil tertawa sinis. "Oke," katanya. Lagipula dia bukan tipe ember, apalagi suka ikut campur urusan orang lain sekalipun temannya sendiri.


"Tapi mulutku berharga mahal, inget!"


"Aku akan traktir sushi di restaurant jepang kesukaan kamu!" Sean merangkul pundak Ragil dan mengajaknya segera kembali bergabung dengan tim.


Mary merasa canggung ketika berhadapan dengan Ragil, dia takut cowok itu berpikiran macam-macam tentang dirinya karena bersama dengan Sean. Tapi syukurlah, Ragil sepertinya cuek saja.

__ADS_1


Mary ikut membantu mereka mengangkat kardus-kardus bantuan logistik untuk korban bencana banjir dari dalam mobil box dengan stiker besar bertuliskan Djaya Group. Berbondong-bondong pengungsi menyerbu mereka membuat tim posko bencana dan tim perusahaan ayah Sean segera mengatur mereka semua agar tertib karena semua bantuan akan dibagi secara adil dan merata.


Mary menoleh ke sekelilingnya. Tempat ini awalnya adalah gedung olahraga yang sekarang beralih fungsi menjadi posko pengungsian. Beberapa tenda dibangun di pelataran gedung, sementara di dalam gedung sendiri telah berjubel ratusan warga yang masih mengungsi. Mary sempat mendengar percakapan dari beberapa warga yang mengatakan air telah surut, namun adanya peringatan banjir susulan membuat mereka bertahan disini. Mereka masih trauma dengan banjir sehari yang lalu datang tiba-tiba di malam hari dan langsung mencapai seatap rumah hanya dalam waktu satu jam.


Tahun ini banjir terparah, katanya.


"Capek ya?" tanya Sean melihat Mary sedikit berjongkok memegang lutut setelah selesai membantu mengangkat kardus-kardus bantuan logistik dan membagikannya pada pengungsi.


"Mmm, sedikit.."


Sean tersenyum, "Payah. Gitu aja capek!"


Mary memukul pelan lengan Sean yang padat.


"Sudah tahu kalau air sungai meluap lagi?"


Mary mengangguk, "Kasihan yaa.."


"Sebagian warga ada yang pulang pagi ini untuk membersihkan rumah mereka dan mereka terjebak banjir lagi.."


Sean melanjutkan, "Aku sama beberapa temen mau ke lokasi buat membantu warga disana, kamu nggak pa-pa disini?"


Sebenarnya Mary tidak ingin ditinggal sendirian, tapi mana mungkin kan dirinya mencegah Sean yang ingin menolong orang lain?


Mary mengangguk.


"Kamu lihat cewek-cewek di dalam sana?" Sean menunjuk sebuah mushala yang di dalamnya penuh anak-anak kecil yang duduk rapi di atas karpet.


"Itu karyawan perusahaan bokap, mereka sedang melakukan healing trauma pada anak-anak. Coba ikut kesana kalau kamu canggung sendirian.."


Mary mengangguk.


Sean menepuk pundak Mary dan tersenyum sebelum akhirnya berlalu.


Mary melangkah pelan ke mushala. Dari luar dia bisa mendengar suara seorang cewek yang menceritakan sebuah dongeng dari buku bergambar, sesekali disambut celotehan khas dari anak-anak yang mendengarkan.


Mary hanya berdiri tertegun di luar, rasanya aneh sekali jika tiba-tiba masuk dan ikut bergabung. Lagipula dia tidak pandai berbicara, jadi mana mungkin dia berpikir bisa menghibur hati mereka.


Saat itulah Mary melihat sebuah tenda bertuliskan 'dapur umum' yang sangat besar pada sebuah papan yang tertancap di depan tenda itu.


Tanpa ragu Mary melangkah kesana.


Dia masuk ke dalam tenda dan aroma bumbu-bumbu dapur segera menyeruak tajam ke hidungnya. Dia melihat beberapa ibu-ibu yang sibuk mondar-mandir dengan aktifitas masing-masing.


"Permisi. Saya sukarelawan disini, ada yang bisa saya bantu?"


Mary merasa lega karena ibu-ibu itu tersenyum hangat padanya, sehangat uap air yang muncul dari panci sayuran yang dididihkan disana.


###

__ADS_1


__ADS_2