Lovable You

Lovable You
43. Posko Pengungsian (2)


__ADS_3

Mary menyeka keringatnya sambil duduk selonjor di atas emperan gedung. Rasanya benar-benar capek setelah hampir berjam-jam berkutat di dapur umum menyiapkan makanan dalam porsi besar serta ikut membagikannya ke pengungsi yang antri dengan tertib untuk mengambil jatah makan siang mereka.


Namun melihat para pengungsi yang makan dengan lahap sambil duduk sekenanya dimanapun membuat rasa capeknya sedikit hilang.


Mary memandang seorang kakek tua yang duduk bersila di emperan gedung juga seorang ibu yang makan sambil berdiri karena bayi dalam gendongannya selalu menangis setiap diajak duduk.


Dia bisa melihat beragam bentuk manusia di tempat ini, berkumpul menjadi satu karena sebuah kesulitan kehidupan yang sama. Dan melihatnya, dia merasa hidupnya sedikit lebih baik dibanding mereka.


Tempat ini membuatku paham tentang bersyukur...


Tiba-tiba matanya tertumbuk pada seorang gadis kecil yang makan sendirian di samping tiang penyangga gedung. Makannya sangat lahap sampai beberapa butir nasi bertebaran di pipinya. Mary tersenyum dan mendekati anak perempuan yang kira-kira berumur 8 tahun itu.


"Kenapa makan sendirian?" tanyanya membuat si anak berambut kusut itu mendongak.


Mary tidak bisa mendengar dengan jelas gumaman anak itu karena mulutnya yang terlalu penuh dengan makanan.


"Makan pelan-pelan saja, nanti kamu bisa kesedak!" Mary memunguti butiran nasi di pipi anak itu.


Anak itu terlihat menuruti saran Mary.


"Kenapa makan sendirian? Dimana orang tuamu?" Mary mengulangi pertanyaannya lagi.


"Mereka sudah meninggal."


"Meninggal karena banjir kemaren?" Mary terkejut.


"Bukan. Ibuku meninggal sewaktu melahirkan aku. Dan ayahku meninggal karena kecelakaan.."


"Ohh.." Mary manggut-manggut, "Jadi sekarang kamu tinggal sama siapa?"


"Sama kakek dan nenek."


"Lalu dimana mereka?"


"Tadi pagi mereka pulang ke rumah katanya untuk bersih-bersih. Tapi sampai sekarang belum balik.."


Mary tahu sebagian warga yang kembali ke rumah pagi ini terjebak banjir karena air sungai meluap lagi karena curah hujan yang sangat deras di daerah hulu. Resiko tinggal di kota daerah hilir ya seperti ini, banjir kiriman akan datang sewaktu-waktu meskipun cuaca disini cukup baik.


"Mereka akan segera kembali.." Mary menenangkan.


Anak itu menghabiskan makanannya sampai tak bersisa, dia bersendawa lucu membuat Mary tertawa kecil.


"Habis. Jadi ku taruh dimana piring ini?" tanyanya pada Mary.


"Kamu lihat tenda disana?" Mary menunjuk tenda dapur umum, "Di belakangnya ada tempat cuci piring. Kamu bisa mencuci piring?"


"Aku biasa melakukannya sendiri di rumah."


"Anak pintar. Kamu memang harus belajar mencuci piring bekasmu sendiri sejak kecil."

__ADS_1


Anak itu tersenyum dan mengangkat jempol.


"Tunggu!" Mary memanggil anak itu lagi, "Coba duduk di sini dulu sebentar!"


Anak itu menurut meskipun heran. Mary mengeluarkan sisir rambut yang selalu dia bawa di dalam tas kecil selempangnya. Dia membuang karet gelang di rambut anak itu yang dipakai sekenanya untuk menguncir rambut. Dia menyisir rambut panjang anak itu dengan sangat hati-hati karena rambutnya sangat kusut.


"Anak perempuan itu harus selalu berpenampilan rapi dan cantik.." gumamnya, "Jika kamu tampil kusut dan awut-awutan begini, teman-temanmu akan menghindarimu."


"Kenapa begitu?"


"Anak-anak seperti itu lebih mudah diejek di sekolah, pasti tidak menyenangkan kan kalau diejek?" Mary teringat pengalamannya sendiri.


"Aku sering diejek.."


Mary tertegun dan menghentikan gerakan tangannya sejenak.


"Kamu sering diejek?" ulangnya.


Anak itu mengangguk, "Teman-temanku sering mengejekku yatim piatu, mereka juga sering mengataiku jelek dan miskin.."


"Apa guru-guru di sekolahmu tahu kamu sering diejek begitu?"


"Aku nggak tahu mereka tahu atau tidak."


"Jika ejekan teman-temanmu sangat mengganggu, kamu harus memberitahu gurumu di sekolah. Mereka pasti akan menegur teman-temanmu yang nakal itu!"


"Aku tidak peduli dengan semua ejekan itu kok!" anak itu menjawab sedikit mengejutkan Mary.


"Bukan mereka yang ngasih aku makan saat kelaparan. Bukan mereka yang membayarkan uang sekolahku. Bukan mereka yang membelikanku sepatu dan tas. Aku tidak peduli mereka mau bilang apa, emang aku pikirin!"


Mary berpikir andai saja sikap cuek anak ini sedikit saja dia miliki di masa kecilnya, mungkinkah hidupnya bisa berbeda?


"Tapi ingat, jika mereka kelewatan, kamu tetap harus memberitahu gurumu. Anak-anak seperti itu harus ditegur agar tidak berbuat yang sama ke anak lainnya. Tidak semua anak sekuat kamu. Ada juga anak yang sangat menderita karena diejek teman-temannya.."


"Kakak pernah diejek?"


Mary tidak tahu harus menjawab apa. "Pernah.." gumamnya akhirnya.


"Aku pernah diejek jelek, dekil.." Mary tertawa mengingatnya.


Anak itu spontan menoleh ke Mary membuat Mary mengembalikan kepala anak itu kembali menghadap ke depan.


"Jangan bergerak! Kakak belum selesai menyisir. Rambutmu kusut sekali, kamu jarang keramas ya?"


"Kakak kan cantik, kenapa diejek jelek?" anak itu mengabaikan pertanyaan Mary.


"Aku dulu jeleeek sekali!" Mary tertawa sambil mengambil kuncir rambut yang dipakainya membuat rambutnya tergerai bebas. Kemudian dia mengikatkan kuncir rambut berwarna pink itu ke rambut anak itu.


"Teman sekelasku memanggilku b*bi.."

__ADS_1


"Jahat sekali mereka!" komentar anak itu.


"Iya kan?" Mary justru tertawa getir. Rasanya benar-benar aneh menertawakan masa lalu yang pahit.


"Terus kenapa kakak sekarang berubah cantik?" tanya anak itu polos.


"Mmm... Rahasia!" Mary tertawa. Dia tidak mungkin menceritakan tentang operasi plastiknya pada anak sekecil ini.


"Selesai. Coba lihat, sekarang kamu terlihat rapi dan manis dilihat!" Mary tersenyum.


Anak itu menyentuh rambutnya yang dikuncir tinggi. Dia menoleh sambil tersenyum dan berterima kasih pada Mary.


Mary memandangi wajah anak itu dengan hangat. Entah kenapa anak itu terlalu mengingatkan pada sosoknya di masa kecil.


"Kamu harus ingat ini saat ada orang lain yang mengejekmu jelek!" Mary menyentuh kedua pundak anak itu agar lebih memperhatikannya yang akan berbicara, "Jangan biarkan omongan buruk orang lain tentang dirimu mempengaruhimu, karena waktumu hanya akan terbuang sia-sia dengan membenci diri sendiri dan menyalahkan Tuhan hingga kamu lupa bersyukur bahwa hidupmu jauh lebih beruntung dibanding orang lain. Kamu lihat orang itu?" Mary menunjuk dengan dagunya ke arah seorang laki-laki dewasa yang berjalan tertati-tatih karena kakinya membentuk silang.


"Saat kamu merasa hidupmu terasa berat, ingatlah bahwa selalu ada orang lain yang hidupnya tidak seberuntung kamu.."


"Perasaan seperti itu akan membuatmu lebih semangat!"


Mary menoleh anak itu yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


"Mengerti nggak?" Mary mencoba mengulum senyum. Dia berpikir dirinya telah berbicara panjang lebar dengan anak sekecil ini, Mary sangsi anak itu bisa mencerna maksudnya.


"Kakak berbicara seolah pengalaman kakak sendiri ya?"


Mary tidak menyangka anak ini cerdas, tidak seperti kelihatannya. Anak ini terlihat lebih dewasa dibanding usianya.


"Pokoknya dengarkan kakak karena pengalaman hidup kakak jauh lebih banyak dibanding kamu!" Mary menunjuk hidung anak itu, "Kamu harus rajin belajar, sekolah yang benar, buat kakek dan nenekmu bangga. Mereka berdua yang memberimu makan, membayar sekolahmu, dan membelikanmu tas dan sepatu kan?


Jadi kamu harus membalas mereka dengan prestasi di sekolah. Dan ingat! Sisirlah rambutmu setiap hari, rajinlah keramas agar rambutmu harum, pakailah baju yang rapi dan sopan. Bagaimanapun penampilanlah yang pertama dinilai orang lain atas diri kita. Mengerti?"


"Kakak sudah mirip guruku di kelas. Banyak ceramah!"


Mary pura-pura menjitak kepala anak itu, "Dasar bocah! Dibilangin bukannya mendengarkan malah ngatain!"


Anak itu tertawa dan berlari setelah mengatakan dia harus segera mengembalikan piring kotor di tangannya.


"Hei, siapa namamu?" Mary berteriak.


"Panggil saja Mariana.."


Mary tertegun memandangi anak itu yang sudah berlari menjauh. Bahkan namanya sama denganku, gumamnya.


Tanpa sadar dia tersenyum.


"Kelihatannya kamu cocok jadi guru ya?"


Sebuah suara cowok tiba-tiba mengejutkan Mary. Dia melihat Ragil mendekatinya sambil menenteng kardus yang berisi beberapa gelas air mineral di dalamnya.

__ADS_1


###


__ADS_2