
Mary masuk ke dalam kafe belajar seorang diri, kedua temannya berkata akan menyusul setelah membeli minum dan camilan sebentar. Mary melihat Laura sudah duduk di sana sambil mengetik sesuatu di laptop.
Mary berhenti sejenak. Duh, pasti rasanya canggung jika hanya berduaan dengan orang yang pernah memusuhinya. Kenapa yang lain belum pada datang sih?
Waktu itu dia juga menghadapi situasi yang sama, namun dia berhasil melepaskan diri dengan alasan membeli minum. Masak kali ini dia harus kabur lagi sih?
Mary memutuskan untuk mendekat. Laura mendongak, entah kenapa Mary juga merasakan jika cewek itu juga merasa canggung.
"Mer.." Laura memanggil pelan ketika Mary sudah duduk dan mengeluarkan laptop.
"Iya?"
"Tentang kemaren.."
Cukup lama Mary menunggu Laura melanjutkan kalimatnya.
"Tenang aja! Aku nggak akan kasih tahu siapa-siapa kok," Mary menebak mungkin Laura menyuruhnya untuk tutup mulut tentang adiknya.
"Aku mau minta maaf sama kamu!"
Mary tertegun, dia menatap Laura. Sepertinya cewek ini tulus mengatakannya, pikir Mary. Tapi kenapa?
"Minta maaf buat apa?" Meskipun Mary tahu kesalahan Laura padanya sangat banyak, tapi dia harus membuat semuanya terang benderang kan?
"Melihat adikku dan teman-temannya kemaren, aku baru sadar aku orang yang sangat jahat!"
"Kamu dulu pasti juga sangat menderita karena kalimat jahatku ya?" Laura melanjutkan.
"Kamu baru tahu?" Mary tersenyum kecut.
"Iya, aku baru tahu setelah adikku sendiri mengalami hal yang sama.." Laura berkata serius.
"Aku nggak sadar kalimat yang kita lontarkan ke orang lain, bisa menjadikan hidup orang itu seperti di neraka.." Laura teringat kalimat Mary yang diucapkan saat di toilet kampus waktu itu. Kemudian Laura membayangkan adiknya yang akhirnya mau bercerita setelah susah payah dia desak, adiknya menceritakan bagaimana teman-teman sekolahnya meledek kakinya yang pincang. Laura sangat terpukul saat melihat adiknya menangis sambil memukuli kakinya sendiri, seakan sangat membenci kaki itu.
Laura menatap wajah Mary. Mungkin dulu Mary juga seperti itu...
Mungkin dia juga sangat membenci wajahnya sendiri...
Ya, sekarang dia akhirnya mengerti...
Mengerti...
"Ya, pokoknya aku minta maaf!" Laura membuang muka. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri, dia merasa sulit mengutarakan perasaannya panjang lebar.
"Oke."
"Kamu pasti sangat membenciku?"
Mary mengangguk. Jujur, dia sangat membenci cewek di depannya ini, sama seperti dia masih sangat membenci anak-anak cowok yang melemparinya lumpur sewaktu kecil. Mary ingat semua wajah orang-orang yang mengejeknya, tanpa dia sadari dia terus menyimpan dan menggenggam perbuatan jahat mereka dalam hati. Terus mengingatnya.
Tapi sekarang dia merasa, entah sejak kapan, dia mulai menyadari hatinya sendiri yang akan menderita jika terus menerus mengingat kenangan jahat itu. Hanya dia yang akan terluka dengan menyimpan kenangan pahit yang pernah dia lalui.
Kenapa tidak membiarkannya saja?
Tanpa perasaan benci?
Tanpa merasa apapun...
__ADS_1
Setiap orang memiliki kenangan yang buruk, tapi kita selalu memiliki pilihan untuk menciptakan masa depan...
Apa kita ingin bahagia, apa kita ingin menderita, bukankah kita bisa menciptakannya sendiri?
Dia ingin melepaskan semuanya,
Hal-hal buruk...
Membenci diri sendiri...
Membenci orang lain...
Dia ingin melepaskan semua agar merasa bahagia. Dia tidak ingin merisaukan segala sesuatu lagi.
"Aku sudah memaafkanmu, kok!" Mary tersenyum.
Apa aku mulai sedikit berubah?
Sejak kapan?
"Kalau boleh tahu, kaki adikmu kenapa?"
"Sorry, aku terkesan kepo ya?" Mary merasa tidak enak melihat Laura diam saja.
"Kaki adikku masuk ke jeruji sepeda dan patah, itu sebabnya dia pincang.."
"Ah.." entah kenapa Mary ikut trenyuh, "Tapi dia masih muda, aku yakin tulang-tulangnya bisa cepat pulih kembali.."
"Dokter juga bilang begitu, tapi butuh waktu.."
"Kalian sedang apa?"
Mary menoleh melihat kedatangan Milli, Jeny dan Juan yang muncul bersamaan. Milli meletakkan kresek minuman di atas meja.
"Dia mengganggumu lagi?" Milli bertanya pada Mary.
Mary menggeleng sambil tersenyum.
"Jangan gitu!" Mary menegur kedua temannya yang selalu mencurigai Laura.
Tidak lama kemudian, Sean tiba dengan wajah datarnya seperti biasa. Tanpa basa-basi dia langsung memulai diskusi kelompok dengan menanyakan apakah tugas yang dia bagi waktu itu sudah mereka kerjakan, karena hari presentasi adalah besok lusa.
"Kalian kirimkan ke emailku sekarang, aku akan memeriksanya dan juga menyusun laporannya sekarang juga!" Sean memberi perintah yang langsung segera diikuti mereka semua.
"Kamu membuat paparan isi yang cukup baik!" Sean mengomentari pekerjaan Jeny ketika memeriksa emailnya. Jeny senyam-senyum dipuji seperti itu.
"Kalian lumayan juga.." Sean masih bergumam sendiri. Tidak disangka, anggota kelompoknya bekerja cukup baik. Dengan begini, mungkin nilai B tidak begitu sulit mereka dapatkan kan? Cukuplah, untuk memperbaiki nilainya yang jeblok tahun lalu. Syukur-syukur mendapat nilai A.
Jujur, Sean cukup puas.
"Tapi, ada juga yang bikin bab pendahuluan seburuk ini!" Sean melirik Juan yang sedang asyik menjahili Mary dengan menyuruh cewek itu membuka botol soda yang baru dia kocok diam-diam.
"Aku?" Juan menoleh ke arah Sean ketika tawanya mereda melihat Mary yang terkejut saat soda yang dia buka muncrat sedikit menciprati mukanya.
"Padahal aku memberi kamu tugas yang gampang, tapi kamu tidak mampu menyelesaikan dengan baik!" Sean berkata tajam, sedikit melirik Mary ketika cewek itu meninju lengan Juan dengan pelan.
"Entahlah! Mungkin aku lebih jago mengerjakan tugas sulit dibanding yang gampang.." Juan menjawab cuek, sedikit berjenaka.
__ADS_1
"Kamu!" Sean mengerdikkan dagunya pada Mary, "Jangan main-main! Besok lusa kamu yang akan membuka presentasi kita!"
"Aku?" Mary menunjuk dirinya sendiri, terkejut. Kenapa dia yang harus membuka presentasi sih?
Apa dia mampu?
"Kenapa aku? Jangan aku yang membuka presentasi, aku pasti sangat gugup.." Mary tidak bisa membayangkan.
"Dia benar!" Laura tiba-tiba menyambung, "Cewek kikuk gitu, bisa-bisa dia menghancurkan tugas kelompok kita! Aku nggak mau dapet nilai C!" Laura teringat bagaimana kikuknya Mary saat disuruh maju ke depan kelas membaca hasil laporan kerja lab di SMA dulu. Kikuk, gugup, gemetaran, membuat anak-anak sekelas ingin tertawa saja.
"Kamu menghina dia?!" Milli nyolot.
"Aku bilang terus terang kok!"
"Kamu jangan meremehkan Mary. Mary bisa kok, iya kan?"
Aku nggak yakin, Mary menggigit bibir.
"Pokoknya kamu yang membuka presentasi kita. Jadi berlatihlah dengan baik, jangan main-main saat diskusi kelompok!" Sean menatap tajam.
Tiba-tiba Juan mengepalkan tinjunya ke depan Mary, memberinya semangat. "Kamu bisa kok. Yang penting jangan gugup!"
Sean kembali menatap laptopnya, "Oh ya, coba kamu revisi kembali bab pendahuluan yang dibuat orang ini. Kacau!"
Orang ini?!
"Emang selama ini aku main-main saat kelompok?" Mary berbisik pada Milli yang duduk di sebelah kanannya.
"Entahlah! Terlalu mengada-ada kan?"
Mary setuju.
"Mungkin dia nggak suka melihat kita sering bercanda.."
Mary melotot karena Juan yang duduk di sebelah kirinya tiba-tiba ikutan berbisik di dekatnya. Cowok ini!
"Kenapa? Kenapa dia nggak suka?" Milli masih berbisik, penasaran dengan maksud kalimat Juan barusan.
Juan mengedikkan bahu, dia sendiri tidak tahu. Dia tadi kan hanya asal bicara, meskipun...mungkin saja dia benar kan.
"Menurutmu gimana? Apa karena dia suka Mary? Dia tidak suka melihat kamu menggoda Mary? Atau gimana?" Milli terus nyerocos.
Mary melotot mendengar kalimat Milli barusan, temannya yang satu ini suka seenaknya saja jika bicara. Sementara itu terdengar suara decakan dari mulut Sean yang kesal melihat tingkah ketiga orang itu yang menyangka dia tidak bisa mendengar bisik-bisik mereka.
Bahkan semut pun bisa dengar!
"Menurutmu apa mungkin aku suka dia?!" Sean bertanya tajam pada Milli yang hanya menunduk seperti anak kecil yang kepergok berbuat salah.
"Sinting!" Sean berdecak lagi.
Mary menunduk. Benar, bahkan dalam mimpi pun dia juga tidak mungkin membayangkan Sean menyukainya kok...
Memangnya siapa aku?
Tapi, tetap saja, kenapa cowok itu harus mengatakannya begitu sih?
###
__ADS_1