Lovable You

Lovable You
39. Cemburu


__ADS_3

Juan melempar tas ransel sekenanya ke atas sofa apartemennya. Tetapi saat tasnya terjatuh ke lantai, dia memungutnya kembali dan menaruhnya baik-baik di atas meja kaca minimalis berbentuk persegi. Gila saja, ada mini laptop di dalam tas ini. Juan melangkah ke dapur, mengambil air dingin di dalam lemari es dan sekali meneguknya hingga tinggal setengah botol. Dia melirik adiknya yang sedang mendidihkan air di atas kompor. Tumben.


"Aku mau bikin mi rebus. Bikinin sekalian nggak?" tanya Kara.


Juan menjawab tidak. Lama-lama rambutnya keriting karena sering makan mie, kata Juan berseloroh.


"Awas ya kalau entar minta punyaku!" Kara memberi ultimatum dengan muka galak.


Juan sedang tidak mood untuk tertawa. Dia membuka bajunya yang berkancing hingga hanya menyisakan kaus t-shirt warna putih yang menempel di badannya. Kara berdecak sambil menggelengkan kepala melihat kakaknya yang hobi meletakkan baju kotor sesuka hati. Kali ini nasib kemeja itu bertengger di atas kursi makan di dekat dapur.


Kara melihat sekelilingnya. Apartemen ini benar-benar khas anak muda yang tinggal sendirian tanpa orangtua. Ampun berantakannya.


Juan merebahkan badannya ke atas sofa. Dia teringat kembali saat Mary terpaksa duduk di samping Sean sewaktu kelas Prof. Harry karena cewek itu baru datang saat kelas sudah penuh.


Dia sempat melihat cewek itu berinteraksi kecil dengan Sean. Dan entah kenapa hatinya cukup mendidih melihatnya.


Apa aku beneran sesuka itu sampai cemburu kayak gini?


Kara muncul sambil membawa semangkok mie rebus yang baru saja dibuatnya sendiri.


"Mukamu kenapa bete begitu?" tanya Kara sambil menjatuhkan pantatnya hati-hati di sofa.


"Nggak ah!" Juan mengelak. Padahal ya, dia lagi bete.


"Mukamu kayak cowok habis ditolak.."


"Yang bener?"


Kara mengangguk sambil meniup mie-nya yang masih panas.


"Jadi gimana, kamu udah kasih liptint ke cewek itu?"


Juan mengangguk.


"Terus, dia bilang apa?"


"Dia suka."


Kara menyombongkan diri bahwa pilihannya tidak pernah salah. Cewek itu pasti suka.


"Jadi, kamu udah nembak dia?"


Juan menoleh. Adiknya itu kepo banget!

__ADS_1


"Dia nolak kamu ya?"


Melihat kakaknya yang diam, Kara tahu tebakannya benar.


"Daebak!"


Juan heran kenapa adiknya suka menggunakan kosa kata bahasa yang tidak dia mengerti. Kata adiknya sih, itu bahasa Korea.


"Ommo... Jadi kakakku yang cakep ini barusan ditolak cewek?" Kara merasa ini rekor baru untuk kakaknya.


"Nggak kok.." Yah, setidaknya belum.


"Dia cuma...belum menjawab."


Kara tertawa. Dia mengejek kakaknya bahwa cewek biasanya menggunakan modus seperti itu untuk menolak cowok secara halus. Dia tidak akan menjawab sampai cowok itu sendiri yang sadar dan menyerah pelan-pelan, mundur teratur.


"Masak?" Juan benar-benar baru mendengar teori itu.


"Sejak kapan kamu senaif ini sih?" Kara merasa heran, "Kalau ditolak, ya udah. Banyak cewek lain kok!"


"Emang rasa suka bisa secepat itu berubah?"


Kara mendesah, "Ish, seperti apa sih tuh cewek?! Beraninya bikin kakakku galau begini!"


"Dia cuma cewek yang mudah bingung dan nggak yakin sama dirinya sendiri.." Juan menerawang.


"Dia cewek yang selalu butuh diyakinkan.."


Juan menoleh adiknya yang menatapnya dengan seksama.


"Kamu nggak bakal ngerti!" Juan menoyor kepala Kara. Ngapain juga dia bicara panjang lebar begini pada adiknya.


Kara berteriak protes ketika Juan merebut mangkok mie dari tangannya dan memakannya dengan lahap. Dia kan sudah capek-capek membuatnya!


"Tadi bilang nggak mau!"


***


Mary memanaskan susu full cream, butter dan cheese cream di atas api kecil. Dia mengaduknya pelan sampai semua bahan melted kemudian mematikan kompor. Selagi masih hangat, dia mencampurkan tepung terigu dan tepung maizena kemudian mengocoknya pelan menggunakan whisker.


Setelah adonan berubah smooth, Mary menuangkan 5 butir kuning telur dan mengocoknya lagi.


Hari ini, dia akan membuat Japanese cheese chake atau biasanya disebut juga dengan cotton cheese cake karena bentuknya yang sangat smooth dan menul-menul seperti pillow.

__ADS_1


Seperti biasa, Ibu mengomel karena bahan-bahan jualannya yang selalu dihabiskan Mary untuk bereksperimen setiap hari.


Mary sedikit cemberut. Dia mengambil mixer kado ulang tahun dari ibunya kemaren untuk mengocok putih telur sampai mengembang dan menjadi whipped cream. Dia tidak habis pikir kenapa ibunya tidak mau rugi sama sekali.


"Kamu bilang ingin jadi pebisnis kue kan? Nah, pebisnis kue butuh mixer sebagai senjatanya. Jadi ini kado dari ibu buat kamu!" kata ibunya waktu itu. Mary mencibir, karena dia tahu mixer lama ibunya rusak beberapa hari yang lalu. Bilang saja ibu sendiri yang butuh, huh!


"Siapa nama teman cowokmu?" tiba-tiba Ibu bertanya, "Itu lho, yang ikut ngasih kejutan ulang tahunmu waktu itu."


"Juan?"


"Oh, namanya Juan?"


"Kenapa emangnya?"


"Tidak apa-apa, Ibu hanya suka saja sama dia!" Ibu teringat saat Juan menyingkapkan tirai yang terbuat dari untaian kerang yang terletak antara ruang utama dan tengah saat ibu muncul dengan kedua tangan membawa kue tart. Memang hal kecil dan biasa, tapi entah kenapa meninggalkan kesan di hati Ibu pada cowok itu.


"Gak ada perempuan yang gak suka dia.." Mary berdecak.


"Kamu juga?" Ibu penasaran.


Mary tidak bisa menjawab. Dia teringat kembali saat Juan nembak dia malam itu. Tangan cowok itu begitu hangat, tatapannya juga...


"Atau kamu suka cowok yang datang sendiri kemaren?"


Mary melotot pada ibunya. Ibu suka seenaknya deh.


"Dia sudah punya pacar.." Mary menjawab pelan, setengah melamun.


Kemudian tangannya sibuk mencampur adonan basic dengan whiped cream yang baru saja dia buat. Dia mengaduknya pelan-pelan kemudian menuangkannya ke dalam loyang.


Menurut resep yang dilihatnya dari salah satu web memasak semalam, kue ini harus dipanggang selama 20 menit.


Setelah menyalakan timer oven, Mary memilih rebahan di depan TV. Dia beberapa kali mengganti channel TV dengan kesal. Tidak ada satu pun acara yang menarik, semuanya hanya acara gossip dengan presenter lebih dari dua, benar-benar mirip acara keroyokan. Sudah begitu yang dibahas artis itu-itu saja.


Kalau tidak acara gossip, ya sinetron yang ceritanya itu-itu saja tentang cewek miskin yang ternyata adalah anak konglomerat tajir.


Mary mengeluh panjang sambil membanting remote TV. Dia menyalakan smartphone dan membuka media sosial Instagram.


Dia mencari nama Sean di dalam daftar followernya. Ternyata cowok itu memang memfollow akunnya. Mary tersenyum dan memfollow balik.


Dia meng-scroll postingan cowok itu. Tidak banyak foto yang dia posting, hanya ada beberapa foto Misha yang tertawa imut, beberapa momen keluarga, teman-temannya dan foto kucing, dan selebihnya foto background alam yang menarik. Nyaris tidak ada fotonya sendiri kecuali satu foto bersama Celine dimana mereka berdua mengenakan seragam abu-abu.


"Mereka sudah berhubungan sejak lama.." Mary membatin.

__ADS_1


###


__ADS_2