Lovable You

Lovable You
9. Jantungku Berdegup Kencang


__ADS_3

Mary menutup bukunya kemudian membantu Misha merapikan peralatan tulis gadis kecil itu ke dalam tas berwarna biru muda yang sangat cantik dan kelihatan mahal. Mary berpikir, siapapun yang melihat pasti akan tahu jika anak ini anak orang kaya hanya dengan melihat outfit-nya saja. Bahkan baju tidurnya saja bermerk, pikir Mary. Dia pernah melihat harga piyama yang dikenakan anak ini saat sebuah iklan sebuah brand ternama melintas di beranda media sosialnya. Dan tentu saja harganya fantastis!


Pasti menyenangkan jadi anak orang kaya, pikirnya. Anak ini di sekolahnya pasti punya banyak teman dan disukai para guru. Dia pasti memiliki kehidupan menyenangkan yang mudah dia dapatkan hanya karena dia dilahirkan dari keluarga kaya, ironis sekali dengan dirinya. Rasanya dunia memang nggak adil ya...


"Aku ngantuk.." Misha menguap membuat Mary tersadar dari lamunannya.


"Setelah ini cepat tidur ya.." Mary mengusap rambut Misha yang sangat licin dan harum, membuatnya sedikit iri karena menyadari rambutnya yang biasa saja cenderung lepek. Mary tertawa dalam hati, memikirkan ironi yang dia pikirkan.


"Tapi mama belum pulang.." Misha menggeliat lalu menaruh kepalanya di atas meja. Kelihatan benar dia sudah mengantuk padahal rasanya petang baru saja menjelang. Anak kecil suka tidur lebih awal ya..


"Oh. Lalu kakakmu?" Mary teringat dia tidak melihat batang hidung Sean sejak tadi, membuatnya lega dan bersyukur. Setelah kejadian beberapa waktu lalu, rasanya pasti canggung jika dia bertemu cowok itu.


"Kakak juga belum pulang," Misha menegakkan badannya dengan kesal, "Dia selalu keluyuran setiap hari dan pulang saat malam. Aku membencinya."


Mary tersenyum. "Kenapa? Dia kelihatan sayang kok pada Misha?"


"Memang," Misha mengangguk-anggukkan kepalanya dengan imut, "Kakak selalu memberiku hadiah. Sebentar!" Misha berlari keluar dari ruang belajar dan lima menit kemudian dia muncul lagi dengan menyeret keranjang besar berisi banyak benda.


"Ini semua pemberian kakakku.." Misha menumpahkan isi keranjang itu ke lantai. Mary melihat berbagai benda imut khas anak kecil berserakan disana, banyak boneka dan mainan.


"Tapi aku paling suka ini.." Misha menunjuk buku harian kecil berwarna merah muda bergambar kartun Elsa sebagai sampulnya. "Dia membelikanku buku diary. Katanya aku harus menuliskan kegiatanku setiap hari disini."


"Boleh aku baca diary mu?"


"Jangan!" Misha dengan cepat menyembunyikan buku itu di balik punggungnya, membuat Mary rasanya ingin mencubit pipi anak itu saking gemasnya melihat tingkahnya yang lucu.


"Rahasia.." kali ini Mary tidak bisa menahan tawanya mendengar bisikan Misha. Lalu dia membantu anak itu memasukkan kembali semua barang-barangnya ke dalam keranjang.


Kehidupan anak ini benar-benar sempurna, khas kehidupan seorang princes di dalam sebuah dongeng maupun drama. Dia cantik, kaya, menggemaskan, dan juga punya kakak yang baik. Mary membandingkan dengan dirinya yang seorang anak broken home tanpa saudara, betul-betul bertolak belakang. Seandainya saja dia punya kakak, dia pasti akan dilindungi dan disayangi kan?


Misha menaruh kembali diary nya ke dalam keranjang membuat Mary mengingat sewaktu kecil dia juga suka menulis diary. Dia akan menuliskan apa yang dia alami dan rasakan di hari itu ke dalam diary nya. Dia ingat dia pernah menuliskan bagaimana dia sering dilempari tanah berlumpur oleh sekelompok anak laki-laki dan perempuan seusai pulang sekolah. Mary juga masih ingat ketika ibunya menangis dan marah ketika tidak sengaja membaca diary nya, lalu ibunya mendatangi sekolahnya dan marah besar di depan wali kelas dan kepala sekolah. Mary tidak begitu ingat persis kejadian waktu itu, yang dia tahu dia akhirnya pindah sekolah sesudahnya. Meskipun, hal yang sama juga terjadi di sekolahnya yang baru. Dimanapun dia akan tetap menjadi anak buangan yang dikucilkan, mungkin saat itulah Mary benar-benar menyadari perannya sendiri di dalam hidupnya ini.


"Ayo, aku antar ke pengasuhmu. Kakak harus pulang, keburu malam.." Mary menggandeng tangan kecil Misha dan membawanya menuruni tangga panjang dengan sisi pembatas berwarna gold elegan. Mereka akhirnya menemukan si embak pengasuh di ruangan tengah dekat dapur, si embak sedang berjongkok memberi makan seekor kucing berwarna putih yang mungil.


"Oh.." Mary ingat kucing itu yang pernah dia selamatkan di malam dimana dia pertama kali bertemu Sean. Waktu itu Sean memang merebut kucing itu dari tangannya tapi dia tidak pernah menyangka jika cowok judes itu akan membawanya ke rumah dan merawatnya dengan baik disini. Buktinya, kucing ini terlihat lebih gemuk dan cantik dibanding sebelumnya.


Mary tersenyum. Bahkan kucing pun mempunyai nasib yang beruntung, pikirnya. Dia sangat iri.


Mary berpamitan dan di depan pintu utama dia berpapasan dengan Sean yang baru saja pulang, padahal Mary benar-benar tidak ingin bertemu dengan cowok itu.


Sean bisa melihat dengan jelas wajah canggung Mary. "Mau pulang?" Entah kenapa Sean memutuskan untuk menyapa lebih dulu.


"Iya.." Mary mengangguk dan berlalu dengan canggung. Dia memegangi tas selempangnya yang berwarna merah muda itu dengan erat.Rasanya aneh.


"Di luar gerimis.." suara Sean membuat Mary berbalik menghadap cowok itu lagi. "Mau aku antar?"


"Tidak usah!" jawab Mary cepat, "Aku akan naik busway saja."


Kenapa cowok ini ingin mengantarnya pulang? Dia sedang basa basi atau memang ingin berbuat baik padanya? Kenapa?

__ADS_1


Sean terdiam memandangi Mary untuk beberapa lama. Dia melihat cewek itu menggigit bibir dengan jemari memainkan ujung sweeternya yang berwarna moka . Sikap cewek itu membuat perasaannya tidak nyaman, entah kenapa.


"Biar aku antar saja!" Sean memutuskan. Dia menarik tali tas Mary membuat tubuh cewek itu ikut tertarik mengikuti langkah kaki Sean yang membawanya ke mobil Audy berwarna florett silver yang terparkir diluar.


Mary membuka pintu mobil mewah itu dengan ragu-ragu tapi seketika melihat tatapan mata Sean yang begitu menghujam membuatnya segera bergegas duduk di dalam.


Mereka berdua berdiam diri dalam kecanggungan yang sunyi saat di jalan, sementara rintik gerimis terus turun di tengah-tengah kota yang tetap beraktifitas di malam hari.


Sean fokus menyetir sementara Mary sibuk dengan pikirannya sendiri yang tidak menentu.


Kruuk. Kruuk. Kruuk.


Mary memegangi perutnya yang barusan berbunyi. Dia ingat dia belum makan sejak tadi pagi dan hanya mengisi perutnya dengan sepotong roti saat siang. Dia memang memiliki kebiasaan buruk tidak nafsu makan jika sedang punya banyak pikiran, mungkin itulah sebabnya tubuhnya selalu kecil begini. Tidak jarang, dia juga sering mengalami maag karenanya.


Sean hanya melirik Mary lewat ujung matanya sekilas tanpa mengatakan apapun. Tapi sepuluh menit kemudian dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah restaurant steakhouse kelas menengah atas.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Mary.


"Untuk makan lah.."


"Kenapa? Aku nggak lapar kok! Tadi perutku bunyi karena.."


"Kamu pikir aku kesini karena kamu?"


Mary tercekat tanpa bisa menjawab.


"Kamu lihat kan tadi aku baru pulang ke rumah dan belum sempat makan," Sean bersiap membuka pintu mobil, "Ayo!"


"Jadi aku makan di dalam sementara kamu bengong disini?" Sean menatap Mary dengan tajam, "Kamu membuatku tampak sangat jahat!"


Mary menipiskan bibirnya, ragu-ragu ikut keluar dari mobil dan mengikuti langkah Sean dari belakang memasuki steakhouse yang cukup terkenal itu.


Mereka duduk di sebuah meja bundar, saling berhadapan. Seorang pelayan wanita menyerahkan daftar menu makanan dengan senyum yang super ramah. Sean memesan dua piring wagyu dan dua lime tea tanpa membaca menu yang diulurkan pelayan itu ke hadapannya.


Dia memang cowok kurang ajar, desis Mary dalam hati melihat sikap dingin Sean pada pelayan yang barusan berlalu meninggalkan mereka. Dia juga seenaknya, dia bahkan tidak menanyaiku ingin makan apa. Dia selalu berbuat seenaknya sendiri!


"Kenapa melihatku begitu?"


Mary gelagapan buru-buru mengalihkan pandangnya mencari objek lain di sekitarnya, "Nggak apa-apa.." jawabnya gugup.


"Kak Sean pasti kesulitan gara-gara aku ya?" Mary memberanikan diri bertanya.


"Tentang apa?"


"Gara-gara kejadian waktu itu, banyak rumor yang beredar di kalangan mahasiswi.." Mary mengingat momen dimana Sean menekan kedua bahunya menyuruhnya diam kemudian cowok itu berjongkok mengikat tali sepatunya yang lepas. Entah kenapa Mary merasa jantungnya berdegup kencang setiap mengingat kejadian itu.


"Ohh.." Sean bergumam panjang, sementara kedua matanya tidak mau berpaling dari layar hp yang sejak tadi dia pegang. Dia sedang membalas pesan dari Celine yang menanyakan apa yang sedang dilakukannya sekarang.


Makan..|

__ADS_1


Sean menekan tombol send. Dia mendongak menatap Mary dan berkata, "Aku tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting.."


Mary menunduk, mengamati taplak meja berwarna putih bersih di depannya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa perasaannya seperti ini? Ada nyeri yang tiba-tiba muncul di hatinya, membuatnya ingin menekan dadanya sekuat mungkin. Kenapa jawaban Sean membuat matanya meredup?


Dan kenapa Sean harus seperti itu? Menyebalkan sekaligus menyakitkan.


Mary merasa waktu berputar sangat lambat sampai waitress yang sama muncul membawa pesanan mereka. Jujur, ini kali pertama Mary memakan wagyu. Tentu saja, orang sepertinya mana mungkin menikmati olahan daging steak yang terkenal sangat nikmat ini disebabkan harganya yang super mahal. Sean benar-benar cowok berduit, pikirnya dalam hati.


Mary melirik tangan Sean yang cekatan mengiris steak di piringnya. Mary terbiasa menggunakan pisau untuk mengiris bawang ketika membantu ibunya memasak, tapi untuk mengiris steak? Tidak semudah yang dibayangkan.


"Ck!" Sean berdecak kesal melihat gerakan tangan Mary yang sangat kikuk mengiris steak milik cewek itu. Sean menggeser piring steaknya yang sudah ia potong-potong itu ke hadapan Mary. Mary menerimanya dengan bingung, tapi sejurus kemudian dia memahami maksud cowok itu ketika cowok itu mengambil piring steak miliknya yang belum dia potong.


Mary tersenyum tipis, diam-diam. Dia mengambil potongan steak di piringnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Enak, pikirnya.


"Jorok!" desis Sean melihat bibir bawah Mary yang sedikit terkena sauce steak yang dimakan cewek itu.


"Apa?" Mary sedikit terkejut, tidak mengerti.


"Cara makanmu persis Misha. Belepotan." Sean memalingkan wajahnya ketika Mary buru-buru mengusap bibirnya menggunakan tisu. Entah kenapa, Sean merasa sangat terganggu dengan bibir berwarna merah muda dengan sedikit paduan warna ombre itu. Perasaan ini pasti karena dia sangat membenci hal jorok kan? Ya pasti karena itu.


Mereka melanjutkan makan dengan diam sampai keduanya selesai menghabiskan makanan mereka. Jam Alexandre Christie di tangan Sean sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit ketika mereka berjalan keluar. Ternyata rintik gerimis sudah berhenti sejak tadi.


"Makasih ya, tadi, untuk steaknya.." kata Mary pelan ketika mereka mulai berjalan ke mobil.


"Yaa, sebenarnya itu tadi nggak gratis.." Sean menoleh, "Tapi ku lihat kamu bahkan tidak mengeluarkan dompetmu ketika di kasir tadi. Jadi, ku pikir kamu menyuruhku untuk membayar makananmu juga.."


Mary melongo. Tidak bisa dipercaya!


"Kan kamu yang mengajakku makan... Jadi, ku pikir, kamu..."


"Aku tidak bilang akan mentraktirmu.."


Mary menggigit bibirnya dengan kesal. Dia mengeluarkan dompet dari dalam tasnya dan melihat selembar uang hijau bergambar pahlawan yang seakan tersenyum manis ke arahnya. Uangnya hanya tinggal ini?


Mary buru-buru memasukkan dompetnya lagi ke dalam tas saat mendengar mulut Sean berdecak berkali-kali. Dia malu sekali karena cowok itu mengamatinya sejak tadi.


"Akan ku bayar nanti kok.." katanya.


"Baiklah.." Sean membuka pintu mobil, tapi bukannya bergegas masuk dia malah kembali menatap Mary yang masih berdiri, "Jangan lupa bayar hutangmu, beserta bunganya.."


Mary terkejut melihat Sean tersenyum. Tadi dia nggak salah lihat kan? Benar kan?


Mungkin ini kali pertamanya melihat cowok itu tersenyum. Manis sekali. Mary bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di tengah rintik gerimis yang mulai turun lagi membawa aroma dingin yang menyegarkan menyapu debu jalanan.


Tapi kalimat itu, "Jangan lupa bayar hutangmu, beserta bunganya.." Mary tahu dia pernah mendengarnya entah dimana. Dia yakin pernah mendengar kalimat bernada mirip seperti itu dari seseorang, yang sepertinya sudah lama sekali. Mungkin terlalu lama, karena dia bahkan sudah kesulitan untuk membongkar ingatannya.


Atau mungkin hanya perasaannya saja?


Yang pasti, yang dia tahu, malam ini malam yang sangat indah. Mary sendiri tidak yakin apa yang membuatnya bisa menilai malam ini sangat indah, padahal mendung tipis di langit sejak tadi menyembunyikan bintang gemintang sang pesona malam. Padahal gerimis membuat udara malam sedikit menggigil. Jadi apa yang indah di malam ini?

__ADS_1


Entahlah. Dia hanya merasa, dia tidak bisa berhenti tersenyum sekarang...


###


__ADS_2