Lovable You

Lovable You
16. Aku Ingat Kamu


__ADS_3

Mary masuk ke kediaman keluarga Djaya tepat saat Sean tengah bertelanjang dada dengan memakai celana pendek selutut. Dia menyampirkan handuk puntih ke pundaknya, kelihatannya cowok itu mau berenang.


Mary menelan ludah susah payah. Pemandangan yang cukup...menggairahkan di sore yang cukup panas ini!


"Kak.." Mary memanggil takut-takut.


Sean menoleh dan menghentikan langkahnya. Dia tidak bersuara, tapi Mary seakan tahu jika mata cowok itu bertanya 'ada apa?'.


"Begini, kalau bisa aku mau minta nomor Kak Sean biar lebih mudah menghubungi buat tugas kelompok." Tangan Mary yang memilin-milin ujung sweaternya tak luput dari mata elang Sean.


"Oke!"


Mary tersenyum lebar.


"Tapi nanti ya. Aku nggak hapal nomerku. Kamu pulang ntar kan?"


"Iya. Aku baru nyampe kok.."


"Aku mau renang dulu.."


Setelah Sean berlalu dari depan Mary, Sean merutuki sikapnya sendiri yang mendadak kalem seperti tadi. Kenapa aku gini?


"Kak Mary.." panggil Misha ketika Mary membuka pintu ruang belajar anak itu.


"Hai.."


"Cepat sekali sih sudah datang!" gadis kecil itu menggerutu, "Aku sedang tidak ingin belajar, kak.."


"Kakak akan ngasih tahu mamahmu lho!"


"Jangan. Sebentar. Sebentar doang kak!" Misha membolak-balikkan buku besar di depannya. Sepertinya album photo...


"Aku lagi nempelin foto-foto kemarin waktu ke bonbin.." Misha bercerita.


"Oh ya? Coba kakak lihat!" Mary mengambil album photo dari tangan mungil Misha.


"Cantiknya.." puji Mary melihat foto Misha yang memakai topi lebar sedang berdiri di samping kandang singa.


"Kamu tidak takut singa?"


"Takut. Tapi kan dia dikurung.."


Mary tersenyum.


"Sama siapa aja kemaren?" tanya Mary karena melihat foto-foto Misha hanya bersama mamanya dan si embak pengasuh.


"Sama Mama dan mbak Lala.."


"Papa nggak ikut?"


"Nggak. Kata Mama, Papa sibuk!" Misha kelihatan cemberut, "Aku jarang pergi sama Papa."


Mary bisa mendengar nada kecewa dari suara gadis mungil itu. Mary berpikir, anak ini tetap saja merindukan kebersamaan dengan keluarganya bahkan ketika segala hal bisa dia dapatkan dengan mudah. Mary belajar dari perceraian kedua orang tuanya, bahwa keluarga memang segalanya yang tidak dapat ditukar dengan apa pun.


"Kak Sean?"


"Kak Sean kan kuliah."


"Oohh, iya.." kata Mary. Dia membalik halaman album itu. Dia melihat banyak foto Misha berdua bersama Sean. Mereka kelihatan saling menyayangi.

__ADS_1


"Ini aku dan kak Celine.." Misha memberitahu ketika jemari Mary menunjuk foto dimana Misha sedang bersama cewek yang cantik sekali seperti bidadari.


"Ini waktu aku juara paduan suara di kelas satu!"


"Hebat!" puji Mary membuat Misha senang.


"Ini waktu aku masih bayi!"


Mary melihat potret bayi telungkup tanpa mengenakan sehelai benang pun. Sejak bayi saja sudah kelihatan cantik, gumam Mary.


Mary membalik halaman lagi. Matanya tertuju pada foto seorang anak laki-laki berpostur tinggi tidak begitu besar sedang mengenakan pakaian SD. Sepertinya foto itu diambil saat perpisahan sekolah, karena anak itu berpose dengan menunjukkan piagam kelulusannya.


"Ini siapa?" tanya Mary penasaran.


"Itu Kak Sean," Misha menjawab, "Jelek ya dia saat kecil!"


Misha terkikik. Tapi bukan itu yang mengganggu pikiran Mary. Dia melihat foto itu sekali lagi, kali ini lebih dekat. Dia tahu, dia pernah melihat anak ini sebelumnya. Ya, dia yakin. Tapi kapan, dimana, entahlah.


Mary membolak-balik halaman album itu lagi, berusaha mencari sesuatu yang mungkin saja bisa memberinya jawaban. Tapi seakan mencari jarum yang jatuh entah dimana, dia sendiri merasa kebingungan.


Hingga pada satu foto yang memperlihatkan sebuah spanduk yang terbentang di belakang pose Sean semasa kecil, Mary segera tahu jawabannya kenapa dia merasa tidak asing dengan Sean. Nama SD di dalam spanduk itu adalah SD yang sama dimana ia bersekolah dulu sebelum akhirnya pindah.


SD yang sama. Ya, kini semua jelas dan terang benderang baginya. Sekarang ia mendapat jawaban kenapa setiap melihat Sean ia selalu merasakan emosi dan perasaan yang aneh.


Mary mengingat masa lalu.


"Hari ini aku sedih. Jaka dan teman-temannya jahat sekali padaku, mereka mengambil penghapusku. Aku terpaksa membeli lagi dan Ibu marah karena aku menghilangkan pensil dan penghapusku setiap hari.." segerombol anak laki-laki membaca diary milik Mary di perjalanan pulang. Mereka tertawa-tawa.


"Kembalikan.." Mary kecil terisak, tapi dia sudah lelah berusaha merebut barang miliknya dari tangan anak-anak badung itu. Dia bahkan sempat didorong oleh seorang anak bertubuh gempal. Dadanya terasa sakit.


"Hari ini aku pulang sambil menangis. Mereka membuang tasku ke parit. Mereka seperti monster, aku benci mereka.." salah satu anak itu membacakan diarynya dengan keras.


"Begini baru monster!" seorang anak mengambil lumpur di jalanan berlubang bekas hujan semalam dan melemparnya ke seragam Mary.


Mary tambah terisak.


"Nanti dia ngadu ke orang tuanya!" seorang anak lainnya mengingatkan.


"Dia kan nggak punya ayah! Aku nggak takut sama ibunya!" jawab si pelempar lumpur.


Mary merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk mendengar kalimat anak itu tadi. Ayah. Ayah. Dia benci ayahnya! Detik ini semakin bertambah kebenciannya.


"Kembalikan bukuku!"


"Nih. Nih. Buku jelek. Ambil sendiri!" mereka melempar buku diary berwarna merah jambu itu ke dalam parit. Terdengar gelak tawa yang menyakitkan di telinga Mary.


"Kalian sedang apa?" seorang anak laki-laki tiba-tiba datang menghampiri. Jika tidak salah ingat, Mary pernah melihat anak itu berada di kelas 6.


Anak itu melihat baju Mary yang kotor serta kedua pipinya yang basah oleh tangisan.


"Kalian apakan dia?" anak kelas 6 itu bertanya lagi.


"Tidak ngapa-ngapain kok!"


"Kenapa dia nangis dan baju seragamnya kotor?"


"Dia jatuh sendiri! Iya kan?!"


"Begitu ya?" anak itu mendekat dan menarik salah satu dari mereka, mendorongnya ke parit.

__ADS_1


Anak itu, si pelempar lumpur ke Mary tadi, bermandikan air comberan. Teman-temannya hanya melihat, antara menahan geli dan takut, mereka tidak mungkin melawan anak kelas 6 kan. Dari segi badan saja mereka sudah kalah jauh.


"Jadi gimana rasanya seragam kita kotor?" anak itu bertanya.


"Jangan seperti ini lagi, atau aku akan melaporkan kalian ke kepala sekolah. Kalian bisa dikeluarkan nanti!" anak itu melanjutkan, "Jangan ganggu anak ini lagi!"


Mary melihat gerombolan anak badung itu beringsut pergi. Sementara anak kelas 6 yang sudah menolongnya itu menghampirinya dan menanyakan keadaannya.


"Kenapa kamu cuma nangis?" tanya anak itu, "Seharusnya kamu melawan mereka!"


Mari berkata dalam hati bagaimana mungkin dia melawan anak laki-laki begitu banyak.


"Setidaknya kamu harus memberitahu orang tuamu atau wali kelasmu. Mereka pasti akan melakukan sesuatu ke anak-anak nakal tadi!"


Mary masih terisak. "Buku diaryku.." gumamnya.


"Itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Lebih baik beli yang baru!" anak itu melanjutkan, "Sudah, jangan nangis ya.."


Keesokan harinya Mary sangat terkejut ketika anak kelas 6 itu mencarinya di kelas membuat Mary jadi bahan perbincangan teman-teman perempuan di kelasnya.


Anak itu memberinya sebuah buku diary baru berwarna biru tua. Mary menerimanya dengan bingung.


"Aku tidak sengaja melihat ini ketika pergi ke toko buku semalam. Kamu belum beli yang baru kan?"


Mary menggeleng dan mengucapkan terima kasih.


"Hutangmu banyak sekali ya padaku," anak itu terkekeh, "Ingat! Kamu harus membayarnya lho, jangan lupa bunganya juga!"


Mary tidak pernah bertemu dengan anak kelas 6 itu lagi sesudah hari itu karena Mary harus pindah sekolah. Mary masih terus mengingat anak laki-laki super baik itu sampai akhirnya sang waktu membuat ingatannya pudar juga karena tergeser oleh orang-orang baru, kejadian-kejadian baru, pengalaman-pengalaman baru.


Tapi dia ingat sekarang. Ingat dengan jelas.


***


Sean masuk ke ruang belajar Misha masih dengan bertelanjang dada meskipun celana pendeknya sudah dia ganti dengan yang kering. Misha menjerit.


"Kakak tidak sopan. Pakai baju dulu sana!" gerutu Misha, "Lihat! Kak Mary sampai malu melihatmu.."


Mary merasa pipinya menghangat. Dia menelan ludah. Astaga, kenapa dada cowok ini sangat putih dan bidang. Apalagi rambut basah yang sesekali diusap memakai handuk itu membuat Sean nampak makin cool di mata Mary.


Tapi tetap saja, kenapa cowok itu harus pake celana pendek sih? Membuat Mary malu ingin menatapnya berlama-lama.


"Emang kamu malu?" Sean melontarkan petanyaan bodoh ke Mary membuat pipi Mary semakin memerah semerah kepiting rebus.


"Catat nomorku!" kata Sean sambil melihat ponselnya. Mary buru-buru mengambil ponselnya dan mencatat nomor yang didiktekan Sean.


Mary tersenyum, menatap Sean yang masih menunduk memandangi ponselnya. Kali ini di mata Mary, Sean tampak sepuluh kali lipat lebih tampan dari biasanya. Dia membayangkan dua sayap yang tiba-tiba tumbuh dari kedua pundak cowok itu.


"Kamu nggak berubah.." Mary bergumam. Kamu masih seperti dulu, seseorang yang penolong...


"Apa?" Sean menatap Mary karena mendengar gumaman pelan cewek itu. Tapi melihat Mary yang tak henti menyunggingkan senyum, membuat Sean mengerutkan dahinya.


"Kamu mulai membuatku takut.." kata Sean karena Mary tak henti menatapnya intens sambil tersenyum.


Sean beringsut keluar dari ruangan itu. Setelah menutup pintu, dia memandangi dirinya yang bertelanjang dada seperti ini.


"Sepertinya aku memang harus segera ganti baju.." gumamnya.


###

__ADS_1


__ADS_2