
Mary benar-benar tidak ingin melihat Sean ketika sore ini dia datang kembali untuk mengajar Misha. Dia menghindari cowok itu sebisa mungkin sejak masuk ke rumah mewah itu dan melihat Sean yang sedang menonton TV di ruang tengah.
Dia sudah buru-buru naik ke atas tangga sebelum Sean melihatnya.
Hatinya masih sakit jika mengingat tadi siang. Untuk bernafas saja rasanya sesak. Bahkan sisa-sisa matanya yang membengkak karena menangis, masih membekas jika saja cowok itu mau memperhatikan dengan teliti.
Cewek seperti itu...
Ada rasa nyeri yang menikam setiap Mary mengingatnya.
Namun ketika Mary akan pulang setelah selesai mengajar, dia mendapati Sean yang tengah duduk bersandar di bibir kap mobil di halaman rumahnya yang luas. Cowok itu terus menatapnya semenjak dia menutup pintu dan berjalan tergesa-gesa.
Mary merasa benar-benar tidak ingin melihatnya. Tidak saat ini, saat hatinya masih berdarah dan terluka. Saat dia masih bisa menangis kapan saja jika air matanya mau.
Dia ingin cowok itu memahaminya.
"Aku antar pulang," tiba-tiba Sean bersuara.
"Nggak, aku bisa naik busway.." Mary menjawab tanpa menoleh.
Kenapa dia nggak paham aku ingin sendiri?
"Tapi, aku nggak sedang bertanya.." Sean menarik tangan Mary. Mary terkejut dan melepaskan tangannya dengan kasar.
"Apa sih?!" Mary berseru, "Selalu seenaknya!"
Sean meminta maaf, kali ini dia menatap Mary dengan lembut.
"Aku tahu, kamu marah kan?" tanyanya.
"Marah? Kenapa marah?" Mary mengelak.
Mereka terdiam, saling berpandangan cukup lama seolah saling berbicara di dalam pikiran mereka sendiri-sendiri.
"Kalau begitu, ayo aku antar pulang.." kata Sean pada akhirnya.
Mary menggigit bibir, "Aku ingin pulang sendiri.."
"Aku ingin mengantar kamu pulang. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Mary terdiam. Dan sebelum dirinya sempat memutuskan, cowok itu sudah menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Tapi di dalam mobil, bahkan tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir Sean. Mary juga tidak ingin bertanya ataupun ingin tahu. Hatinya terlalu sakit bahkan hanya untuk sekedar bertanya...
"Aku tahu kamu marah.." Sean tidak melanjutkan kalimatnya ketika dia menoleh dan melihat Mary memejamkan mata sambil bersandar ke samping.
"Aku mengatakan hal seperti itu untuk membuat Celine tidak mengganggu kamu lagi.."
Sean menoleh lagi, namun Mary tetap bergeming.
"Dia nggak akan puas jika aku tidak meyakinkan dia, kamu bisa mengerti?"
Tetap tak ada jawaban. Sean berpikir, apa mungkin cewek itu tertidur? Namun dia tahu Mary sengaja pura-pura tidur karena cewek itu dengan cepat terjaga ketika mobilnya berhenti tepat di depan rumah cewek itu.
Mary bergegas turun dari mobil setelah sebelumnya berterima kasih dengan cepat.
"Katamu nggak akan sakit hati?" tanya Sean saat dia mengikuti Mary turun dari mobil.
Mary menghentikan langkahnya. Dia menggenggam tali tasnya erat-erat.
__ADS_1
"Katamu aku orang baik dan kamu bisa mengerti setiap maksudku?" Sean mendekat, kali ini berdiri tepat di belakang cewek itu.
"Tapi kenapa kamu marah?"
Mary menggigit bibir dan berbalik. "Aku nggak marah. Kenapa aku harus marah?"
"Tapi kamu sakit hati?"
Kenapa dia nggak mengerti?
"Aku nggak sakit hati!"
"Tapi kamu menangis?" Tentu saja Sean bisa melihat sisa-sisa sembab di mata Mary.
Mary menghela napas pelan. "Kenapa menurut Kak Sean aku harus marah, sakit hati dan menangis karena Kak Sean? Memangnya kakak siapa?"
Sean terdiam cukup lama menatap mata Mary yang berair.
"Lalu kenapa kamu bertanya apa aku tidak khawatir kamu bisa salah paham?" Sean mendesak Mary membuat cewek itu tertegun sejenak dan kebingungan.
"Itu.." katanya tergagap, "Itu bukan apa-apa."
Mary tidak mengerti. Dia menatap mata Sean, kali ini lebih dalam.
"Kenapa Kak Sean seperti ini sih?" tanyanya.
"Ya. Kenapa aku seperti ini?" Sean justru bertanya, lebih seperti ke dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Apa kamu tahu jawabannya?" lanjut Sean sambil menekan kedua bahu Mary dengan lembut.
Mary tercenung.
Apa maksud Kak Sean tadi?
Kenapa dia bicara seperti itu?
Apa dia sedang memberitahu jika dia menyukaiku?
Mungkinkah?
Tapi kenapa?
Mary tidak bisa tidur memikirkan hal itu sekarang. Dia hanya berguling di atas tempat tidurnya, sambil mengamati gantungan tas milik Sean yang masih belum dia kembalikan.
Seharusnya aku kembalikan tadi...
Kenapa dia seperti itu?
Sebuah SMS menyadarkan Mary. Dia mengambil ponsel yang masih berada di dalam tas dan membaca pesan yang masuk.
Dari ayahnya.
Besok ayah mengajaknya jalan-jalan dan makan malam. Mary bertanya-tanya kenapa ayahnya tiba-tiba seperti itu.
Mary bergegas keluar kamar dan menceritakan pada ibunya yang sedang mengupas bawang merah untuk memasak pesanan katering besok.
"Tidak biasanya ayah seperti itu kan?" Mary heran.
Ibu mengusap matanya yang berurai air mata karena perih.
__ADS_1
"Besok kan hari ulang tahunmu. Mungkin ayahmu ingin ngasih kado?"
Mary seakan baru teringat jika besok dia akan berumur 20 tahun. Dia memeluk ibunya dengan erat sampai ibu terpaksa menjitak kepalanya karena kesulitan bernafas.
"Itu sebabnya ya, tadi ibu bikin kue tart?" Mary tersenyum lebar.
"Itu bukan buat kamu!"
"Bohong!" Mary tidak percaya.
"Itu pesenan orang."
"Lalu kue buatku?"
"Bikin sendiri!"
Mary cemberut, kemudian ikut mengambil pisau dan membantu ibunya mengupas bawang.
"Tahun ini ibu akan kasih kado aku apa?" Mary teringat tahun lalu ibunya memberi hadiah sepeda motor. Waktu itu Mary jengkel karena dia bisa menebak tujuan ibunya memberikannya sepeda motor agar dirinya bisa membantu ibu mengantar pesanan makanan ke customer. Dasar ibu!
"Kamu ingin apa?" Ibu malah balik bertanya.
"Apa ya?" Mary berpikir keras, "Meskipun kita hidup seperti ini, tapi sepertinya aku sudah memiliki semua hal yang aku inginkan. Jika aku menginginkan sesuatu, ibu pasti berpikir keras untuk memberikannya.." Mary teringat saat pertama kali meminta pada ibunya sambil menangis untuk operasi plastik, hanya selang sebulan saja ibunya mewujudkannya.
"Ayah juga baik padaku, dia selalu memikirkan kebutuhanku selama ini. Laptop, uang, sepatu, tas mahal, baju.."
"Aku baru sadar, aku orang yang tidak bersyukur ya, bu?" Mary terisak, bukan karena menangis, tapi aroma bawang yang dikupasnya terlalu pedih di mata.
"Kenapa bicara seperti itu?" Ibu bertanya lembut.
"Seharusnya aku bisa saja bahagia tanpa operasi plastik kan?"
"Kamu menyesal?" Ibu menggetok kepala Mary.
"Sedikit?"
"Kenapa menyesal? Bukankah sejak wajahmu berubah kamu akhirnya menemukan kepercayaan diri untuk berteman dengan orang lain kan?"
Ibu benar. Karena wajahnya yang sekaranglah dia bisa memiliki teman bahkan orang yang menyukainya...
Apa Kak Sean juga akan menyukainya jika wajahnya masih seperti dulu?
Tunggu! Tunggu! Kenapa aku berpikir Kak Sean menyukaiku?
Tidak boleh. Sama sekali tidak boleh!
"Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Apa kamu tahu jawabannya?"
Tuh kan, lagi-lagi dia mengingatnya.
"Jangan terlalu banyak pikiran! Nikmati hidupmu selagi masih muda. Jika sudah tua seperti ibu, waktumu hanya akan habis untuk memikirkan bagaimana mencari uang agar masa depan anakmu terjamin.." Ibu memberi nasehat.
"Makanya.." Mary menyambung sambil tersenyum, "Hadiahku kali ini, aku ingin ibu memberiku ayah baru agar ibu juga bisa bersenang-senang kembali seperti masa mudanya dulu.."
Ibu melotot, dan mencubit putrinya dengan kesal. Mary tertawa dan menceritakan tentang salah seorang tetangga mereka yang sering menanyakan ibu setiap Mary mengantarkan pesanan makan malamnya.
"Dia duda lho bu.." Mary masih menggoda, dan mengerlingkan mata nakal.
Sampai akhirnya mereka berdua tertawa dan menangis bersama. Bawang ini terlalu pedih di mata...
__ADS_1
###