Lovable You

Lovable You
18. Terluka


__ADS_3

Mary merapikan rambutnya, tampak canggung duduk seorang diri di tengah keramaian pesta jurusannya di sebuah kafe malam ini. Bukan pesta lebih tepatnya, hanya semacam acara family gathering jurusannya yang diadakan senior dengan tujuan mempererat keakraban dan saling mengenal lebih dalam.


Kafe itu sudah disewa para senior, jadi letak kursi dan interiornya sudah ditata sedemikian rupa agar nyaman untuk kumpul bersama.


Mary menyeruput orange juice-nya sekali lagi, berusaha menyingkirkan rasa gugup dan tidak nyaman seolah dia merasa sedang dibicarakan semua orang di sekelilingnya karena duduk seorang diri. Sebenarnya dia tadi tiba kesini bersamaan dengan Milli, tetapi cewek itu sedang ke kamar kecil sekarang.


"Hai, Mer.." Reyka, teman cewek di jurusannya menyapa dan duduk di depannya diikuti teman-teman cewek itu.


"Sendiri?" tanya Reyka lagi.


"Nggak. Milli ada di kamar mandi.."


"Ooh.." Reyka hanya ber-ooh dan melanjutkan obrolannya yang sempat terputus bersama temannya.


"Aku pake blush on nomer 4. Gimana, kelihatan natural kan?" Reyka memamerkan pipinya yang beruam merah tipis, tampak senada dengan warna lipstik yang dipakai cewek itu.


"Kamu kelihatan cantik!" sahut Niken. "Tapi kayaknya kamu perlu diet lagi deh!"


"Ah. Kamu tahu untuk turun 2 kilo aja butuh perjuangan besar. Tapi kalau menaikkan berat badan gampang banget!"


"Emang!"


"Kenapa? Pipiku keliatan berisi ya?" Reyka mengeluarkan cermin dari tasnya.


"Sedikit.."


"Iya nih!" Reyka berdecak, "Apa aku perlu tanam benang?" tiba-tiba mata Reyka tertuju pada Mary yang berusaha tampak sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Oh ya Mer, kamu oplas dimana? Korea? China?" tanya Reyka penasaran.


"Iya nih, aku juga ingin tahu!" Niken ikut penasaran, dan seketika Mary jadi pusat perhatian orang-orang di deretan meja itu.


"Pasti ke Korea ya? Hasil oplas kamu bagus banget lho Mer."


Mary beringsut gelisah, tidak nyaman.


"Aku suka bentuk hidung seperti itu, ya kan?"


"Menurutku rahangnya lebih bagus. Kelihatan tirus gitu, tapi nggak selancip orang-orang di luaran sana. Kadang ada kan yang sampe lancip banget, dan justru terkesan aneh?"


Berhenti menatapku seperti itu!


"Berapa, Mer, biaya oplas?"


"Emang kamu mau oplas?!"


"Sedikit pengen sih!"


"Padahal kamu udah cantik gini lho. Nggak perlu ada yang diubah dari wajah kamu!"


Kalian berhentilah menatapku!


Mary rasanya ingin menangis. Kenapa mereka tidak memiliki perasaan yang peka terhadap orang lain?


Milli muncul membuat Mary merasa gembira bukan kepalang, seolah cewek itu bak pelampung yang dia temukan di saat dia terapung-apung di lautan.


"Kenapa?" Milli tak mengerti kenapa Mary seperti itu, "Apa mereka mengganggumu?"


"Enak aja! Kita nggak ganggu Mary kok!" Reyka menyahut karena mendengar omongan Milli barusan.


"Mill, Jeny kok belum datang?" Mary mencoba mengubah topik pembicaraan.


"Tadi sih dia bilang di telepon sebentar lagi nyampe!" Milli melihat ke arah pintu masuk, "Nah itu dia!"


"Panjang umur kamu, Jen. Baru aja kita bicarain!" kata Milli saat Jeny sudah duduk di dekatnya.


"Kalian bicarain aku yang baik-baik kan?" Jeny mengancam.

__ADS_1


Sementara di deretan meja yang lain, Ragil menyapa Sean yang baru datang. Ragil berkata dia cukup surprise dengan kedatangan Sean, karena biasanya cowok itu tidak pernah tertarik datang ke acara seperti ini.


"Aku lagi suntuk di rumah!" kata Sean. Dia memperhatikan sekelilingnya, "Cukup banyak yang datang ya?"


"Anak cowok banyak yang absen kok!" Ragil menjawab. Dia menengok jam tangannya, waktu sudah bergulir cepat dari jam yang sudah ditentukan.


Dia mengambil mikrophone dan mulai menyapa mahasiswa yang sudah bersedia hadir. Cowok itu sangat luwes sekali berbicara membuat Mary tidak berhenti menatap kagum. Dia selalu heran setiap melihat orang yang begitu vokal seperti itu, apakah itu sesuatu yang dilatih? Ataukah bakat alami sejak lahir? Dia merasa sangat ingin tahu.


Karena sejujurnya, Mary juga ingin memiliki kepribadian seperti itu. Kadang dia merasa punya banyak hal yang dipikirkan dan sangat banyak yang ingin disampaikan, tapi rasanya susah sekali menerjemahkan ke dalam suatu kalimat.


"Perkuliahan sudah aktif kurang lebih sebulan yang lalu, jadi saya yakin kalian sudah bisa beradaptasi dan bersosialisasi di kampus kan?" Ragil masih berbicara.


"Nah, untuk kalian yang ingin mengembangkan skill ataupun ikut aktif berorganisasi kalian bisa ikut unit kegiatan mahasiswa di kampus kita. Sudah banyak klub yang kita kelola kok, baik olahraga, kesenian, komunikasi, politik dan hukum, keagamaan, sampai cooking club juga ada. Percaya deh, ikut kegiatan seperti itu banyak banget mafaatnya! Selain nambah temen juga sangat menambah wawasan kalian buat bekal ke depan."


"Jika kalian mengalami kesulitan, jangan segan berkonsultasi dengan kami para senior. Itulah tujuan diadakan acara malam ini, agar senior dan junior lebih saling mengenal." Ragil tersenyum sambil memperhatikan mereka satu per satu, "Kami para senior sangat terbuka kok. Kalian bisa menyampaikan saran, kritik, curhat, semuanya lah.."


"Atau ada yang punya unek-unek malam ini? Boleh deh disampaikan sekarang.."


"Ada klub cari jodoh nggak kak?" pertanyaan dari seorang cewek itu seketika menciptakan suasana yang semakin hangat. Beberapa candaan mulai terlontar satu sama lain menjadikan kafe terasa lebih ramai.


"Oh ya," Ragil melanjutkan ketika suasana canda tawa mulai mereda, "Tanggal 20 ada bazaar sekaligus pesta penyambutan mahasiswa baru. Kalian harus ikut memeriahkan acara ya!"


"Kalau gitu, daripada kalian makin bosen dengerin aku bicara terus, acara bakal dilanjutin kak Okan. Kayaknya dia udah nggak sabar nih ngajak kalian nyanyi duet.."


Okan cengar-cengir ketika dirinya mulai menyetel musik karaoke.


"Ada yang mau duet denganku?" tanyanya. Dan akhirnya malam itu pun dipenuhi dengan nyanyian-nyanyian dari suara yang bermacam-macam jenis. Ada yang hancur, ada yang bagus pake banget, ada yang biasa...membuat suasana lebih berwarna dan meriah.


Mary menyeruput minumannya lagi. Ini hal baru buatnya berada di keramaian seperti ini. Canggung, senang, aneh, entah kenapa semuanya bercampur jadi satu.


"Sekarang gantian kak Ragil dong yang nyanyi, setuju nggak?" Okan mengerling ke arah Ragil. Sementara Ragil yang cukup terkejut justru mencolek bahu Sean menyuruh cowok itu menggantikannya. Sean cuma meringis, mana mungkin dia mau nyanyi-nyanyi begitu?!


"Ayo dong, kak ketua!" Okan kembali menggoda Ragil.


Ragil dengan ogah-ogahan bangkit dari duduknya.


"Kamu cukup populer juga ya!" bisik Okan ke Ragil sambil nyengir, "Oke, biar adil aku tunjuk aja kali ya."


Mata Okan menyapu seluruh orang yang hadir disana.


"Kayaknya yang sebelah sana belum ada yang nyanyi nih dari tadi. Kamu kesini yuk!"


"Aku?" gumam Mary.


"Iya kamu yang pake baju putih, yang paling cantik. Kesini yuk, kak Ragil udah nunggu nih!" Okan melambai lagi.


Milli menyenggol bahu Mary, meyakinkan bahwa memang dirinya lah yang ditunjuk Okan. Mary menggigit bibirnya. Nggak. Dia nggak bisa.


Sekarang Mary merasa dia jadi pusat perhatian semua orang. Dia merasa sangat gugup. Bahkan rasanya ingin menangis.


"Ayok! Cuma nyanyi doang kok, sama kak Ragil lagi!" Milli dan Jeny menyemangati.


Mary menggeleng. Dia nggak bisa. Dia malu.


Milli tercenung melihat raut wajah Mary yang gugup seperti itu. Dia mengangkat tangannya dan berkata dia akan menggantikan Mary berduet bersama Ragil.


"Suara dia jelek. Kalian bakal kabur jika denger dia nyanyi.." Milli berseloroh.


Mary menghela nafas diam-diam. Dia berpikir, dia mungkin memang menyukai seperti ini. Dia benci disorot, dia benci menjadi pusat perhatian.


Ya, inilah dia.


***


"Cukup seru ya acaranya?" kata Jeny ketika mereka mulai berjalan keluar kafe. Jalanan malam masih cukup ramai meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.


"Kamu tadi memvideo aku kan waktu aku duet bareng kak Ragil?" Milli bertanya.

__ADS_1


"Iya iya!" Jeny jengkel karena temannya itu sudah bertanya entah untuk yang ke berapa kali.


"Bagus. Cepat kirim, aku mau posting di ig, dengan caption 'duet bareng senior yang tampan dan berkharisma!' " Milli tidak sabar rasanya melihat reaksi followernya jika melihat dia berduet dengan ketua jurusan mereka yang cakep itu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Oh ya, Mer. Kak Ragil masih sering menghubungi kamu kan?"


Mary menggeleng. Sudah lama Ragil tidak pernah menghubungi dia, semenjak...mungkin semenjak fakta wajah lamanya mulai viral di kampus.


Milli tercenung. Dia jadi teringat sikap Ragil tadi yang terkesan formal ketika dia menyapa. Dia tadi juga melihat saat cowok itu hanya sekilas melirik Mary ketika mereka berpamitan pulang. Padahal dulu, cowok itu sangat excited kan setiap melihat Mary? Bahkan setiap mahasiswa baru di kampus sampai tahu kalau cowok itu PDKT dengan Mary.


Jadi kenapa?


"Kamu pulang naik apa, Mer?" Jeny bertanya. "Kita berdua nunggu jemputan lho!"


"Aku mau pesan taxi aja!" Mary mencari-cari ponsel di dalam tasnya. "Kok ponselku nggak ada?"


"Coba cari lagi pelan-pelan!" Jeny menyarankan.


"Nggak ada!" Mary terlihat panik.


"Apa ketinggalan di kafe?"


Mary terlihat berpikir keras. "Aku balik lagi, aku mau coba nyari kesana!"


"Tunggu, kita temenin!"


Mary berjalan lebih dulu di depan, dengan langkah sedikit cepat. Angin malam berhembus dingin membuat bulu kuduk siapapun berdiri. Tiba-tiba langkah kakinya berhenti begitu saja ketika dia mendengar seseorang menyebut nama 'Mary' di dalam percakapan yang terdengar tidak jauh dari pintu masuk kafe itu.


"Dia cantik kok!" suara seseorang entah siapa terdengar sangat jelas.


"Tapi Ragil nggak naksir dia lagi sejak tahu cewek itu oplas!" suara yang lainnya menimpali.


"Gitu ya? Kalau aku sih, aku nggak masalah. Kamu jangan terlalu pemilih, Gil. Kamu nggak pengen melepas predikat ketua jomblo kamu?" terdengar suara tawa.


"Berisik! Coba kamu lihat wajah cewek itu sebelumnya. Aku pingin lihat apa komentar kamu!"


"Emang jelek banget ya?"


"Tauk tuh. Kalau aku sih nggak masalah, yang penting sekarang cantik."


"Buatku cantik itu ya yang bener-bener cantik dari lahir."


Seseorang menyentuh pundak Mary dengan pelan. Mary menoleh dan melihat Milli dan Jeny berdiri di belakangnya dengan sorot mata khawatir.


Sementara dia sendiri hanya bisa tertegun, terdiam. Seolah dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.


"Biar aku yang ke dalam nyari hape kamu. Kamu sama Jeny jalan duluan aja!" Milli bergegas masuk ke dalam.


"Kita pergi yuk!" Jeny berusaha menyentuh lengan Mary, mengajak cewek itu segera pergi. Tetapi belum sempat Mary berbalik, seseorang tiba-tiba keluar dari pintu itu.


Mary bisa melihat, Sean tertegun cukup lama menatapnya. Bibir cowok itu bergerak ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa urung.


Dan Mary bisa merasakan entah kenapa hatinya seperti dicubit ketika cowok itu pergi begitu saja dari hadapannya.


Tidak berapa lama Milli keluar sambil menenteng sebuah ponsel berwarna hitam. Dia menyerahkan ke tangan Mary yang terus diam sejak tadi.


"Kurang ajar tuh cowok! Pengen aku bejek-bejek rasanya!" Milli berusaha memecah keheningan yang terasa aneh saat mereka mulai berjalan menuju tempat kecil beratap yang biasanya dipakai orang-orang jika menunggu bus.


"Emang dia pikir dia cakep apa?!!!" Milli masih nyerocos. Jeny menatap Milli, dia ingat saat temannya itu memuji Ragil dengan sebutan tampan dan berkharisma.


"Videonya jadi aku kirim nggak nih?!" Jeny bertanya.


"HAPUS!!" sahut Milli jengkel karena bisa-bisanya Jeny malah menggodanya di saat seperti ini. Dia menoleh ke arah Mary yang berjalan dengan masih membisu.


"Mer, kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu nggak bicara sedikit pun? Kamu membuatku ikut sedih jika begini.."


"Aku juga!" Jeny menimpali.


Mary menoleh, memandangi temannya satu per satu. Kalian tahu, rasa nyeri terburuk adalah mencoba tersenyum meskipun tahu hati kalian sedang terluka hanya agar terlihat kuat padahal rapuh. Itu karena kalian merasa benci dikasihani.

__ADS_1


###


__ADS_2