
"Ayah tidak mampir dulu?" tanya Mary saat mobil ayahnya sudah sampai di depan rumahnya.
"Lain kali saja.." Ayah melongok keluar jendela mobil, "Ibumu juga sepertinya sudah tidur."
Mary juga heran kenapa lampu di dalam rumahnya sudah gelap gulita. Dia melongok jam tangan pemberian ayahnya yang sekarang dipakainya, belum pukul 9.
Kenapa ibu sudah tidur?
Mary turun dari mobil setelah sebelumnya kembali berterima kasih pada ayah dan menyuruhnya agar berhati-hati di jalan. Dia melambaikan tangan ketika mobil ayah mulai berjalan meninggalkannya.
Mary mengetuk pintu rumahnya dan memanggil ibunya. Tidak ada jawaban. Dia memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci, pelan-pelan masuk ke dalam rumah yang gelap dan sunyi.
"Ibu, kenapa lampunya sudah dimatikan sih?" Mary berteriak kecil.
Apa ibu pergi, Mary bertanya-tanya dalam hati karena tidak mendapat jawaban.
"Astaga!" Mary menjerit terkejut dan melompat mundur ketika tiba-tiba lampu ruangan menyala disusul suara lengkingan yang ternyata berasal dari terompet.
Dia melihat Milli, Jeny dan Juan muncul dari ruang tengah sambil tertawa-tawa melihat dirinya yang terkejut seperti tadi.
Kenapa mereka ada disini?
"Kalian bikin aku kaget!" Mary masih mengelus-elus dadanya karena jantungnya yang rasanya mau melompat keluar.
"Happy birthday to you... Happy birthday to you.." Ibu muncul sambil membawa kue tart yang kemaren ibunya katakan sebagai 'pesanan orang'.
Mary mengatupkan kedua tangannya ke mulut, dia benar-benar terkejut sampai tidak bisa berkata-kata mendapat kejutan seperti ini. Selama hidupnya, inilah pertama kali...
Mary merasakan matanya yang basah saat memandangi satu per satu teman-temannya yang ikut bernyanyi untuknya.
Milli...
Jeny...
Juan...
Ibu...
"Happy birthday Mary.." mereka semua bertepuk tangan mengakhiri nyanyian.
"Make a wish!" seru Milli menyuruh Mary membuat permintaan sebelum meniup lilin.
Mary memejamkan mata dan mengatupkan tangannya ke dada. Dia tidak tahu harus meminta apa.
Aku hanya ingin ayah ibuku selalu sehat dan bahagia.
Aku ingin memiliki banyak orang yang menyukai dan menyayangiku.
Aku ingin merasa bahagia seperti ini, selamanya...
Mary membuka matanya.
Ternyata permintaanku banyak yaa...
Mary meniup lilin, dan memeluk temannya satu persatu.
"Darimana kalian tahu hari ini ulang tahunku?"
Milli dan Jeny kompak menunjuk Juan yang tersenyum lebar, "Dia yang ngasih tahu kami, lalu kami merencanakan kejutan ini. Kamu jahat, kenapa nggak ngasih tahu kalau hari ini ulang tahun?"
Mary menoleh pada Juan. Darimana dia tahu aku berulang tahun?
"Aku pernah lihat tanggal lahirmu di KTP waktu ngasih dompetmu. Ingat?" Juan seakan tahu pikiran Mary.
"Oh.." Mary menatap Juan lembut. Kenapa cowok ini begitu manis sih. Juan baik sekali. Pantas dia tadi nelpon menanyakan dirinya sedang dimana.
"Ayo kita potong kue!" Ibu mengajak mereka semua duduk di sofa.
"Kemaren ibu bilang ini kue pesenan orang.." Mary mencibirkan bibir pada ibunya karena telah berbohong.
__ADS_1
"Memang kok. Ini pesenan temanmu."
Milli mengacungkan jari berbentuk V pada Mary.
"Kata ibu, kamu belum pernah merayakan ulang tahun, jadi kami menyiapkan kejutan ini. Jika kami tahu jauh-jauh hari sebelumnya, pasti kami akan menyiapkan kejutan yang lebih besar lagi.."
Mary menoleh ke sekelilingnya. Dia baru sadar jika ruang tamu penuh dengan balon berwarna-warni yang tergantung di langit-langit rumahnya.
Mary tiba-tiba ingat masa kecilnya dulu, dia diundang ke pesta ulang tahun teman sekelasnya. Disana penuh dengan balon dan kue-kue yang enak. Temannya sendiri mengenakan rok yang sangat cantik seperti yang sering dipakai barbie di TV. Waktu itu Mary merasa sangat iri dan dalam hati dia juga menginginkan pesta ulang tahun yang seperti itu. Tapi itu tidak pernah terjadi, bahkan tepat di hari ulang tahun berikutnya, dia jutru menyaksikan ayahnya yang pergi dari rumah.
Tiba-tiba Mary meneteskan air mata membuat teman-temannya khawatir.
"Kenapa malah nangis?" Jeny mendekat.
Mary terisak, "Terima kasih ya.."
***
Awal mulanya mereka berempat duduk-duduk di emperan rumah Mary sambil bercengkerama, tapi entah bagaimana ceritanya sekarang hanya tinggal Mary dan Juan yang duduk berdua disana. Milli dan Jeny menghilang ke dalam rumah dan tidak keluar lagi.
"Makasih ya.." kata Mary lagi.
"Sampai berapa kali lagi kamu harus bilang makasih?" Juan tertawa melihat tingkah Mary yang lucu.
"Sebanyak-banyaknya," kali ini dia menatap cowok itu dengan hangat seolah Juan adalah benda yang paling dia sayangi, "Kamu baiik sekali padaku."
Juan tersenyum. Tiba-tiba jantungnya berdegup keras. Mary pernah bilang ada satu cowok yang sangat baik yang dia sukai. Apakah itu artinya dia ada harapan?
Mungkinkah?
"Sepertinya kamu harus bilang makasih lagi karena aku mau memberikan sesuatu.." Juan mengambil kotak kecil yang sejak tadi dia simpan di saku jaketnya.
"Sebenarnya aku malu mau ngasih ini ke kamu.." Juan terlihat ragu-ragu.
Apa Mary akan suka?
Atau sebaliknya?
"Jika tidak suka, jangan katakan! Simpan di dalam hati saja!" Juan memberikan kotak kecil itu ke tangan Mary.
Mary tertawa kecil. Tidak biasanya Juan malu-malu begini. Kemudian dia membuka kotak itu.
Sebuah liptint mungil berwarna berry scarlet. Mary menatap Juan.
"Kata adikku, itu edisi terbatas yang banyak dicari cewek.." Juan menjelaskan.
Mary mengangguk, "Jadi adikmu yang memilihkannya?" tanyanya sambil mengamati liptint itu sekali lagi.
"Adikku bilang, kebanyakan cewek tidak percaya diri keluar rumah tanpa memoles sesuatu ke bibirnya lebih dulu. Jadi aku menyuruh dia memilihkannya untukmu.."
Kamu berpikir sejauh itu?
"Kenapa? Kamu tidak suka ya?" tanya Juan karena melihat Mary hanya termenung.
Mary tersenyum, "Aku sangat suka."
Mary membuka tutup liptint itu dan mengoleskan kuas aplicator ke bibirnya, dia bisa mencium aroma manis buah yang sangat enak. Strawberry? Cherry?
"Gimana? Cantik?" tanya Mary sambil mengulum bibirnya beberapa kali agar warnanya merata.
"Cantik.." untuk sejenak Juan merasa terpana, "Warnanya cantik.."
Mereka terdiam beberapa saat. Juan bisa merasakan suasana yang canggung dan aneh di sekitarnya. Jantungnya pun berdegup keras dengan irama yang tak menentu.
"Aku.."
"Aku.."
Mereka tertawa geli karena menyadari mereka mengucapkan kata yang sama bersamaan.
__ADS_1
"Kamu dulu.." Juan menyuruh Mary berbicara lebih dulu.
"Ah, aku sangat berterima kasih untuk hadiahmu ini. Ini, ini sangat berarti sekali buatku. Aku juga berterima kasih, kamu selalu bersikap manis dan baik. Kamu selalu mendukungku, memberi motivasi, membuatku tersenyum.."
"Aku berpikir, aku sangat sangat bersyukur mengenal teman sebaik kamu!" lanjut Mary.
Juan tersenyum hangat, senyum yang di mata Mary selalu mengingatkannya akan selimutnya yang tebal ataupun boneka teddy bear-nya yang besar. Hangat.
"Teman?"
Mary tidak mengerti kenapa Juan mengulang kata itu, namun dia mengangguk.
"Kamu tahu, awalnya aku juga berpikir aku bersikap bergini padamu karena kita adalah teman. Tapi.." Juan mengambil tangan Mary dan mendekatkannya ke dadanya.
"Apakah jantung kita akan berdetak sekeras ini jika berhadapan dengan seorang 'teman'?" Juan menatap Mary lebih dalam.
Mary terkesiap. Dia menarik tangannya dan meremas-remasnya di atas pahanya. Untuk sesaat tadi, dia bisa merasakan debaran jantung cowok itu yang sangat cepat.
Apa maksudnya?
"Aku menyukaimu.."
Mary tertegun.
Apakah dirinya baru saja ditembak?
"Kamu mau jadi pacarku?"
Mary tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku nggak akan membuatmu menangis, aku nggak akan membuatmu merasa sendiri. Lebih dari itu, aku ingin menjadi seseorang tempat kamu berbagi segala sesuatu.."
"Kenapa?" Mary akhirnya bersuara setelah sekian lama, "Kenapa kamu menyukaiku?"
Juan berpikir, "Ku pikir aku juga tidak tahu kenapa?"
"Bukankah segala sesuatu pasti ada alasan?"
"Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjawabnya."
Mary terdiam sebentar.
"Tapi, bukankah alasan tidak penting? Kamu hanya perlu tahu, aku menyukaimu."
"Bukannya kamu hanya kasihan padaku?" Mary menggigit bibirnya, "Kamu selalu melihatku di posisi yang menyedihkan. Itu sebabnya perasaanmu begitu.."
Juan tahu itu tidak benar. Ya, mungkin saja dia pernah menatap cewek ini dengan rasa iba. Tapi bukan itu yang ada di hatinya sekarang. Bukan iba namanya kan, jika hatinya berdebar-debar saat melihat cewek itu menguaskan liptint pemberiannya ke bibirnya?
"Kenapa kamu merasa tidak yakin?"
Mary tersenyum kecut. "Mana mungkin kan?"
Mana mungkin seseorang menyukaiku...
"Apa ada orang lain yang kamu sukai?"
Mary terkesiap. Untuk sejenak dia merasa kebingungan, "Itu.."
"Aku hanya tidak yakin.." lanjut Mary pada akhirnya. Dia merasa pikirannya semrawut sekarang.
"Kamu tidak harus menjawabnya sekarang kok," Juan berusaha tertawa kecil melihat raut muka Mary yang kelihatan gelisah. Meskipun hatinya sendiri merasa nyeri yang sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Aku akan menunggu sampai kamu merasa yakin!"
Kali ini Juan memegang tangannya dengan lembut.
"Apapun jawabanmu aku akan menerimanya dengan lapang dada. Aku juga tidak akan meninggalkanmu.."
Mary tidak mengerti kenapa Juan seakan selalu bisa membaca hatinya?
__ADS_1
###