Lovable You

Lovable You
41. Kenapa Rasanya Begini?


__ADS_3

Mary masuk ke rumah Sean dengan baju yang sedikit basah karena berdua bersama Juan dalam satu payung ternyata tidak menyelamatkannya dari air hujan. Tidak mungkin mereka berjalan sambil berdempet-dempetan kan? Tidak mungkin. Hanya lengan mereka yang bergesekan saja sudah membuat Mary panas dingin tadi. Sepertinya Juan juga merasakan hal yang sama, karena tidak biasanya pipi cowok itu bersemu pink sepanjang jalan tadi.


Ketika masuk ke ruang utama, Mary menemukan Sean yang sedang bermain dengan kucingnya. Mary menyapa singkat yang hanya dijawab cowok itu dengan anggukan kepala.


Sean mengamati Mary sesaat sebelum dirinya berlalu.


Mary menggigit bibir. Entah kenapa perasaannya sekarang sama seperti perasaan yang dirasakannya tadi saat melihat mobil Sean melaju di sampingnya, sedikit menciprat ke bajunya.


Dia tidak jengkel karena bajunya yang kotor, dia hanya...dia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya. Sebuah perasaan yang mengganjal, tidak enak, tidak nyaman...


Sean muncul kembali dengan membawa handuk putih di tangannya.


"Nih.." Sean menyerahkan handuk itu.


"Makasih.." Mary mengelap tangan serta rambutnya.


"Kok sepi? Misha dimana?" tanya Mary sambil memperhatikan sekelilingnya. Biasanya dia mendengar suara celotehan Misha yang sering bergema di rumah ini.


"Mama bilang hari ini off dulu. Mama sama Misha sedang pergi ke acara jamuan keluarga.."


Mary mendesah. Dia berpikir seharusnya Sean memberitahunya lewat pesan agar dirinya tidak perlu kemari.


Tetapi Mary tidak tahu, Sean memang sengaja mengacuhkan perintah Mamanya untuk memberitahu cewek itu.


"Kalau gitu, lebih baik aku pulang.." katanya.


"Sebentar!" Sean menggenggam pergelangan tangan Mary, "Bajumu kenapa kotor?"


Sean melepaskan tangannya ketika asisten rumah tangganya tiba-tiba muncul untuk mengambil sesuatu. Semua itu tidak luput dari perhatian Mary.


Aneh sekali rasanya.


Mary menunduk melihat blouse-nya yang sedikit bernoda coklat dibagian depan dan belakang, meskipun tadi Juan sudah membantu membersihkannya. Seperti yang sudah dia duga, cowok itu tidak sadar bahwa mobilnya lah yang menyebabkan baju Mary seperti ini.


"Hanya sedikit kok. Tadi ada mobil yang melintas cepat di sampingku.."


"Kamu menyuruh pemiliknya berhenti untuk meminta maaf?"


"Haruskah?"


Sean berpikir sejenak, "Bukan karena naik mobil, dia bisa seenaknya dengan pejalan kaki kan?


Mary tertawa kecil, "Jadi, kamu harus minta maaf padaku sekarang."


"Aku?" Sean tidak mengerti.


"Kak Sean tidak ingat?" Mary tersenyum.


Sean berusaha mengingat. Tadi dia membuntuti Mary dengan perlahan sebelum akhirnya dia memutuskan untuk tancap gas. Apa waktu itu dia menciprati baju Mary?


"Jadi aku pengemudi yang seenaknya itu ya?"


Mary mengangguk.


"Kalau begitu aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja.."


Mary tersenyum, mengangguk.


"Aku harus pulang sekarang."


"Setidaknya ganti bajumu dulu, kamu bisa memakai kaosku.."


Mary menolak dengan cepat.


"Aku merasa bersalah membuat bajumu kotor.." Sean bergumam pelan.


"Nggak pa-pa kok. Kan bisa dicuci sampai rumah?"

__ADS_1


"Kamu bisa masuk angin memakai baju basah begitu!"


Melihat Mary yang hanya terdiam, Sean menarik tangan Mary masuk ke dalam kamarnya. Sean mengambil kaus t-shirt warna putih dari dalam lemarinya dan menyerahkannya pada Mary.


"Pakai ini. Aku akan tunggu di luar. Kamu bisa mengunci pintunya."


"Tapi.." Mary tidak melanjutkan kalimatnya karena Sean sudah berlalu begitu saja.


Mary menghela napas panjang. Dia mengunci pintu dan memperhatikan ke sekeliling kamar Sean yang cukup rapi untuk ukuran cowok. Tidak ada baju atau apapun yang berserakan.


Dia menoleh ke langit-langit kamar. Tidak ada CCTV kan?


Mary menertawakan pikirannya yang bodoh. Dia bergegas berganti baju. Dia bisa mencium aroma harum dari kaos Sean yang entah kenapa membuat pipinya menghangat saat ini.


Sebelum Mary keluar menuju pintu, dia sempat mengamati foto Celine yang tengkurap di atas meja di dekat tempat tidur. Dia merenung sesaat sebelum akhirnya dia bergegas keluar sebelum Sean berpikiran aneh-aneh karena dia yang berada terlalu lama di dalam kamarnya.


Mary menutup pintu dan dia melihat asisten rumah tangga melintas dan sedikit melirik ke arahnya. Rasanya aneh sekali.


Mary pun menceritakan pada Sean yang menunggunya di ruang utama.


"Aku nggak enak. Aku takut pembantumu berpikiran yang aneh-aneh.." Mary memelintir ujung kaosnya.


"Jangan khawatir!" Sean menahan tangan Mary. Dia selalu merasa tidak nyaman setiap melihat cewek itu berbuat demikian.


"Aku nanti akan menjelaskan biar tidak salah paham.." Sean mengamati kaos yang dipakai Mary tampak sedikit kebesaran di badan cewek itu.


"Aneh ya?" Mary salah tingkah karena ditatap seperti itu.


"Nggak kok!" Sean tersenyum, "Ayo ku antar pulang!"


Mary berpikir cukup lama sampai akhirnya dia mengangguk.


Dia membuntuti Sean menuju mobil cowok itu yang terparkir di garasi.


"Hujan masih belum berhenti.." Mary menggumam saat mobil yang dikendarai Sean telah melaju keluar.


"Banjir dimana-mana.." Mary teringat banyak berita banjir yang disiarkan di TV tadi pagi.


"Padahal musim hujan baru mulai, dan sudah banyak daerah yang kebanjiran. Macet juga dimana-mana.." Sean mengeluh karena jalanan di depannya sekarang pun sedang terjadi kemacetan panjang.


"Benar. Kadang aku merasa beruntung tempat tinggalku rawan banjir.."


"Kadang aku malah merasa ingin pindah dari kota ini.." Sean terlihat frustasi mendengar bunyi klakson mobil yang bersahut-sahutan.


Mereka tertawa kecil.


"Aku pernah ngerasain kebanjiran sewaktu kecil, di rumahku yang dulu. Dulu aku merasa senang karena ku pikir aku bisa berenang di kolam gratis.." Mary mengenang.


"Aku bisa bayangin kamu pake kaus tank top dan berenang di atas ban bekas.." Sean tertawa.


"Darimana kamu tahu?" Mary ikut tertawa.


"Di mata anak kecil, air berlimpah itu menyenangkan tanpa tahu kesusahan ayahnya yang tidak bisa bekerja ataupun kesusahan ibunya melihat perabot rumah yang hanyut.." lanjut Mary.


Sean berpikir mungkin ini pertama kalinya dirinya melihat Mary berbicara panjang lebar seperti itu. Apa itu artinya cewek itu mulai terbuka padanya? Atau hubungan mereka mulai terasa nyaman buat cewek itu?


Hubungan?


"Kamu mau ikut aku ke kegiatan sosial besok Minggu?" tanya Sean tiba-tiba.


"Kegiatan sosial?"


"Mengunjungi posko pengungsian korban banjir.."


"Kegiatan kampus?"


"Bukan. Ini kegiatan amal perusahaan bokap, kadang aku ikut.."

__ADS_1


Mary merenung. Sepertinya menyenangkan. Dia belum pernah melakukan kegiatan sosial seperti itu, dia merasa ingin mencobanya.


Tapi...


Mary menoleh Sean.


Apa nggak apa-apa?


"Jadi gimana, mau?" Sean bertanya lagi.


"Cuma kita ber..dua?"


"Banyak orang kok. Kan udah ku bilang, ini perusahaan bokap.."


Iya, tentu saja. Tapi bukan itu maksud Mary. Dia hanya merasa susah untuk menjelaskan...


Sean mengerti apa yang dirasakan cewek itu, tetapi dia memilih diam.


***


Malam itu Mary mengobrak-abrik lemarinya, memilih baju-baju yang sudah tidak dia pakai.


Dia hanya memilih baju-baju yang masih kelihatan bagus dan pantas diberikan ke pengungsi.


Ibu tiba-tiba muncul dan mengomel. Namun ketika Mary menjelaskan tentang kegiatan sosial yang akan dilakukannya besok Minggu, seketika raut wajah Ibu berubah.


"Ibu tidak menyangka, jiwa sosial kamu sangat tinggi!" Ibu memuji.


"Ibu juga bisa membantu," ujar Mary.


"Tentu saja! Ibu akan memberikan uang. Belikan pampers, mi instan, baju dalam... Apa lagi ya?"


"Buku dan peralatan sekolah untuk anak-anak disana.." Mary menyambung.


Ibu tersenyum membenarkan.


"Aku juga akan menghubungi Ayah, siapa tahu Ayah juga mau beramal.." Mary tersenyum lebar.


Ibu membantu Mary melipat baju-baju yang sudah dipilih kemudian menyusunnya ke dalam kardus besar.


Mary tersenyum puas. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia menekan tombol terima setelah Ibu keluar dari kamar.


"Ada apa, Kak?" tanyanya.


"Hari Minggu nanti, kita berangkat jam 7 pagi!" di ujung telepon, Sean menjawab.


"Oh, oke.." Mary berpikir cowok itu bisa saja memberitahunya di dalam mobil tadi, ataupun memberitahunya lewat chat. Tapi kenapa memilih meneleponnya?


"Kamu sedang apa?" Sean bertanya, suaranya sedikit ragu.


"Aku sedang mengumpulkan baju-baju yang sudah tidak ku pakai. Tapi masih bagus kok.."


"Nanti aku akan melakukan hal yang sama, mungkin aku bisa menyuruh Mama untuk memilihkan baju Misha juga."


Mary teringat pernah masuk ke kamar Misha dan dia melihat dua lemari besar berisi baju-baju anak itu. Dua lemari besar! Benar-benar menunjukkan orang kaya.


"Oh.."


Hening sesaat.


"Kak Sean sendiri sekarang sedang apa?"


"Aku? Aku sedang di kamar, tiduran.."


Mary ikut merebahkan badannya di atas tempat tidurnya sendiri. Dia tersenyum sambil menciumi kaos milik Sean yang sekarang masih dipakainya.


Kenapa rasanya begini?

__ADS_1


###


__ADS_2