
"Ke mana Mary?" Milli yang baru sampai ke kafe belajar bertanya pada ketiga teman kelompoknya yang datang lebih dulu.
"Dia pergi beli minum!" Laura menjawab cuek, hanya dia yang bisa menjawab Mary kemana karena dirinya yang datang kesini tepat setelah Mary.
"Kamu menindasnya lagi ya?!" Jeny histeris. Milli bahkan sudah bersiap menunjukkan kedua gigi taringnya yang lancip.
"Sembarangan! Dia pergi atas kemauannya sendiri tauk!" Laura berang karena dia terus menerus dipandang negatif. Dia kan sebenarnya nggak sejahat itu, bisiknya.
Milli menjatuhkan pantatnya ke kursi, meletakkan tasnya ke atas meja. Dia mengeluh panjang.
"Aku merasa sangat bersalah pada Mary. Gimana ini?" Milli berbicara pada Jeny.
"Katanya Kak Sean ya yang nganter Mary pulang semalam?" Jeny bertanya pada Sean yang sedari tadi sibuk mencatat sesuatu di atas kertas, seolah tidak mempedulikan kehadiran mereka semua. Tugas kelompok mereka baru lima puluh persen digarap, dan jalan masih panjang sementara waktu presentasi semakin mepet. Tapi anggota kelompoknya itu terlihat sangat tidak serius!
Sean menggumam pelan, tapi sedetik kemudian dia mendongak.
"Jadi kalian yang nyuruh cewek bodoh itu kencan dengan cowok brengsek semalem?" tuduhnya tajam.
Milli menggigit bibirnya. Rasa bersalahnya bertambah sepuluh kali lipat karena dipersalahkan seperti itu. Seharusnya dia tidak menyuruh cewek seperti Mary berkencan dengan sembarang orang. Mary cewek yang masih polos dan tidak memiliki banyak pengalaman bareng cowok. Beruntung cowok kurang ajar itu belum menyentuhnya! Lihat saja, dia akan membunuh cowok itu jika melihatnya lagi.
"Kalian temen macem apa sih!" Sean berdecak membuat Milli dan Jeny kompak menunduk.
"Mary kencan?" Juan bertanya setelah meresapi percakapan yang didengarnya itu. Terkejut.
Akhirnya Milli terpaksa bercerita karena Juan terus memaksanya.
"Ck ck ck," Laura berdecak mendengarnya. Milli melotot seakan lupa bahwa ada Laura di antara mereka.
"Kalian lebih jahat dari aku.." lanjut Laura membuat Milli berang. Tapi apa yang dikatakan cewek itu benar. Dia jahat membiarkan cewek sepolos Mary berkencan dengan orang yang tidak dikenal.
Tiba-tiba Mary muncul dan menyapa. Dia melihat Milli yang nampak sedih dan dia pun bertanya, "Ada apa?"
"Maafin kami ya, Mer. Kami sangat menyesal banget nyuruh kamu kencan sama cowok itu. Pantesan kamu tidak menjawab pesanku semalam, kamu marah ya?" Milli mengatupkan kedua tangannya.
"Kamu bener nggak diapa-apain dia kan? Apa perlu kita lapor polisi?" Jeny bertanya khawatir.
Mary tersenyum. "Kalian jangan berlebihan. Aku baik-baik aja kok."
"Aku tidak membalas pesanmu semalam karena Hp ku lowbat dan langsung ku charge setelah sampai rumah!"
__ADS_1
"Lagian itu bukan sepenuhnya salah kalian. Seharusnya aku lebih tegas jadi cewek, aku harus menolak jika memang tidak suka pada sesuatu! Aku benar-benar cewek bodoh, tapi aku banyak belajar kok dari kejadian semalem. Kalian tenang aja.." Mary mencoba menenangkan kedua temannya.
Dia memandangi sebotol jus strawberry di tangannya lalu mengulurkannya ke depan Sean yang terus menatapnya sejak tadi.
"Aku nggak suka strawberry!" Sean menolak minuman itu dan membiarkan tangan Mary tetap terulur.
"Begini contoh menolak sesuatu yang tidak kamu sukai!" Sean berkata tajam.
Mary menurunkan tangannya pelan-pelan.
"Aku suka strawberry!" Tiba-tiba Juan mengambil botol jus itu dari tangan Mary. "Tapi hari ini aku sedang tidak ingin meminumnya karena aku lagi ingin banget minum cola. Maaf ya.."
Juan sekenanya meletakkan jus itu ke depan Laura yang terbengong. Sebagai gantinya dia mengambil bungkusan kresek bening dari tangan Mary dan mengeluarkan sekaleng cola dingin dari dalam.
"Begini contoh menolak tanpa harus menyakiti. Lebih sesuai dengan type kepribadianmu kan?" Juan tersenyum.
Milli melihat kedua cowok itu saling bertatapan beberapa detik. Dia merasakan suasana yang aneh tengah berada di ruangan ini.
***
"Katanya kamu habis kencan ya tadi malam?" Juan bertanya ketika dia dan Mary sedang berdiri di dalam kereta yang tidak begitu sesak dalam perjalanan pulang setelah study kelompok.
"Kamu nggak ngomong aku sih?"
Justru Mary yang bingung, kenapa juga dia harus memberitahu Juan? Mereka kan tidak sedang berada dalam hubungan yang harus saling memberitahu kegiatan satu sama lain.
"Aku cuma iseng kok semalam," Mary tersenyum geli, "Aku belum pernah kencan dengan cowok sebelumnya. Jadi mungkin itu alasan aku menerima ajakan kencan tadi malam.."
Mary berpikir, dia dan Juan sudah saling dekat, jadi apa salahnya sedikit terbuka dengan cowok itu? Lagipula, entah kenapa dia selalu merasa aman dan nyaman setiap berbincang dengannya.
"Kamu ingin kencan dengan cowok? Kamu bisa mengajakku!"
Mary justru tertawa mendengarnya.
"Aku takut kencan dengan cowok populer kayak kamu!" Mary bergurau.
"Kenapa?" Apa cuma perasaan Mary saja, dia seolah merasa nada pertanyaan itu terasa serius.
"Kepercayaan diriku yang semula bernilai 4 akan turun jadi minus jika di samping kamu!" Mary melihat wajah Juan yang tercenung menatapnya, sementara kereta terus melaju dengan cepat meninggalkan bayang-bayang hitam di udara yang menandakan petang mulai datang.
__ADS_1
"Apa kamu selalu merasa rendah diri begitu setiap bersama orang lain? Kamu selalu merasa kamu selalu berada di bawah orang lain?"
Mary tidak bisa menjawab. Memikirkan baik-baik apa yang dikatakan cowok itu. Dia merasa yang dikatakan cowok itu ada benarnya.
"Dengerin, ini jimatku! Nggak ada orang yang bisa membuatmu merasa rendah diri tanpa persetujuanmu sendiri!" Juan tersenyum lembut, di mata Mary senyum itu bahkan lebih lembut dari cake siffon yang dibuatnya tadi pagi.
"Kamu akan melewatkan banyak hal manis jika selalu merasa rendah diri begitu!" Juan melanjutkan sambil menekan pipi Mary dengan pelan menggunakan ujung telunjuknya.
Mary merasa pipinya menghangat.
"Kamu selalu memperlakukan cewek seperti ini ya?" tanya Mary sedikit membuang muka agar cowok itu tidak melihat pipinya yang memerah.
"Seperti apa?"
"Bersikap baik dan manis seperti ini?"
Juan berpikir. Selama ini dia memang bersikap lembut pada perempuan, sih. Bukankah perempuan memang harus diperlakukan seperti itu?
"Kenapa memangnya?" Juan balik bertanya.
"Kamu bisa membuat cewek salah paham karena itu kan?"
Juan tercenung lagi, tapi lima detik kemudian dia tersenyum lebar.
"Kamu suka padaku ya?"
"Nggak!" Mary menjawab cepat. Suka? Haha, mana mungkin kan?
"Ayolah kencan denganku!" Juan menggoda cewek itu lagi. Dia senang setiap melihat pipi Mary yang memerah seperti tomat segar yang seakan siap digigit kapan saja.
"Apaan sih?!" Mary kesal, "Dengar ya cowok mesum, aku nggak mau kencan sama cowok yang bahkan tidak bisa membedakan warna!"
Juan tertawa geli.
"Dengerin! Aku hanya akan kencan dengan cowok yang aku kenal baik, yang aku sukai, dan dia menyukaiku! Aku nggak akan kencan sama kamu!"
"Wah! Kepercayaan dirimu sekarang terdengar bernilai 7!" Juan tertawa dan menyenggol bahu Mary.
Mary tersenyum diam-diam. Dia tahu, Juan selalu bersikap baik padanya pasti karena kasihan...karena cowok itu selalu melihatnya menangis dan tampak menyedihkan. Tapi meski begitu, dia menyukai sikap cowok itu. Terasa hangat dan menyenangkan.
__ADS_1
###