Lovable You

Lovable You
36. Bersama Ayah


__ADS_3

Mary tidak ingat kapan terakhir kali pergi jalan-jalan bersama ayahnya. Mungkin sudah lama sekali, bahkan mungkin terlalu lama karena Mary benar-benar tidak bisa mengingatnya meskipun sudah berusaha keras. Mungkin sewaktu dirinya masih kecil, berumur 5 atau 6 tahun kalau tidak salah. Entahlah.


Makanya, sekarang dia sangat canggung saat ayahnya mengajaknya berbelanja di mall. Mereka sudah hampir 2 jam berkeliling. Ayah memaksanya memilih beberapa potong baju meskipun Mary menolak.


"Belilah yang kamu mau," kata ayah.


Tetapi Mary tidak enak, dia hanya memilih satu blues berwarna maroon dengan tali pita panjang di depan dada. Tetapi ayah memaksanya juga untuk mengambil satu setel jumpsuit pendek berwarna hijau pastel yang dipajang di badan manekin.


"Bukankah ini tren yang disukai anak muda sekarang?" kata ayahnya membuat Mary heran kenapa ayahnya mengetahui tren segala.


Tidak hanya baju, ayah bahkan memaksanya memilih beberapa pasang sepatu. Mary akhirnya memilih sneakers berwarna biru muda dengan sentuhan warna putih di beberapa bagiannya. Manis sekali, sudah lama Mary menginginkan sepatu ini.


Ketika mereka melewati gerai matchwatch, lagi-lagi Ayah menyuruhnya memilih salah satu.


"Aku tidak apa-apa jika ayah tidak membelikanku sesuatu.." kata Mary.


"Tapi ayah ingin membelikannya. Pilihlah. Hari ini kamu bebas memilih apa yang kamu mau.."


Mary melihat-lihat jam tangan yang terpajang disana. Dia tertarik dengan jam tangan warna hitam dengan kilauan yang sangat cantik, tetapi ternyata harganya terlalu mahal. Akhirnya dia memilih jam tangan termurah di gerai itu, yang mempunyai diskon 20%.


"Ayah jadi ingat saat kamu masih kecil, umur berapa ya waktu itu?" ayah terlihat berpikir, "5 atau 6 tahun?"


Ayah masih bergumam sendiri, "Waktu itu ayah membelikanmu kotak pensil, dan kamu memilih yang paling murah. Ayah masih ingat waktu itu kamu bilang, 'kasihan ayah jika aku memilih yang mahal'. Padahal itu hanya kotak pensil.."


Mary tertegun.


"Putri ayah tidak berubah ya? Masih manis seperti saat kecil dulu.."


Mary merasa hatinya basah mendengar ayahnya mengenang masa kecilnya dulu. Entah kenapa dia masih belum berubah, mudah tersentuh oleh hal-hal kecil. Kemudian dia mengajak ayahnya turun mencari makan di lantai 1 untuk mengusir suasana aneh yang muncul.


Ternyata tidak banyak orang yang makan disana malam ini. Mary memesan 2 rice bowl dengan egg curry sauce di atasnya yang nampak menggiurkan, dia juga memesan segelas jus jeruk dan kopi Americano untuk ayahnya.


"Selamat ulang tahun putri ayah.." kata Ayah tiba-tiba.


Mary tersenyum tipis, ini pertama kalinya ayah mengucapkan langsung saat berhadapan muka. Selama ini biasanya ayah mengucapkan selamat ulang tahun hanya lewat telepon ataupun SMS saja.


"Terima kasih untuk hari ini, Ayah. Ayah membelikanku banyak hal.." Mary melirik 3 kantong belanja yang dia taruh di lantai di dekat kakinya.


"Itu hadiah dari ayah untuk ulang tahunmu. Tapi kamu hanya memilih itu.."


"Ini sudah cukup, kok.."


Ayah mengangguk, "Ayah minta maaf untuk terakhir kita bertemu, ayah sangat marah pada ibumu waktu itu.."


"Tidak. Aku yang minta maaf, waktu itu aku sangat emosi dan mengatakan hal-hal yang.." suara Mary melemah teringat pertengkaran dengan ayahnya terakhir kali.

__ADS_1


"Aku bisa mengerti kenapa waktu itu ayah marah. Sudah sewajarnya ayah marah.." lanjut Mary.


Ayah menggelengkan kepala pelan, "Kamu tahu, saat kamu bilang ayah tidak tahu apa-apa tentangmu karena ayah tidak bersamamu untuk waktu yang lama, ayah terus memikirkannya berhari-hari.."


"Kamu benar. Aku tidak melihat putriku tumbuh setiap waktunya, seperti apa teman-temannya, bagaimana dia di sekolahnya, dia bermain apa setiap hari, apa yang dia rasakan selama ini? Apa dia mengalami kesulitan? Ayah tidak tahu sama sekali.."


"Ayah tidak tahu luka perceraian kami begitu dalam untuk putri ayah.."


Mary menunduk, memainkan sedotan di gelasnya. Sekarang bukan hanya hatinya yang basah, matanya juga.


"Kamu pasti membenci ayah?"


Mary menggelengkan kepala, dia mendongak dan mencoba tersenyum. "Mana bisa aku membenci ayah? Bagaimanapun ayah adalah ayahku, orangtuaku. Ayah sangat menyayangiku saat kecil, aku masih ingat.."


Ayah menghela napas panjang dan mengatakan dirinya sudah lega sekarang.


"Ayah akan membelikan ibumu blok tempat jualan yang baru. Ayah lihat, usaha rumahannya cukup laris, sayang jika tidak dikembangkan.." kata Ayah kemudian.


"Maaf sudah menjual blok yang lama. Ini semua salahku.." Mary masih merasa bersalah.


"Tidak. Tidak. Ayah bisa mengerti. Jangan pikirkan lagi. Ayah mengerti.."


"Tapi, apa istri ayah tidak marah?" Mary merasa ingin tahu, "Bukankah ayah sudah mengeluarkan banyak uang untuk aku dan ibu?"


"Berarti istri ayah tidak tahu?"


"Jangan pikirkan. Itu urusan Ayah. Siapa yang berhak melarang seorang ayah memberikan sesuatu untuk putrinya?"


Mary mencoba tersenyum. Ayahnya sudah banyak berubah sekarang...


"Ayo makan, yah. Nasinya mungkin sudah dingin.." Mary baru 3 kali menyuapkan nasi ke mulutnya ketika ponselnya berdering.


Dari Juan.


Mary buru-buru menelan nasi yang masih ada di dalam mulutnya dan menyeka bibirnya dengan sehelai tissu.


"Ada apa?" tanya Mary ketika mengangkat panggilan itu.


"Lagi dimana sekarang?" suara Juan bisa terdengar sampai ke telinga ayah. Ayah hanya melirik.


"Aku?" Mary bingung kenapa Juan menanyakan keberadaannya, "Aku sedang makan bersama ayahku di luar.."


"Oh.."


"Ada apa?"

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja makanmu bersama ayahmu.."


"Bener tidak ada apa-apa?" Mary merasa tidak yakin.


"Bener. Ya sudah aku tutup ya.."


"Bersenang-senanglah.." lanjut cowok itu sebelum mengakhiri panggilannya.


Mary memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Pacarmu ya?" seloroh ayah.


"Bukan!" Mary menjawab cepat, "Itu tadi temanku.."


Teman yang sangat baik...


"Ternyata putriku sudah besar ya?" ayah tersenyum, "Dia sekarang sudah punya teman laki-laki.."


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya ayah lagi, kali ini membuat Mary tersipu malu.


Mary menggelengkan kepala.


"Jika sudah punya pacar, kamu harus mengenalkan pada ayah. Oke?"


Mary hanya tersipu. Kenapa harus membahas pacar?


Dia kan belum pernah pacaran sama sekali.


"Kamu harus belajar dari ayah.." kata ayah setelah menyeruput kopinya, "Jika nanti kamu menikah, kamu harus mencari laki-laki yang setia yang tidak akan meninggalkan keluarga.."


"Laki-laki yang tidak akan tergoda perempuan lain sampai harus menelantarkan keluarganya. Jangan mencari yang seperti ayah.."


Mary tertegun mendengarnya. Apa selama ini ayah juga sangat menyesali hidupnya?


"Aku masih kuliah, Yah, aku belum memikirkan menikah.." Mary berkata pelan.


"Tentu. Kamu harus kuliah. Apa kamu mau melanjutkan S2 nanti?"


"Kuliahku saja baru neberapa bulan, Yah. Kenapa sudah memikirkan S2?" Mary tertawa melihat ayahnya terlalu bersemangat.


Ayah ikut tertawa.


Mary meneguk jus jeruknya. Rasanya manis dengan sedikit masam, namun menyegarkan.


###

__ADS_1


__ADS_2