Lovable You

Lovable You
3. Tidak Semudah Itu Memulai Hidup Baru


__ADS_3

"Kamu sedang apa?"


Mary mendongak dan tersenyum melihat Ragil berdiri di depannya. Sekarang mereka sedang berada di dalam perpustakaan kampus.


"Sedang mengisi rencana studi.."


Ragil penasaran lalu mendekatkan kepalanya, "Makul yang kamu pilih cukup bagus. Nilai SKS nya cukup berbobot. Kamu pasti tipe murid pintar ya di sekolahmu dulu?


Mary menggeleng. Dia berpikir sebenarnya di sekolah dulu dia tidak bisa dibilang bodoh, nilai-nilainya cukup memuaskan meskipun tetap saja dia juga tidak pernah menonjol. Ibarat pemain film, dia hanyalah figuran yang tidak pernah mendapat sorotan lampu di panggung. Begitulah hidupnya.


"Tapi kamu harus hati-hati di makul yang ini.." Ragil menunjuk salah satu makul pemasaran, "Prof. Harry terkenal killer, temenku ada yang harus mengulang semester ini karena tahun lalu nilainya jeblok."


Mary mengangguk. Dia senang bisa mengenal kakak senior yang super baik ini.


"Gil!"


Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara yang muncul tiba-tiba itu. Mary melihat 2 cowok tampan melangkah masuk, Mary mengenali salah satunya. Cowok itu lagi! Cowok yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"Kita cari dari tadi ternyata kamu lagi asyik menggoda mahasiswi baru.." Cowok bernama Okan mengerlingkan matanya pada Mary membuatnya sedikit tersipu. Dia tidak tahu harus berbuat apa berada di antara cowok-cowok keren ini. Ini hal baru buatnya.


"Ada apa?


"Kamu dicari dekan tuh.."


Ragil seakan teringat sesuatu, dia bangkit berdiri dan berpamitan pada Mary. Mata Mary sempat beradu pandang dengan Sean yang sejak tadi diam saja menatapnya. Siapa namanya? Mary sangat ingin tahu.


"Aku lihat kamu sering PDKT sama cewek tadi ya, kemarin juga. Kamu naksir ya?" tanya Okan saat mereka mulai berjalan meninggalkan perpustakaan.


"Dia tipeku!" sambung Ragil, "Cantik. Kelihatannya juga cukup smart."


Sean yang sejak tadi diam segera menoleh ke wajah Ragil. Dia teringat pertemuan-pertemuannya dengan cewek yang ditaksir temannya itu. Saat ngaca di kaca mobilnya, saat hampir tertabrak di malam itu, begitu juga saat dia melihat cewek itu terjerembab karena tersandung selokan air...


Smart apanya, pikirnya.


Sean tersadar dari lamunannya tentang cewek lemot itu saat Okan menyikut perutnya cukup keras. "Tuh, dicari istrimu!"


Sean melihat Celine berjalan cepat ke arah mereka. Rambut panjangnya berkibar, langkahnya yang panjang semampai membuat siapapun yang melihatnya pasti terpesona. Dia sangat sempurna, tanpa cela, si bidadari jurusan sastra Inggris.


Sayang, cewek itu hanya menyukai satu orang. Cuma satu orang.


"Aku cari kemana-mana, telponmu juga kenapa gak diangkat?" Celine merengut manja saat dirinya sudah berada di depan Sean.


"Aku nggak dengar. Nada deringku mati."

__ADS_1


Diam-diam Okan dan Ragil mencibirkan bibir. Mereka tahu temannya itu berbohong.


"Cel, kayaknya kamu perlu mengikat kaki Sean biar dia nggak bisa kemana-mana. Kamu pasti udah denger kan, angkatan tahun ini cantik-cantik lho.."


"Ide bagus.."


Sean nggak habis pikir kenapa Celine tertawa. Bukankah itu tadi ejekan?


"Kita ke kantin yuk.." Celine menggandeng tangan Sean dan menyeretnya pergi. Ingin sekali rasanya Sean menyingkirkan tangan yang bergelayut manja itu, tapi dia tahu dia lebih memilih membiarkannya.


***


Mary menoleh menatap Milli dan anak-anak lainnya yang sedang tertawa bercengkerama. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang mengasyikkan. Apa ya? Sebenarnya Mary sangat ingin bergabung dengan mereka tapi tidak bisa karena ada DIA.


Mary terhenyak saat cewek berambut coklat terang itu balas menatapnya juga. Deg. Apa itu tadi? Apa dia mengenaliku?


Mary menghembuskan nafas panjang sambil pura-pura menekuri Hp-nya. Fuuuh, baru kemarin dia berpikir untuk memulai kehidupan yang benar-benar baru, tapi sekarang... sepertinya sedikit berat ya.


Kenapa Laura harus satu jurusan dengannya sih? Mary merasa terkejut setengah mati saat pagi ini Laura bergabung di jurusannya. Bukannya dia tidak ikut ospek kemaren? Mary tidak habis pikir kenapa hidupnya selalu penuh dengan kesialan. Apa sewaktu dilahirkan, kedua orang tuanya tidak membuatkannya bubur merah? Arrrgh!


Itu sebabnya hari ini dia lebih memilih menyendiri. Sebisa mungkin dia berpikir untuk menjauhi Laura, orang yang sangat ingin dia lupakan di dunia ini. Cewek itu teman sekolahnya di SMA dulu, cewek kaya dan populer yang menganggap dirinya ratu. Mary tentu masih ingat momen-momen dimana dia sering dibully dan diasingkan.


Bruuukk.


Mary mencoba mengingat kejadian di depan perpustakaan tadi. Seseorang menabraknya membuat buku-buku dan kertas yang dipegangnya berjatuhan di lantai. Mary kesal tapi dia sangat terkejut karena orang itu adalah Laura, orang yang paling tidak ingin dia temui hari ini.


"Nih.." Laura menyodorkan kertas itu di depan Mary, "Jadi namamu Maryana ya?"


Tanpa sadar Mary menyambar kertas dari tangan Laura dengan super cepat. Apa dia melihat namaku di kertas ini?


Mary mengacak-acak rambutnya. Dia merutuki sikapnya yang berlebihan pada Laura tadi. Cewek itu pasti makin curiga kan? Iya kan?


"Kenapa sendirian?"


Mary cukup terkejut melihat Juan duduk di sampingnya.


"Lagi pengen sendiri aja.."


Juan tersenyum melihat Mary yang menunduk memperhatikan Handphone. Sepertinya dia cewek pemalu ya, pikirnya.


"Boleh pinjem Hp mu bentar?"


"Buat apa?"

__ADS_1


"Hp ku jatuh entah dimana. Aku mau coba calling pake Hpmu.." Juan tersenyum menerima Hp Mary. Dia mengetikkan nomornya, sedetik kemudian terdengar dering nada Hp dari saku celananya.


"Nih!" Juan menyerahkan Hp Mary kembali, "Ternyata Hp ku disini," ujar cowok itu sambil senyam senyum.


Mary melongo. Apa itu tadi? Dasar cowok aneh!


"Oh ya, hampir lupa.." Mary mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya, "Jaketmu aku kembalikan. Thanks ya."


Juan tersenyum lagi membuat Mary berpikir cowok itu benar-benar murah senyum. Wajahnya juga menyenangkan, terkesan hangat dan friendly. Seandainya pertemuan pertama mereka tidak menimbulkan rasa malu di hati Mary, Mary yakin dirinya pasti sudah jat...


Ah! Ah! Apa yang ku pikirkan?!


Mary begidik membayangkan pikirannya sendiri yang konyol. Dia menatap Juan lagi. Juan yang sadar sedang dipandangi justru balas menatap balik seolah menantang.


Beraninya aku berpikir seperti tadi? Memangnya siapa aku?


"Lihat! Lihat! Ada apa ini?" suara Milli memecahkan sensasi aneh di antara Mary dan Juan. Mary menoleh mendapati Jeny dan Laura juga sudah berada di dekatnya.


"Aku mencium aroma bunga-bunga cinta.." Jeny mengendus-endus membuat Mary terpaksa menoyor kepala cewek itu. Mary berusaha bersikap senormal mungkin meskipun dia sadar betul Laura sedang menatapnya tajam.


Aku merasa bulu kudukku bergidik...


"Mer, ntar sore kita hangout yuk. Kayaknya seru kan?"


Mary berpikir sejenak sambil melirik Laura. Kayaknya menyenangkan ya?


"Yaah, aku nggak bisa."


"Kenapa?" Milli terlihat sedikit kecewa, "Kenapa nggak kita manfaatkan waktu buat have fun sebelum masa kuliah dimulai?"


"Ntar sore aku mau ke rumah calon muridku untuk sesi perkenalan. Inget kan aku bilang aku bakal ngajar les privat?"


Milli mengerti dan berkata mereka harus pergi lain kali. Berteman dengan Mary menyenangkan karena entah kenapa orang-orang selalu baik pada mereka jika ada Mary. Tidak jarang, kadang mereka mendapat traktiran gratis. Hehehe..


Mary memukul Jeny pake buku membuat cewek itu nyengir dan mengaduh.


Tring tring tring.


Mary membuka chat yang masuk ke Hp-nya. Dari nomor tak dikenal.


Merah?


Pink?

__ADS_1


Mary mendelik. Dia menoleh ke arah Juan dengan tatapan membunuh, sementara cowok itu justru senyam senyum. Kali ini Mary merasa senyum itu tidak lagi manis, di matanya sekarang senyum itu mirip senyum srigala. Cowok itu benar-benar mesum kan?


###


__ADS_2