Lovable You

Lovable You
2. Awal Hidup Baru


__ADS_3

"Mary, mau minum?" Milli, teman yang baru dikenal Mary pagi ini menyodorkan sebotol sprite dingin padanya. Mary menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Dia berpikir mungkin ini pertama kali di hidupnya ada sesorang memberikan sesuatu kepadanya. Juga mungkin ini kali pertama ada seseorang yang mau berteman dengannya.


Mary membayangkan pertemuannya dengan Milli tadi pagi. Cewek manis berlesung pipit itu menyapanya terlebih dulu di auditorium kampus, tepat saat dirinya sedang kebingungan di tengah keramaian disana. Hari ini hari pertama ospek kuliah!


"Hai, kamu mahasiswi baru juga?" Mary cukup terhenyak melihat cewek cute itu menyapanya. Mary mengiyakan. Entah kenapa Mary sangat suka melihat senyum cewek itu. Dia juga kelihatan baik dan ramah, pikirnya.


"Kamu ambil jurusan apa?" cewek itu bertanya lagi.


"Manajemen bisnis.."


Cewek di depannya terlonjak senang dan bersyukur bertemu teman satu jurusan di hari pengenalan mahasiswa baru pagi ini. Sejujurnya dia sangat canggung pagi ini, begitu katanya.


"Oh ya, namaku Milli. Kamu?"


"Aku Mary.." Mary menyambut jabatan tangan yang hangat itu dengan perasaan senang. Entah kenapa sensasi seperti ini hal baru buatnya. Dan dia menyukainya.


"Namamu cantik sekali seperti kamu.."


Mary tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya pujian kecil ini sedikit mengganggu pikirannya. Dia merasa senang sekaligus sedih dalam waktu yang sama. Jika dia masih buruk rupa, apakah cewek ini juga akan bersikap baik padanya?


"Mary ngerasa gak sih, kayaknya Kak Ragil suka curi-curi pandang ke kamu deh?" Suara Jeny yang cempreng membuyarkan lamunan Mary. Mary menoleh mengikuti telunjuk Jeny dan dia melihat sekumpulan cowok senior yang memimpin kegiatan ospek mereka hari ini.


"Aah benar!" Milli ikut menyahut, "Kamu ingat saat cowok itu membantu Mary pas jatuh tadi? Awww... so swiiiitt," Milli dan Jeny heboh.


Mary benar-benar tidak ingin mengingat kejadian memalukan itu. Mereka sedang dibawa berkeliling gedung jurusan dan Mary tidak melihat saluran air kecil tepat di depannya. Dia tersungkur membuatnya jadi pusat perhatian. Saat itulah Ragil menolongnya bangun bahkan mengambilkan sebelah sepatunya yang terlempar.


Saat itu Mary teringat kenangan masa kecilnya yang seringkali terjatuh, namun jangankan ditolong, dia justru seringkali ditertawakan teman-temannya.


"Hei, dia senyum ke kamu tuh!" Suara cempreng Jeny lagi-lagi membuyarkan lamunannya. Matanya sempat beradu pandang dengan Ragil. Dia nggak salah lihat kan? Cowok itu tersenyum padaku?


Keterkejutan Mary semakin bertambah saat melihat cowok di depan Ragil ikut menoleh padanya. Cowok malam itu! Kenapa ada disini?


"Mer, kayaknya Kak Ragil mau nyamperin kesini deh!" Milli dan Jeny kompak menyikut Mary membuatnya sedikit terhuyung ke depan.


"Gimana lutut kamu? Sudah nggak apa-apa kan?" Ragil bertanya padanya sambil memperhatikan lutut Mary yang dibalut plester.

__ADS_1


Mary mengangguk. Milli menyikutnya membuatnya makin bingung, nih anak kenapa sih?


"Kalian sudah makan?" Mereka bertiga kompak menggeleng ditanya seperti itu. "Mau ku traktir makan di kantin?"


Mary sangat heran kenapa kedua teman barunya itu menganggukkan kepala secepat kilat. Dia bahkan bisa mendengar bisikan mereka yang mengatakan bahwa berteman dengan cewek secantik Mary menyenangkan. Sebelum mereka berempat melangkah pergi, Mary masih sempat menoleh ke arah cowok yang sudah menolongnya malam itu. Siapa ya namanya?


"Jika kalian kesulitan tentang sesuatu sebagai mahasiswa baru, kalian boleh mencariku," kata Ragil saat mereka mulai makan di kantin. Dari tadi cowok itu selalu berbicara tanpa henti tentang kegiatan kampusnya sebagai ketua organisasi mahasiswa jurusan dan juga memberi banyak masukan kepada mereka tentang apa-apa yang harus dilakukan sebagai mahasiswa baru, terutama tentang mengisi rencana studi satu semester ke depan.


Mary merasa bersukur berkenalan dengan Ragil, cowok itu baik sekali.


***


Mary merebahkan punggungnya di kasurnya yang empuk. Hari ini cukup melelahkan, tapi juga menyenangkan. Dia tersenyum sendiri mengingat momen-momen yang dia lalui hari ini, berkenalan dan berteman dengan banyak orang baik yang mau tersenyum padanya. Seumur-umur mungkin ini kali pertama...


Mary mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku roknya. Tadi Ragil memberinya nomer Hp saat Mary tidak sengaja bercerita dia ingin mengisi kegiatannya dengan mengajar les privat, itung-itung buat tambahan uang jajan kuliahnya. "Mau aku rekomendasikan?" tanya Ragil setelah cowok itu mengatakan bahwa mama dari salah satu temannya kebetulan sedang mencari guru privat untuk anak kelas 2 SD. Tentu saja Mary mengangguk dengan senang. Cowok ini baiiik banget...


Mary tersenyum sendirian sementara matanya menangkap jaket jeans denim Levi's warna hitam tergantung di dinding kamarnya. Dia bangkit mengambil jaket itu, melipatnya. Tapi dia teringat sesuatu, dia menyemprotkan parfum ke jaket itu. Dia menciumnya, pikirnya sekarang jaket ini sudah sewangi saat dia menerimanya tempo hari.


"Aku akan mengembalikannya besok.." pikirnya sambil teringat kejadian tadi pagi sewaktu sesi pengenalan mahasiswa baru sesama jurusan.


"Kamu nggak inget aku?" Cowok itu melihat wajah bingung Mary yang lucu. Mary menggeleng, kelihatan dia berpikir keras berusaha mengingat-ingat.


Cowok itu mendekat dan berbisik lembut di telinganya membuat Mary merasa de javu. "Merah atau pink?"


Mary terbelalak. Cowok itu tersenyum manis, dan melihat senyum itu membuat ingatan Mary semakin jelas. Dia cowok keren yang dia temui di hari berhujan kemaren.


"Apa yang merah dan pink?" Jeny yang tak sengaja mendengarnya menyelak penasaran. Tak cuma Jeny, semua mahasiswa baru disana juga penasaran melihat cowok bak idol K-Pop itu mengenal Mary, si mahasiswa baru yang cukup populer di hari pertamanya. Visual mereka berdua cukup enak dipandang kan? Perfect couple.


Spontan Mary menendang kecil sepatu cowok itu seolah mengatakan, jaga mulutmu! Cowok itu malah tersenyum geli.


"Kalian udah saling kenal ya?" tanya seseorang.


"Nggak!"


"Iya!"

__ADS_1


Mary dan cowok itu saling bertatapan hingga suara keras dari microphone membuyarkan mereka.


"Tunggu dong, *urusan kita belom sele*sai.." cowok itu menahan tangan Mary saat dilihatnya Mary sudah siap beranjak pergi.


"Kamu nggak denger ya, senior nyuruh kita segera kumpul!"


"Kenapa harus buru-buru sih? Aku kan belum selesai bicara..."


Cowok ini benar-benar nggak sadar sudah membuatnya malu ya, gerutu Mary dalam hati. "Jadi urusan apa yang belum selesai?"


"Ck. Kamu bicara seolah kamu tidak merasa bersalah sama sekali.."


"Emang aku salah apa?" Mary bingung. Cowok itu tersenyum lagi membuat Mary berpikir bisa-bisa dia terkena diabetes sesudah ini.


"Kembalikan.."


"Apa?" Mary benar-benar tidak mengerti.


"Kembalikan... ha-ti-ku...." Cowok itu terkikik geli melihat pipi Mary semerah tomat, sangat menggoda untuk digigit. "Hei aku bercanda. Kenapa wajahmu merah begitu? Maksudku kembalikan jaketku yang aku pinjamkan kemaren.."


Mary memejamkan matanya sedetik seraya menggigit bibirnya. *Apa yang kupikirkan tad*i? Memalukan.


"Oke. Aku kembalikan besok.." Mary berbalik tapi lagi-lagi dia merasakan tangan yang hangat itu menahannya lagi.


"Apa?"


Cowok itu tersenyum entah untuk ke sekian kalinya membuat Mary berpikir jika dirinya adalah lilin maka saat ini dia pasti sudah habis meleleh.


"Namaku Juan. Kamu?"


Mary terhenyak dari lamunannya. Dia mengibaskan tangannya ke udara kosong seolah menyingkirkan pikiran-pikiran konyol yang barusan mengetuk alam bawah sadarnya. Sadar Mary, sadar!


Mary merebahkan badannya lagi. Dia berpikir, dia sudah bertekad untuk memulai kehidupan sebagai Mary yang baru! Bukan Mary yang dulu!


Dia pasti bisa kan?

__ADS_1


###


__ADS_2