
Celine sedang bermain boneka bersama Misha di ruang tengah ketika Mary datang.
"Kak Mary.." Misha menyapa. Celine ikut menoleh dan menatap Mary yang berdiri canggung dengan seksama. Baru kali ini, entah kenapa dia betul-betul ingin memperhatikan cewek itu dengan baik. Rambutnya, wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya...
Mary menyapa balik Misha, berusaha mengusir rasa aneh yang tiba-tiba muncul karena ditatap Celine sedemikian rupa.
Kenapa dengan tatapan itu?
"Kami lagi main boneka, Kak. Aku jadi Anna, Kak Celine jadi Elsa. Kak Mary jadi Olaf, mau?" Misha bertanya dengan nada penuh keriangan.
Mary mengulum senyum dan mengatakan bahwa mereka harus segera belajar. Misha cemberut.
"Main sebentar dulu aja, kasihan anak cantik ini ngambek!" Celine mencubit pipi Misha dengan gemas.
Mary mengiyakan dan berkata dia akan bermain bersama mereka sebentar.
"Olaf, bagaimana ini? Elsa terjebak di atas gunung salju disana!" Misha menggerakkan bonekanya yang berkepang dua, sesuai dengan tokoh Anna di film Frozen.
"Kita harus segera menolongnya, Anna!" Mary mengubah suaranya menjadi lucu membuat Misha terkikik.
"Gimana caranya?"
"Kita harus terbang!"
Misha memukul lengan Mary, "Mereka nggak terbang, Kak! Mereka mendaki gunung!"
Mary tertawa kecil dimarahi Misha seperti itu. Lucunya anak ini.
"Oke, ayo kita naik gunung!" Mary menggerakan boneka Olaf.
"Anna dimana kamu?" Misha berteriak.
"Kalian kenapa ada disini?!" Celine yang memerankan Anna mulai menggerakkan boneka di tangannya.
"Anna, kerajaan kita sedang terjadi badai salju hebat. Hanya kamu yang bisa menolongnya!" Misha memohon. Dalam hati Mary berpikir, Misha kelak sangat cocok menjadi seorang aktris. Anak ini pandai sekali bicara.
"Aku tidak mau! Kalian pergi saja dari sini!"
"Aku mohon Anna.."
"Pergi! Raksasa batu keluarlah, usir mereka!"
Misha menjerit seolah-olah raksasa benar-benar muncul di belakangnya. Misha mengajak Olaf berlari.
"Aww, kita jatuh ke jurang.." Misha berteriak lagi dan memperagakan seolah bonekanya jatuh terjerembab.
"Dimana hidungku?" Olaf yang ikutan jatuh bertanya mencari hidungnya.
Misha tertawa, diikuti oleh Mary.
"Kak Mary cocok jadi Olaf!" kata Misha.
"Kamu juga, cocok jadi Anna!" balas Mary. Kemudian dia mengatakan mereka harus segera berhenti bermain sekarang. Misha mengangguk, dia ingin membereskan boneka-bonekanya tetapi Celine melarang.
__ADS_1
"Biar Kakak yang bantu bereskan, Misha belajar saja sana!" kata Celine sambil memunguti boneka-boneka yang berserakan itu dan memasukkannya ke dalam keranjang kecil berwarna merah muda.
Misha segera berlari kecil menuju ruang belajarnya. Mary mengingatkan untuk hati-hati.
"Mary, tunggu!"
Suara Celine menghentikan kaki Mary. Dia menoleh.
"Selesai mengajar, aku ingin bicara sama kamu," Celine berkata lirih sambil terus mengamati gantungan tas Mary.
Mary tertegun dan bertanya ada apa, tetapi Celine hanya berkata dirinya akan mengatakan nanti.
Mary dipenuhi berbagai pertanyaan ketika masuk ke ruang belajar dimana Misha sudah menunggunya.
"Itu tadi Kak Celine, kakak sudah kenal?" tanya Misha memecahkan lamunan Mary.
Mary bergumam, "Dia pacar kakakmu kan?"
"Dia akan jadi istri Kak Sean nanti.."
Mary tercenung beberapa saat kemudian bertanya darimana Misha bisa mengetahui itu.
"Mama selalu bilang begitu.." Misha menjawab tanpa memperhatikan raut wajah Mary yang berubah.
"Ooh.." gumamnya pelan.
***
Celine berdiri tegak dengan melipat tangan ke dada, memperhatikan air kolam renang yang berwarna jernih. Dia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.
Di dalam hati dia memberikan poin lumayan untuk penampilan Mary yang mengenakan skirt di bawah lutut berwarna cokelat kayu dipadu atasan blues longgar berwarna putih.
"Ada apa, Kak?" Mary merasa risih dengan cara memandang Celine. Sekaligus bingung dan bertanya-tanya.
"Gantungan tas itu punya siapa?" Celine tanpa basa-basi menunjuk gantungan tas berbentuk huruf L dan O yang ada di tas Mary.
Celine memegang gantungan tasnya dengan erat. Dia teringat gantungan tas ini diberikan Sean untuk mengganti gantungan tasnya yang diinjak sampai hancur malam itu.
Mary menggigit bibir, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Dia bisa melihat rasa tidak suka di mata Celine, dan dia juga bisa melihat sedikit tatapan meremehkan disana.
"Ini punyaku.." Mary bisa mendengar suaranya sendiri yang bergetar.
Celine tersenyum sinis, "Yakin?" tanyanya kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas. Dia memperlihatkan gantungan tasnya sendiri yang berbentuk huruf V dan E.
"Yakin itu punyamu?" Celine terus mendesak.
Mary merasa dirinya sudah mirip pencuri yang tertangkap basah. Aneh sekali rasanya.
"Kak, aku bisa jelasin.."
"Tunggu!" Celine berkata tajam, "Sebelum kamu jelasin sesuatu, aku disini yang akan lebih dulu menjelaskan ke kamu."
Mary mengangguk seperti anak kecil.
__ADS_1
"Aku pacarnya Sean, kamu tahu kan?"
Mary mengangguk lagi.
"Bahkan lebih dari pacar, aku calon istrinya kelak. Kami sudah saling mengenal sejak SMA karena perjodohan orangtua kami. Aku mengerti baik Sean lebih dari siapapun bisa mengerti dia.."
"Tapi kamu tahu, pacaran dengan cowok yang nyaris sempurna kayak dia, kadang membuat hatiku khawatir. Ya, aku takut, dia tergoda salah satu cewek-cewek di luaran sana yang hobi mengejar dia.."
"Kamu pernah ditolong dia kan?" Celine berkata tajam, "Kamu jangan salah paham, dia memang penolong pada siapa pun. Hatinya sangat sensitif meskipun sikapnya sering kasar.."
"Aku ingat, dia pernah menolong seorang teman SMA culun yang sering dikerjain anak laki-laki. Dia nggak segan menghajar mereka.."
"Hingga pada akhirnya cewek itu salah paham mengira Sean menyukainya, padahal memang begitulah dia. Hatinya sangat lembut.."
Mary merasa hatinya tidak menentu sekarang. Ada sesuatu yang menyesakkan rasanya.
"Begini, aku nggak ngerti maksud Kak Celine apa bercerita kayak gini. Tapi jika Kak Celine mengira aku dan Kak Sean ada sesuatu, sepertinya kakak salah.." Mary memainkan ujung bajunya.
"Aku tahu!" Celine menjawab cepat, "Aku tahu kalian tidak ada apa-apa dan Sean juga tidak mungkin begitu. Dia bukan tipe yang mudah membuka diri dengan siapapun. Kamu tahu,selama ini dia hanya berbagi perasaannya denganku.."
"Aku cuma ingin memberitahumu saja.." Celine tersenyum tetapi Mary tahu dia benar-benar tidak menyukai senyum itu.
"Kamu tahu, aku harus jujur, entah kenapa aku merasa tidak nyaman setiap melihat kamu.."
Kenapa?
Memang apa salahku?
Apa maksud dia bicara blak-blakan seperti itu?
"Kak Celine nggak usah khawatir, aku bukan siapa-siapa yang bisa mengganggu hubungan kalian kok!" Mary merasa hatinya dipenuhi rasa marah.
Celine mencoba tersenyum, "Kamu jangan salah paham ya. Aku bicara gini karena aku merasa harus mencegah segala sesuatu sebelum terjadi. Kamu ngerti maksudku kan?"
Mary mengangguk dan memutuskan untuk segera berpamitan pergi. Dia merasa sedih, marah dan kesal di waktu yang sama.
Kenapa?
Kenapa dia merasa seolah bisa membaca perasaanku?
Mary melangkah keluar dari rumah itu dengan cepat. Di halaman depan, dia bertemu Sean yang baru saja keluar dari mobil.
Sean menyapanya.
"Ada apa?" Sean tahu telah terjadi sesuatu saat melihat raut wajah Mary.
Mary hanya menggeleng, kemudian berpamitan pulang.
"Biar aku antar!" Sean menarik tangan Mary.
Mary cepat-cepat melepaskan tangannya.
"Kenapa Kak Sean seperti ini?" tanya Mary pelan, "Apa Kak Sean nggak khawatir aku bisa salah paham?"
__ADS_1
Sean hanya bisa tercenung.
###