
Suasana bazaar malam ini sangat ramai sekali, berbagai pertunjukan ada di sana sekaligus stand-stand unik yang berjejeran mengelilingi lapangan utama kampus yang super luas itu.
Dari panggung yang berada di lapangan sisi kanan, sedikit jauh letaknya dari stand-stand bazaar yang berjejer, terdengar alunan musik rock dari salah satu band cukup populer, menambah suasana meriah di malam yang kebetulan cerah sekarang setelah beberapa hari ini mendung hitam selalu menyelimuti langit.
Mary dan kedua temannya sedang mencicipi sostel jumbo sambil berkeliling tenda stand yang ada di sana. Umumnya stand-stand itu didirikan oleh masing-masing jurusan ataupun klub di kampus mereka, namun ada juga yang berasal dari pihak luar kampus setelah berhasil mengantongi izin.
Ketika sampai di tenda stand 'kafe coffe' milik jurusan mereka, disana telah ada Sean dan para senior yang lain sedang berjaga. Mary terkesan, karena stand ini yang paling outstanding dibanding lainnya. Desain interiornya unik dengan berbagai ornamen lucu dan lampu hias yang cocok digunakan untuk spot selfi.
Belum lagi bartender dan pelayannya adalah para senior yang cukup populer di jurusan mereka sehingga menambah daya tarik pelanggan. Bener-bener totalitas! Nggak salah mereka mengambil kuliah jurusan bisnis!
"Oh, kamu!" Mary melihat cewek super cantik tengah menyapanya. Cewek itu mengenakan celana jins belel dipadu atasan blouse lengan pendek yang setengah terbuka dibagian bahu, memperlihatkan kulit lengannya yang bening. Rambut panjangnya dikucir kuda, terkesan sekenanya saja, tapi justru itu yang menambah daya tarik cewek itu. Bahkan tampil kasual begitu saja, dia sudah cantik luar biasa seperti artis.
Mary berpikir sangat kontras sekali dengan penampilannya sekarang yang hanya mengenakan jins biasa dipadu knit lengan panjang yang longgar berwarna light brown. Belum perbedaan tinggi badan mereka yang sangat mencolok, benar-benar membuat Mary minder meski hanya berdiri berhadapan seperti ini. Bagaikan langit dan bumi, Mary membatin.
"Kamu yang kemaren aku dan Sean anter pulang kan?"
Mary tentu masih ingat dia cewek yang bersama Sean di bioskop waktu itu. Juga cewek yang sama yang dia lihat di album foto sedang berpose bersama Misha. Sepertinya mereka sangat dekat ya...
Mary mengangguk dan menyapa balik.
"Kalian sedang apa disini?" Sean tiba-tiba muncul seperti hantu.
"Kami ingin mencicipi kopi kalian.." Mary menjawab.
"Sudah tidak ada tempat duduk. Sana, kalian pergi saja! Menuh-menuhin tempat!" Sean menyuruh mereka semua bergeser karena dia mau lewat mengambil gelas kopi kotor yang baru saja ditinggalkan pelanggan.
"Jangan kasar dengan junior, mereka bisa nangis.." Celine mengerling pada mereka bertiga yang masih ternganga mengagumi kesempurnaan postur wajah yang dimilikinya.
"Kamu juga!" Sean sudah kembali dengan nampan yang penuh cangkir kotor, "Bukannya jurusanmu punya stand sendiri?!"
Celine tersenyum simpul. Jadi dirinya diusir ya? Sean sangat lucu...
"Celine itu sangat setia sama suaminya!" Okan ikut nimbrung sementara tangannya sibuk mengelap meja.
"Meskipun kelasnya punya stand sendiri, tapi dia bela-belain kesini buat ngebantu Sean kan?" Okan melempar lap meja ke arah Celine yang segera ditangkap cewek itu dengan tangkas sambil tertawa. Sedang Okan sendiri berjalan ke arah bartender untuk menyiapkan pesanan yang lain.
"Denger ya! Aku gak ngebantu kalian dengan gratis!" Celine masih tertawa tapi tangannya ikut membantu membersihkan dan mengelap meja yang baru saja ditinggalkan sepasang muda-mudi. Momen-momen seperti ini memang menjadi kesempatan bagus para mahasiswa untuk pacaran atau mencari gebetan.
"Kita pergi dari sini yuk.." Milli berbisik, Jeny mengiyakan karena dia pun merasakan suasana yang canggung disini.
"Kalian udah mau pergi?" Sean mendekati mereka.
Milli menggerutu, bukankah barusan cowok itu sendiri yang mengusir mereka ya? Emang dasar cowok aneh!
"Nih!" Sean mengulurkan satu cup mocha latte yang baru saja diraciknya sendiri itu pada Mary.
Untuk aku?
Melihat Mary menerimanya dengan canggung, Sean menambahkan, "Tadi kamu bilang pengen mencicipi kopi kami?"
"Oh.."
"Kak, kok cuma Mary yang dikasih? Kita juga orang nih!" Milli menggerutu.
__ADS_1
"Kalian beli sendiri lah! Rugi ntar kafe kami!" jawab Sean sambil berlalu.
"Nggak adil!" Milli masih menggerutu meskipun mereka bertiga sudah pergi dari stand kafe milik Sean dan senior lainnya.
Mary tersenyum geli dan menyuruh kedua temannya untuk ikut menyeruput mocha latte miliknya. Mereka pun berbagi minuman itu dalam satu sedotan yang sama.
"Bisa-bisanya cowok dingin begitu punya cewek secantik kakak tadi! Pasti matanya katarak!" Milli masih menyumpah serapah.
"Kenapa? Ku pikir mereka cocok kok! Si tampan dan si cantik!" Jeny membela sambil membayangkan Sean dan Celine jika berdua saja. Perfect couple!
Jadi kakak cantik itu beneran pacarnya ya, Mary berbicara dalam hati.
Mereka sangat serasi banget!
Sean yang tampan, dan Celine yang secantik bidadari...
Kenapa bisa cocok banget begitu?
Jadi, seleranya cewek cantik seperti itu ya?
Cantik...
Tapi kenapa rasanya gini?
Nggak boleh kayak gini!
"Kamu ngelamun ya!?" Jeny menyenggol bahu Mary pelan karena cewek itu diam saja sejak tadi.
"Eh, iya, kenapa?"
"Kayaknya itu stand milik club fotografi kan?" seru Milli.
Sesampainya disana, mereka melihat Juan sedang memotret empat orang cewek yang berpose lucu di depan background warna putih. Juan telah mengambil take foto beberapa kali ketika akhirnya dia menyadari kehadiran mereka bertiga.
"Kalian disini?" Juan menyerahkan kamera pada kakak seniornya yang sedang duduk bergeming di depan laptop untuk mencetak foto yang baru saja dia ambil.
"Kita baru tahu kamu ikut klub fotografi!" Milli memulai pembicaraan ketika Juan telah bersama mereka.
"Gitulah.." Juan hanya tersenyum.
"Kamu jago moto dong!" Jeny menyambung, "Pantes foto-foto di ig kamu bagus banget!"
Mary pernah ngepoin ig Juan dan dia setuju dengan apa yang dikatakan Jeny barusan. Dia juga sangat kagum dengan foto-foto yang diposting cowok itu di ig-nya, baik dari sudut pengambilan objek, cahaya, maupun editingnya. Tapi dia gak pernah menyangka sebelumnya kalau ternyata cowok ini mahir fotografi.
"Nggak segitunya kok. Aku juga masih belajar." Juan menawarkan untuk mengambil foto mereka bertiga yang tentu saja disambut dengan seruan-seruan girang.
"Gratis ya?" Milli merajuk.
"Oke!"
Mereka bertiga bersiap memasang gaya seheboh mungkin.
"Mary, senyum yang lebar dong!" seru Juan sambil membidik di balik lensa kamera yang dia pegang.
__ADS_1
Setelah beberapa kali mengambil foto dengan berbagai gaya, Juan mendekati Mary.
"Kamu kalau difoto emang kaku banget gini ya? Coba deh lihat!" Juan tertawa ketika memperlihatkan salah satu gambar yang dijepretnya tadi.
"Ihh, jelek banget! Hapus! Hapus!" pinta Mary berusaha merebut kamera dari tangan Juan.
"Nggak. Bagus kok, lucu. Hehe.."
"Jangan gitu dong! Aku kelihatan paling jelek banget disitu!" Mary merengut.
"Sini, aku potoin lagi yang bagus!" Juan menarik tangan Mary dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi. Dia mengatur gaya Mary termasuk posisi tangan dan kakinya. Terakhir, dia menarik kedua sudut bibir Mary menggunakan telunjuknya.
"Jangan lupa senyum," kata Juan.
"Kita dikacangin ya?" bisik Jeny pada Milli yang juga hanya berdiri bengong sedari tadi. Milli mengangguk-angguk. Tapi sejurus kemudian dia malah berseru, "Mer, kamu tunggu disini ya sampai foto kita selesai dicetak!"
"Kalian mau kemana?" tanya Mary.
"Nih, Jeny bilang mau lihat stand klubnya bentar. Bentar doang kok! Juan, kita titip Mary ya?" Milli segera menyeret lengan Jeny dari sana tanpa memedulikan seruan protes Mary yang ditinggal sendiri. Milli malah tersenyum.
"Kamu sengaja ninggalin mereka berdua ya?" Jeny menebak maksud dan tujuan temannya itu ketika mereka sudah jauh meninggalkan stand itu.
"Hu'um. Perasaan aku nyuruh gitu!" Milli tercenung.
"Juan emang cowok baik sih.." Jeny berpikir-pikir.
"Juan type yang cocok buat cewek kayak Mary, ya kan?"
"Tapi ku pikir, Mary menyukai orang lain?" Jeny bergumam sambil melamun.
"Siapa?!" Milli terkejut.
"Entahlah, aku juga nggak tahu pasti. Tapi aku ngerasa dia selalu menatap Kak Sean dengan sedikit berbeda." Jeny teringat beberapa kali dia sering memergoki Mary yang mencuri pandang ke Sean ketika sedang mengerjakan tugas kelompok. Cewek itu benar-benar type yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dengan baik, pikir Jeny geli.
"Sean? Enggaklah! Dia kan udah punya pacar?" Milli menggeleng keras.
"Makanya tadi aku bilang aku nggak tahu pasti!" Mereka berdua berhenti di depan stand yang menjual pernak-pernik cewek yang lucu.
"Lagian cowok kayak Sean nggak cocok buat Mary!" Milli melanjutkan obrolan mereka sambil melihat-lihat gelang dari mutiara yang sangat cantik.
"Kenapa?" Jeny ingin tahu.
"Cewek berkepribadian seperti Mary pasti akan selalu terintimidasi jika bersama Sean."
"Tapi ku pikir, Sean baik kok meskipun sedikit kasar dan nyebelin!"
"Aku nggak bilang dia jahat! Aku bilang, kepribadian mereka nggak cocok satu sama lain. Cewek kayak Mary itu butuh orang-orang yang bisa menyalurkan energi positif untuk dirinya. Dan itu cocok dengan Juan, yang kalem dan selalu mendukung dia."
"Sotoy!" Jeny meledek mendengar temannya itu berbicara panjang lebar.
Milli menjitak kepala Jeny, tapi tertawa.
"Kita beli ini yuk bertiga!" Jeny memperlihatkan jepit rambut manis dengan butiran mutiara besar yang nampak berkilau di bawah sinar lampu yang terang.
__ADS_1
###