Lovable You

Lovable You
6. Jangan Sok Cantik


__ADS_3

Mary berdecak kesal sambil menenteng 2 bungkus plastik besar berisi snack dan jus. Dia teringat sekali lagi saat Laura berbisik padanya, "Mary, aku ingin minum jus.."


Kenapa bilang padaku?


"Kamu mau kan membelikanku camilan?"


Nggak! Emangnya aku kacungmu?


Tapi disinilah dirinya sekarang, di kantin. Kenapa dia tidak bisa menolak? Kenapa dia selalu membiarkan dirinya ditindas seperti ini?


"Sini, aku bantu bawain.." Seseorang merebut kantong plastik dari tangannya. Mary menoleh dan melihat senyum Juan yang 100% bisa melelehkan bongkahan gunung es sekalipun itu. Cowok itu sudah tampan, baik hati dan juga wangi dimanapun dan kapanpun membuat Mary berpikir nih cowok pasti enak banget dipeluk dan diendus-endus. (?)


Apa yang aku pikirin!?


"Tubuhmu mungil gini, tapi makanmu banyak juga ya?"


Mary cuma tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu. Dia tidak mungkin kan memberitahu cowok itu kalau dirinya melakukan semua ini karena ditindas.


"Kenapa chatku nggak pernah kamu balas sih?" Juan protes.


Mary menoleh, "Kenapa aku harus membalas chatmu?"


"Hmm apa begini sikapmu jika ada orang yang ingin berteman denganmu ya?"


"Berteman denganku?" Mary seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi Juan mendengar itu, dia menatap Mary yang sedang termenung itu dengan penuh tanda tanya. Ya, dia ingin tahu.


Sesampainya di kelas, Mary mengambil kembali bungkusan yang dibawa Juan sambil mengucapkan terima kasih. Dia meletakkan kasar bungkusan itu di depan Laura yang sedang duduk sendiri sambil memainkan Hp.


"Bagus." suara Laura benar-benar membuatnya kesal. Apalagi saat dilihatnya Laura membagikan snack itu pada teman-teman dan mengatakan bahwa dirinyalah yang membelikan. Kenapa sih dia selalu cari muka?


"Kenapa kamu bilang kamu yang beli?" Mary tersentak melihat Juan tiba-tiba menghampiri Laura, "Bukannya Mary yang beli semua snack ini di kantin..." sambung cowok itu sambil mengedikkan dagunya ke arah Mary.


Teman-temannya melihat Laura yang tergagap mencari alasan di depan Juan. Mereka berbalik memuji Mary yang sangat royal berbagi makanan.


"Mary sudah cantik, baik hati ya.."


"Mary, we love you.."

__ADS_1


"Lain kali kita yang traktir, Mer. Thanks ya.."


"Bukan apa-apa kok," balas Mary menjawab selorohan teman-teman jurusannya. Dia bisa melihat wajah Laura yang kesal sedang menatapnya tajam sambil merengut.


"Jadi, Laura tadi nyuruh kamu beli semua snack ini?" tanya Milly yang baru datang.


"Ahh, itu.." Mary bingung ingin menjelaskan bagaimana. Rasanya aneh dan malu jika orang lain mengetahui dirinya biasa diperlakukan seperti ini.


***


Mary keluar dari bilik kamar mandi dan dilihatnya Laura sedang mencuci tangan di wastafel. Kenapa sih dia harus selalu ketemu cewek itu disini, rutuknya.


Mary ikut mencuci tangan, dan dia bisa merasakan lirikan cewek itu menghujamnya. Laura mengibas-ngibaskan tangannya yang masih basah ke arah Mary membuat Mary menoleh kesal.


"Upss sorrri.." suara cewek itu benar-benar menyebalkan terdengar di telinganya.


"Aku gak sengaja. Gak apa kan?" kali ini Laura menepuk-nepukkan tangannya ke baju Mary, seolah bajunya adalah lap tangan di dapur. Mary menyingkirkan tangan yang basah itu. Kali ini dia benar-benar merasa marah. Apa kesalahan dia sampai harus direndahkan seperti ini?


"Kamu marah?" Laura justru tersenyum sinis.


Apa aku nggak berhak marah? Aku manusia, aku punya perasaan yang bisa merasakan sakit hati juga. Apa aku harus selalu diam diperlakukan seperti ini?


Mary menghela nafas. Hanya karena Laura mengetahui rahasianya, cewek itu merasa seakan bisa menginjaknya setiap hari. Bukankah seekor kucing yang manis sekalipun akan tetap menunjukkan giginya jika ekornya terus menerus dipermainkan?


"Oh ya, soal tugas kuliah tadi kerjakan juga untukku ya!"


Apa aku ini kacungmu? Mary membenci dirinya sendiri yang hanya bisa diam. Benar kata Sean, dirinya hanya seseorang cewek bodoh yang tidak bisa membalas perbuatan orang lain padanya.


Tapi, apa aku ingin seperti ini selamanya? Menjadi Mary yang jelek, lemah, bodoh dan tidak bisa melawan?


Entah keberanian darimana membuat Mary menahan pundak Laura saat cewek itu hendak berbalik pergi.


"Aku tidak mau!" Mary menatap tajam Laura. "Kerjakan sendiri. Kamu juga punya tangan dan otak kan?"


"Kamu!"


"Kenapa kamu pikir aku pasti mau menuruti semua perintahmu?"

__ADS_1


"Oh sekarang kamu bisa songong ya, apa mentang-mentang semua orang menyukaimu karena wajahmu yang sekarang cantik?" Laura berkacak pinggang, tingkahnya yang menguliti Mary dari ujung kepala sampai ujung kaki itu benar-benar menyebalkan. "Jangan sok cantik deh. Menurutmu apa orang lain akan tetap menyukaimu jika tahu kamu cuma barang palsu?"


Barang palsu?


"Nggak usah kecentilan juga di depan cowok. Dasar murahan!"


"Murahan?"


"Memangnya aku nggak tahu kamu menggoda para senior dan cowok-cowok angkatan baru? Apa motivasimu operasi plastik biar dapet cowok ya? Dengan wajah lamamu kan mustahil kamu bisa dapetin cowok, iya kan?" Laura berdecak, "Kenapa nggak sekalian jadi pere* sih?"


Plak.


Laura menyentuh pipinya yang baru saja ditampar Mary. Perih. Dia bisa melihat mata cewek itu yang memerah dan berair. Kata-katanya tadi sudah keterlaluan ya?


"Kamu. Orang-orang seperti kamulah motivasiku melakukan operasi plastik. Puas?" Mary menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menusuk. Dia tahu, mungkin sekaranglah waktunya mengeluarkan semua bongkahan hitam di hatinya yang sudah bertahun-tahun mengendap itu. "Orang-orang seperti kamu yang selalu membunuh orang lain lewat lidah yang beracun. Orang-orang yang begitu mudahnya tertawa... membuat orang lain begitu membenci dirinya sendiri. Kalian menciptakan neraka di hidup orang lain dan kalian berharap dia tinggal selamanya disana???" Mary berteriak sementara air matanya berlomba-lomba menjatuhkan diri dari kelopaknya.


"Aku memilih tidak ingin tinggal selamanya di dalam neraka yang kalian ciptakan. Apa aku salah?" Mary menatap tajam Laura yang kali ini entah kenapa cuma terdiam.


"Karena aku tidak pernah membalas, kamu selalu memperlakukanku seperti ini kan?" Mary merasa dirinya yang lain muncul saat ini, sisi lain yang selama ini cuma ia pasung di sudut gelap hatinya. "Ya kamu benar. Sekarang karena aku cantik, aku sudah merasa sepadan denganmu. Aku sudah bisa membalasmu kali ini kan?"


Mary memutar kran air di sampingnya lalu memercikkan air itu ke muka Laura yang terkejut dengan mulut menganga.


"Kamu..."


"Aku nggak peduli!" Mary seakan tahu apa yang ingin dikatakan Laura, "Melihat sikapmu lagi bahkan setelah wajahku berubah membuatku sadar, konon orang-orang hanya bisa memberi apa yang mereka miliki. Jika orang-orang seperti kamu terus menyakiti orang lain, mungkin hanya itulah yang kalian miliki di dalam hidup kalian.." Mary tertawa sinis, "Bodohnya, kenapa baru sekarang aku mengerti?"


"Kamu nggak takut aku bisa saja menyebarkan wajah lamamu sebelum operasi plastik?"


"Selama ini aku tinggal di neraka. Apa yang membuatmu berpikir aku tidak cukup kuat untuk tinggal di rumahku sekali lagi?"


2 orang cewek tiba-tiba keluar dari bilik kamar mandi, membuat Mary dan Laura kompak menoleh sedikit terkejut. Dua cewek tadi berjalan keluar sambil sesekali melirik, Mary mengenali mereka adalah mahasiswi baru sepertinya juga. Sepertinya mereka mendengar semuanya ya...


"Kamu akan menyesal!" Laura mengusap dahinya yang basah terkena cipratan air tadi.


"Mungkin.." Mary berpikir sejenak. "Tapi aku pasti bisa melaluinya..."


Mary tahu, hari-hari yang berat sudah menunggu di depannya. Musim semi yang dia bayangkan mungkin hanyalah mimpi, karena sekejap akan berganti menjadi musim dingin yang membuatnya menggigil. Apa benar dia bisa melaluinya, entahlah. Dia sendiri tidak yakin, tapi kali ini dia akan belajar untuk mulai menerima bahwa beginilah hidupnya. Mungkin dia memang ditakdirkan di langit memiliki jalan hidup yang menyedihkan.

__ADS_1


###


__ADS_2